Pembangunan transportasi publik perlu fokus untuk menarik pengguna baru, khususnya kelompok masyarakat yang masih menggunakan kendaraan pribadi.
12 Jul 2025 08:00 WIB · Metropolitan
Pengembangan transportasi publik di wilayah Jabodetabek kian semarak dengan rencana pembangunan mass rapid transit (MRT) koridor timur-barat. Koridor ini membentang dari Bekasi di Jawa Barat hingga Tangerang di Banten. Konektivitas antardaerah diharapkan semakin baik.
Akan tetapi, pembangunannya dinilai perlu memperhatikan target pengguna. Harapannya, kehadirannya dapat efektif mengurangi kemacetan dengan menurunkan penggunaan kendaraan pribadi di jalan raya.
Berdasarkan rencana PT MRT Jakarta, proyek MRT koridor timur-barat terbagi menjadi dua fase. Fase 1 akan terbagi lagi menjadi dua tahap, yakni tahap 1 sepanjang 24,5 km yang akan membentang dari Medansatria hingga Tomang serta tahap 2 sepanjang 9,2 km sepanjang Tomang-Kembangan.
Selanjutnya, fase 2 akan mencakup ruas Kembangan-Balaraja yang akan dibangun dengan panjang 29,9 km dan Medansatria-Cikarang sepanjang 20,5 km. Pembangunan koridor ini tercantum dalam Keputusan Menteri Perhubungan Nomor 203 Tahun 2022 tentang Penetapan Trase Jalur MRT Koridor Timur-Barat.
Terbaru, PT MRT Jakarta mengontrak konsultan untuk memulai tender proyek tersebut. Menurut rencana, perseroan akan mengumumkan dimulainya tender tersebut tahun ini. Proses akan dilakukan sesuai aturan Badan Kerja Sama Internasional Jepang (JICA) yang turut serta dalam proyek tersebut.
”Setelah dari konsultan, dalam waktu 1-2 bulan kami akan jajaki pasar ke forum yang lebih besar. Kami akan menarik para bidder (penawar) proyek, kombinasi dari Jepang dan Indonesia,” kata Direktur Konstruksi PT MRT Jakarta Weni Maulina, Kamis (10/7/2025).
Bersamaan dengan penjajakan pasar, PT MRT Jakarta bersama Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mulai memetakan lokasi (penetapan lokasi) pembangunan. Setelah tender, pada periode 2026-2027, kontrak rencana ditandatangani bersama dengan proyek pengadaan fasilitas lainnya. Peletakan batu pertama proyek ini sendiri sudah dilakukan pada September 2024.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/07/11/619c98f328c8a8dbc505e0096c67b27d-FAK_8828.jpg)
Mengacu pada rencana PT MRT Jakarta, terdapat sejumlah fase pembangunan koridor timur-barat ini. Dari peta rencana, pembangunan akan dimulai dari Jakarta. Di fase 1 segmen 1, pembangunan akan dimulai dari wilayah Tomang, Jakarta Barat, menuju Medansatria, Kota Bekasi. Depo akan dibangun di Rorotan, Jakarta Utara.
Panjang rel di fase ini adalah 24,5 km dengan tambahan 5,9 km menuju depo. Sebanyak 21 stasiun akan dibangun. Kombinasi jalur atas dan bawah tanah dilakukan.
Dari rute Tomang-Grogol, jalur akan dibangun melayang di atas (elevated). Lalu, saat memasuki rute Roxy-Galur, kereta akan turun ke bawah (underground), dan kembali naik ke atas di Cempaka Baru, Jakarta Pusat, hingga menuju Bekasi.
Di fase 1 segmen 2, jalur akan menghubungkan wilayah Tomang-Kembangan. Panjangnya mencapai 9,2 km dengan jumlah 5 stasiun elevated.
Selanjutnya, fase 2 pembangunan akan menghubungkan Jakarta dengan Banten-Jawa Barat. Untuk wilayah Banten, pembangunan dilanjutkan dengan menghubungkan Kembangan-Balaraja dengan panjang rute 29,9 km dan jumlah 14 stasiun elevated. Di sisi timur, pembangunan akan menghubungkan Medansatria-Cikarang. Panjangnya 20 km dengan total 7 stasiun.
Pembangunan untuk rute utara-selatan juga terus dikebut PT MRT Jakarta. Weni menjelaskan, pembangunan sejumlah proyek sudah melampaui target.
Per Juni 2025, progres proyek di fase 2A yang menghubungkan Thamrin-Kota sudah mencapai 49 persen dari target sebesar 48,54 persen. Secara rinci, proyek Contract Package (CP) atau Kontrak Proyek 201 yang menghubungkan Bundaran HI-Harmoni menjadi yang paling besar progresnya, yakni mencapai 88,41 persen.
