Alexandra Eala belum menjuarai turnamen besar. Namun, dia punya pengalaman mengalahkan petenis top yang bisa membantu mewujudkan mimpi besarnya.
21 Jun 2026 14:39 WIB · Olahraga
AFP
Alexandra Eala belum bisa menjuarai turnamen WTA Tour saat tersingkir pada semifinal WTA 500 Berlin, Jerman. Namun, petenis putri Filipina itu layak diwaspadai petenis lain dalam turnamen besar terdekat, Wimbledon.
Perjalanan Eala di WTA Berlin, 15-21 Juni, berakhir di semifinal saat berhadapan dengan petenis Ceko, Linda Noskova, Sabtu (20/6/2026). Dalam persaingan di antara petenis berusia 21 tahun itu, Eala kalah dengan skor 2-6, 4-6.
Eala belum bisa menyaingi kecepatan Noskova yang juga mengalahkannya pada babak keempat WTA 1000 Indian Wells, Maret. Saat itu, dia kalah dengan skor lebih telak, 2-6, 0-6.
Namun, Eala mendapat pengalaman lebih besar dalam turnamen lapangan rumput, sebagai salah satu ajang pemanasan untuk Wimbledon yang akan berlangsung 29 Juni-12 Juli.
Dalam perjalanan menuju semifinal, dia menyingkirkan dua petenis ranking sepuluh besar dunia. Eala mengalahkan petenis peringkat kedua dunia, Elena Rybakina, pada babak kedua, lalu Elina Svitolina (8) di perempat final.
”Saat ini, saya gemetar juga, saat situasi match point tadi. Saya senang dengan apa yang saya lakukan hari ini karena Elena adalah salah satu petenis terbaik di lapangan rumput,” kata Eala setelah mengalahkan Rybakina, 7-5, 6-4.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/21/2908f038405fd7cf67f9a42223fc0630-wires_photo_2_.jpg)
Rybakina punya servis keras dan tajam, lebih baik daripada servis Eala, tetapi Eala bisa menetralkan servis itu dengan pengembalian yang menyulitkan lawan. Pukulan ini menjadi keunggulan Eala dibandingkan servis yang masih harus dikembangkan.
Dia bisa mengembalikannya ke dekat baseline atau dengan arah yang tak terbaca Rybakina. Ketika reli berjalan, Eala bisa mengontrol permainan. Kontrolnya, bahkan, semakin baik saat bertemu Svitolina hingga Eala menang 6-3, 6-4.
Eala bermain dengan mengombinasikan keberanian dan ketenangan menghadapi petenis top. Rybakina, bahkan, berstatus juara Grand Slam, dengan menjuarai Wimbledon 2022 dan Australia Terbuka 2026.
Tenis adalah bagian penting dalam keluarga dan menjadi identitas saya. Saya mencintai tenis.
Adapun Svitolina adalah petenis sarat pengalaman yang telah 18 tahun bersaing di arena tenis profesional. Pencapaian terbaiknya adalah empat kali menjadi semifinalis Grand Slam.
Kemenangan atas Rybakina dan Svitolina membuat Eala mencatatkan kemenangan keenam atas petenis peringkat sepuluh besar dunia. Empat petenis lain yang pernah dia kalahkan adalah Cori Gauff dan Jasmine Paolini pada turnamen berbeda pada tahun ini, serta Madison Keys dan Iga Swiatek di WTA 1000 Miami pada 2025.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/21/4de886399c83bbaad6d9458d12748b06-wires_photo_6_.jpg)
Setelah mengalahkan Rybakina, Eala menelepon ayahnya di Filipina. ”Saya berkata, ’Ya Tuhan!’, lalu kami berteriak bersama. Ibu saya ada di sana juga. Saya sangat-sangat gembira,” tuturnya.
Eala bermain untuk pertama kalinya di Berlin setelah menjuarai WTA 125 Birmingham, 1-7 Juni. Sejak saat itu, dia mencatatkan sembilan kemenangan dari 11 pertandingan di lapangan rumput yang puncak persaingannya akan berlangsung di Wimbledon.
Eala adalah petenis baseliner yang agresif. Dia bisa mendikte lawan melalui reli dari baseline dengan forehand—Eala bermain dengan tangan kiri—dan backhand dua tangan.
Mantan-mantan petenis, seperti Martina Navratilova dan Andrea Petkovic, saat menjadi komentator pertandingan Eala dalam Tur WTA menilai, Eala membutuhkan polesan dalam kekuatan fisik dan pukulan dan variasi dalam servis.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/21/5df651c4fef6a605a1da739e2f8f9855-wires_photo_4_.jpg)
Semifinal di Berlin menjadi hasil terbaik Eala pada turnamen WTA 500. Fase yang sama juga menjadi perjalanan terjauhnya pada level yang lebih tinggi, yaitu WTA 1000 Miami 2025.
Di level lebih rendah, yaitu WTA 250, Eala mencapai final WTA Eastbourne, Inggris, pada 2025, tetapi kalah dari Maya Joint. Adapun pada turnamen WTA 125, dia memiliki dua gelar juara.
Momen di WTA Miami 2025, saat Eala mengalahkan Jelena Ostapenko, Keys, dan Swiatek membuat publik Filipina membandingkannya dengan tokoh olahraga terkenal, yaitu petinju Manny Pacquiao.
Atlet bernama lengkap Alexandra Maniego Eala ini lahir di Quezon City, Filipina, 23 Mei 2005. Posisi tertinggi dalam daftar peringkat dunia dicapai ketika menempati urutan ke-29 pada 16 Maret 2026. Posisi ini membuatnya menjadi petenis Filipina dengan peringkat tertinggi.
