Kompas.id Brief

Serangan Israel Picu Eskalasi, Apa Dampaknya bagi Dunia?

Sejak Jumat pagi Israel menyerang Iran. Empat gelombang serangan diarahkan Tel Aviv untuk menghancurkan situs nuklir Iran. Serangan itu memicu ketidakpastian baru.

14 Jun 2025 09:03 WIB · Internasional

Oleh Bonifasius Josie Susilo H

Kawasan Timur Tengah, kawasan ”terpanas” di dunia, kembali bergejolak. Jumat (13/6/2025) dini hari, Israel menyerang situs-situs nuklir dan pangkalan militer Iran. Ibu kota Iran, Teheran, terguncang, demikian juga dunia. Dampak serangan tidak hanya dirasakan langsung oleh warga Iran dan Israel. Imbasnya mendunia. Lalu, apa yang dapat kita serap dari artikel ini?

Apa dampak serangan Israel bagi dunia?

Apa pemicu serangan?

Apa sasaran utama serangan Israel kali ini?

Bagaimana situasi terkini?

Bagaimana tanggapan dunia?

Apa dampak serangan Israel bagi dunia?

copy title

Selain menyebabkan kerusakan di sejumlah lokasi di Iran, khususnya pada situs-situs nuklir, seperti Natanz, serangan tersebut juga menyebabkan sejumlah petinggi militer dan ahli nuklir Iran tewas.

Kehilangan itu menjadi kehilangan besar bagi Iran. Akan tetapi, tidak hanya Iran yang merasakan imbas langsung serangan Israel. Dunia pun terdampak.

Pada sesi pembukaan Jumat pagi, harga saham di Asia rontok. Kondisi serupa terjadi di Amerika Serikat, Eropa, dan belahan lain dunia. Para investor memilih mengalihkan aset mereka ke moda yang lebih aman, di antaranya emas.

Selain saham, serangan Israel juga memicu lonjakan harga minyak dunia. Pada awal serangan, harga minyak di bursa Brent naik 2 persen. Namun, menjelang siang, harga komoditas itu merangkak naik hingga menyentuh angka 5 persen. Dan, pagi ini, angkanya kembali meningkat mendekati angka 6 persen.

Situasi ini membuat ketidakpastian yang dihadapi dunia pascapandemi Covid-19 belum juga pupus.

Apa pemicu serangan?

copy title

Salah satu alasan utama Israel menyerang Iran adalah program nuklir Iran. Israel tidak menghendaki Iran memiliki nuklir, apalagi senjata nuklir. Israel ingin tetap menegaskan dominasi negara itu di kawasan. Serangan dilakukan setelah Israel melemahkan proksi Iran di kawasan, yaitu Hamas, Hizbullah, dan Houthi.

Selama ini, ketiga entitas tersebut dianggap Tel Aviv sebagai gangguan yang kerap merongrong keberadaan mereka. Pascaserangan 7 Oktober 2023 Hamas ke Israel, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu bersumpah untuk menghancurkan Hamas dan sekaligus Hizbullah. Jalur Gaza dan Beirut menjadi sasaran dan dihajar oleh Israel.

Mereka dianggap sebagai pihak-pihak utama yang bertanggung jawab atas serangan 7 Oktober. Sejak itu, Israel memburu para pemimpin Hamas dan Hizbullah di mana pun mereka berada. Dalam salah satu serangan di Teheran pada akhir Juli 2024, Israel menewaskan pemimpin utama Hamas kala itu, Ismail Haniyeh. Serangan itu memicu balasan Iran.

Konflik kedua musuh bebuyutan itu kian memanas. Israel menilai, Iran harus dilemahkan agar tidak menjadi ancaman laten.

Untuk itu, penyokong utama kekuatan Iran harus dilumpuhkan, yaitu program nuklir Teheran. Meskipun Washington dan Teheran yang berunding, Tel Aviv terus mengikuti dari dekat. Israel menilai, perundingan tersebut akan macet.

Media Israel menyebutkan, PM Netanyahu pernah memberi Presiden Trump tenggat 60 hari untuk mencapai kesepakatan dengan Iran. Tenggat diberikan sampai 12 Juni 2025.

AS-Israel menuntut Iran melucuti total program nuklirnya. Sementara Iran menuntut seluruh Timur Tengah dilucuti dari senjata nuklir. Hal itu berarti Israel juga harus melucuti senjata nuklirnya. Sejumlah lembaga riset internasional menduga, Israel punya setidaknya 90 hulu ledak nuklir. Israel menolak siapa pun, termasuk AS, mengawasi senjata nuklirnya (”Israel Terus Menyerang, AS-Eropa Desak Iran Tidak Membalas”, Kompas.id, 13/6/2025).

