Mengapa Nadal Merajai Turnamen Tanah Liat?

Raja lapangan tanah liat. Julukan itu disematkan pada Rafael Nadal karena dominasinya di lapangan dengan ciri khas warna terakota tersebut.

21 Nov 2024 07:45 WIB · Olahraga

Oleh Yulia Sapthiani

”Saya bertemu dengan anak muda dari Spanyol untuk pertama kalinya di Miami. Dia mengalahkan saya saat saya berstatus petenis nomor satu dunia. Saya pikir, dia hanya menjadi juara di Roland Garros sekali, ternyata dia bisa juara 10 kali”.

Kalimat itu diucapkan Roger Federer ketika memperkenalkan Rafael Nadal menjelang kejuaraan Piala Laver 2017 di Praha, Ceko. Nadal dan Federer menjadi bagian dari tim Eropa yang berhadapan dengan tim Dunia pada penyelenggaraan pertama kejuaraan yang didedikasikan untuk mantan petenis, Rod Laver, itu.

Saat Piala Laver 2017 digelar pada 22-24 September, Nadal baru mendapat gelar juara kesepuluh dari Grand Slam Perancis Terbuka di lapangan tanah liat, Roland Garros, Paris. Gelar ”La Decima” itu mencatatkan Nadal sebagai petenis yang paling banyak menjuarai satu turnamen. Tak hanya di Perancis Terbuka, dia mendapat gelar kesepuluh di ATP Masters 1000 Monte Carlo dan ATP 500 Barcelona pada tahun yang sama.

Coupe es Mousquetaires, trofi lambang juara tunggal putra Perancis Terbuka, ternyata tak berhenti di angka 10. Hingga pensiun pada November 2024, di ajang Piala Davis, Nadal 14 kali menjuarai Perancis Terbuka. Dari 116 pertandingan sejak debut pada 2005 di Roland Garros, Nadal hanya empat kali kalah!

Federasi Tenis Perancis pun memberi penghargaan dengan membuat patung Nadal yang terbuat dari baja setinggi tiga meter dan diletakkan di kompleks lapangan tenis Roland Garros. Peresmian patung itu digelar pada 2021.

Proyeksi sosok Nadal dan beberapa statistik pencapaiannya, yang dibuat oleh sponsornya, Nike, ditampilkan melalui lightboard setinggi 10 meter di dekat Menara Eifel, Paris. ”Penampilan” Nadal itu diperlihatkan setelah sang petenis melakukan ”last dance” saat Spanyol melawan Belanda pada perempat final Piala Davis di Malaga, Spanyol, pada Selasa (19/11/2024). Spanyol tersingkir karena kalah 1-2, begitu juga dengan Nadal yang kalah dari Botic van de Zandschulp dengan skor 4-6, 4-6.

Proyeksi Rafael Nadal ditampilkan dalam "lightboard" setinggi 10 meter di dekat Menara Eifel, Paris, Perancis, Selasa (19/11/2024). Proyeksi itu dibuat pada momen Nadal pensiun.

Trofi juara dari Perancis Terbuka menjadi bagian dari 63 gelar yang didapat dari turnamen lapangan tanah liat. Adapun total gelar juara yang didapatnya dari persaingan tenis profesional sejak 2001 adalah 92. Sisa 25 gelar didapat dari turnamen lapangan keras dan empat dari lapangan rumput.

Polling ESPN pada pembacanya, yang dilakukan pada 2020, menjadikan Nadal di Roland Garros sebagai dominasi terbaik di arena olahraga pada abad ke-21. Nadal dinilai unggul dari dominasi Roger Federer di Wimbledon, Michael Phelps di kolam renang, dan Usain Bolt di lintasan atletik.

Bagi petenis Eropa, terutama Spanyol, bisa bermain dengan baik di lapangan tanah liat adalah hal yang lumrah. Lapangan berkarakter lambat itu banyak terdapat di Spanyol. Hal itu berbeda dengan Inggris yang punya banyak lapangan rumput. Adapun lapangan keras adalah jenis lapangan yang paling umum dan tersebar di lebih banyak tempat.

Nadal lahir sebagai petenis di lapangan tanah liat. Dia mulai bermain tenis pada usia empat tahun.

Tempat latihannya adalah lapangan tanah liat di Manacor Tennis Club yang berada tak jauh dari apartemen, tempat tinggal keluarga besarnya. Pelatih Nadal adalah pamannya, Toni Nadal, yang mendampinginya hingga 2017 sebelum tanggung jawab itu diserahkan pada mantan petenis Spanyol, Carlos Moya.

