Atlet generasi Z, Alwi Farhan dan Raymond Indra/Nikolaus Joaquin, mempersembahkan partai puncak Indonesia Masters 2026. Mereka sepakat, ini saatnya gen Z unjuk gigi.
24 Jan 2026 20:42 WIB · Olahraga
Kompas/Danu Kusworo
JAKARTA, KOMPAS — Harapan yang bertumpu pada para pebulu tangkis muda untuk membawa Indonesia berprestasi diwujudkan wakil ”Merah Putih” dari generasi z atau gen Z. Alwi Farhan dan Raymond Indra/Nikolaus Joaquin mempersembahkan final para gen Z tersebut.
Tunggal putra Alwi Farhan menyegel tiket final pertama untuk Indonesia di Daihatsu Indonesia Masters 2026 setelah mengalahkan tunggal putra Taiwan, Chi Yu Jen, di Istora Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Sabtu (24/1/2026), 21-11, 21-12. Raymond/Nikolaus menyusul sebagai wakil kedua Indonesia di partai puncak selepas memenangi pertarungan melawan sesama wakil Indonesia, Sabar Karyaman Gutama/Moh Reza Pahlevi, 21-19, 21-14.
Alwi dan Raymond/Nikolaus adalah atlet Indonesia yang tersisa dan berjuang hingga di partai puncak. Langkah mereka tak berhasil diikuti para pemain muda lain, yaitu ganda putri Rachel Allessya Rose/Febi Setianingrum dan ganda campuran Jafar Hidayatullah/Felisha Alberta Nathaniel Pasaribu, yang terhenti di semifinal. Begitu pula dengan ganda putri Lanny Tri Mayasari/Apriyani Rahayu.
”Final gen Z,” kata Alwi memberi nama pertemuan yang akan tercipta di final dengan atlet Thailand, Panitchaphon Teeraratsakul.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/01/24/4854c035-f6f5-4cdb-abfe-77d4c4504903.jpg)
Usia Alwi yang baru 20 tahun dan lawannya yang setahun lebih tua memang menjadi salah satu sorotan di final Indonesia Masters, Minggu. Pertemuan tersebut akan menjadi duel pemain muda andalan negara masing-masing, juga duel rekan segenerasi.
Generasi Z atau gen Z lahir, yang lahir pada rentang 1997-2012, saat ini berusia paling muda 14 tahun dan paling tua 29 tahun. Final yang dipersembahkan para pemain gen Z ini, kata Alwi, bisa dibilang mendobrak persaingan dunia tunggal putra yang masih didominasi pemain kelahiran 1990-an.
”Kalau slogan saya itu, gen Z siap unjuk gigi,” ujar Alwi sembari tersenyum.
”Saya dan teman-teman di pelatnas yang seumuran pastinya ingin berada di level atas secepatnya. Memang tidak bisa dimungkiri, butuh pengalaman, jam terbang, merasakan atmosfer yang berbeda-beda, bertemu pemain dari segala ranking, tidak bisa menyepelekan, mencoba berbagai kondisi lapangan. Itu semua berjalan dengan adanya waktu,” tambahnya.
Saya bilang ke diri sendiri, ’Ayok, bisa bareng-bareng juara besok. Kami maunya bareng-bareng juara di Indonesia Masters.
Raymond/Nikolaus (usia 21 dan 20 tahun) menyampaikan spirit serupa sebagai gen Z. Bahkan, kata Nikolaus, setiap kali ada atlet, terutama pemain muda, yang akan bertanding, mereka akan tos-tosan, ”Sambil kayak bilang, ’Ayok gen Z, yok!’ kayak iseng aja gitu.”
Kemenangan Alwi pada semifinal pun memotivasi Raymond/Nikolaus untuk meraih pencapaian serupa. ”Misal Alwi menang, saya mikir, ’Gue juga harus menang biar sesama gen Z. Ini waktunya gen Z!” ujar Nikolaus.
Raymond menambahkan, kemenangan Alwi di semifinal menambah keyakinan diri sendiri bahwa dia dan Nikolaus pun bisa meraih kemenangan. ”Saya bilang ke diri sendiri, ’Ayok, bisa bareng-bareng juara besok. Kami maunya bareng-bareng juara di Indonesia Masters,” ujarnya.