Apa sasaran utama serangan Israel kali ini?

copy title

Sasaran utama serangan Israel kali ini adalah situs-situs nuklir Iran dan pangkalan militer negara itu. Akan tetapi, PM Netanyahu juga mengatakan, semua yang terkait dengan program nuklir Iran, baik dari kalangan militer maupun sipil, juga menjadi target serangan Israel.

Pada gelombang pertama serangan Israel ke Iran, Jumat pagi, sejumlah petinggi militer Iran tewas. Salah satu korban tewas adalah Komandan Garda Revolusi Iran Mayor Jenderal Hossein Salami.

Serangan juga menewaskan enam ilmuwan nuklir. Mereka adalah Fereydoun Abbasi, Mohammad Mehdi Tehranji, Abdolhamid Minouchehr, Ahmad Reza Zolfaghari, Amir Hossein Faghihi, dan Motallebzadeh.

Selain itu, dalam serangan tersebut, sejumlah situs nuklir, termasuk situs nuklir Natanz—salah satu pusat pengayaan uranium Iran—rusak berat. Bangunan utama yang berada di atas tanah dikabarkan hancur.

Bagaimana situasi terkini?

copy title

Iran tidak tinggal diam. Teheran kemudian menggelar serangan balasan. Serangan pertama adalah gelombang ratusan pesawat nirawak yang menyasar Tel Aviv.

Selain itu, Iran juga menembakkan sejumlah rudal balistik. Juru bicara militer Israel, Effie Defrin, mengatakan, tentara Israel sedang berusaha menangkis pesawat-pesawat itu.

Sebagian pesawat dilaporkan ditembak di luar Israel. Tidak disebut di mana pastinya pesawat dijatuhkan. Belum diketahui berapa jumlah pesawat nirawak yang dikirim Iran ke Israel. Belum diketahui pula berapa lama pesawat-pesawat itu mencapai Israel.

Pada Sabtu (14/6/2025) dini hari, Teheran menembakkan sejumlah rudal balistik ke Israel. Rudal itu merupakan gelombang kedua pembalasan Iran atas serangan Israel. Sejumlah dentuman besar dikabarkan terdengar di Jerusalem dan beberapa lokasi di Tel Aviv.

Sejumlah rudal balistik tersebut berhasil dirontokkan. Jordania secara turut menjatuhkan rudal-rudal yang mengarah ke Israel itu. Sebelumnya, pada Jumat, Jordania juga menembak jatuh sejumlah pesawat nirawak dan rudal yang mengarah ke Iran.

Amman beralasan tidak mau wilayah udaranya dijadikan gelanggang pertempuran. Rudal yang dijatuhkan dinilai Amman berpotensi mengancam wilayah Jordania.

Bagaimana tanggapan dunia?

copy title

Dunia mengecam keras serangan Israel ke Iran. Sejumlah negara di dunia, termasuk Indonesia, mendesak semua pihak menahan diri dan tidak mengambil langkah-langkah baru yang dapat memicu eskalasi.

Namun, ada pula sejumlah negara, terutama Amerika Serikat dan Eropa, berpendapat, Israel memiliki hak untuk membela diri dan balik mendesak Iran untuk memilih jalur diplomasi.

Kanselir Jerman Friedrich Merz memberi sejumlah alasan, di antaranya Iran dinilainya melanggar konvensi internasional soal pencegahan pengembangan senjata nuklir. Pengembangan itu, kata Merz, mengancam kawasan dan khususnya Israel (”Israel Terus Menyerang, AS-Eropa Desak Iran Tidak Membalas”, Kompas.id, 13/6/2025).

Namun, tidak semua negara memiliki sikap sebagaimana Jerman. Setelah melontarkan kecaman keras, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri RI Roy Sumirat menyatakan, serangan Israel merupakan pelanggaran yang melemahkan dasar-dasar hukum internasional.

Oleh karena itu, Indonesia mendorong semua pihak untuk menahan diri serta tidak mengambil tindakan lain yang dapat menimbulkan ketegangan dan kerusakan di kawasan. Indonesia juga mengingatkan tentang kewajiban semua negara untuk menyelesaikan perbedaan dengan cara damai.

Pernyataan senada dinyatakan oleh Arab Saudi dan Turki. ”(Serangan) Itu merupakan pelanggaran yang jelas terhadap hukum dan norma internasional,” ujar Menteri Luar Negeri Arab Saudi Pangeran Faisal bin Farhan Al-Saud dalam sebuah penyataan.

Sementara Menteri Luar Negeri Turki Hakan Fidan menyebutkan, serangan udara Israel itu merupakan tindakan provokasi. Hal itu juga menunjukkan Israel tidak berminat untuk menyelesaikan permasalahan melalui langkah-langkah diplomatik. Menurut dia, tindakan agresif yang mengobarkan konflik lebih besar harus dihentikan.


Kerabat Kerja

Penulis:

Bonifasius Josie Susilo H
 | 

Editor:

Antonius Tomy Trinugroho
 | 

Penyelaras Bahasa:

Priskilia Bintang Cornelia Sitompul