POLYTRON INDONESIA TERBUKA 2026

”Mestakung” Raymond/Joaquin

Semesta telah membuka jalan Raymond Indra/Nikolaus Joaquin untuk mencapai final Indonesia Terbuka 2026. Segala aspek berpihak kepada mereka. Akankah juara?

07 Jun 2026 10:35 WIB · Olahraga

KOMPAS/FAKHRI FADLURROHMAN

Oleh Rebiyyah Salasah, Kelvin Hianusa

Adakalanya usaha sebesar apa pun tak berbuah hasil setimpal. Persiapan sudah maksimal tanpa ada satu pun yang kurang, tetapi dunia seolah berkata belum saatnya. Namun, ketika semua berjalan dengan semestinya bagi Raymond Indra/Nikolaus Joaquin, saat itulah semesta tengah mendukung mereka.

Di antara dukungan penonton yang terbelah di Istora Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Sabtu (6/6/2026), Raymond/Joaquin menang meyakinkan 21-15, 21-18 atas rekan senegara, Sabar Karyaman Gutama/Moh Reza Pahlevi Isfahani. Kemenangan mengantarkan mereka ke final Polytron Indonesia Terbuka 2026, final pertama di level Super 1000, melawan Goh Sze Gei/Nur Izzudin (Malaysia), Minggu (7/6/2026).

Hasil akhir memang tak menggambarkan pertandingan yang sempat berjalan sengit. Skor juga tak menunjukkan bagaimana sebenarnya laga itu bukan cuma ulangan pertemuan semifinal Indonesia Masters 2026, Januari lalu.

Sabar/Reza datang dengan kepercayaan diri yang mulai tumbuh lagi. Kekalahan pada pertemuan sebelumnya yang juga terjadi di Istora menjadi bahan evaluasi. Mereka mencoba mengantisipasi pola permainan cepat Raymond/Joaquin sejak awal laga.

Pasangan Raymond Indra/Nikolaus Joaquin melaju ke babak final Polytron Indonesia Terbuka 2026, setelah mengalahkan sesama pasangan Indonesia Sabar Karyaman Gutama/Moh Reza Pahlevi Isfahani 21-15, 21-18.

Namun, antisipasi itu buyar. ”Karena situasi dan kondisi di Istora berangin, jauh lebih berangin dari kemarin, mau tidak mau kami harus mengimbangi kecepatan mereka. Karena kalau pakai pola satu-satu tidak memungkinkan dengan kondisi seperti itu,” kata Sabar.

Sabar/Reza punya kekuatan penempatan bola dan permainan yang mengandalkan serangan balik cepat. Mereka menunggu lawan mengangkat bola, lalu Reza akan menyambar kok di depan net atau Sabar akan melepaskan smes yang sulit diantisipasi.

Namun, pola permainan itu tidak bisa mereka pakai karena situasi lapangan yang justru mendukung permainan cepat. Semifinal hanya menggunakan satu lapangan yang terletak di tengah-tengah arena. Di samping lapangan ada panggung dan bangku penonton.

Dengan situasi demikian, tak ada cara lain bagi Sabar/Reza untuk bisa mengatasi permainan Raymond/Joaquin selain bermain cepat juga. Pelatih Sabar/Reza, Hendra Setiawan, juga memberikan saran itu pada interval gim kedua ketika saling kejar angka.

Pebulu tangkis ganda putra Indonesia Raymond Indra/Nikolaus Joaquin menghadapi ganda putra Indonesia Sabar Karyaman Gutama/Moh Reza Pahlevi Isfahani dalam babak semifinal Polytron Indonesia Terbuka 2026 di Istora Senayan, Jakarta, Sabtu (6/6/2026). Pebulu tangkis ganda putra Indonesia Raymond Indra/Nikolaus Joaquin melaju ke babak final usai mengalahkan Sabar Karyaman Gutama/Moh Reza Pahlevi Isfahani 21-15, 21-18.

KOMPAS/FAKHRI FADLURROHMAN (FAK) 06-06-2026

Sabar/Reza beradu pukulan datar dan cepat di atas bibir net atau drive. Masalahnya, Reza dan Sabar saling bergantian melakukan kesalahan ketika Raymond/Joaquin cukup disiplin.

Kondisi lapangan yang mendukung pola permainan cepat itu diamini Joaquin. Bahkan bukan hanya lapangan dan situasi anginnya, Joaquin mengatakan, kok dipakai juga mampu meluncur lebih cepat.

