Motif Tersembunyi di Balik Serangan Israel, Tel Aviv Diduga Berniat Ganti Rezim Iran

Dilihat dari skala serangan, pilihan target Israel, dan pernyataan PM Israel Benjamin Netanyahu, tersirat niat Israel menggulingkan kepemimpinan Iran.

14 Jun 2025 13:04 WIB · Internasional

Oleh Luki Aulia

Serangan mendadak Israel terhadap Iran punya tujuan jelas, yakni mengganggu program nuklir Iran dan memperpanjang waktu yang dibutuhkan Iran untuk mengembangkan senjata atom. Namun, jika dilihat dari skala serangan, pilihan target Israel, dan pernyataan para pejabat Israel, khususnya Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, terlihat ada tujuan jangka panjang lainnya, yakni menggulingkan rezim Iran.

Serangan Israel, Jumat (13/6/2025) pagi, tidak hanya menghantam fasilitas nuklir dan pabrik rudal Iran, tetapi juga tokoh-tokoh penting dalam rantai komando militer Iran serta ilmuwan nuklirnya. Seperti diberitakan Kompas sebelumnya, serangan Israel menewaskan Panglima Garda Revolusi Iran (IRGC) Mayor Jenderal Hossein Salami. Media-media Iran, antara lain IRNA dan Mehr, melaporkan tewasnya Salami.

Charles Lister, peneliti senior Middle East Institute di Amerika Serikat, menyebut Kepala Staf IRGC Mohammed Bagheri juga tewas. Sementara Tasnim News melaporkan, ilmuwan senior dalam pengembangan nuklir Iran, Mohammad Mahdi Tehranchi dan Fereydoon Abbasi, juga tewas. Abbasi pernah jadi Kepala Badan Tenaga Atom Iran. Sementara Tehranchi menjadi rektor Universitas Islam Azad.

Israeli security forces inspect destroyed houses that were struck by a missile fired from Iran, in Rishon Lezion, Israel on Saturday, June 14, 2025. (AP Photo/Ohad Zwigenberg)

Israel tampak menghindari jatuhnya korban sipil di Iran. Serangan Israel tampaknya ditujukan untuk mengurangi kredibilitas Iran baik di dalam negeri maupun di antara sekutu-sekutunya di kawasan Timur Tengah. Strategi ini memperkuat dugaan ada misi lain di belakang serangan atas program nuklir Iran, yaitu misi pergantian rezim di Iran.

Pengamat dari Institut Washington untuk Kebijakan Timur Dekat dan mantan pejabat semasa Presiden Amerika Serikat George W Bush, Michael Singh, menilai faktor-faktor itu yang dapat mengganggu stabilitas kepemimpinan Iran. ”Orang berasumsi bahwa salah satu alasan Israel menyerang Iran adalah karena mereka berharap melihat perubahan rezim. Mereka ingin melihat rakyat Iran bangkit,” kata Singh.

Provokasi Netanyahu

Tak lama setelah pesawat tempur Israel menyerang fasilitas nuklir dan sistem pertahanan udara Iran, video pidato Netanyahu diunggah. Isi pidato Netanyahu ditujukan khusus untuk rakyat Iran. Netanyahu ”mempromosikan” bahwa berkat operasi militer Israel terhadap sekutu Iran, Hizbullah, terbentuklah pemerintahan baru di Lebanon dan membuat rezim Presiden Suriah Bashar al-Assad runtuh.

Rakyat Iran sekarang, kata Netanyahu, juga punya kesempatan yang sama. ”Saya percaya hari pembebasan kalian sudah dekat. Ketika hari itu datang, persahabatan kita, antara kedua bangsa kuno, akan tumbuh subur lagi,” ujarnya.

