Regenerasi Seniman Betawi Berada di Ujung Tanduk

Sanggar kesenian Betawi kesulitan merekrut anak muda demi upaya regenerasi. Padahal, pelestarian budaya Betawi diperlukan di tengah gempuran budaya populer.

25 Jun 2025 05:45 WIB · Metropolitan

Oleh Rhama Purna Jati, Fransiskus Wisnu Wardhana Dhany, Atiek Ishlahiyah Al Hamasy


JAKARTA, KOMPAS — Regenerasi seniman Betawi di ujung tanduk. Tidak banyak warga yang optimistis seni Betawi dapat dijadikan penopang hidup di tengah desakan kebutuhan ekonomi sehingga regenerasi pun nyaris mandek.

Mandeknya regenerasi dirasakan sejumlah sanggar di Jakarta. Pendiri Sanggar Betawi Mustika Air Pancur di Jakarta Selatan, Reza Ramadhani (28), mengungkapkan bahwa meskipun banyak anggota sanggar yang masih muda dengan rata-rata usia 20 tahun, mereka sudah bergabung sejak sanggar ini didirikan pada 2019.

”Sanggar ini belum berhasil lagi untuk menarik anggota baru dari kalangan anak muda atau pelajar. Hal ini menjadi tantangan dalam memperluas partisipasi generasi muda dalam pelestarian budaya Betawi,” kata Reza, pertengahan Juni.

Para anggota sanggar juga memiliki kesibukan lain atau bekerja di luar sanggar. Oleh karena itu, mereka tidak dapat berkumpul setiap hari.

Anggota sanggar juga sebagian besar berasal dari wilayah RT tempat sanggar berada. Padahal, belum semua kelurahan di Jakarta Selatan memiliki sanggar Betawi. Hal ini menunjukkan terbatasnya jangkauan sanggar dalam menarik perhatian dan partisipasi masyarakat yang lebih luas.

”Untuk ngajak anak terlibat di sanggar atau menjadi anggota sedikit susah karena di era digital saat ini anak muda lebih cenderung memilih bermain gim dan nongkrong bareng di luar kegiatan budaya,” ujar Reza.

Pendiri Sanggar Betawi Mustika Air Pancur di Jakarta Selatan, Reza Ramadhani (28), saat ditemui di Jakarta Selatan, pada Selasa (10/6/2025).

Fenomena serupa juga dirasakan oleh Ketua Sanggar Betawi Firman Muntaco di Jakarta Timur, Fifi Firman (59). Meskipun sanggar ini telah berdiri selama puluhan tahun, tantangan besar dalam menjaga keberlangsungan seni Betawi masih tetap ada.

Salah satu tantangan utama adalah banyaknya anggota sanggar yang sudah tidak muda lagi. Mayoritas anggota sanggar saat ini berusia 30 hingga 40 tahun dan banyak dari mereka sudah bergabung sejak 10 hingga 15 tahun yang lalu.

Terbatasnya jumlah panggilan untuk tampil, yakni satu bulan sekali, juga menjadi masalah sehingga banyak anggota sanggar yang terpaksa mencari pekerjaan sampingan untuk memenuhi kebutuhan hidup.

”Kami berharap sering dapat panggilan tampil agar generasi muda semangat untuk bergabung dan melanjutkan regenerasi seni Betawi,” kata Fifi.

Infografik tulisn 4K jajak pendapat mengenai Seniman Betawi.

Sulit mempertahankan

Siti Maimunah, koordinator sekaligus pemilik Sanggar Seni Betawi Setu Babakan, Jakarta Selatan, merasakan betapa sulitnya mempertahankan regenerasi. Bahkan, kedua anak Siti belum berminat untuk mengurus sanggar miliknya. ”Anak saya yang sulung memilih untuk menjadi pekerja seni teater di luar negeri dan lainnya pegawai di dinas kependudukan dan catatan sipil,” kata Siti.

Menurut Siti, saat ini juga belum banyak orangtua yang secara konsisten membawa anaknya ke sanggar miliknya untuk menari. ”Di sanggar ini ada 180 siswa yang terdaftar, tetapi yang aktif hanya 30 anak,” katanya.

Meskipun regenerasi sulit, Siti menolak patah arang. Dia tetap menggelorakan seni Betawi kepada orangtua. Baginya, seni Betawi sebagai identitas Jakarta tidak boleh hilang.

Ketua Lembaga Kebudayaan Betawi Beky Mardani berpendapat, kebudayaan Betawi ada di antara dua kutub, yakni gempuran budaya populer dan terimpit perkembangan kota. Tak mengherankan, pegiatnya berjibaku menjaga identitas kebetawian sambil bertahan hidup.

Beky menuturkan, ekosistem budaya Betawi saat ini belum optimal. Mulai dari regulasi, pembinaan, hingga panggung ekspresi masih terbilang minim. ”Padahal, tanpa ruang ekspresi yang rutin, regenerasi akan mandek,” kata Beky.

Dua ondel-ondel berjalan di Jalan MH Thamrin, Jakarta, saat mengamen, Minggu (1/6/2025). Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mendorong pembentukan regulasi atau undang-undang untuk melestarikan ondel-ondel sebagai bagian dari warisan budaya Betawi. Pramono meminta agar ondel-ondel tidak digunakan untuk mengamen di jalanan. Pelarangan ondel-ondel untuk mengamen demi menghargai budaya Betawi. tercatat ada 42 sanggar ondel-ondel di Jakarta yang sedang mendapatkan perhatian khusus dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Pramono mengajak para pemangku kepentingan untuk melibatkan pelaku seni ondel-ondel dalam berbagai kegiatan resmi dan budaya agar mereka tidak perlu turun ke jalan untuk mengamen.

KOMPAS/FAKHRI FADLURROHMAN (FAK)
01-06-2025


Kerabat Kerja

Penulis:

Rhama Purna Jati, Fransiskus Wisnu Wardhana Dhany, Atiek Ishlahiyah Al Hamasy
 | 

Editor:

Harry Susilo