Barcelona dan Arsenal dalam Pusaran Kemustahilan Laga Kedua

Di Liga Champions Eropa belakangan ini, pertemuan kedua sarat dengan kemustahilan. Pertemuan kedua, apalagi semifinal, dipercaya lebih sulit dari final.

01 Mei 2025 16:30 WIB · Olahraga

Oleh I Gusti Agung Bagus Angga Putra

BARCELONA, KAMIS — Arsenal dan Barcelona sama-sama meraih hasil kurang memuaskan pada pertemuan pertama semifinal Liga Champions Eropa. Bermain di markas sendiri, kedua tim tersebut gagal meraih hasil maksimal. Mereka akan menjalani misi mahaberat membalikkan keadaan pada laga atau pertemuan kedua. Belakangan ini jarang ada tim yang mampu menyelamatkan nasib fase itu. 

Sejak aturan gol tandang ditiadakan pada 2021, pertemuan kedua selalu menjadi lebih berat untuk tim yang gagal menang pada pertemuan pertama. Dari 40 pertandingan fase gugur Liga Champions musim ini, hanya Paris Saint-Germain dan Borussia Dortmund yang sukses menyulap tantangan pada pertemuan kedua menjadi tiket lolos ke babak selanjutnya.

PSG menyingkirkan Liverpool lewat adu penalti setelah kalah di kandang sendiri pada pertemuan pertama. Adapun Dortmund yang bermain imbang dengan Lille pada pertemuan pertama berhasil lolos ke perempat final usai menang pada pertemuan kedua.

Hal serupa harus diulangi Arsenal dan Barca yang sama-sama gagal menang di markas sendiri. Arsenal takluk 0-1 dari PSG, sementara Barca diimbangi Inter Milan 3-3 di Stadion Olimpiade Lluis Companys, Kamis (1/5/2025). Barca yang biasanya garang setiap kali bermain di kandang mendadak melempem. Inter dengan mudah mencetak gol cepat hingga unggul dua gol tanpa balas pada babak pertama. Dua kali tertinggal, dua kali pula Barca sanggup menyamakan kedudukan.

Pelatih Barca Hansi Flick menyadari pertemuan kedua tidak akan berjalan mudah bagi timnya. Di Liga Champions musim ini, Inter senantiasa tidak pernah tersentuh kekalahan setiap kali bermain di markasnya, Stadion Giuseppe Meazza.

Spain Soccer Champions League

”Kami tidak memulai pertandingan dengan baik. Kami mengalami pasang surut. Babak kedua sangat spektakuler. Pertandingan laga kedua akan seperti final,” kata Flick.

Ucapan Flick yang menyebut pertemuan kedua semifinal Liga Champions Eropa layaknya final tidaklah berlebihan. Fase ini memang selalu menantang bagi tim mana pun.

Pendapat nyaris serupa juga pernah diutarakan Manajer Manchester City Pep Guardiola pada 2021. Menurut Guardiola, pertemuan kedua semifinal sangat tidak mengenal kata ampun. ”Dari pengalaman saya, semifinal selalu sulit (daripada final),” ujar Guardiola empat tahun silam.

Pertemuan kedua semifinal terasa lebih menantang karena ada tekanan dari hasil pada pertemuan pertama. Tekanan menjadi lebih hebat lantaran setiap tim hanya berjarak satu pertandingan dari laga puncak. Dalam situasi tersebut, bayang-bayang kegagalan akan jauh lebih membebani karena tim sudah berusaha melaju jauh hingga semifinal. 

”Anda bermain dengan hasil laga pertama, Anda bermain dengan pikiran di sini adalah final, final, final. Terkadang Anda bisa lupa apa yang harus Anda lakukan. Menurut pengalaman saya, laga kedua semifinal selalu menjadi yang tersulit. Finalnya benar-benar berbeda, bukan berarti lebih mudah, malah benar-benar berbeda,” tutur Guardiola.

Britain Soccer Champions League

Pernyataan itulah yang menguatkan keyakinan bahwa pertemuan kedua akan berlangsung jauh lebih menarik. Di sanalah sisa harapan Arsenal mengakhiri musim dengan trofi impian mereka dipertaruhkan. Adapun bagi Barca, Inter harus ditaklukkan bagaimanapun caranya demi menjaga asa meraih quadruple atau empat trofi dalam semusim.

Untuk itulah gelandang Barca, Raphinha, begitu menyesali timnya bisa kebobolan tiga gol di markas sendiri. Meningkatkan antisipasi terhadap skema bola mati (set piece) menjadi salah satu aspek prioritas Barca jelang bertandang ke Milan. Dari skema itu Barca dipecundangi sebanyak dua kali oleh bek sayap Inter, Denzel Dumfries.

”Kami berusaha memberikan yang terbaik dan yang penting adalah kami mendapatkan hasil yang membuat segalanya mungkin,” kata Raphinha.

Sementara itu, penyerang Inter, Marcus Thuram, yakin timnya bisa meredam Barca di Milan. Apa yang harus mereka waspadai adalah manuver dari Raphinha dan, terutama, Lamine Yamal.

Spain Soccer Champions League

Yamal adalah sebuah anomali bagi pertahanan berlapis Inter. Betapapun banyaknya pemain Inter yang menjaga sekaligus membatasi pergerakannya, Yamal selalu bisa menemukan cara meloloskan diri. Aksi Yamal pula yang menginspirasi kebangkitan ”Blaugrana” setelah tertinggal dua gol lebih dulu.

Optimisme yang ditunjukkan Raphinha dan Thuram terkesan tidak ada apa-apanya dibandingkan penyerang Arsenal, Mikel Merino. Jika pernyataan Raphinha dan Thuram masih bernada harapan, Merino sebaliknya. Ia sangat optimistis bisa mengalahkan PSG di markasnya pada pertemuan kedua.

”Paris adalah tempat yang sulit untuk didatangi, tetapi kami selalu membuktikan bahwa kami dapat bersaing dengan siapa pun dan, dengan segala hormat, saya pikir kami akan memenangkan pertandingan kedua,” kata Merino. (AP)


Kerabat Kerja

Penulis:

I Gusti Agung Bagus Angga Putra
 | 

Editor:

Prasetyo Eko Prihananto
 | 

Penyelaras Bahasa:

Hibar Himawan