Kompas.id Brief

Mengapa Pelatih Muda Gagal Saat Melatih Klub Besar di Eropa?

Pelatih muda mengalami lompatan karier ketika membesut klub sepak bola besar. Baru sebentar melatih, mereka dipecat lantaran tak memenuhi target pemilik klub.

25 Jan 2026 17:00 WIB · Olahraga

AFP

Oleh Redaksi

Xabi Alonso, Ruben Amorim, dan Thiago Motta adalah para pelatih muda berusia 40-an tahun yang melejit karena dipercaya melatih klub sepak bola besar Eropa. Alonso dipercaya melatih Real Madrid, Amorim membesut Manchester United, dan Motta memoles Juventus.

Pada awalnya, para pelatih muda itu disambut gembira karena akan membawa perubahan pada klub yang terpuruk atau mengalami kebuntuan. Namun, usia muda dengan visi besar serta idealisme ternyata tidak cukup untuk menangani klub besar.

Persoalan sebuah klub besar ternyata tidak sesederhana itu. Alonso, Amorim, ataupun Motta telah menjadi martir. Masa depan mereka samar karena meninggalkan jejak sebagai pelatih klub besar yang dipecat.

Apa yang bisa Anda pelajari dari artikel ini?

  1. Mengapa pelatih muda yang menangani klub besar Eropa adalah keliru?
  2. Mengapa ada pelatih muda yang bisa bertahan?
  3. Apakah Alvaro Arbeloa bisa bertahan lama di Real Madrid?

1. Mengapa pelatih muda yang menangani klub besar Eropa adalah keliru?

copy title

Ruben Amorim dan Xabi Alonso menghadapi persoalan serupa. Mereka menorehkan catatan emas ketika menangani klub sebelumnya. Amorim sukses di Sporting Lisbon, begitu juga Alonso di Bayer Leverkusen. Namun, kenyataannya, mereka gagal saat menangani klub besar.

Catatan kemenangan Alonso terbilang cukup baik, tetapi Real Madrid mengecewakan saat menghadapi tim-tim besar. Kekalahan di final Piala Super Spanyol melawan Barcelona menjadi puncak kekecewaan yang berakhir pemecatan. Adapun Amorim dengan kesuksesannya di Sporting Lisbon berkat sistem tiga bek tidak bisa diaplikasikan di Manchester United.

Real Madrid's head coach Xabi Alonso gestures during the Spanish Super Cup final soccer match against FC Barcelona at King Abdullah Sports City Stadium in Jeddah, Saudi Arabia, Sunday, Jan. 11, 2026. (AP Photo/Altaf Qadri)

Pemain di klub besar punya ego yang berbeda dengan pemain klub kecil. Pemain klub besar cenderung menganggap sebelah mata para pelatih muda dengan pengalaman minim. Amorim, Alonso, dan Motta kesulitan menerapkan visi karena pemain tidak respek kepada mereka.

Para pelatih muda yang memutuskan melatih tim besar telah membuat kekeliruan. Apa yang mereka kira sebagai lompatan prestasi ternyata sebaliknya. Klub besar menuntut hasil maksimal dalam waktu singkat. Sebaliknya, para pelatih muda lebih mementingkan membangun sistem. Di sinilah pragmatisme klub besar tidak sejalan dengan idealisme pelatih.

2. Mengapa ada pelatih muda yang bisa bertahan?

copy title

Pelatih Como Cesc Fabregas dan Pelatih Brighton and Hove Albion Fabian Hurzeler adalah contoh pelatih muda yang bisa bertahan. Bahkan usia mereka belum mencapai 40 tahun, lebih muda dari Alonso, Amorim, dan Motta.

Perbedaannya, Como dan Brighton and Hove Albion bukan klub besar dengan karakter suporter dan manajemen yang banyak menuntut. Manajemen Como dan Brighton and Hove Albion mau sabar menunggu proses yang sedang berjalan. Como memberikan keleluasaan kepada Fabregas sejak dua tahun lalu meskipun Fabregas mengakui hasil pertandingan juga sangat penting.

Italy Serie A Soccer

Kasus yang berbeda pada Mikel Arteta di Arsenal. Arteta juga masih muda, tapi berhasil membawa Arsenal seperti saat ini. Kuncinya adalah manajemen Arsenal memberikan kepercayaan kepada Arteta. Pelatih 43 tahun itu bahkan juga mengalami kesulitan pada awal mengasuh ”Meriam London”.

Manajemen Arsenal tetap mendukung Arteta meskipun suporter mendesak agar Arteta dipecat karena tampil mengecewakan pada musim-musim awal. Pelatih asal Spanyol itu juga tidak direcoki manajemen soal penambahan staf pelatih dan pembelian pemain yang dibutuhkan. Sementara di klub besar lainnya, manajemen klub terlalu ikut campur dalam urusan yang seharusnya menjadi hak pelatih.

3. Apakah Alvaro Arbeloa bisa bertahan lama di Real Madrid?

copy title

Alvaro Arbeloa yang menggantikan Xabi Alonso sebagai Pelatih Real Madrid memulai perjalanan dengan kurang mulus. Real menelan kekalahan memalukan dari tim divisi dua, Albacete, pada babak 16 besar Piala Raja Spanyol dengan skor 2-3.

Setelah laga yang menjadi aib itu, Real bangkit dengan mengalahkan Levante di Liga Spanyol, 2-0; mencukur AS Monaco, 6-1, di fase grup Liga Champions; dan yang terbaru mengalahkan Villarreal, 2-0, di Stadion La Ceramica, Minggu (25/1/2026) dini hari WIB.

Seusai meraih tiga kemenangan beruntun, pelatih berusia 43 tahun itu mulai mendapatkan kepercayaan dari suporter, dan yang paling penting kepercayaan dari manajemen ”Los Blancos”. Real berhasil melewati fase kritis setelah pergantian pelatih yang biasa terjadi pada sebuah klub.

Real Madrid's Spanish coach Alvaro Arbeloa attends a press conference prior to their Spanish league football match between Real Madrid CF and Levante UD at Real Madrid Sports City in Valdebebas, on the outskirts of Madrid, on January 16, 2026. (Photo by Javier SORIANO / AFP)

Kemenangan atas Villarreal besar artinya untuk meningkatkan kepercayaan petinggi klub kepada Arbeloa. Laga berlangsung sengit demi memperebutkan posisi di klasemen Liga Spanyol.

Villarreal turun ke posisi keempat dengan 41 poin pada klasemen Liga Spanyol di bawah Atletico Madrid yang juga mengantongi 41 poin. Adapun Real untuk sementara menduduki puncak klasemen dengan 51 poin. Barcelona (49 poin) berpeluang menggeser Real dari pucuk klasemen jika mengalahkan Oviedo pada laga Minggu (25/1/2026) pukul 22.15 WIB di Stadion Camp Nou.


Kerabat Kerja

Penulis:

Redaksi
 | 

Editor:

Prasetyo Eko Prihananto
 | 

Penyelaras Bahasa:

Nur Adji