MRT Jakarta bersiap memulai proyek Cikarang ke Balaraja dan menyempurnakan studi kelayakan proyek Fatmawati ke Kampung Rambutan.
21 Jul 2025 11:59 WIB · Metropolitan
PT MRT Jakarta (Perseroda) mempunyai tiga rencana besar sekaligus. Selain mengebut proyek Bundaran HI ke Kota, perseroan akan memulai proyek Fase 1 tahap 1 Cikarang ke Balaraja serta menyempurnakan studi kelayakan proyek Fatmawati ke Kampung Rambutan.
Ruas Bundaran HI ke Kota merupakan bagian dari lintas utara-selatan. Lintas ini terdiri dari Fase 1 Lebak Bulus ke Bundaran HI, Fase 2A Bundaran HI ke Kota, dan Fase 2B Kota ke Ancol.
Per Juni 2025, progres proyek Fase 2A sudah mencapai 49 persen dari target 48,54 persen. Sementara dua proyek lain adalah lintas Cikarang-Balaraja atau disebut lintas timur-barat serta dari Fatmawati ke Kampung Rambutan merupakan MRT Lingkar Luar.
Direktur Konstruksi MRT Jakarta Weni Maulina mengatakan, lintas timur ke barat akan dimulai dalam waktu dekat dari Medansatria ke Tomang. Jalur ini nanti bakal terkoneksi dengan Stasiun Thamrin yang menjadi bagian Fase 2A Bundaran HI ke Kota.
”Segera dimulai. Kami mengontrak konsultan untuk tender tahun ini,” kata Weni dalam sesi ”Media Fellowship Program MRT Jakarta 2025”, Kamis (17/7/2025).
Secara keseluruhan, lintas MRT timur-barat terbagi dalam beberapa fase. Fase 1 tahap 1 mencakup Medansatria ke Tomang dengan depo di Rorotan, Jakarta Utara. Panjang lintasannya mencapai 24,5 kilometer dengan tambahan 5,9 kilometer menuju depo. Terdapat 21 stasiun berupa kombinasi jalur atas dan bawah tanah.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/04/24/72a3167931e5ebd9758fca6ae5deaa7d-FAK_5063.jpg)
Fase 1 tahap 2 dari Tomang ke Kembangan sepanjang 9,2 kilometer. Bagian ini terdiri atas 5 stasiun. Kemudian, Fase 2 akan menghubungkan Jakarta dengan Banten di sisi barat dan dengan Jawa Barat di sisi timur.
Pembangunan di Banten menghubungkan Kembangan ke Balaraja sejauh 29,9 kilometer dengan 14 stasiun. Sementara di Jawa Barat pengerjaan menyambungkan Medansatria ke Cikarang sejauh 20 kilometer dengan 7 stasiun. ”Diperkirakan akan ada 500.000 penumpang per hari di lintas timur ke barat,” kata Weni.
Selanjutnya, ada MRT Lingkar Luar. Rutenya dari Fatmawati hingga ke Kampung Rambutan ini berupa jalur bawah tanah. Pemerintah masih mencari skema pendanaan yang terbaik. Sempat mengemuka opsi kerja sama pemerintah dan badan usaha.
MRT Lingkar Luar akan terkoneksi dengan Stasiun MRT Fatmawati. Stasiun ini merupakan bagian dari Fase 1 Lebak Bulus ke Bundaran HI. ”(Pembangunan MRT Lingkar Luar) Ditaksir membutuhkan anggaran Rp 21,3 triliun. Kalau estimasi penumpang mencapai 97.000 orang per hari,” ujar Weni.
Di sisi lain, ada permintaan perluasan lintasan ke Tangerang Selatan di Banten. Jalurnya dari Lebak Bulus ke Serpong. Permintaan ini dinilai penting bagi warga setempat. Sebab, setidaknya 70 persen dari 1,5 juta warga Tangerang Selatan hilir mudik ke Jakarta.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/04/24/f454eb4194313c4e51e5ef0e3bfef264-FAK_5281.jpg)
Belum ada perkembangan lebih lanjut terkait hal ini. Namun, pembangunannya memerlukan pembebasan lahan dan pembangunan infrastruktur lain, seperti jalan layang (flyover), terowongan (underpass), dan pelebaran jalan.
Kota Depok juga mengutarakan keinginan serupa. Ada perpanjangan lintasan MRT ke wilayahnya.
Wakil Wali Kota Depok Chandra Rahmansyah mengutarakannya saat peresmian Transjabodetabek dari Lebak Bulus ke Sawangan pada 4 Juni 2025. Transjabodetabek merupakan perluasan layanan Transjakarta ke wilayah aglomerasi Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi.
MRT yang sudah dan sedang dibangun dari Lebak Bulus-Bundaran HI-Kota-Ancol merupakan koridor penghubung utara ke selatan Jakarta dan berkarakter sebagai moda transportasi urban atau dalam kota.
Sebaliknya, proyek Medansatria ke Tomang, Kembangan ke Balaraja, dan Medansatria ke Cikarang bakal memperluas jaringan MRT. Tidak hanya koridor dalam kota, tetapi juga sub-urban atau dari aglomerasi, seperti halnya kereta rel listrik (KRL).
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/06/17/47ae03bc4d807c16e7de3a624f92d93d-20250617ron49.jpg)
”Hal ini akan sangat memberikan kemudahan aksesibilitas dan mobilitas bagi warga yang tinggal di koridor tersebut maupun di seputar Jakarta,” tutur Ketua Forum Transportasi Jalan dan Perkeretaapian Masyarakat Transportasi Indonesia Pusat Aditya Dwi Laksana, Senin (21/7/2025).
Konektivitas koridor utara ke selatan dan timur ke barat di Stasiun MRT Thamrin nantinya juga memudahkan pengguna untuk berpindah moda di pusat kota Jakarta. Hal ini akan memberikan efek pelipatgandaan terhadap volume pengguna MRT.
Menurut Aditya, apa yang akan terjadi serupa dengan analogi kenaikan signifikan pengguna Transjakarta selatan ke utara atau koridor Blok M-Kota pada tahun 2006. Waktu itu, koridor timur ke barat atau Harmoni-Pulogadung dan Harmoni-Kalideres beroperasi dengan titik transit di Halte Harmoni Central.
Sementara lintasan Fatmawati ke Kampung Rambutan atau Taman Mini Indonesia Indah bakal meningkatkan mobilitas timur ke barat dari wilayah selatan Jakarta. Apalagi jika terintegrasi dengan Terminal Bus Kampung Rambutan bahkan diperluas dengan Stasiun KRL Tanjung Barat dan Stasiun LRT Jabodebek TMII. ”Catatan pentingnya ialah membangun integrasi yang baik dengan moda-moda lainnya,” kata Aditya.
Tak lupa mempersiapkan lahan yang memadai untuk pembangunan depo dan jalur penyimpanan (stabling) sarana. Kemudian, memperbanyak koridor akses gerbang stasiun MRT dengan pusat perbelanjaan dan pusat perkantoran di sekitar jalurnya.
Penulis:
Fransiskus Wisnu Wardhana DhanyEditor:
Mukhamad KurniawanPenyelaras Bahasa:
Hibar Himawan