Terkini, pengerjaan proyek untuk rute Bundaran HI-Harmoni sudah memasuki tahap pembangunan pintu masuk (entrance). Sejumlah gerbong rel dari Depo MRT Lebak Bulus juga mulai dipindahkan ke area tersebut. Rute tersebut dijadwalkan beroperasi pada akhir 2027.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/03/25/7c112521-a2b2-439e-afa3-cb1ecee19c47_png.png)
Sementara itu, untuk CP 202 rute Harmoni-Mangga Besar, progresnya mencapai 53,84 persen dan CP 203 untuk rute Mangga Besar-Kota mencapai 74,79 persen. Adanya sejumlah gedung tua di daerah tersebut menjadi salah satu tantangan dalam menyelesaikan proyek sehingga pengerjaannya perlu hati-hati.
Untuk beberapa paket proyek, MRT Jakarta masih melakukan tender. Tender paket CP 206 untuk pengadaan gerbong kereta kini dibuka kembali setelah gagal beberapa waktu lalu. Paket CP 207 untuk pengadaan sistem tiket juga diperpanjang masa tendernya. Lalu, progres CP 205 untuk pembangunan sistem kereta sudah mencapai 17,32 persen.
”Sejumlah rencana pengerjaan ahead (melebihi) target yang kita tetapkan. Dalam pengerjaannya menimbulkan kemacetan, untuk itu kami meminta maaf,” ujarnya.
Dalam pengembangannya, khususnya koridor baru rute timur-barat, PT MRT Jakarta dan pemerintah daerah perlu memastikan target pengguna. Selain itu, jalur yang dipilih diharapkan tidak banyak bersinggungan dengan jalur transportasi umum lain agar keterisiannya bisa maksimal.
Peneliti senior Inisiatif Strategis Transportasi, Deddy Herlambang, menjelaskan, agar koridor timur-barat efektif sebagai transportasi publik dan mengurangi kemacetan, jalurnya harus melewati sejumlah permukiman, perkantoran, dan fasilitas publik lain. Selain itu, harus ada bus pengumpan yang tersedia di wilayah tersebut.
Lokasinya yang berada di pinggir dan melewati perbatasan Jakarta membuat bus pengumpan ke wilayah di sekitar stasiun penting. Selain permukiman, jalurnya juga perlu terkoneksi dengan kawasan komersial untuk hiburan.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2022/11/30/e59cdbc5-0739-4572-8c02-67a1f1b08a8e.jpg)
”Pertama, perlu ada koneksi dengan daerah kantor, sekolah, atau pusat hiburan keramaian. Lalu, integrasi dengan bus pengumpan. Daripada menghadirkan bus yang lebih besar, waktu tunggu lebih lama,” ujarnya.
Poin penting lain yang perlu diperhatikan adalah singgungan jalur dengan rute transportasi publik lainnya. Deddy menjelaskan, bila jalur MRT masih mengikuti jalur transportasi publik yang sudah ada, rute kereta rel listrik (KRL) misalnya, keterisian transportasi publik secara umum tidak akan meningkat.
Hal ini karena tidak tercipta pengguna baru. Yang banyak terjadi adalah masyarakat hanya akan berpindah moda bila moda lainnya penuh. Deddy mencontohkan, fenomena ini terjadi di Koridor 1 Transjakarta rute Blok M-Kota.
Menurut dia, keterisian MRT dan transportasi publik di rute itu belum optimal karena ada lebih dari tiga transportasi publik lain di koridor tersebut. Hal ini membuat subsidi di koridor tersebut ”menumpuk”.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/06/01/e8d34eb980c2226b423c097ab8f77a38-WhatsApp_Image_2025_06_01_at_15.05.01.jpeg)
Bila dibenahi, subsidi tersebut bisa dialihkan untuk membangun transportasi di pinggiran Jakarta. Menurut Deddy, kawasan pinggiran Jakarta membutuhkan tambahan transportasi publik lagi.
Berdasarkan data MRT Jakarta per Juni 2025, jumlah rata-rata penumpang (ridership) MRT Jakarta mencapai 116.000-an pengguna per hari. Tahun 2025, perseroan menargetkan rata-rata penumpang per hari mencapai 117.867 penumpang. Jumlah ini masih di bawah kapasitas maksimal MRT di 173.000 penumpang per hari.
Ia menyarankan, koridor timur-barat setidaknya bisa mengurangi pengguna kendaraan pribadi yang menuju daerah padat, seperti dari dan menuju Cikupa, khususnya yang melewati Tol Lingkar Luar Jakarta (Jakarta Outer Ring Road).
”Kalau masih bersinggungan dengan jalur transportasi publik lain, orang hanya berpindah moda. Padahal, targetnya harusnya agar penggunaan kendaraan pribadi diturunkan,” ujarnya.
Pengembangan transportasi publik oleh pemerintah daerah tersebut perlu dikaji dengan cermat agar tujuan utamanya mengurangi ketergantungan kendaraan pribadi tercapai. Kemacetan menurun, kualitas hidup warga naik.
Penulis:
Raynard Kristian Bonanio PardedeEditor:
Mukhamad KurniawanPenyelaras Bahasa:
Amin Iskandar