Pencapaian para atlet gen Z ini tak lepas dari keberhasilan mereka belajar dari pengalaman, terutama setahun terakhir. Alwi dan Raymond/Nikolaus sama-sama mencicipi banyak turnamen tur BWF dari segala level.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/01/24/02e44ac6-e853-4a88-a4c2-2c3e3ad4b2f7.jpg)
Alwi sempat memenangi level Super 300 Makau Terbuka. Juara dunia yunior 2023 ini kemudian membidik level lebih tinggi, dari 500, 750, hingga 1000. Namun, pencapaian terbaiknya baru sebatas perempat final Perancis Terbuka 2025 Super 750 dan semifinal Korea Terbuka Super 500.
Walakin, Alwi menggunakan pengalaman yang diraih dari turnamen-turnamen tersebut untuk bisa mengontrol diri lebih baik saat bermain. Pengalaman itu pula yang akhirnya mengantar pemain peringkat ke-18 dunia ini memperbaiki hasilnya di Indonesia Masters 2025 yang langsung terhenti di babak kualifikasi.
Alwi sekaligus memperbarui pencapaian terbaik di level Super 500 menjadi final. Maka, tak heran Alwi menyebut pencapaian di Istora istimewa.
”Saya selalu merinding, tidak pernah terbayangkan. Dulu, 2018, saya masih nonton A (Anthony) Ginting final dan juara di sini. Delapan tahun kemudian, saya bisa berada di partai final. Tidak ada di dalam benak dan di dalam pikiran saya sebelumnya, tapi saya berjuang untuk memantaskan diri sehingga saya bisa berada di sini,” ujar Alwi.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/01/24/999abc22-bca6-4e28-b782-6a212146b828.jpg)
Seperti Alwi, pengalaman juga telah mengantar Raymond/Nikolaus hingga berada pada final Indonesia Masters. Pada edisi 2025, mereka belum berpasangan. Raymond berpatisipasi bersama Patra Harapan Rindorindo, tetapi terhenti pada babak pertama.
Setelah itu, Raymond dipasangkan dengan Nikolaus pada Februari. Dalam turnamen BWF, mereka memulai perjalanan dari level International Series/Challenge yang menghasilkan empat gelar juara. Level turnamen mereka naik ke Super 100 dengan menjadi juara di Indonesia Masters, Super 300 dengan juara di Korea Masters, dan Super 500 dengan juara Australia Terbuka.
Di sisi lain, keberhasilan menembus final juga berarti bahwa Alwi dan Raymond/Nikolaus mampu memanfaatkan kesempatan yang memang terbuka lebar untuknya. Kesempatan itu datang ketika para pemain elite dunia banyak mengundurkan diri dari turnamen.
Ada enam tunggal putra yang mundur, tiga di antaranya penghuni peringkat 10 besar dunia sekaligus unggulan turnamen, yakni tunggal Indonesia, Jonatan Christie (peringkat keempat), Kunlavut Vitidsarn (Thailand/2), dan Kodai Naraoka (Jepang/9).
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/01/22/d565146f-8b81-4be9-a183-1dde5ac74852.jpg)
Sejak perempat final, Alwi menjadi satu-satunya tunggal putra Indonesia yang bertahan. Yohanes Saut Marcellino gugur di babak kualifikasi, Muhammad Yusuf terhenti pada babak pertama, Muhammad Zaki Ubaidillah tersingkir pada babak kedua, dan Anthony Ginting mundur sebelum melakoni laga babak kedua karena cedera.
Pada sektor ganda putra, persaingan juga tak diikuti para pemain top dunia, di antaranya Kim Won Ho/Seo Seung Jae (Korea Selatan/peringkat satu), Liang Wei Keng/Wang Chang (China/3), dan Satwiksairaj Rankireddy/Chirag Shetty (India/5).
Raymond/Nikolaus bahkan bisa membalas kekalahan dari Sabar/Reza di Malaysia Terbuka Super 1000, dua pekan lalu. Dalam turnamen pertama pada 2026 itu, Raymond/Nikolaus disingkirkan senior mereka pada babak pertama dengan skor 18-21, 9-21.
