PIALA DUNIA 2026

”Mentalitas Underdog” Jepang Bisa Saja Kejutkan Brasil

Jepang akan jadi ”underdog” dalam laga melawan Brasil di babak 32 besar Piala Dunia. Namun, tim ”Samurai Biru” punya reputasi sebagai pembunuh tim raksasa.

28 Jun 2026 14:56 WIB · Olahraga

Getty Images via AFP

Oleh Yola Sastra

Ambisi Jepang melangkah lebih jauh di Piala Dunia 2026 menemui jalan terjal saat dipastikan bertemu Brasil di babak 32 besar. Tim Samurai Biru akan mengerahkan segalanya untuk mengalahkan tim pemilik lima trofi Piala Dunia itu.

Pertemuan kedua tim segera mengingatkan kisah komik legendaris sepak bola ”Kapten Tsubasa”. Dalam kisah fiksi itu, tim muda Jepang yang jadi underdog bertemu Brasil dalam kejuaraan dunia pemuda.

Setelah tertinggal lebih dulu, Jepang yang dipimpin Tsubasa Ozora secara heroik keluar sebagai pemenang di babak tambahan waktu. Mereka dapat bangkit dengan kemenangan 3-2 atas Brasil yang bertabur bintang.

Di dunia nyata, kemenangan comeback Jepang atas Brasil dengan skor identik pernah terjadi 14 Oktober 2025. Dalam laga persahabatan di Tokyo, Jepang sempat tertinggal 0-2, tetapi kemudian bangkit dengan tiga gol balasan.

Akan tetapi, laga Brasil versus Jepang yang dihelat di Stadion Houston, Texas, Amerika Serikat, Selasa (30/6/2026) dini hari WIB, bukan sekadar kisah fiksi ataupun laga persahabatan. Brasil adalah rajanya Piala Dunia dan berambisi merengkuh trofi keenam.

Jepang sudah 14 kali bertemu Brasil sejak 1989 dari catatan Transfermarkt. Sepuluh pertandingan adalah laga persahabatan dan sisanya tiga kali Piala Konfederasi 2001, 2005, dan 2013, serta sekali Piala Dunia 2006.

Japan WCup Soccer

Dari catatan itu, Brasil tampil dominan dengan sebelas kemenangan, termasuk saat membungkam Jepang 1-4 pada Piala Dunia 2006. Hanya dua kali laga berakhir imbang. Adapun satu-satunya kemenangan Jepang didapat pada pertemuan terakhir di Tokyo. 

Meski catatan pertemuan lebih berpihak ke Brasil, Pelatih Jepang Hajime Moriyasu menyatakan, timnya tidak akan mudah dikalahkan Brasil. Ia merujuk kemenangan comeback 3-2 atas Brasil pada Oktober lalu. 

Kemenangan pertama atas Brasil itu, kata Moriyasu, menunjukkan bahwa Jepang akan menjalani laga nanti dengan tujuan lebih dari sekadar memberikan perlawanan yang baik.

”Terakhir kali kami membuktikan kepada Brasil bahwa kami bukan tim yang mudah dikalahkan. Itu adalah kemajuan besar bagi kami. Tim Brasil adalah tim papan atas di dunia dan kami sangat menghormati mereka,” kata Moriyasu seusai laga melawan Swedia.

Moriyasu menyebut, ia tidak tahu apa yang akan terjadi dalam pertandingan melawan Brasil. Walakin, Jepang memiliki kesempatan untuk menang dan melaju ke babak 16 besar.

Quote

Jika kami bermain dengan mentalitas ’underdog’, seperti yang selalu kami lakukan, saya percaya kami memiliki kemampuan untuk menciptakan sesuatu dalam pertandingan-pertandingan tunggal ini.

Mentalitas ”underdog”

Takumi Minamino (31), penyerang Jepang yang absen dari Piala Dunia 2026 karena cedera, menyebut, Jepang bisa mengalahkan Brasil di babak 32 besar dengan mengadopsi ”mentalitas underdog”.

Brasil yang diperkuat penyerang Real Madrid, Vinicius Junior, dan dilatih oleh pelatih ternama asal Italia, Carlo Ancelotti, memang jadi favorit untuk lolos. Situasi itu dapat dimanfaatkan Jepang untuk tampil tanpa beban. 

Gelandang Jepang, Takefusa Kubo (kiri), dan penyerang Brasil, Vinicius Junior. Brasil dan Jepang akan berhadapan pada laga babak 32 besar Piala Dunia 2026, Selasa (30/6/2026) dini hari WIB.

”Jika kami bermain dengan mentalitas underdog, seperti yang selalu kami lakukan, saya percaya kami memiliki kemampuan untuk menciptakan sesuatu dalam pertandingan-pertandingan tunggal ini,” kata pemain yang mencetak gol kemenangan Jepang atas Brasil dalam pertemuan terakhir.