Meski demikian, banyak faktor lain yang akhirnya membuat Nadal menjadi petenis paling dominan di lapangan dengan tumbukan batu bata sebagai lapisan teratas ini. Semua pencapaian yang membuatnya menjadi ”Raja Lapangan Tanah Liat” adalah berkat perpaduan kemampuan teknis dan nonteknis.

Perbandingan gelar juara Rafael Nadal di tiga jenis lapangan.

Mantan petenis nomor satu dunia, John McEnroe, menyebut, melawan Nadal di Roland Garros adalah tantangan terbesar di dunia olahraga, bukan hanya di tenis. Petenis yang pernah melawan Nadal di Roland Garros merasakan hal itu.

”Melawan Rafa di Roland Garros adalah tantangan besar. Kegigihan dan intensitas yang dia tunjukkan di lapangan tak pernah ada di sejarah olahraga ini,” kata Djokovic dikutip The Athletic.

Djokovic menjadi satu-satunya petenis yang dua kali mengalahkan Nadal di Roland Garros, yaitu pada perempat final 2015 dan semifinal 2021. Petenis pertama yang menaklukkan Nadal di ”rumah keduanya” itu adalah Robin Soderling pada babak keempat Perancis Terbuka 2009. Soderling mengatakan, taktiknya adalah bermain seagresif mungkin.

Selain itu, ada Alexander Zverev yang akhirnya menjadi lawan terakhir Nadal di Perancis Terbuka. Zverev mengalahkannya pada babak pertama Perancis Terbuka 2024 setelah momen buruk di ajang yang sama pada 2022. Saat melawan Nadal di semifinal, Zverev mengundurkan diri di tengah pertandingan karena kaki kanannya terkilir. Nadal pun juara untuk ke-14 kali di Roland Garros dan itu menjadi gelar terakhirnya.

”Nadal menjadi sosok berbeda saat bermain di tanah liat, terutama di Philippe Chatrier (lapangan utama di Roland Garros). Pukulan dan pergerakannya menjadi lebih cepat. Lawan pun sangat sulit mendapat winner saat melawan Rafa di Roland Garros,” tutur Zverev.

Casper Ruud, petenis Norwegia yang dikalahkan Nadal di final Perancis Terbuka 2022, berpendapat, tampil baik tak cukup untuk menaklukkan Nadal.  ”Jika ingin mengalahkan Rafa di Roland Garros, saya harus tampil dengan performa terbaik selama hidup saya, setidaknya selama 4,5 jam. Meski saya telah bermain baik, dia akan tampil dengan luar biasa. Tidak banyak petenis yang siap dengan tantangan itu,” tuturnya.

Petenis Rusia, Karen Khachanov, bahkan menilai, melawan Nadal di lapangan tanah liat seperti pengalaman yang tak nyata. ”Rasanya seperti bermain tenis di PlayStation karena setiap pukulan akan kembali,” kata petenis yang selalu kalah dalam delapan pertemuan dengan Nadal itu.

Berdasarkan pendapat petenis, mantan petenis, dan ulasan di berbagai media internasional, seperti The Athletic, The New York Times, BBC, dan The Guardian, berikut ini adalah faktor-faktor yang membuat Nadal mendominasi persaingan di lapangan tanah liat:

1. Karakteristik lapangan

Lapangan tanah liat, dengan lapisan atas yang terbuat dari tumbukan batu bata, memiliki karakter lambat. Artinya, bola memantul dengan kecepatan lambat, paling lambat dibandingkan di lapangan keras dan rumput. Sebagai tambahan dari pantulan yang lambat, bola juga memantul dengan tinggi.

Quote

Namun, ada faktor lain yang membuat dia kesulitan bermain di lapangan tanah liat, yaitu ketika lapangan berposisi tinggi di atas permukaan laut, seperti Caja Magica yang menjadi tempat penyelenggaraan Madrid Masters.

Dua karakter utama itu sangat cocok dengan Nadal yang pada dasarnya memiliki pukulan heavy topspin. Dengan gaya pukulan itu, bola dari Nadal berputar lebih cepat dan memantul lebih tinggi.

Hal ini membuat lawan harus meninggikan dasar ground stroke-nya untuk mendapatkan impak yang ideal, biasanya dengan cara sedikit melompat. Dalam jangka panjang, cara pengembalian seperti ini akan sangat melelahkan.

Rafael Nadal saat menjuarai Perancis Terbuka 2005. Itu menjadi gelar pertamanya di Roland Garros, Paris, sekaligus gelar pertama dari ajang Grand Slam.

