Menuju Kota Global Tanpa Abaikan Seniman Betawi

Ambisi Jakarta menuju kota global dunia dipastikan tidak akan meninggalkan budaya Betawi, termasuk para pegiat kesenian dan kebudayaan.

26 Jun 2025 05:45 WIB · Metropolitan

Oleh Atiek Ishlahiyah Al Hamasy, Rhama Purna Jati, Fransiskus Wisnu Wardhana Dhany

JAKARTA, KOMPAS — Kota Jakarta sedang berambisi menuju 50 besar kota global dunia. Upaya itu dipastikan tanpa meninggalkan budaya Betawi sebagai identitas kota ini, termasuk dengan memperhatikan nasib seniman Betawi.

Global Power City Index menempatkan Jakarta pada peringkat ke-45 dari 48 negara. Posisi ini lebih rendah daripada kota sekawasan, seperti Kuala Lumpur (41), Bangkok (40), dan Singapura (5).

Meskipun berupaya masuk dalam jajaran kota global dunia, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memastikan kebudayaan Betawi tak akan ditinggalkan.

”Budaya tetap menjadi penanda kekhasan Jakarta sekaligus daya tarik untuk memperkenalkan wajah Indonesia kepada dunia,” ujar Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung dalam perayaan Hari Ulang Tahun Ke-498 Jakarta di kawasan Monas, Jakarta Pusat, Minggu (22/6/2025).

Selain itu, Pramono juga merespons soal upaya menyejahterakan seniman ataupun melestarikan kebudayaan Betawi. Paling tampak ialah tema ulang tahun Jakarta, yaitu ”Jakarta Kota Global dan Berbudaya”.

”Dengan memakai istilah berbudaya saja, keberpihakan kita untuk budaya Betawi itu sudah menjadi hal yang pasti,” ujar Pramono.

Sanggar Bale Jakarta memainkan Lenong Denes dengan lakon Gautama dalam Festival Teater Tradisional di Gedung Kesenian Jakarta, Selasa (10/6/2025). Festival Teater Tradisional diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta. Festival ini hadir sebagai bentuk apresiasi terhadap seni pertunjukan tradisional yang tumbuh dari akar budaya masyarakat. Bekerja sama dengan Sanggar Oplet Robet, acara ini menghadirkan berbagai pertunjukan teater dari sanggar-sanggar Betawi yang mewakili 5 wilayah kota administrasi dan Kepulauan Seribu. Tak hanya itu, budaya tradisi lainnya seperti Melayu, Sunda, Jawa, hingga Cina yang hidup berdampingan di Jakarta juga turut meramaikan panggung. Sebanyak 15 sanggar turut serta dalam festival tersebut. Festival ini berlangsung hingga 18 Juni mendatang. Kompas/Riza Fathoni (RZF)

Selain itu, Pemprov DKI Jakarta juga sedang mendorong dirampungkannya revisi Peraturan Daerah Nomor 4 Tahun 2015 tentang Pelestarian Kebudayaan Betawi menjadi Rancangan Perda tentang Pemajuan Kebudayaan Betawi.

Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno mengatakan, Raperda tentang Pemajuan Kebudayaan Betawi menjadi soko guru untuk kesejahteraan dan regenerasi kebetawian ataupun budaya lain. Raperda ini diupayakan dapat rampung pada masa kepemimpinannya meskipun tidak mudah.

”Saya baru beberapa bulan, kan, menjabat. Artinya, sedang kami kejar raperdanya, ada Lembaga Adat Masyarakat Betawi. Itu soko gurunya. Nah, untuk membuat lembaga ini jujur nggak mudah,” ucap Rano pada Rabu (25/6/2025).

Salah satu tantangan yang dihadapi ialah mempersatukan banyaknya kepentingan. ”Tapi, saya ingatkan, Jakarta ini bukan hanya milik Betawi. Kita harus adil kepada semua kebudayaan yang ada di Jakarta. Nah, jadi artinya, itu yang sedang kami siapkan,” ujar Rano.

Para siswa belajar memainkan alat musik Betawi di SMKN 57 Jakarta, Selasa (17/6/2025). SMKN 57 memiliki seni Karawitan Betawi yang menjadi salah satu kejuruan yang dapat dipilih siswa. Kesenian Betawi menjadi salah satu jurusan jadi upaya pemerintah untuk mengenalkan dan menciptakan bibit baru pelaku seni Betawi. Mengintegrasikan budaya lokal ke dunia pendidikan tidak hanya soal mempertahankan tradisi, melainkan juga soal mengajarkan nilai-nilai identitas.

KOMPAS/FAKHRI FADLURROHMAN (FAK)
17-06-2025

Ketua DPRD DKI Jakarta Khoirudin memastikan komitmennya untuk memprioritaskan revisi Perda Nomor 4 Tahun 2015 tentang Pelestarian Kebudayaan Betawi menjadi Pemajuan Kebudayaan Betawi.

”Perda Pemajuan Kebudayaan Betawi saya jadikan prioritas di tahun ini,” ujar Khoirudin.

