Rudal KHAN dirancang untuk mengeliminasi target berupa infrastruktur strategis, seperti fasilitas radar, pusat komando, fasilitas logistik, dan bunker.
18 Agt 2025 15:27 WIB · Politik & Hukum
Indonesia telah mendatangkan rudal balistik jarak pendek atau short-range ballistic missile bernama KHAN dari perusahaan Roketsan, Turki. Dengan demikian, Indonesia menjadi pengguna asing pertama sistem rudal tersebut sekaligus yang pertama mengoperasikan rudal balistik di kawasan Asia Tenggara.
Informasi tersebut disampaikan Kepala Dinas Penerangan TNI Angkatan Darat (Kadispenad) Brigadir Jenderal Wahyu Yudhyana pada 11 Agustus 2025. Alat utama sistem persenjataan (alutsista) tersebut kini ditempatkan di markas Batalyon Artileri Medan ke-18 di Kalimantan Timur.
Wahyu mengatakan, sistem rudal balistik jarak pendek KHAN belum diserahterimakan kepada TNI AD. Dengan demikian, penjelasan rinci mengenai sistem alutsista tersebut masih merupakan domain Kementerian Pertahanan (Kemenhan).
Menurut Wahyu, sistem rudal balistik jarak pendek KHAN yang sudah datang ke Indonesia saat ini merupakan batch I. Menurut rencana, sistem rudal balistik jarak pendek itu akan diserahterimakan ke TNI AD setelah batch II tiba.
”Jadi, sekarang masih dalam satu rangkaian proses kajian dan pembelian dari Kementerian Pertahanan. Kalau sudah serah terima, nanti kita jelaskan kenapa deploy di sana, lalu urgensinya alutsista tersebut,” kata Wahyu.
Kehadiran KHAN ini menambah kemampuan serangan presisi jarak jauh dengan akurasi yang lebih baik.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/08/18/52c6af902fa1a8c9627ca19c58edb319-Screen_Shot_2025_08_18_at_12.55.47.png)
KHAN adalah sistem rudal balistik jarak pendek (SRBM). Rudal balistik jarak pendek memiliki jangkauan kurang dari 1.000 kilometer (km). Beberapa contoh dari rudal balistik jarak pendek adalah rudal V-2 buatan Jerman atau rudal Scud-B dan SS-21 Scarab buatan Uni Soviet.
Jenis rudal balistik lain berdasarkan jangkauan adalah rudal balistik jarak menengah (MRBM) dengan jangkauan antara 1.000-3.000 km, rudal jarak menengah intermediat dengan jangkauan 3.500-5.500 km, dan rudal antarbenua (ICBM) dengan jangkauan di atas 5.500 km.
Berdasarkan platform, ada jenis rudal balistik yang diluncurkan dari kapal selam, dari darat, dan dari udara. KHAN merupakan jenis rudal balistik yang diluncurkan dari darat (ground-launched ballistic missile).
KHAN diproduksi oleh perusahaan pertahanan dari Turki, Roketsan. Sistem KHAN adalah versi ekspor dari rudal yang diberi nama Bora. Sistem rudal tersebut dikembangkan Roketsan sejak 2009 dan mulai diperasikan militer Turki pada 2017 dan hingga saat ini telah diproduksi sekitar 800 unit.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/10/03/6c20eb2b-384d-404a-bc2e-1fbe4782ee9d_jpg.jpg)
Sebagai rudal balistik taktis, rudal KHAN yang dibeli Indonesia merupakan versi ekspor dengan jangkauan minimal 80 km dan maksimal 280 km. Namun, versi asli Bora yang dioperasikan militer Turki memiliki jangkauan sampai 700 km. Adapun rudal Bora berasal dari rudal B-611 yang sebelumnya diperoleh Turki dari China.