Di antara semua lapangan tanah liat yang menjadi tempat penyelenggaraan turnamen besar, Stadion Philippe Chatrier menjadi yang paling cocok dengan Nadal.

Stadion berkapasitas sekitar 15.000 penonton ini memiliki faktor yang menguntungkannya, yaitu memiliki panjang hampir 10 meter dari baseline ke tribune penonton. Dengan konstruksi tersebut, Nadal memiliki ruang yang luas, yang cocok dengan gaya mainnya.

Dia sering kali bersiap jauh di belakang baseline saat menerima servis agar memiliki lebih banyak waktu untuk memukul dan membuat permainan menjadi lebih netral. Dengan cara seperti itu, Nadal ingin menghindari mengembalikan servis dengan terburu-buru. Dampak lainnya, dia bisa memukul dengan topspin sehingga si pemegang servis kesulitan untuk menyerang.

Juara Perancis Terbuka 1997, 2000, dan 2001 asal Brasil, Gustavo Kuerten, pernah mengibaratkan Philippe Chatrier, seperti stadion sepak bola Maracana di Brasil, meski tentu saja berbeda ukuran. Itu menjadi kondisi yang bisa dimanfaatkan Nadal.

2. Kombinasi servis dan forehand

Servis, yang tidak sekencang petenis putra lainnya, sebenarnya menjadi kelemahan Nadal. Namun, itu bukan berarti Nadal tidak bisa mendapatkan poin dari servis.

Kelemahan dalam kecepatan itu diatasi dengan cara lain yang membuat lawan sulit mengembalikannya. Dia memanfaatkan pegangan tangan kiri—Nadal bukan seorang kidal—untuk melakukan servis dari ad court (sisi kiri lapangan) ke arah backhand lawan yang bermain dengan tangan kanan. Faktanya, sekitar 80 persen petenis di arena profesional bermain dengan tangan kanan.

Nadal melancarkan pukulan pembuka ini dengan impak bola memantul dengan sudut yang lebar, menjauhi si penerima servis. Ditambah dengan pantulan bola yang tinggi, lawan hampir bisa dipastikan kesulitan mengembalikannya.

Rafael Nadal menjuarai Perancis Terbuka 2017. Gelar itu menjadi yang ke-10 dari Grand Slam di Roland Garros, Paris tersebut.

Jika berdiri di deuce court (sisi kanan lapangan), Nadal biasanya melakukan servis slice ke area T. Targetnya sama seperti ketika servis dari ad court, yaitu mengarahkan bola ke backhand lawan yang bermain dengan tangan kanan. Namun, efektivitas servis ini memang di bawah servis dari ad court.

Servis kedua Nadal juga tak kalah menyulitkan. Lajunya terbilang pelan, tetapi putaran bolanya cukup kencang. Sekalinya lawan bisa mengembalikan servis itu, arah pukulan biasanya melenceng keluar lapangan.

Servis dengan sudut lebar, diikuti dengan forehand keras ketika lawan belum berada pada posisi stabil untuk menghadapi pukulan berikutnya, adalah taktik jitu. Cara ini bisa memberi poin cepat sehingga Nadal bisa menghemat tenaga, apalagi, ketika usianya semakin bertambah dan dia sering cedera. 

3. Kegigihan dan konstruksi poin

Nadal adalah petenis yang bisa dengan sabar bermain reli untuk membangun konstruksi serangan guna mendapatkan poin. Dia memiliki kelebihan bisa bergerak satu langkah lebih cepat dibandingkan lawan untuk mendapat poin dalam reli.

Apalagi, dengan karakter yang lambat, bermain di lapangan tanah liat membuat petenis sulit mendapat poin dengan cepat. Bermain di tanah liat menuntut petenis memiliki kecerdikan dalam membuat keputusan, kesabaran, kegigihan, dan daya tahan.

Rafael Nadal menjuarai Perancis Terbuka 2022 setelah mengalahkan Casper Ruud di final. Gelar ke-14 di Perancis Terbuka ini menjadi gelar ke-22 sekaligus terakhir dari Grand Slam.

4. Pergerakan dalam menguasai lapangan

Pergerakan untuk menutup setiap celah di lapangan menjadi aset Nadal sejak muda. Kakinya bisa bergerak dengan cepat untuk menutup lapangan. Dia bisa memperhitungkan kapan harus bergerak dengan cara meluncur dan berhenti untuk mengeksekusi pukulan yang bisa menghasilkan winner.

Melihatnya meluncur di permukaan tanah liat bak melihat atlet skating meluncur di atas lapisan es, lalu melakukan gerakan memukau berupa lompatan.