Jonatan Christie, tunggal putra Indonesia yang bermain lebih dulu di semifinal, mengatakan hal serupa. Lapangan dan kok pada babak 8 besar itu mendukung tipe permainan cepat.

Di sisi lain, Raymond/Joaquin mulai terbiasa bermain di lapangan tersebut. Sejak perempat final, mereka bermain di lapangan tengah itu. Meski sempat kesulitan beradaptasi dengan kondisi angin yang berbeda, mereka akhirnya bisa mengatasinya.

Pebulu tangkis ganda putra Indonesia Raymond Indra/Nikolaus Joaquin menghadapi ganda putra Indonesia Sabar Karyaman Gutama/Moh Reza Pahlevi Isfahani dalam babak semifinal Polytron Indonesia Terbuka 2026 di Istora Senayan, Jakarta, Sabtu (6/6/2026). Pebulu tangkis ganda putra Indonesia Raymond Indra/Nikolaus Joaquin melaju ke babak final usai mengalahkan Sabar Karyaman Gutama/Moh Reza Pahlevi Isfahani 21-15, 21-18.

KOMPAS/FAKHRI FADLURROHMAN (FAK) 06-06-2026

Semesta juga mendukung lewat pertemuan dengan lawan yang punya pola permainan berbeda. Dalam perjalanan Raymond/Joaquin menuju final, satu-satunya yang mampu mengimbangi kecepatan mereka adalah Takura Hoki/Yugo Kobayashi (Jepang) pada perempat final. Mereka tidak takut beradu drive dan saling cegat di depan net.

Meski sempat gagal mengeluarkan kemampuan terbaik, Raymond/Joaquin bisa bangkit dan akhirnya memenangi laga. Kobayashi menyoroti kecepatan dan rotasi yang apik kedua pemain itu sebagai kunci kemenangan mereka.

Satu-satunya yang bisa berbalik jadi ancaman ialah lawan di final, Goh Sze Gei/Nur Izzudin. Di tempat yang sama lima bulan lalu saat Indonesia Masters, penampilan Raymond/Joaquin antiklimaks saat partai puncak melawan pasangan nomor 8 dunia tersebut.

Padahal, Raymond/Joaquin punya pengalaman mengalahkan Goh/Izzudin yang jadi unggulan kedua di Australia Terbuka 2025. Raymond/Joaquin menang di semifinal, lalu menutup turnamen sebagai juara.

Pebulu tangkis ganda putra Indonesia Raymond Indra/Nikolaus Joaquin menghadapi ganda putra Indonesia Sabar Karyaman Gutama/Moh Reza Pahlevi Isfahani dalam babak semifinal Polytron Indonesia Terbuka 2026 di Istora Senayan, Jakarta, Sabtu (6/6/2026). Pebulu tangkis ganda putra Indonesia Raymond Indra/Nikolaus Joaquin melaju ke babak final usai mengalahkan Sabar Karyaman Gutama/Moh Reza Pahlevi Isfahani 21-15, 21-18.

KOMPAS/FAKHRI FADLURROHMAN (FAK) 06-06-2026

Kekalahan di final Indonesia Masters, menurut Raymond/Joaquin, juga tak lepas dari faktor adaptasi yang tidak berjalan mulus di lapangan. Seperti final nanti, mereka bermain di lapangan yang berada di tengah arena.

Masalahnya, di Indonesia Masters, laga puncak adalah momen pertama kalinya Raymond/Joaquin bermain di lapangan tersebut. Sejak awal turnamen sampai semifinal, mereka bermain di lapangan dua yang letaknya di pinggir.

Semesta mendukung atau ”mestakung” Raymond/Joaquin dengan waktu adaptasi yang lebih lama kali ini. ”Saya sudah flashback Indonesia Masters, evaluasi hasil final. Kami ingin lebih baik lagi dari sebelumnya,” ujar Joaquin.

Mestakung Raymond/Joaquin bukan karena keberuntungan datang begitu saja. Semesta mendukung karena persiapan, pengalaman, dan momentum akhirnya bertemu pada waktu yang tepat.

Namun, semesta hanya bisa membuka pintu. Sisanya tetap harus diputuskan sendiri oleh Raymond/Joaquin.


Kerabat Kerja

Penulis:

Rebiyyah Salasah, Kelvin Hianusa
 | 

Editor:

Prasetyo Eko Prihananto
 | 

Penyelaras Bahasa:

Nur Adji