Sabar menilai, permainan ganda putra Raymond/Nikolaus berbeda dibandingkan di Malaysia Terbuka. ”Kali ini, mereka lebih percaya diri, mainnya lebih rapi. Serangan pertahanan jauh lebih bagus,” katanya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/01/24/047e48e1-935f-4ffb-9d38-91ede6366454.jpg)
Kombinasi rasa percaya diri dengan kecepatan dan kekuatan membuat Raymond/Nikolaus bisa membalas kekalahan dari Sabar/Reza dan mengalahkan Fajar Alfian/Muhammad Shohibul Fikri dalam dua babak beruntun di Indonesia Masters. Kemenangan atas Fajar/Fikri pada perempat final mengulang hasil yang didapat Raymond/Nikolaus pada final Australia Terbuka Super 500, November 2025.
Kemenangan atas Sabar/Reza dan Fajar/Fikri di Istora pun diraih setelah tertinggal dari lawan. Raymond/Nikolaus mengalahkan Fajar/Fikri 18-21, 21-19, 21-14 setelah tertinggal 18-19 pada gim kedua dan 9-11 pada gim ketiga.
Melawan Sabar/Reza, mereka tertinggal 0-6 dan dengan selisih terjauh 1-9 pada gim pertama. Sejak pertama kali unggul pada posisi 14-13 di gim ini, Raymond/Nikolaus melaju cepat untuk mencapai final kedua pada turnamen Super 500.
”Permainan mereka cukup bagus, punya kecepatan. Itu jadi modal untuk ke depan. Memang harus ada bibit muda yang segera muncul karena ganda putra yang konsisten di level atas hanya Fajar/Fikri. Raymond/Nikolaus menambah amunisi baru ganda putra Indonesia,” tutur Reza.
Indonesia punya atlet gen Z lainnya pada semifinal, yaitu Jafar Hidayatullah/Felisha Alberta Nathaniel Pasaribu dan Rachel Allessya Rose/Febi Setianingrum, tetapi mereka gagal menambah wakil tuan rumah untuk tampil di final.
Rachel/Febi (masing-masing berusia 21 tahun) kalah dari pasangan Jepang, Arisa Igarashi/Miyu Takahashi, 12-21, 21-19, 13-21. Jafar/Felisha memiliki peluang yang lebih besar setelah memenangi gim pertama dan unggul pada gim ketiga saat melawan Mathias Christiansen/Alexandra Boje, tetapi akhirnya kalah 22-20, 19-21, 17-21.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/01/23/baaf6482-1fdf-414a-a5eb-59088299b38d.jpg)
Jafar/Felisha (23 dan 20 tahun) membuat Istora, yang dipenuhi penonton, riuh ketika memenangi gim pertama dengan merebut lima poin terakhir secara beruntun. Setelah kehilangan gim kedua, peluang untuk menang kembali ke tangan ganda campuran ranking kesembilan dunia itu ketika unggul 11-4. Namun, setelah itu, kelemahan mereka terkuak.
”Dalam posisi ’kalah angin’ (angin melaju ke arah Jafar/Felisha), kami terus-menerus diserang lawan dan kesulitan keluar dari tekanan. Kekuatan tangan kami masih kurang untuk bisa bertahan dan balik menyerang,” kata Felisha.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/01/24/6248e717-0833-4de1-ab66-59b0e4dab313.jpg)
Meskipun bisa melangkah lebih jauh dibandingkan babak kedua pada Indonesia Masters 2025, target Jafar/Felisha untuk juara pada tahun ini tak tercapai. Mereka akan membawa catatan kelemahan itu pada turnamen berikutnya, Thailand Masters, 27 Januari-1 Februari.
Gen Z lain juga mewarnai final Indonesia Masters, yakni tunggal putri Pitchamon Opatniputh (Thailand). Teman ”seangkatan” Alwi yang sama-sama menjadi juara dunia yunior 2023 dan baru berusia 19 tahun ini akan menantang unggulan pertama turnamen, Chen Yu Fei (China), pada partai final.
Penulis:
Rebiyyah Salasah, Yulia SapthianiEditor:
Wisnu Aji DewabrataPenyelaras Bahasa:
Rosdiana Sitompul