Ketika kecepatan geraknya menurun karena cedera beruntun di kaki, Nadal beradaptasi dengan sering bergerak mendekati net untuk mendapat poin dengan cepat. Sebelumnya, dia adalah petenis yang bisa membuat lawan kelelahan untuk mengembalikan belasan pukulan. 

5. Pola main ”battering ram”

Nadal memiliki obsesi pada pola tertentu saat bermain. Pola yang paling sering diterapkannya dikenal dengan istilah battering ram. Dalam arti harfiah, battering ram adalah alat yang dibuat untuk mendobrak gerbang tinggi yang biasanya terbuat dari kayu.

Pola permainan mendobrak yang dilakukan Nadal adalah ketika dia memosisikan diri di tengah lapangan guna membuat lawan menebak ke sudut mana bola akan diarahkan. Dalam posisi ini, dia akan mengambil keputusan memukul bola ke arah kelemahan lawan.

Rafael Nadal kalah dari Alexander Zverev pada babak pertama Perancis Terbuka 2024. Laga itu akhirnya menjadi penampilan terakhir Nadal di Perancis Terbuka dan di ajang Grand Slam.

6. Cuaca panas di Eropa

Nadal menyukai cuaca panas dan ini menjadi faktor penting baginya, apalagi musim kompetisi lapangan tanah liat berlangsung di Eropa pada April-Juni ketika musim panas. Dengan cuaca panas, lapangan tanah liat bisa memantulkan bola dengan tinggi yang cocok dengan gaya pukulan Nadal.

Namun, ada faktor lain yang membuat dia kesulitan bermain di lapangan tanah liat, yaitu ketika lapangan berposisi tinggi di atas permukaan laut, seperti Caja Magica yang menjadi tempat penyelenggaraan Madrid Masters. Dengan ketinggian sekitar 650 meter di atas permukaan laut, posisinya lebih tinggi dari Roland Garros yang tak sampai 50 mdpl.

Lapangan di Madrid membuat bola memantul lebih rendah dibandingkan lapangan tanah liat lain dan Nadal kurang menyukainya. Statistik jumlah gelar juara Nadal di Madrid Masters bisa dijadikan indikator.

Dia memiliki gelar juara yang lebih sedikit, yaitu empat kali, dibandingkan 14 di Perancis Terbuka, 12 kali di ATP 500 Barcelona, dan 11 kali di Monte Carlo Masters.

Rekor-rekor Rafael Nadal

Nadal sebenarnya memiliki lima gelar dari Madrid Masters, tetapi gelar juara pada 2008 didapat ketika turnamen itu masih digelar di lapangan keras indoor. Baru sejak 2009, Madrid Masters menjadi salah satu turnamen lapangan tanah liat.

Nadal juga pernah kesulitan ketika final Perancis Terbuka 2012, melawan Djokovic, yang berlangsung dalam cuaca lembap. Setelah unggul dua set, cuaca di Roland Garros berubah dengan munculnya tanda akan hujan.

Dalam kondisi tersebut, pantulan bola menjadi lebih rendah dan Djokovic berhasil memanfaatkannya. Dia memenangi enam gim beruntun untuk memenangi set ketiga dan mematahkan servis Nadal pada awal set keempat. Pertandingan set keempat berlangsung keesokan harinya karena suasana di lapangan terlampau gelap.

Nadal diuntungkan karena kelanjutan final berlangsung dalam cuaca panas. Dia akhirnya memenangi final itu dengan skor 6-4, 6-4, 2-6, 7-5 untuk mendapat gelar ketujuh di Perancis Terbuka.

Namun, ada pengecualian ketika Perancis Terbuka 2020 digelar pada Oktober, alih-alih Mei-Juni, karena pandemi Covid-19. Turnamen pada Oktober pun berlangsung dalam cuaca lebih dingin karena Paris diliputi musim gugur.

Sejak sebelum turnamen, Nadal terang-terangan menyatakan bahwa Perancis Terbuka tahun itu akan menjadi tantangan tersulit baginya. Sebaliknya, Djokovic bisa mengambil keuntungan.

Akan tetapi, hasil akhir di luar perkiraan, termasuk untuk para petenis. Nadal juara tanpa kehilangan satu set pun. Dia bisa mengatasi semua kendala yang semula diprediksi akan menyulitkannya.


Kerabat Kerja

Penulis:

Yulia Sapthiani
 | 

Editor:

Prasetyo Eko Prihananto, Yulvianus Harjono
 | 

Penyelaras Bahasa:

Apolonius Lase