Para ibu di Kolombia menggali tanah untuk menemukan keluarga yang hilang.
09 Sep 2025 09:43 WIB · Internasional
Puluhan pria berkaus lengan panjang warna biru dan berhelm hijau mengayak tanah yang baru saja digali di pinggiran Medellin, Kolombia, Rabu (27/8/2025). Beberapa perempuan menyaksikan dengan saksama hasil ayakan. Mereka segera memisahkan dan menyimpan hasil ayakan ketika menemukan tanda-tanda berupa dokumen, pecahan tulang, ataupun serpihan pakaian.
Seorang wanita, Luz Elena Galeano, nampak cemas, sekaligus berharap dapat menemukan tanda-tanda keberadaan suaminya yang hilang dua dekade lalu. Suaminya hilang saat terjadi konflik yang saat itu menghancurkan kota Medellin. Ritual mencari tanda keberadaan anggota keluarga ini telah dilakukan Galeano dan 40 wanita lain di La Escombrera, tempat pembuangan puing di pinggiran Medellin, Kolombia. Di tempat ini setidaknya telah ditemukan enam jasad dalam delapan bulan terakhir.
Galeano sedang mencari suaminya, Luis Javier Laverde Salazar, yang terakhir kali ia temui pada 9 Desember 2008. Kontak terakhir mereka melalui telepon yang mengabarkan bahwa suaminya akan pulang untuk makan malam. Galeano yakin suaminya dikubur di La Escombrera oleh paramiliter.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/09/08/1b611889-cf57-4f2e-a4e1-da8e6dfb142a_jpg.jpg)
Associated Press (AP) yang diberi akses ke La Escombrera, tempat penggalian yang dimulai pada Juli 2024, telah mengonfirmasi bahwa situs tersebut adalah kuburan massal. Ini seperti yang diklaim keluarga selama beberapa dekade.
Belum diketahui berapa banyak mayat yang mungkin ada di sekitar tempat penggalian itu, tetapi hampir 500 orang dilaporkan hilang di kota itu sejak tahun 1970-an. ”Penemuan sisa-sisa jasad manusia ini sangat penting untuk memberi tahu negara bahwa kami tidak gila, bahwa kami bukan pembohong,” kata Galeano, juru bicara Women Walking for Truth, organisasi bagi korban penghilangan paksa di Medellin yang didirikan tahun 2022.
Penggalian ini bagian dari proyek forensik ambisius Yuridiksi Khusus untuk Perdamaian, pengadilan yang dibentuk tahun 2018 untuk menyelidiki dan mengadili kejahatan yang terjadi selama konflik bersenjata Kolombia. Kelompok pemberontak saat itu sering menyandera orang untuk mendapatkan tebusan. Mereka yang keluarganya gagal membayar tebusan biasanya akan hilang.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/09/08/c56e312a-cd6e-4e40-80fb-441a691b3848_jpg.jpg)
La Escombrera terletak di lereng bukit curam di Distrik Comuna 13. Dahulu tempat ini merupakan lokasi strategis untuk menyelundupkan narkoba dan senjata. Selama 10 tahun pada tahun 1990 sampai tahun 2000, wilayah ini diperebutkan gerilyawan dan paramiliter. Paramiliter adalah kelompok yang muncul untuk memerangi pemberontak sayap kiri.
Antara tahun 2001 dan 2004, pasukan keamanan Kolombia melancarkan 34 operasi militer di Comuna 13 dalam upaya merebut kendali. Beberapa operasi ini telah diselidiki karena dugaan pelanggaran hak asasi manusia terhadap penduduk sipil. Kasus ini kini sedang diselidiki Yurisdiksi Khusus untuk Perdamaian.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/09/08/57358d57-42c8-4d14-b7e5-71381d8c20ab_jpg.jpg)
Menurut hakim yang memimpin penyelidikan di pengadilan khusus tersebut, Gustavo Salazar, banyak orang yang ditahan kelompok-kelompok ini dibawa ke La Escombera untuk diinterogasi, disiksa, atau dibunuh dan dikubur begitu saja. Para pembunuh itu yakin bahwa jenazah mereka tidak akan pernah ditemukan.
”La Escombrera menjadi pangkalan paramiliter setidaknya sejak pertengahan 2002,” tambah Salazar.
Mantan anggota paramiliter yang terlibat dan mengakui pembunuhan dan penguburan telah dihukum. Pengadilan menggunakan kesaksian yang dibarengi dengan investigasi oleh Kantor Kejaksaan Agung dan citra satelit untuk menentukan area penggalian pada awal tahun 2020.
Pihak berwenang menemukan makam-makam di kedalaman 50 sentimeter, tetapi dengan struktur kerangka yang sangat terawat. Hal ini memungkinkan mereka untuk diidentifikasi dan dikembalikan ke keluarga mereka.
Di masa mendatang, ketika penggalian di La Escombrera selesai, keluarga yang melakukan pencarian ingin dibangunkan tugu peringatan untuk menghormati semua orang hilang.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/09/08/eda0f292-34ba-4975-adf0-aeeef8a16c20_jpg.jpg)
”Kami ingin semua penderitaan ini terekam di sana dan agar kisahnya diceritakan dengan jujur dan penuh rasa hormat kepada negara,” kata seorang ibu yang menunggui penggalian hari itu. (AP)
Penulis:
Ignatius Danu KusworoEditor:
Demitrius Wisnu WidiantoroPenyelaras Bahasa:
Galih Rudanto