(FILES) This handout file picture obtained from the office of Iran's Supreme Leader Ayatollah Ali Khamenei shows him (L), Hossein Salami (2nd R), head of Iran's Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC), and General Amir Ali Hajizadeh, the head of the corps' aerospace division (R), during a visit at the IRGC aerospace achievement exhibition in Tehran on November 19, 2023. The Israeli military said its air strikes on Iran on June 13, 2025 had killed most of the senior leadership of the Revolutionary Guards' air force as they gathered at an underground command centre. It said that air force commander Hajizadeh, the drone force commander, and the aerial command chief were all killed by an Israeli air strike. (Photo by khamenei.ir / AFP) / RESTRICTED TO EDITORIAL USE - MANDATORY CREDIT "AFP PHOTO / HO / KHAMENEI.IR" - NO MARKETING NO ADVERTISING CAMPAIGNS - DISTRIBUTED AS A SERVICE TO CLIENTS

Sebelumnya, September lalu, Netanyahu sudah menyerukan perubahan dalam pemerintahan Iran. Pemerintahan Presiden AS Donald Trump, meski menyetujui serangan Israel dan membantu Israel menangkis serangan rudal balasan Iran, belum memberikan indikasi apa pun bahwa mereka menginginkan perubahan rezim di Iran.

Permusuhan selama puluhan tahun antara Israel dan Iran tidak hanya ada di tingkat elite Iran, tetapi juga mayoritas penduduknya yang beragama Syiah. Situasi ini yang membuat ragu apakah prospek mengobarkan dukungan publik untuk menggulingkan kepemimpinan teokratis yang mengakar di Iran akan berhasil.

Pasalnya, kepemimpinan Iran juga didukung oleh pasukan keamanan yang setia. ”Tidak seorang pun tahu apa yang bisa dilakukan agar oposisi dapat bersatu di Iran,” kata Singh.

Dalam situasi seperti itu, para ahli memperkirakan Israel akan terus menyerang infrastruktur nuklir Iran untuk menggerogoti ”wibawa” elite Iran, sekaligus mengganjal pengayaan uranium menjadi bom nuklir. Akan tetapi, kapasitas Israel untuk menuntaskan misi itu diragukan. Penasihat Keamanan Nasional Israel Tzachi Hanegbi kepada TV Channel 13 Israel mengatakan, operasi militer tetap dapat menciptakan kondisi untuk membuat kesepakatan dengan AS yang akan menggagalkan program nuklir.

Mantan Kepala Analis Mossad dan kini peneliti di Institut Studi Keamanan Nasional Israel, Sima Shina, skeptis Israel akan memiliki amunisi yang dibutuhkan untuk menghancurkan program nuklir Iran. Israel butuh bantuan AS.

(FILES) This picture shows a general view of Isfahan (UCF) nuclear power plant (UCF), south of Tehran, on March 30, 2005. Israel unleashed a wave of strikes on Iran on June 13, hitting about 100 targets including nuclear facilities and military command centres, and killing senior figures, among them the armed forces chief and top nuclear scientists. (Photo by HENGHAMEH FAHIMI / AFP)

Shine justru meyakini Israel berusaha menggulingkan rezim kepemimpinan Iran. Itu alasan mengapa Israel menargetkan begitu banyak tokoh militer senior Iran. Serangan terhadap mereka berpotensi membuat lembaga keamanan Iran menjadi bingung dan kacau.

”Orang-orang itu penting, berpengetahuan, sudah lama berkecimpung dalam pekerjaan mereka, dan jadi komponen penting dari stabilitas rezim, khususnya stabilitas keamanan. Israel lebih suka melihat perubahan rezim,” tutur Shine.

Namun, perubahan seperti itu akan disertai risiko. Mantan wakil perwira intelijen nasional AS untuk Timur Tengah, Jonathan Panikoff, menilai, jika Israel berhasil menyingkirkan kepemimpinan Iran, tidak ada jaminan penggantinya yang muncul tidak akan lebih keras lagi dalam mengejar konflik dengan Israel.

”Banyak orang di Israel meyakini pergantian rezim di Iran akan mendorong hari yang baru dan lebih baik. Tidak ada yang lebih buruk daripada rezim teokratis saat ini. Namun, mengingat pengalaman selama ini, bisa jadi situasinya malah lebih buruk,” ujarnya.

”Sebagai negara demokrasi, negara Israel percaya bahwa rakyat suatu negara harus membentuk politik nasional mereka dan memilih pemerintah mereka. Masa depan Iran hanya dapat ditentukan oleh rakyat Iran,” sebut Kedutaan Besar Israel di Washington kepada kantor berita Reuters. (REUTERS/AFP/AP)


Kerabat Kerja

Penulis:

Luki Aulia
 | 

Editor:

Bonifasius Josie Susilo H
 | 

Penyelaras Bahasa:

Priskilia Bintang Cornelia Sitompul