Sistem rudal KHAN yang dibeli Indonesia adalah KHAN ITBM-600. Kontrak pembelian dilakukan oleh Kementerian Pertahanan pada ajang Indo Defence Expo 2022. Dengan panjang 8 meter, diameter 61 cm, dan berat total 2.500 kilogram, KHAN memiliki kecepatan sampai Mach 5 atau mencapai 6.125 km per jam.
Dengan membawa hulu ledak sampai 570 kg, KHAN dapat menyerang target dengan akurasi di bawah 10 meter. Presisi yang tinggi tersebut bisa terjadi karena KHAN dipandu Sistem Pemosisian G(GPS) dan Sistem Satelit Navigasi Global (GNSS) serta Intertial Navigation System (INS).
Rudal tersebut dirancang untuk mengeliminasi target berupa infrastruktur strategis, seperti fasilitas radar, pusat komando, fasilitas logistik, dan bunker. KHAN dioperasikan secara mobile dengan pengusung berupa kendaraan jenis truk.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/08/18/ffeb1ebd20e77f36d3fcfb9af90bcdb3-WhatsApp_Image_2025_08_18_at_07.15.46.jpeg)
Pengamat pertahanan dari Institute for Security and Strategic Studies, Khairul Fahmi, Senin (18/8/2025), berpandangan, pembelian sistem rudal balistik jarak pendek KHAN perlu dibaca sebagai bagian dari upaya modernisasi alutsista sesuai ancaman dan kebutuhan saat ini. Selama ini, kekuatan pertahanan darat didominasi oleh jenis artileri konvensional.
Sistem artileri roket modern yang dioperasikan TNI AD adalah RM-70 Grad asal Ceko yang berbasis truk dan Astros II MK-6 buatan Brasil. Lainnya adalah R-Han 122 B buatan dalam negeri yang kompatibel dengan sistem peluncur RM-70 Grad.
Sementara itu, pertahanan darat seperti tank tempur dan senjata perseorangan seperti senapan sudah berjalan dan sebagian besar bisa dipenuhi industri dalam negeri. Dengan hadirnya KHAN, Indonesia menjadi negara yang memiliki kemampuan rudal balistik.
”Kehadiran KHAN ini menambah kemampuan serangan presisi jarak jauh dengan akurasi yang lebih baik. Bahkan, KHAN lebih baik dari teknologi awal yang diadopsi dari China,” ujar Fahmi.
Menurut Fahmi, rudal KHAN bukan dimaksudkan untuk menyerang negara lain, melainkan untuk mempertahankan wilayah. Dalam konteks doktrin TNI yang defensif aktif, pembelian rudal KHAN adalah bagian dari kesiapan untuk melakukan tindakan preventif dan responsif.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/10/05/c617a56c-ef81-4cc8-a77b-0cb9d68cded3_jpg.jpg)
Alih-alih menjadi alat untuk ekspansi, kehadiran rudal KHAN menjadi bagian dari strategi untuk memberikan daya tangkal strategis bagi pihak yang ingin mengganggu. Selain itu, penempatan rudal KHAN di Kalimantan Timur sekaligus merupakan upaya untuk mengamankan Alur Laut Kepulauan Indonesia 2 sebagai jalur lalu lintas pelayaran internasional yang menghubungkan Laut Sulawesi dengan Samudra Hindia.
Fahmi tidak menampik bahwa kepemilikan rudal balistik KHAN berpotensi untuk memicu semacam perlombaan senjata dari negara di kawasan untuk mengambil langkah serupa. Namun, patut dipahami bahwa pembelian itu tetap dalam koridor doktrin defensif aktif.
”Kita juga harus konsisten pada amanat konstitusi bahwa pembangunan pertahanan untuk menjaga melindungi kedaulatan, berikutnya untuk ikut serta dalam menjaga perdamaian dunia,” tutur Fahmi.
Penulis:
Norbertus Arya Dwiangga MartiarEditor:
Cyprianus Anto SaptowalyonoPenyelaras Bahasa:
Rosdiana Sitompul