Potret warga Palestina di Gaza yang terpaksa kembali ke reruntuhan rumahnya.
22 Des 2025 11:01 WIB · Internasional
AP/Jehad Alshrafi
Gencatan senjata antara Israel dan Hamas yang tidak sepenuhnya dipatuhi kedua pihak dimanfaatkan warga Palestina untuk mencari dan menemukan kembali rumah-rumah mereka. Di antara hamparan bangunan yang hancur, ribuan warga mencoba mengenali rumah mereka.
Muhammed Halawa, bersama istrinya Amani dan kedua anaknya, Ata dan Bashir, berhasil menemukan rumahnya. Kondisinya sangat memprihatinkan. Walaupun mengalami kerusakan yang parah, rumah Halawa adalah satu-satunya bangunan yang masih berdiri di daerah itu.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/12/22/9d97a0ff-e724-47cb-8836-e0e2d1eb9ce7_jpg.jpg)
Keluarga itu segera membuat tangga untuk naik ke rumahnya, membersihkan puing-puing dan menata barang-barang yang tersisa. Mereka akan melanjutkan kehidupan di sisa bangunan rumah mereka.
Sebuah tembok bergambar pohon dan pesan kerinduan serta harapan yang dilukis di dinding terlihat utuh. Lukisan itu dibuat Aya dan Bashir sebelum perang melanda daerah mereka di Jabaliya, Kota Gaza.
Keluarga itu meninggalkan rumah tiga bulan setelah perang pecah. Seperti banyak orang lainnya, keluarga itu mengatakan bahwa tinggal di reruntuhan rumah mereka terasa lebih baik daripada di tenda, terutama saat hujan musim dingin mulai turun.
Tetangga mereka, Sahar Taroush, tidak beruntung. Bangunan rumahnya hancur, hanya menyisakan sedikit ruang tersisa, dan rentan ambruk. Untuk masuk rumah, mereka harus membungkuk agar bisa melewati celah yang sekarang difungsikan sebagai pintu masuk.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2025/12/22/91507adf-94df-47e5-8173-1ee40af5ccfe.jpg)
Di dalam bangunan, mereka hanya bisa duduk karena rendahnya lantai atas yang sekarang ambruk. Sama dengan Halawa, mereka mengambil risiko untuk tinggal di rumah itu mengingat musim hujan dan suhu dingin yang mulai melanda Gaza.
Banyak dari mereka yang tidak beruntung, terpaksa kembali mendirikan tenda di atas reruntuhan rumah mereka karena rumahnya benar-benar ambruk ke tanah. Rita Abu Shaqfa, seorang bocah berusia 12 tahun, seakan tak peduli dengan rumah yang tinggal puing-puing. Ia lebih asyik bermain dengan anjingnya di depan rumah mereka yang runtuh, di Jabaliya, Kota Gaza.
Perang yang dimulai saat serangan Hamas dan kelompok bersenjata pada 7 Oktober 2023 yang menewaskan sekitar 1.200 orang di Israel dan lebih dari 250 lainnya disandera telah menghancurkan kehidupan warga Palestina.
Serangan balasan Israel di Gaza telah menewaskan lebih dari 70.000 orang, menyebabkan kehancuran total di Gaza, dan menyebabkan eksodus sebagian besar dari 2 juta penduduk wilayah tersebut.
Akhir tahun ini membawa sedikit kelegaan karena adanya gencatan senjata yang ditengahi Presiden AS Donald Trump pada bulan Oktober. Namun, rekonstruksi belum dimulai dan diperkirakan memakan waktu bertahun-tahun.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/12/22/d0bf2a55-4307-4519-bb40-68b0a487e606_jpg.jpg)
Dengan begitu banyak ketidakpastian di depan, keluarga-keluarga Palestina di Gaza berusaha untuk mengembalikan sedikit rasa keakraban ke rumah-rumah yang sudah tidak sepenuhnya ada lagi. (AP)
Penulis:
Ignatius Danu KusworoEditor:
Demitrius Wisnu WidiantoroPenyelaras Bahasa:
Nur Adji