Politisi PKS ini juga mengusulkan agar kebudayaan Betawi tidak hanya hadir dalam peraturan daerah atau sekadar seremonial. Kebetawian justru harus masuk dalam mata pelajaran atau kegiatan ekstrakurikuler di sekolah. Hal tersebut penting sebab sekolah mendorong perubahan sosial yang di dalamnya termasuk menjaga sekaligus melestarikan budaya Betawi.

Anggaran kebudayaan

Setiap tahun dialokasikan anggaran puluhan hingga ratusan miliar rupiah untuk pelestarian budaya Betawi berdasarkan catatan Laporan Keuangan Pemerintah Daerah DKI Jakarta 2021-2024.

Alokasi anggaran pengembangan kebudayaan tahun 2024 mencapai Rp 117 miliar dengan realisasi 88,35 persen. Setahun sebelumnya, 2023, alokasi sebesar Rp 155,91 miliar dengan realisasi 93,41 persen.

Sementara pada 2022, nilainya Rp 69,58 miliar dengan realisasi 94,99 persen dan tahun 2021 sebanyak Rp 26,58 miliar dengan realisasi 82,90 persen.

Tangan seorang pengamen memegang ember berisi uang saat mengamen menggunakan ondel-ondel di Jalan MH Thamrin, Jakarta, Minggu (1/6/2025). Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mendorong pembentukan regulasi atau undang-undang untuk melestarikan ondel-ondel sebagai bagian dari warisan budaya Betawi. Pramono meminta agar ondel-ondel tidak digunakan untuk mengamen di jalanan. Pelarangan ondel-ondel untuk mengamen demi menghargai budaya Betawi. tercatat ada 42 sanggar ondel-ondel di Jakarta yang sedang mendapatkan perhatian khusus dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Pramono mengajak para pemangku kepentingan untuk melibatkan pelaku seni ondel-ondel dalam berbagai kegiatan resmi dan budaya agar mereka tidak perlu turun ke jalan untuk mengamen.

KOMPAS/FAKHRI FADLURROHMAN (FAK)
01-06-2025

Dinas Kebudayaan DKI Jakarta menjalankan dan menyiapkan sejumlah langkah akseleratif, mulai dari memperkuat narasi kebudayaan Betawi hingga inventarisasi poin strategis pemajuan kebudayaan.

Sekretaris Dinas Kebudayaan DKI Jakarta Imam Hadi Purnomo mengatakan, pihaknya telah memberikan pendampingan untuk meningkatkan manajemen sanggar, termasuk mendorong legalitas perizinan.

Upaya ini berbarengan dengan menyusun naskah akademik Pemajuan Kebudayaan Betawi. Langkah dimaksud antara lain memperkuat narasi kebudayaan Betawi dalam dokumen perencanaan daerah guna menjawab tantangan Jakarta sebagai kota global.

Hal ini dilakukan melalui penguatan pengalaman budaya, peningkatan Indeks Pembangunan Kebudayaan (IPK), serta obyek pemajuan kebudayaan melalui perlindungan, pengembangan, pemanfaatan, dan pembinaan agar tetap terjaga dan lestari.

Namun, skor IPK Jakarta pada tahun 2023 sebesar 55,96, di bawah nasional dengan 57,13. Ketua Lembaga Kebudayaan Betawi Beky Mardani menyebut, skor tiga dimensi utama, yaitu ekspresi budaya, ekonomi budaya, dan warisan budaya masih di bawah rata-rata nasional.

di kawasan Monas, Jakarta, Sabtu (26/4/2025). Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menyelenggarakan Lebaran Betawi 2025 di kawasan Monas pada 26 dan 27 April 2025. Tema Lebaran Betawi kali ini yaitu "Menyongsong Lima Abad Jakarta dengan Semangat Mempererat Kearifan Lokal Masyarakat Betawi". Berbagai pertunjukan khas Betawi dipertunjukan pada acara ini seperti lenong Betawi, tanjidor, palang pintu, dan gambang kromong. Berbagai hiasan khas Betawi seperti ondel-ondel dan rumah Betawi pun menghiasi kawasan Monas pada acara ini. Para pengunjung pun bisa menikmati makanan khas Betawi secara gratis dengan jumlah yang terbatas.

KOMPAS/FAKHRI FADLURROHMAN (FAK)
26-04-2025

Oleh sebab itu, kata Beky, Jakarta membutuhkan festival berjenjang, seperti lenong, tari, pencak silat, dan musik Betawi agar bisa menjadi acara budaya berskala internasional, seperti parade budaya di Brasil. ”Kebudayaan bukan urusan satu pihak. Kalau semua jalan, maka cita-cita Jakarta sebagai kota global dengan identitas Betawi bisa terwujud,” kata Beky.

Muhammad Bilal Ramadan (20), pegiat kesenian Betawi, berharap pemerintah lebih serius dalam melestarikan seni Betawi, mulai dari menyediakan fasilitas hingga ruang belajar.


Kerabat Kerja

Penulis:

Atiek Ishlahiyah Al Hamasy, Rhama Purna Jati, Fransiskus Wisnu Wardhana Dhany
 | 

Editor:

Harry Susilo
 | 

Penyelaras Bahasa:

Nanik Dwiastuti