Misi Terselubung Para Pemanjat Cilik di Piala Dunia Panjat Tebing 2025

Di balik sorak-sorai Piala Dunia Panjat Tebing di Bali, ada anak-anak yang memanjat mimpinya sendiri. Tanda tangan dan foto idola menjadi jendela menuju masa depan.

03 Mei 2025 10:05 WIB · Olahraga

Oleh Rebiyyah Salasah

Seri Piala Dunia Panjat Tebing 2025 Bali, Indonesia, bukan hanya ajang perlombaan para pemanjat tebing dunia. Ini juga ”perlombaan” bagi para pemanjat cilik yang datang ke sana. Mereka berlomba-lomba mewujudkan misi terselubungnya, yakni mendapatkan sebanyak-banyaknya foto dan tanda tangan dari para pemanjat tebing dunia. Berharap bisa ”tertular” hebatnya.

Senyuman menghiasi wajah Restu Aqila Bumi (12) ketika baju yang dibawanya mulai terisi beberapa tanda tangan. Itulah hasil Bumi menjadi salah satu orang paling sibuk di arena perlombaan babak kualifikasi lead, Jumat (2/5/2025). Setelah menonton, dia memanggil nama-nama atlet, mondar-mandir mencari mereka, dan mendatanginya saat sudah ketemu.

Menjelang akhir babak kualifikasi lead dan hampir semua pemanjat telah menjajal dua rute berbeda, Bumi memilih menanti di area keluar-masuk atlet. Di sana, di balik pagar, telah berjejer para pemanjat cilik seperti Bumi yang telah siap dengan baju, spidol, ponsel, dan kamera.

Saat atlet lewat, Bumi dan para pemanjat cilik lain akan memanggilnya dan menyodorkan spidol. Mereka meminta atlet tersebut membubuhkan coretan di baju, tas, dan buku. Selepas mendapatkan tanda tangan atau inisial nama dari para pemanjat dunia, anak-anak ini kemudian akan meminta berswafoto dengan atlet tersebut.

Restu Aqila Bumi (paling kanan), pemanjat berusia 12 tahun dari Yogyakarta menunjukkan baju yang dibubuhi tanda tangan pemanjat "lead" yang tampil pada seri Piala Dunia Panjat Tebing 2025 Bali di Pulau Peninsula kawasan Nusa Dua, Badung, Jumat (2/5/2025).

Senyuman yang pernah ditunjukkan Bumi mengembang lagi. Begitu pula dengan anak-anak lainnya yang puas menunaikan ”misi” mereka. Ada yang berteriak saking senangnya, ada pula yang terpaku seolah tak percaya melihat foto dan tanda tangan atlet idola.

”Senang banget dong, kapan lagi bisa dapat tanda tangan mereka. Pokoknya harus full di baju,” ucap Bumi.

Ke Bali, misi utama Bumi tentu saja menonton perlombaan yang digelar di Pulau Peninsula kawasan Nusa Dua, Badung, itu. Bumi, yang berangkat dari Yogyakarta bersama tiga teman dan satu pelatihnya, ingin memetik pelajaran dari para pemanjat level dunia.

Bumi juga pemanjat. Siswa kelas 5 sekolah dasar ini memanjat lead dan speed. Dia bahkan pernah beberapa kali menjuarai ajang remaja dan anak, salah satunya Open Tournament Piala Panglima TNI 2024.

Quote

Biar jadi motivasi aku biar bisa kayak mereka, main di Piala Dunia juga.

Para pemanjat cilik meminta tanda tangan pemanjat "lead" Jepang, Mei Kotake,selepas babak kualifikasi seri Piala Dunia Panjat Tebing 2025 Bali di Pulau Peninsula kawasan Nusa Dua, Badung, Jumat (2/5/2025).

Berburu tanda tangan dan foto adalah misi lainnya, yang tersembunyi di balik misi utama. Namun, bagi Bumi, foto dan tanda tangan ini bukan perkara remeh-temeh. Apalagi baju yang dibubuhi tanda tangan itu adalah baju latihannya.

”Biar jadi motivasi aku biar bisa kayak mereka, main di Piala Dunia juga,” ucap Bumi yang juga menanti tanda tangan dari atlet-atlet speed Indonesia. Veddriq Leonardo dan kawan-kawan baru akan berlaga Sabtu (3/5/2025).

Alasan serupa disampaikan Ni Komang Gesvira Magistri (11). Pemanjat asal Badung, Bali, ini juga berharap bisa semakin termotivasi ketika melihat lagi ada nama-nama atlet dunia terpampang di bajunya.

Sebenarnya, tidak semua nama itu dikenal Magistri ataupun Bumi. Tidak semua atlet juga pernah tonton sebelumnya. Namun, itu bukanlah masalah bagi mereka.

Ni Komang Gesvira Magistri (paling kanan), pemanjat berusia 11 tahun dari Badung, Bali, menunjukkan baju yang dibubuhi tanda tangan pemanjat "lead" yang tampil pada seri Piala Dunia Panjat Tebing 2025 Bali di Pulau Peninsula kawasan Nusa Dua, Badung, Jumat (2/5/2025).

Bagi Magistri dan para pemanjat cilik lainnya, siapa pun atlet yang tampil di Piala Dunia Panjat Tebing, mereka adalah pemanjat hebat. ”Enggak apa-apa (enggak kenal semua), tetap minta foto dan tanda tangan, biar tertular hebatnya menjadi pemanjat dunia,” kata Magistri.

Namun, di antara nama yang paling membuat hari Magistri senang adalah Ai Mori, pemanjat asal Jepang. Ai Mori adalah atlet idolanya.

Ai Mori memang menjadi bintang yang paling banyak diserbu penggemar pada seri ketiga Piala Dunia ini. Saat Ai Mori beraksi, tidak sedikit penonton yang meneriakkan namanya guna memberikan dukungan.

Pemanjat berusia 21 tahun ini mencuri perhatian karena menjadi satu dari dua atlet putri yang bisa mencapai puncak dalam dua rute pemanjatan. Ai Mori, yang pernah menjadi atlet panjat Jepang termuda yang naik podium pada Kejuaraan Dunia 2019, memiliki tiga gelar juara seri Piala Dunia.

Ai Mori juga mewakili Jepang di Olimpiade Paris 2024 untuk turun di nomor kombinasi (lead dan boulder). Namun, dia tidak membawa pulang medali setelah menempati peringkat keempat.

Ini adalah kali pertama Mori mendatangi dan berlomba di Bali. Mori pun tak menyangka mendapatkan sambutan luar biasa dari para penggemar. Mori mengatakan, motivasinya meraih gelar juara pada Piala Dunia pertamanya tahun ini bertambah dengan antusiasme dari para pemanjat cilik ini.

Pemanjat "lead" Jepang, Ai Mori, mencapai puncak rute panjat dua pada babak kualifikasi seri Piala Dunia Panjat Tebing 2025 Bali di Pulau Peninsula kawasan Nusa Dua, Badung, Jumat (2/5/2025).

Para pemanjat cilik itu datang ke arena perlombaan bukan hanya untuk menonton, melainkan juga menyerap semangat, menanam cita-cita, dan diam-diam ”memanjat” masa depan mereka. Di antara coretan spidol dan kilatan kamera, tertulis harapan yang tak kalah tinggi dari tebing yang dipanjat idolanya.


Kerabat Kerja

Penulis:

Rebiyyah Salasah
 | 

Editor:

Wisnu Aji Dewabrata
 | 

Penyelaras Bahasa:

Lucia Dwi Puspita Sari