Mudik Asyik Tanpa Panik

Liputan Lebaran 2025 dari ”Kompas” akan memberikan panduan bagi masyarakat untuk dapat merayakan Lebaran dengan asyik di tengah tantangan ekonomi.

17 Mar 2025 22:38 WIB · Nusantara

Oleh Nikolaus Harbowo

Musim mudik Lebaran 2025 semakin dekat. Masyarakat pun siap menyambutnya dengan sukacita agar dapat berkumpul bersama keluarga tercinta dan merayakan kebahagiaan bersama orang sekitar.

Ririn Oktaviani (32), karyawan swasta di Jakarta, misalnya, telah menanti Lebaran. Baginya, Lebaran selalu mempunyai dua momen yang tak terpisahkan, mudik dan liburan bersama sanak saudara. Ia ingin menghabiskan waktu liburan bersama keluarga di Yogyakarta, kampung halamannya.

Ia menyadari, perayaan Lebaran kali ini perlu disikapi secara lebih bijaksana. Ia harus betul-betul mengencangkan ikat pinggang dalam situasi ekonomi negara yang makin tak menentu.

”Saya sudah memproyeksikan pengeluaran-pengeluaran apa saja yang akan dibutuhkan. Itu harus dihitung cermat karena saya melihat ekonomi sekarang yang kemudian takut adanya krisis. Jujur, takut banget adanya krisis,” ungkap Ririn saat dihubungi, Senin (17/3/2025).

Suasana di salah satu sudut Terminal Kampung Rambutan, Jakarta Timur, yang menjadi pemberangkatan moda bus antar kota antar provinsi, Sabtu (15/3/2025). Terminal Kampung Rambutan merupakan salah satu titik pemberangkatan pemudik untuk Lebaran 2025. Meski beberapa calon pemudik telah memesan tiket, penjualan tiket untuk mudik tahun di loket tiket setempat ini belum terlihat lonjakan. Kenaikan permintaan tiket diperkirakan akan terjadi pekan depan, seiring telah mulai libur sekolah yang dipercepat pemerintah. Sepinya loket penjualan tiket juga disebabkan beberapa armada bus telah melayani pemesanan melalui daring. Selain itu penumpang mudik yang lebih awal juga sudah terlihat, terutama dari kalangan pekerja sektor informal seperti buruh bangunan yang telah selesai pekerjaannya dan memilih segera pulang kampung sebelum harga tiket naik dan sulit didapat. 

KOMPAS/RONY ARIYANTO NUGROHO
15/3/2025

Namun, situasi itu tak lantas mengurangi semangat Ririn untuk tetap menjaga tradisi dan mempererat silaturahmi di hari raya Idul Fitri. Ia hanya perlu membagi prioritas dalam pengeluaran. Sisanya harus ditabung.

Agar bisa tetap liburan dengan hati tenang dan nyaman, Ririn merasa perlu terus memonitor perkembangan situasi ekonomi nasional terkini. Untuk itu, liputan terkait hal tersebut pasti akan dibacanya.

Di sisi lain, ketika liburan nanti, ia membutuhkan liputan yang setidaknya mengulas terkait tips liburan yang hemat dan diskon-diskon yang mewarnai Lebaran. Perlu juga tips untuk mengelola uang tunjangan hari raya (THR). ”Apakah itu diskon tarif tol atau kebijakan-kebijakan pemerintah yang ada diskon-diskonnya. Biasalah, tetap mata diskonan he-he-he,” ujarnya.

Suasana beberapa calon penumpang antre di loket pemesanan tiket bus antar kota antar provinsi di Terminal Kampung Rambutan, Jakarta Timur, Sabtu (15/3/2025). Terminal Kampung Rambutan merupakan salah satu titik pemberangkatan pemudik untuk Lebaran 2025. Meski beberapa calon pemudik telah memesan tiket, penjualan tiket untuk mudik tahun di loket tiket setempat ini belum terlihat lonjakan. Kenaikan permintaan tiket diperkirakan akan terjadi pekan depan, seiring telah mulai libur sekolah yang dipercepat pemerintah. Sepinya loket penjualan tiket juga disebabkan beberapa armada bus telah melayani pemesanan melalui daring. Selain itu penumpang mudik yang lebih awal juga sudah terlihat, terutama dari kalangan pekerja sektor informal seperti buruh bangunan yang telah selesai pekerjaannya dan memilih segera pulang kampung sebelum harga tiket naik dan sulit didapat. 

KOMPAS/RONY ARIYANTO NUGROHO
15/3/2025

Ririn hanya satu dari 100 juta lebih orang yang akan bepergian selama libur Lebaran. Kementerian Perhubungan memperkirakan, potensi pergerakan masyarakat selama libur Lebaran 2025 mencapai 146,48 juta jiwa atau hampir separuh dari total penduduk Indonesia.

