Ribuan siswa keracunan makanan program MBG. Pemerintah tetap jalan terus meski desakan moratorium dan kritik tajam terus menguat dari berbagai pihak.
22 Sep 2025 08:00 WIB · Kesehatan
1. Bagaimana kronologi singkat kasus keracunan MBG di berbagai daerah?
2. Mengapa program MBG tetap berjalan meski ribuan siswa keracunan?
3. Mengapa banyak pihak menuntut moratorium program MBG?
4. Mengapa kualitas makanan MBG masih buruk?
5. Mengapa masyarakat tetap resah meskipun ada perbaikan?
Pemerintah tetap menjalankan program makan bergizi gratis (MBG) karena meyakini tujuan utamanya, yakni meningkatkan gizi anak bangsa, masih penting. Meski sudah lebih dari 5.000 siswa keracunan, pemerintah memilih melakukan perbaikan sambil tetap menjalankan program, bukan menghentikannya. Pemerintah beralasan, insiden-insiden itu bisa dijadikan bahan evaluasi untuk perbaikan ke depan.
Namun, pendekatan ini dikritik banyak pihak. Pakar kesehatan masyarakat dan aktivis pendidikan menilai bahwa tanpa moratorium, evaluasi total sulit dilakukan. Mereka menilai penyempurnaan program sambil tetap dijalankan telah terbukti gagal karena kasus keracunan masih terus terjadi. Ini menunjukkan adanya kesalahan sistemik dalam tata kelola dan pengawasan.
Fakta bahwa keracunan terus terjadi membuktikan bahwa sistem pengawasan dan akuntabilitas belum berjalan baik. Dari dapur yang tidak layak, inspeksi yang minim, hingga logistik makanan yang tidak higienis, semua menunjukkan lemahnya kontrol. Pemerintah seakan terlalu fokus pada pencapaian target kuantitatif daripada keselamatan anak-anak.
Kritik juga datang dari legislatif dan lembaga pemantau. Mereka mendesak pemerintah menempatkan keselamatan anak sebagai prioritas tertinggi. Namun, pemerintah berdalih sudah ada mekanisme perbaikan dan korban tertangani. Sayangnya, belum ada jaminan bahwa kejadian serupa tidak akan berulang.
Tuntutan moratorium muncul karena kasus keracunan dianggap sebagai puncak dari masalah besar yang belum diselesaikan. Para pakar menyebut bahwa sistem pengawasan dan regulasi dalam program MBG sangat lemah. Bahkan, program ini berjalan tanpa payung hukum jelas karena peraturan presiden sebagai dasar pelaksanaannya belum terbit. Tanpa regulasi yang kuat, pelaksanaan jadi liar dan tidak terkendali.
Sejumlah organisasi, seperti Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) dan Center for Indonesia’s Strategic Development Initiatives (CISDI), menilai bahwa moratorium adalah satu-satunya cara agar evaluasi menyeluruh bisa dilakukan tanpa ada korban baru. Moratorium dimaksud bukan untuk menghentikan niat baik program, melainkan menghentikan pelaksanaannya sementara demi memperbaiki akar masalahnya. Terus menjalankan program di tengah krisis hanya memperbesar risiko bagi siswa.
Dalam banyak kasus, anak-anak jadi korban karena makanan dikemas tidak higienis, distribusi terlambat, atau kualitas bahan yang buruk. Dapur penyedia makanan pun tidak semua memenuhi standar. Dengan moratorium, pemerintah bisa memperbaiki dapur, memperjelas prosedur, dan membangun sistem pengawasan yang lebih akuntabel.
Desakan moratorium juga dilatarbelakangi oleh trauma masyarakat. Siswa dan orangtua cemas setiap kali makanan MBG dibagikan. Harapan makan sehat berubah jadi ketakutan dirawat di rumah sakit. Situasi ini tak bisa dibiarkan berlarut. Moratorium dibutuhkan agar pemerintah menunjukkan itikad serius melindungi anak-anak bangsa.
Kualitas makanan MBG yang dinilai rendah disebabkan oleh fokus pemerintah yang lebih mengejar kuantitas daripada mutu. Dalam keterangannya, anggota DPR menyoroti bahwa Badan Gizi Nasional (BGN) lebih sibuk menambah jumlah dapur penyedia makanan (SPPG) daripada menjamin kualitasnya. Akibatnya, banyak dapur dibangun tanpa inspeksi dan tanpa standar keamanan yang memadai.
