Pengembangan kawasan TOD menjadi salah satu fokus MRT Jakarta meningkatkan pengguna transportasi publik. Pembangunan jalur juga terus diupayakan.
10 Jul 2025 20:17 WIB · Metropolitan
JAKARTA, KOMPAS — Sejumlah kawasan di Jakarta masih bakal terus direvitalisasi guna menumbuhkan minat warga menggunakan transportasi umum. Pembangunan sejumlah jalur transportasi baru juga masih berlangsung.
Direktur Pengembangan Bisnis PT Mass Rapid Transit Jakarta (MRT Jakarta) Farchad Mahfud menjelaskan, revitalisasi kawasan berorientasi transit atau transit oriented development (TOD) akan terus dilakukan. Semua demi menarik minat warga menggunakan transportasi umum.
Terbaru adalah revitalisasi kawasan Blok M, Jakarta Selatan. Revitalisasi dilakukan dengan membuka area pejalan kaki dan memberi desain interior anyar.
”Hal tersebut menjadi strategi meningkatkan jumlah penumpang dengan kehadiran TOD,” ujar Farchad di Jakarta, Kamis (10/7/2025).
Ke depan, Farchad mengatakan, MRT Jakarta berencana membangun bangunan vertikal di Jaksel yang dapat difungsikan sebagai hotel, tempat tinggal, hingga ritel. Pencarian terhadap investor pun tengah dilakukan.
Apalagi, setelah dikeluarkannya aturan Peraturan Daerah Nomor 11 Tahun 2024 tentang Perseroan Terbatas MRT Jakarta, perseroan mendapat mandat mengelola kawasan sekitar stasiun dan lembaga integrasi antarmoda.
”Kami ingin pastikan pergerakan warga di Jakarta makin mudah,” ucapnya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2019/03/26/81df1fc3-eabc-4700-a444-65faf58179cc.jpg)
Selain di Blok M, MRT Jakarta akan memperluas wilayah park and ride atau area parkir dan berangkat di Lebak Bulus. Hal ini agar semakin banyak warga, khususnya dari Banten, menggunakan transportasi umum menuju pusat kota Jakarta.
Merujuk data Jakarta Investment Center, biaya investasi pengembangan kawasan tersebut mencapai Rp 496 miliar. Bangunannya diharapkan berfungsi tahun 2027.
Sementara di Jakarta Pusat, menurut rencana akan dibangun koneksi yang menghubungkan setiap area pertemuan penumpang (concourse) dekat Stasiun MRT Bundaran HI Bank DKI. Area ini berukuran 3.000 meter persegi yang dapat menjadi ruang multifungsi.
Farchad menjelaskan, tata ruang menjadi kunci untuk meningkatkan jumlah penumpang (ridership) moda MRT Jakarta. Untuk itu, penggunaan lahan di sekitar stasiun harus tepat.
Berdasarkan data MRT Jakarta per Juni 2025, jumlah rata-rata penumpang MRT Jakarta mencapai kurang lebih 116.000 pengguna per hari.
Tahun 2025, targetnya bisa menyentuh 117.867 penumpang per hari. Jumlah ini masih di bawah kapasitas maksimal, 173.000 penumpang per hari.
Menurut Farchad, pengguna utama MRT masih didominasi pekerja. Agar meluas, pihaknya juga ingin berbagai lapisan menggunakan MRT.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/05/24/f727e268b01cd76e043639de77b9a388-20250524YGA09.jpg)
Salah satu strateginya mendekatkan layanan publik di sekitar stasiun MRT. Terbaru, PT MRT Jakarta bekerja sama dengan Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu DKI Jakarta menghadirkan layanan pengurusan sejumlah dokumen. Layanan publik lainnya direncanakan terus ditambah.
Selain mengembangkan TOD, penambahan jalur baru juga terus dilakukan. Kini terdapat sejumlah proyek jalur yang masih dikerjakan.
Direktur Konstruksi PT MRT Jakarta Weni Maulina menjelaskan, per Juni 2025, progres proyek di Fase 2A yang menghubungkan Thamrin-Kota sudah mencapai 49 persen dari target 48,54 persen.
Secara rinci, Contract Package (CP) atau Kontrak Proyek 201 yang menghubungkan Bundaran HI-Harmoni menjadi yang paling besar progresnya, 88,41 persen.
Rute tersebut dijadwalkan beroperasi pada akhir 2027. Sementara itu, untuk CP 202 rute Harmoni-Mangga Besar, progresnya mencapai 53,84 persen. Adapun CP 203 untuk rute Mangga Besar-Kota mencapai 74,79 persen.
Selain itu, Weni juga menyampaikan perkembangan proyek Metropolitan Lin Timur-Barat atau MRT East-West yang menghubungkan Balaraja, Banten, hingga Cikarang, Jawa Barat. Fasilitas ini ditargetkan selesai tahun 2032.
Weni menyebut, pihaknya telah menandatangani kontrak dengan konsultan untuk menggelar lelang proyek konstruksi jalur tersebut.
Lelang harus sesuai dengan aturan yang ditetapkan oleh Badan Kerja Sama Internasional Jepang (JICA), yang merupakan salah satu pendana proyek. Setelah konsultasi, dalam 1-2 bulan ke depan, proyek ini akan dipaparkan kepada pasar.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/05/26/1dc865bbf9b06d86f179e70deb1b8651-20250526YGA20.jpg)
”Hingga Juni, sejumlah konstruksi Fase 2A melampaui target. Kami meminta maaf bila dalam pembangunan menimbulkan kemacetan di jalan,” ucap Weni.
Peneliti desain urban Monash University, Alyas Widita, mengatakan, kehadiran moda MRT dinilai mampu mengurangi kepadatan kendaraan di Jakarta.
Dari penelitiannya pada 2024, secara umum kemacetan di jalur yang dilalui moda MRT turun hingga 34 persen. Namun, angka ini juga bergantung pada kondisi jalan di waktu-waktu tertentu.
Metode penelitian membandingkan kepadatan jalan yang dilalui MRT dan yang tidak. Nilainya dianalisis dari data sensor virtual yang ada di ruas-ruas jalan tersebut.
Alyas menyebutkan, pembangunan transportasi yang dirancang dengan baik terbukti dapat meningkatkan kualitas hidup warga perkotaan.
”Dengan kemacetan yang berkurang, hal tersebut membuka kesempatan untuk pemerintah dan juga warga untuk mendesain kota dan jalan dengan lebih baik lagi,” ujarnya.
Penulis:
Raynard Kristian Bonanio PardedeEditor:
Cornelius Helmy HerlambangPenyelaras Bahasa:
Amin Iskandar