Mereka Melanjutkan Hidup di Reruntuhan

Potret warga Palestina di Gaza yang terpaksa kembali ke reruntuhan rumahnya.

22 Des 2025 11:01 WIB · Internasional

AP/Jehad Alshrafi

Oleh Ignatius Danu Kusworo

Gencatan senjata antara Israel dan Hamas yang tidak sepenuhnya dipatuhi kedua pihak dimanfaatkan warga Palestina untuk mencari dan menemukan kembali rumah-rumah mereka. Di antara hamparan bangunan yang hancur, ribuan warga mencoba mengenali rumah mereka.

Muhammed Halawa, bersama istrinya Amani dan kedua anaknya, Ata dan Bashir, berhasil menemukan rumahnya. Kondisinya sangat memprihatinkan. Walaupun mengalami kerusakan yang parah, rumah Halawa adalah satu-satunya bangunan yang masih berdiri di daerah itu.

Amani dan Mohammed Halawa berpose bersama anak-anak mereka, Aya 13 tahun, dan Bashir 10 tahun, di dalam rumah mereka yang sebagian runtuh, dengan pohon dan pesan kerinduan dan harapan yang dilukis di dinding di belakang mereka, Jabaliya, Kota Gaza, Selasa (25/11/2025).

Keluarga itu segera membuat tangga untuk naik ke rumahnya, membersihkan puing-puing dan menata barang-barang yang tersisa. Mereka akan melanjutkan kehidupan di sisa bangunan rumah mereka. 

Sebuah tembok bergambar pohon dan pesan kerinduan serta harapan yang dilukis di dinding terlihat utuh. Lukisan itu dibuat Aya dan Bashir sebelum perang melanda daerah mereka di Jabaliya, Kota Gaza.

Amani Halawa menyiapkan makanan di bawah atap rumahnya yang setengah runtuh di Jabaliya, Kota Gaza, Selasa (25/11/2025).
Omar Qutay duduk di tempat tidur yang diletakkan di balkon rumahnya yang sebagian hancur di lingkungan Al-Karama di Kota Gaza, Rabu (24/11/2025).
Saadia Abu Duheir, seorang ibu dari enam anak, menjemur cucian di samping tenda yang didirikan di atas puing-puing rumah keluarganya yang runtuh di lingkungan Sheikh Radwan di Kota Gaza, Rabu (26/11/2025).
Sebuah tenda milik keluarga Magdi Arafat berdiri di antara reruntuhan rumah di lingkungan Al-Zaytoun di Kota Gaza, Jumat (27/11/2025).
Anak-anak dari keluarga Abu Duheir turun dari tenda sementara mereka, yang didirikan di atas reruntuhan rumah mereka yang runtuh di lingkungan Sheikh Radwan di Kota Gaza, Rabu (26/11/2025).
Amani Halawa menyalakan api saat putrinya Aya menata cucian di rumah mereka yang rusak di Jabaliya, Kota Gaza, Selasa (25/11/2025).

Keluarga itu meninggalkan rumah tiga bulan setelah perang pecah. Seperti banyak orang lainnya, keluarga itu mengatakan bahwa tinggal di reruntuhan rumah mereka terasa lebih baik daripada di tenda, terutama saat hujan musim dingin mulai turun.

Tetangga mereka, Sahar Taroush, tidak beruntung. Bangunan rumahnya hancur, hanya menyisakan sedikit ruang tersisa, dan rentan ambruk. Untuk masuk rumah, mereka harus membungkuk agar bisa melewati celah yang sekarang difungsikan sebagai pintu masuk.

Sahar Taroush berbicara dengan saudara laki-lakinya di rumahnya yang sebagian runtuh di Jabaliya, Kota Gaza, Selasa (11/11/2025).

Di dalam bangunan, mereka hanya bisa duduk karena rendahnya lantai atas yang sekarang ambruk. Sama dengan Halawa, mereka mengambil risiko untuk tinggal di rumah itu mengingat musim hujan dan suhu dingin yang mulai melanda Gaza.

Banyak dari mereka yang tidak beruntung, terpaksa kembali mendirikan tenda di atas reruntuhan rumah mereka karena rumahnya benar-benar ambruk ke tanah. Rita Abu Shaqfa, seorang bocah berusia 12 tahun, seakan tak peduli dengan rumah yang tinggal puing-puing. Ia lebih asyik bermain dengan anjingnya di depan rumah mereka yang runtuh, di Jabaliya, Kota Gaza.

Sebuah foto Muhammad Qutay yang bertugas di layanan keamanan Otoritas Palestina tergantung di dinding yang rusak di rumah keluarga di lingkungan Al-Karama di Kota Gaza, Rabu (24/11/2025).
Sahar Taroush membersihkan rumahnya di bawah atap yang sebagian runtuh, sementara anak-anaknya, Ammar, kiri, Hassan, kanan, dan saudara perempuan mereka yang berusia 2 tahun, Ahlam, duduk di dekatnya, di Jabaliya, Kota Gaza, Selasa (11/11/2025).
Amani Halawa menghangatkan minuman di kamar yang bobrok, di tengah reruntuhan rumahnya yang rusak di Jabaliya, Kota Gaza, Selasa (25/11/2025).
Khadija Abu Shaqfa dan putrinya Ritaberaktifitas di dapur rumah mereka yang rusak, di Jabaliya, Kota Gaza, Jumat (21/11/2025).
Bisan Taroush menonton film di laptop di bawah atap rumahnya yang sebagian runtuh, dan melanjutkan kehidupan sehari-hari di tengah reruntuhan, di Jabaliya, Kota Gaza, Selasa (11/11/2025).
Makanan dan perlengkapan dapur di tengah-tengah puing-puing, menandai kehidupan kecil di Jabaliya, Kota Gaza, Jumat (21/12/2025).
Rumah keluarga Halawa yang setengah runtuh berdiri di Jabaliya, Kota Gaza, Selasa (25/12/2025). Mereka kembali rumah mereka setelah gencatan senjata.

Perang yang dimulai saat serangan Hamas dan kelompok bersenjata pada 7 Oktober 2023 yang menewaskan sekitar 1.200 orang di Israel dan lebih dari 250 lainnya disandera telah menghancurkan kehidupan warga Palestina.

Serangan balasan Israel di Gaza telah menewaskan lebih dari 70.000 orang, menyebabkan kehancuran total di Gaza, dan menyebabkan eksodus sebagian besar dari 2 juta penduduk wilayah tersebut.

Akhir tahun ini membawa sedikit kelegaan karena adanya gencatan senjata yang ditengahi Presiden AS Donald Trump pada bulan Oktober. Namun, rekonstruksi belum dimulai dan diperkirakan memakan waktu bertahun-tahun.

Rita Abu Shaqfa bermain dengan anjingnya di depan rumah mereka yang runtuh, di Jabaliya, Kota Gaza, Jumat (21/11/2025).

Dengan begitu banyak ketidakpastian di depan, keluarga-keluarga Palestina di Gaza berusaha untuk mengembalikan sedikit rasa keakraban ke rumah-rumah yang sudah tidak sepenuhnya ada lagi. (AP)


Kerabat Kerja

Penulis:

Ignatius Danu Kusworo
 | 

Editor:

Demitrius Wisnu Widiantoro
 | 

Penyelaras Bahasa:

Nur Adji