Performa Jepang di fase grup dapat jadi ancaman bagi Brasil. Mereka mampu menahan imbang raksasa Eropa, Belanda, dengan skor 2-2 di laga pembuka Grup F. Kesuksesan mencuri poin dari tim besar menunjukkan bahwa tim Samurai Biru punya mentalitas kuat dan tidak gentar menghadapi tim-tim unggulan.

Mentalitas tersebut sebelumnya juga ditunjukkan oleh Jepang pada Piala Dunia 2022. Jepang, yang jadi tim non-unggulan di Grup E, menjelma jadi tim pembunuh raksasa. Mereka mampu mengalahkan Spanyol dan Jerman dengan skor 2-1 sebelum gugur di babak 16 besar dalam kekalahan adu penalti melawan Kroasia.

Reputasi Jepang sebagai tim yang layak diperhitungkan didapat sejak dipimpin Hajime Moriyasu, 2018. Moriyasu sukses membangun sistem permainan Jepang yang bertumpu pada fleksibilitas dan kecepatan transisi. 

Karakteristik utama tim Jepang adalah kedisiplinan taktis yang sangat rapat dan kerja sama tim yang solid. Gaya bermain kolektif ini sering kali menjadi momok bagi tim dengan talenta individu tinggi seperti Brasil. Apalagi jika Jepang mampu meredam kreativitas serangan Brasil lewat pressing yang ketat (Kompas.id, 27/6/2026).

”Tidak ada panggung yang lebih besar. Kami harus memberikan 120 persen kemampuan kami saat melawan Brasil, dan untuk itu kami harus bersatu sebagai sebuah tim dan negara, serta mempersiapkan diri dengan segala yang kita miliki,” kata bek Jepang, Yukinari Sugawara, seusai laga melawan Swedia. 

Pelatih Jepang Hajime Moriyasu (kiri) dan Pelatih Brasil Carlo Ancelotti. Brasil dan Jepang akan berhadapan pada laga babak 32 besar Piala Dunia 2026, Selasa (30/6/2026) dini hari WIB.

Menuju puncak

Jepang boleh saja terus mengungkit kemenangan 3-2 mereka atas Brasil di pertemuan terakhir. Namun, Brasil yang akan mereka jumpai di Houston nanti adalah tim yang sama sekali berbeda.

Barisan bek dan kiper yang tampil dalam kekalahan pertama Brasil dari Jepang itu sudah menghilang sepenuhnya. Tak ada satu pun di antara mereka yang dibawa Carlo Ancelotti ke Piala Dunia 2026.

Sementara itu, di fase grup, Brasil perlahan menemukan ritmen permainan dan konsistensi. Memulai turnamen dengan sulit pada hasil imbang 1-1 melawan Maroko, tim Selecao akhirnya keluar sebagai juara Grup C seusai membungkam Haiti dan Skotlandia dengan skor identik 3-0.

Ancelotti mengakui, timnya memang tidak sempurna saat menghadapi Skotlandia. Namun, Brasil masih bisa berkembang, terutama dalam kecepatan menguasai bola. 

”Tapi, saya senang karena tim telah banyak berkembang sejak pertandingan pertama. Sekarang ini adalah kompetisi sistem gugur. Kita perlu menunjukkan ketangguhan yang sesungguhnya,” ujar Ancelotti seusai kemenangan dari Skotlandia. 

Vinicius Junior bisa jadi ancaman serius bagi barisan pertahanan Jepang. Pemain terbaik dunia 2024 versi FIFA itu mencetak gol dalam setiap pertandingan fase grup dengan total empat gol.

Brazil Scotland WCup Soccer

Brasilnya Ancelotti memang tidak tampak seperti Brasil masa lalu yang terkenal dengan jogo bonito atau permainan indah. Bahkan, di bawah asuhan Don Carlo, Brasil seperti tidak punya identitas yang jelas.

Ancelotti pun mengakui bahwa ia tidak ingin timnya memiliki identitas yang khas. Sebab, hal itu akan membuat para pemain mudah ditebak. Sebaliknya, ia lebih menyukai tim yang mampu melakukan berbagai hal, menafsirkan pertandingan, dan bereaksi sesuai kebutuhan.

”Saya ingin tim saya mampu melakukan banyak hal: bertahan dengan blok rendah, menyerang, memaksimalkan kualitas pemain, agresif di lini depan, mundur, bertahan di area mereka sendiri…,” kata Ancelotti dikutip dari The Athletic.

Permainan pragmatis Ancelotti tampak dari bagaimana Brasil mencetak gol pembuka saat melawan Skotlandia. Saat Skotlandia menguasai bola dan berupaya membangun serangan dari bawah, penyerang Brasil melancarkan tekanan tinggi. Bola pun dapat direbut Rayan yang kemudian mengirim asis untuk Vinicius.

Gaya bermain pragmatis Brasil mungkin saja akan menyulitkan Jepang dalam pertandingan nanti. Apalagi tim ”Samba” punya ambisi merengkuh gelar keenam mereka. (AFP/REUTERS)


Kerabat Kerja

Penulis:

Yola Sastra
 | 

Editor:

Wisnu Aji Dewabrata