Dia berasal dari keluarga yang menggeluti dunia olahraga. Ibunya, Rosemarie Maniego-Eala, adalah mantan perenang tim nasional dan meraih medali perunggu gaya punggung di SEA Games 1985.
Ayahnya, Michael Eala, adalah pebisnis, tetapi saudara ayahnya, Noli Eala, adalah mantan komisioner Asosiasi Bola Basket Filipina.
Kakak Eala, Michael Francis Eala, juga menggeluti tenis. Dia bermain pada tingkat universitas, yaitu di Pennsylvania State University Nittany Lions, AS, pada 2020-2024.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/03/25/bf64962d4fb91011c00af2662e6e53bd-MTS_SPO_TEN_WTA_MIAMI_OPEN_PRESENTED_BY_ITAU_2025_DAY_6_128454260.jpg)
Eala bermain tenis sejak berusia empat tahun setelah diperkenalkan pada olahraga ini oleh kakeknya, Roberto Maniego. Sosok yang dipanggil dengan sebutan Lolo oleh Eala ini juga menjadi pelatih pertama sang cucu, seperti dikutip dari Philstar Life, portal berita dan gaya hidup Filipina.
Tak hanya melatih, Lolo juga selalu mengingatkan hal-hal esensial yang harus dipegang Eala ketika dia beranjak besar. ”Dia mengatakan, ’Alex, kamu harus menjadi atlet yang mudah dilatih orang lain. Belajar bekerja sama dengan orang berbeda, dan tetap rendah hati’,” kata Eala.
Tenis menjadi olahraga yang menghubungkan anggota keluarga. Melalui tenis, anggota keluarga Eala bisa berkumpul. Tenis sebagai jalan untuk menjadi atlet dimulai dari Michael Francis yang berlatih di bawah pengawasan kakeknya. Lalu, Eala mengikuti.
Dia berlatih di Valle Verde Country Club meski masih terlalu kecil untuk memegang raket tenis. ”Tenis adalah bagian penting dalam keluarga dan menjadi identitas saya. Saya mencintai tenis,” kata Eala dalam wawancara dengan Tatler Asia.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2020/01/31/AP20031312911277_1580462981.jpg)
Pada usia 13 tahun (2018), Eala mengasah kemampuannya di tempat yang jauh dari keluarga, Akademi Rafa Nadal di Manacor, Mallorca, Spanyol. Ia meniti jalan dalam usia mudanya sambil menyeimbangkan antara tenis dan sekolah.
”Saat di kelas, saya hanya fokus pada akademik. Di lapangan, saya fokus seratus persen pada latihan. Dengan cara itu, yaitu fokus sesuai tempat saya berada, saya menghindarkan diri dari kelelahan secara mental,” katanya.
Dalam wawancara dengan Philstar Life pada 2021, Eala bercerita bahwa dia suka menonton film komedi dan horor, serta hal-hal yang mudah dilakukan di waktu senggang.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2020/01/31/Australian-Open-Tennis_86893928_1580461237-e1580463251725.jpg)
Di lapangan, dia bisa menemukan fokus dan kenyamanan melalui musik. Saat meraih poin, dia sering menyanyikan sebait lagu di kepalanya.
”Setelah mendapat poin, saya menyanyi. Lalu saat dapat poin lagi, saya menyanyi lagi di kepala. Itu seperti superstitious bagi saya,” kata Eala yang berdoa setiap mendapat poin di usia yang lebih muda.
Seiring peralihan dari yunior ke profesional, penggemarnya semakin banyak. Pada November 2022, fotonya menjadi sampul majalah Vogue Filipina.
Namun, seperti yang dia tuturkan kepada WTA ketika itu, Eala tidak ingin popularitas membuatnya besar kepala. ”Banyak yang lebih terkenal dari saya. Saya belum mencapai tahap yang saya inginkan. Saya harus punya motivasi yang kian besar,” katanya.
Cara itu tak selalu mudah dilakukan. Dia harus tetap berlatih pada akhir pekan saat teman-temannya memanfaatkan waktu untuk menjalani kehidupan sebagai remaja. Di Akademi Rafa Nadal, kedisiplinan ini diasah d bawah Pelatih Dani Gomez.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/02/19/4c1896a5-d7cc-41e1-b836-a26f1806a99d.jpg)
Joan Bosch, pelatih senior yang pernah bekerja sama dengan mantan petenis nomor satu dunia asal Spanyol, Carlos Moya, membantu memperkuat mental Eala pada kompetisi yang lebih elite. Salah satu pelatih kepala di akademi itu mendampingi Eala dalam turnamen.
Eala menyebut, setiap langkah yang dilewati membantunya berkembang. Dia menjadi petenis Fiilipina pertama yang menjuarai WTA 125, mencapai final WTA Tour, menembus peringkat 100 besar dunia, dan tampil pada babak utama Grand Slam di era Terbuka.
”Setiap kemenangan membuat saya paham apa yang seharusnya saya lakukan, sementara kekalahan memperlihatkan faktor yang harus saya benahi,” katanya.
Menjelang Wimbledon, Eala pantas menjadi pusat perhatian penggemar dan pesaingnya. Mimpinya pun semakin besar untuk membawa nama Filipina dan tenis Asia di pentas dunia. (AP/AFP)
Penulis:
Yulia SapthianiEditor:
Cornelius Helmy HerlambangPenyelaras Bahasa:
Nur Adji