Dari anggaran Rp 71 triliun, serapan hanya 18,6 persen hingga pertengahan September 2025. Minimnya penyerapan ini menunjukkan bahwa anggaran belum digunakan optimal untuk memperkuat sistem mutu makanan. Bahkan, banyak dapur beroperasi tanpa inspeksi kesehatan dari dinas terkait karena biaya pemeriksaan belum dicairkan oleh BGN.
Selain itu, tidak ada sistem akreditasi atau sertifikasi dapur dari lembaga independen. Ini membuat dapur-dapur asal beroperasi tanpa kontrol ketat. Kelemahan ini berujung pada munculnya makanan basi, berlendir, dan berbau yang menyebabkan keracunan massal di berbagai daerah. Ketidaktegasan pemerintah pusat memperparah situasi.
Padahal, SPPG seharusnya diperlakukan seperti fasilitas pelayanan publik yang wajib lolos uji kelayakan. Namun, dalam praktiknya, pengawasan sangat lemah. Pemerintah hanya mengandalkan laporan dari bawah tanpa sistem pengendalian yang baku dan terstruktur. Akibatnya, siswa jadi korban dari buruknya kualitas makanan.
Masyarakat resah karena perbaikan yang dijanjikan pemerintah belum menyentuh akar persoalan. Meski ada evaluasi dan pernyataan permintaan maaf, keracunan tetap berulang. Kasus seperti di Baubau dan Garut memperlihatkan bahwa sistem distribusi, inspeksi, dan kontrol mutu makanan masih buruk. Bahkan, menu yang menyebabkan keracunan tetap saja dibagikan tanpa pengecekan.
Siswa dan orangtua kini mengalami trauma. Sekolah juga kesulitan menentukan sikap. Beberapa sekolah memilih menghentikan sementara pembagian makanan. Dalam pertemuan dengan orangtua, banyak yang meminta agar program ini dihentikan sampai betul-betul aman. Ketakutan semakin besar karena kejadian tidak hanya sekali, tetapi berulang di berbagai wilayah.
Ketidakjelasan penanganan korban dan minimnya transparansi data juga memperparah kecemasan. Banyak keluarga merasa tidak tahu harus melapor ke mana atau mendapat jaminan apa bila anak mereka kembali menjadi korban. Sementara pihak sekolah tidak punya cukup informasi untuk menjamin keamanan makanan.
Sejak program MBG diluncurkan Januari 2025, kasus keracunan makanan terjadi di berbagai daerah. Jumlah korban mencapai lebih dari 5.360 anak hingga pertengahan September 2025. Salah satu kasus terjadi di Baubau pada 16 September 2025, saat makanan MBG datang terlambat dan disajikan dalam kondisi tidak layak. Akibatnya, 46 siswa keracunan, 37 di antaranya harus dirawat.
Keesokan harinya, kasus serupa terjadi di Banggai Kepulauan, Sulawesi Tengah. Sebanyak 157 siswa keracunan setelah makan ikan cakalang dari dapur SPPG. Dugaan sementara, pemasok ikan baru tidak memenuhi standar. Hari yang sama, di Garut, 194 siswa mengalami gejala mual dan muntah setelah mengonsumsi menu ayam woku dan tempe orek dari dapur lain.
Total siswa yang dirawat intensif terus bertambah. Pemeriksaan makanan dilakukan, tetapi hasil belum dirilis secara menyeluruh. Pemerintah pusat menyebut sebagian keracunan terjadi akibat alergi, namun laporan daerah menunjukkan pola kejadian yang konsisten: makanan datang basi, tak higienis, dan penyajiannya terburu-buru.
Meski terjadi berulang, belum ada keputusan untuk menghentikan program. Pemerintah memilih tetap menjalankan MBG dengan dalih evaluasi dan perbaikan berjalan. Namun, desakan publik untuk moratorium dan evaluasi total terus menguat karena korban terus berjatuhan dan kepercayaan publik makin tergerus.
Penulis:
Saiful Rijal Yunus, Fabio Maria Lopes Costa, Dionisia Arlinta, Deonisia ArlintaEditor:
Mukhamad KurniawanPenyelaras Bahasa:
Apolonius Lase