Meski tidak mudah, harapan dari sektor ganda campuran mulai disemai dari para pebulu tangkis remaja.
28 Jan 2026 19:21 WIB · Olahraga
KOMPAS/REBIYYAH SALASAH
JAKARTA, KOMPAS — Enam tahun terakhir atau setelah Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir pensiun, sektor ganda campuran masih perlahan berusaha bangkit kembali menuju kejayaan. Upaya itu mulai terlihat dari munculnya pasangan muda yang potensial seperti Jafar Hidayatullah dan Felisha Alberta Nathaniel Pasaribu. Harapan pun mulai disemai dari para pemain remaja.
Di turnamen Indonesia Masters 2026, pekan lalu, misalnya, ganda campuran yang melaju ke babak semifinal hanya Jafar/Felisha. Padahal, Indonesia mengirimkan total enam pasangan, termasuk pasangan baru seperti Dejan Ferdinansyah/Bernadine Anindya Wardana.
Penasihat Teknis Tim Ganda PB Djarum yang juga pernah menjadi pelatih pemusatan latihan nasional, Aryono Miranat, mengatakan, tidak mudah mencari potensi untuk sektor ganda campuran, apalagi mencari pemain-pemain yang punya paket lengkap dengan kemampuan dan mentalitas seperti peraih medali emas Olimpiade Rio de Janeiro 2016, Tontowi/Liliyana.
”Owi dan Butet itu, kan, punya talenta yang luar biasa, ditambah juga cerdik dan punya daya juang yang tinggi. Mentalitas juara mereka memang bagus, berpadu dengan teknik yang juga bagus,” ujar Aryono selepas acara pemberian penghargaan pebulu tangkis berprestasi dari PB Djarum di Jakarta, Rabu (28/1/2026).
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2022/06/29/17ebf572-a458-4c12-8f08-300bfd77dfed.jpg)
Setelah Owi/Butet bertanding, hanya Praveen Jordan/Melati Daeva Oktavianti yang bisa menjuarai BWF World Tour level tinggi, itu pun mereka tak bisa tampil konsisten di level atas. Pasangan-pasangan lain, seperti Dejan saat berpasangan dengan Gloria Emanuelle Widjaja dan Jafar/Felisha, masih berada di level Super 300.
Jafar/Felisha pernah membuat kejutan dengan mencapai semifinal China Terbuka Super 1000 pada 2025. Ganda campuran yang sekarang berstatus nomor satu Indonesia ini pernah bermain tiga gim melawan ganda campuran elite dunia. Namun, mereka masih terkendala lawan peringkat empat besar dunia.
Di sisi lain, prestasi Adnan Maulana/Indah Cahya Sari Jamil dan Amri Syahnawi/Nita Violina Marwah jalan di tempat. Harapan lain muncul dari pasangan muda Marwan Faza/Aisyah Salsabila Putri Pranata dan pasangan baru Dejan Ferdinansyah/Bernadine Anindiya Wardana.
Sementara itu, Rehan Naufal Kusharjanto yang dipasangkan dengan Gloria masih menjalani pemulihan cedera. Agar tetap bisa berkompetisi, Gloria menjalin kemitraan lintas negara dengan pemain Singapura, Terry Hee.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/01/28/3753b924c900b7e885cb719ea49fc2e9-IMG_0633.JPG)
”Memang tidak mudah menemukannya, tetapi potensi itu ada. Hanya perlu waktu. Pemain-pemain remaja, kan, boleh bermain rangkap antara ganda putra atau putri dan campuran. Nah, dari situ biasanya talenta itu terlihat,” tuturnya menambahkan.
Dari anak asuhannya di PB Djarum, Aryono menyoroti potensi pemain remaja seperti Ikhsan Lintang Pramudya yang pernah dipasangkan dengan pemain pelatnas, Rinjani Kwinnnara Nastine, untuk Kejuaraan Asia Bulu Tangkis Yunior 2025. Lintang/Rinjani keluar sebagai runner-up ajang tersebut.
Lintang, yang juga bermain di sektor ganda putra, kemudian dipasangkan dengan Salsabila Zahra Aulia di Kejuaraan Nasional PBSI 2025. Pasangan ini menjuarai ganda taruna campuran.
Seperti Lintang, Salsabila juga bermain di ganda putri bersama Adelia Nirul. Pada ajang yang sama, Salsabila/Adelia keluar sebagai juara.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2019/01/27/be430808-bac7-430a-8976-39f612173043.jpg)
Menurut Aryono, Lintang dan Salsabila sudah menunjukkan potensi besar mereka. Pemain-pemain ini setidaknya punya kemampuan adaptasi yang cepat ketika bermain di ganda putri/putra dan ganda campuran.
”Pemain putri, kan, harus beradaptasi ketika bermain di ganda putri dan campuran. Saat main di campuran, dia harus berani main di depan dan menghadapi atau menahan pukulan dari pemain putra. Ini memang tidak semua pemain putri atau putra bisa,” ujar Aryono.
Aryono berharap, pemain-pemain remaja, seperti Lintang dan Salsabila, menjadi bibit yang disemai untuk nantinya bisa tumbuh jadi tumpuan harapan di sektor ganda campuran. Harapan serupa disampaikan Lintang yang bertekad mencapai prestasi hingga ke level Olimpiade.
”Kalau ditanya nyaman bermain di mana, sama-sama nyaman sejauh ini. Inginnya berprestasi di dua-duanya, tetapi, kan, pasti nanti pelatih melihat perkembangannya,” kata Lintang yang terhenti pada perempat final Kejuaraan Dunia Yunior 2025 bersama Rinjani.
Manajer Tim PB Djarum Fung Permadi mengatakan, prestasi Lintang dan Salsabila memang layak mendapatkan apresiasi yang diharapkan jadi tambahan motivasi. Selain Lintang dan Salsabila, apresiasi juga diberikan oleh Bakti Olahraga Djarum Foundation kepada atlet PB Djarum untuk 47 atlet berprestasi U-17 dan U-19 dan Muhammad Nashrulloh Al-Habsyi (juara tunggal taruna putra Kejurnas PBSI 2025).
Rehan/Gloria menempati peringkat ke-15 dunia per 31 Desember 2025 dan Bobby Setiabudi/Melati Daewva Oktavianti yang menempati peringkat ke-39 dunia.
”Para atlet muda ini silih berganti meraih prestasi, silih berganti membuat bangga, jadi memang layak diapresiasi. Maka dari itu, apresiasi ini rutin diberikan setiap awal tahun,” tutur Ketua PB Djarum Yoppy Rosimin.
Penulis:
Rebiyyah SalasahEditor:
Prasetyo Eko PrihanantoPenyelaras Bahasa:
Hibar Himawan