Selama 15 tahun terakhir pertumbuhan gaji melambat. Ini membuat warga terpaksa berhemat pada konsumsi barang elektronik, kendaraan bermotor, pakaian, dan jasa.
12 Mar 2025 08:00 WIB · Investigasi
Apa yang bisa dipelajari dari artikel ini?
1. Bagaimana daya beli masyarakat Indonesia terus melemah?
2. Bagaimana upaya warga berhemat di tengah keterbatasan gaji?
3. Pengeluaran apa saja yang dihemat warga untuk bertahan hidup?
4. Apa alasan warganet menempuh hidup frugal?
Sejalan dengan melambatnya pertumbuhan gaji, pertumbuhan pengeluaran warga juga melambat selama 2010-2024.Periode 2010-2014, pengeluaran rata-rata tumbuh 12,6 persen per tahun. Di periode 2015-2019, pengeluaran tumbuh melambat menjadi 8,5 persen per tahun dan di periode 2020-2024 makin melambat menjadi 5,2 persen per tahun.
Warga pun lebih memprioritaskan membelanjakan uangnya untuk kebutuhan makan harian. Analisis Kompas, pertumbuhan pengeluaran makanan periode 2020-2024 lebih kuat, yakni 5,6 persen per tahun, dibandingkan dengan pengeluaran bukan makanan sebesar 4,9 persen per tahun.
Hasil Survei Kepemimpinan Nasional Litbang Kompas awal Januari lalu menunjukkan 32 responden memilih untuk selektif dalam berkonsumsi alias berhemat saat menghadapi situasi ekonomi yang sulit di tahun ini. Langkah penghematan dilakukan karena 60,8 persen responden tidak mempunyai tabungan dan hidup pas-pasan dengan gaji yang ada.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/12/20/3e6be3d7-d8dc-4564-bd18-c273d5e7c10a_jpg.jpg)
Gaji rendah membuat sejumlah pendidik seperti Anggun Gunawan (40), Fina (36), dan Yohanes Edwin (31) tercekik kebutuhan ekonomi. Dosen tak bisa beli buku demi popok dan susu anak. Adapun guru harus berangkat sekolah dengan uang saku yang lebih kecil dari murid-muridnya.
Sebagian dari mereka berusaha menambah penghasilan untuk memenuhi kebutuhan hidup dengan menjadi pengajar di kampus lain hingga menjadi guru les murid SD. Ada pula yang harus menggadaikan sepeda motor untuk biaya pulang ke kampung halaman.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/03/04/d99235e470e86e310f0f6b6eb3cbd3de-DSC08518.jpg)
Warga berhemat di pengeluaran aneka barang dan jasa, barang tahan lama, dan pakaian. Selama 10 tahun terakhir, proporsi pengeluaran untuk aneka barang dan jasa turun 1 persen poin, barang tahan lama 3,5 persen poin, dan proporsi pengeluaran pakaian turun 0,9 persen poin.
Indikasi penghematan oleh warga terlihat pada penurunan penjualan mobil penumpang. Tahun 2024, jumlah penjualan mobil penumpang sebanyak 672.986 unit. Angka ini turun 13,6 persen dibandingkan dengan jumlah penjualan tahun 2023 sebanyak 779.326 unit.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/02/16/24aeaa1f-468b-461a-8cd0-4c2587c29b0b_jpg.jpg)
Keinginan menabung menempati posisi teratas alasan warganet menjalani hidup hemat. Proporsinya sebesar 29,8 persen. Alasan selanjutnya situasi ekonomi (10,6 persen), ingin bebas dari utang dan mencapai stabilitas keuangan (10,6 persen), serta demi ketenangan dan keseimbangan hidup (9,3 persen). Alasan-alasan itu mengemuka dari data Monitoring Media Litbang Kompas terhadap 151 konten empat media sosial sepanjang Januari hingga pertengahan Februari 2025.
Sejalan dengan itu, Tim Jurnalisme Data Harian Kompas menemukan fakta, proporsi tabungan masyarakat dalam dua tahun cenderung menurun. Proporsi tabungan Survei Konsumen Bank Indonesia pada Desember 2024 sebesar 15,5 persen dan per Januari 2025 menurun menjadi 15,3 persen.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/03/04/1ac23fc4-9c9e-4177-8d14-b54c58e9c67c_jpg.jpg)
Penulis:
Margaretha Puteri Rosalina, Albertus Krisna, M Paschalia Judith J, Pandu WiyogaEditor:
Billy KhaerudinPenyelaras Bahasa:
Didik Durianto