Terdapat lima wilayah tujuan pemudik, yakni Sumatera Utara, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Yogyakarta. Informasi terkait arus mudik, potensi titik macet, ketersediaan tiket di sejumlah moda, hingga pilihan liburan pun bakal dicari warga.

Untuk itu, seperti tahun-tahun sebelumnya, Kompas dan Kompas.id akan menyajikan liputan khusus Lebaran. Melalui tulisan hingga video dari jurnalis di sejumlah daerah, kami ingin menemani pembaca menyambut sekaligus memaknai hari raya Lebaran.

Teman perjalanan

Di tengah berbagai tantangan ekonomi, Tim Kompas memotret berbagai inisiatif dan kreativitas masyarakat untuk dapat merayakan momen-momen menjelang Lebaran dengan penuh makna tanpa mengganggu keuangan. Inisiatif dan kreativitas biasanya akan muncul tatkala masyarakat dihadapkan pada berbagai tantangan tersebut.

Warga bersantai sejenak sembari ngabuburit di kawasan Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, Minggu (16/3/2025). Taman menjadi salah satu destinasi favorit warga unutk menunggu waktu berbuka. Kompas/Riza Fathoni (RZF)

Dalam hal kebiasaan ngabuburit atau menunggu jam berbuka, misalnya, masyarakat memanfaatkan ruang publik. Mereka tak perlu pergi ke tempat-tempat yang jauh dan membutuhkan biaya tinggi.

Masyarakat di Semarang, contohnya, ngabuburit di Alun-alun Masjid Agung Semarang, Jawa Tengah. Begitu pula warga Surabaya dan Madura memanfaatkan Jembatan Suramadu untuk menunggu waktu berbuka. Selain murah, tempat-tempat ikonik itu juga memberikan pengalaman khusus bagi masyarakat.

Di sisi lain, ada pula sejumlah masyarakat yang mencoba peruntungan baru dengan berjualan bingkisan hamper Lebaran. Dengan harapan, ini bisa menambah periuk nasi dan kebutuhan keluarga mereka menjelang Lebaran.

Untuk semakin melengkapi perjalanan mudik, Kompas edisi Lebaran juga akan mengulas kondisi titik-titik perjalanan mudik, seperti bandara, pelabuhan, jalan, terminal, hingga stasiun kereta api. Tak hanya itu, kami juga akan menyajikan sejumlah rekomendasi tempat wisata dan kuliner bagi pemudik yang ingin memanfaatkan waktu libur Lebaran bersama keluarga di kampung halaman.

Masjid Agung Demak yang berdiri tahun 1479 berhadapan dengan alun-alun Kota Demak, Jawa Tengah, Senin (23/5). Masjid ini didirikan Raja Demak Pertama, Raden Patah dan diyakini sebagai masjid tertua tempat berkumpulnya sembilan wali (wali songo) saat penyebaran agama Isalam. Kompas/Lucky Pransiska (UKI) 23-05-2016

Secara khusus, Kompas di edisi kali ini juga telah menyambangi sembilan makam Wali Sanga yang berada di Jawa Timur sampai Jawa Barat. Hasil liputan ini akan kami kemas dalam bentuk tulisan ringan sehingga pembaca bisa ikut mengambil makna dari kisah penyebaran agama Islam yang dilakukan Wali Sanga, terutama berkaitan memperkuat toleransi dalam kehidupan masa kini.

Logo Lebaran

Selain mewujud dalam tulisan, kami juga telah memvisualisasikannya dalam logo liputan Lebaran 2025. Masjid dengan atap tumpang sari dipilih karena merupakan ciri khas arsitektur masjid tradisional Indonesia, khususnya yang dipengaruhi oleh Wali Sanga.

Bentuk ini melambangkan kesederhanaan dan keharmonisan serta mengingatkan pada nilai-nilai spiritual yang diterapkan oleh Wali Sanga dalam menyebarkan Islam di Indonesia. Atap bertingkat juga mencerminkan kedekatan dengan langit dan Tuhan serta melambangkan keharmonisan antara manusia dan alam.

Kemudian, desain menara masjid atau biasa dikenal minaret juga ditampilkan untuk mengacu pada kehadiran masjid sebagai pusat ibadah yang tidak hanya mencolok secara fisik, tetapi juga spiritual. Desain minaret yang sederhana ini mencerminkan nilai kesederhanaan dan ketenangan dalam beribadah yang diajarkan oleh Wali Sanga. Selain itu, terdapat sembilan tiang masjid yang melambangkan sembilan tulisan Wali Sanga.

Logo Liputan Mudik 2025 Harian Kompas

Ketupat dipilih sebagai simbol tradisional Indonesia yang erat kaitannya dengan perayaan Lebaran. Biasanya, ketupat menjadi hidangan khas yang disajikan dalam perayaan Lebaran, melambangkan kebersamaan dan rasa syukur setelah berpuasa selama sebulan. Bentuk ketupat yang digunakan juga sebagai latar belakang memperkuat identitas budaya Indonesia, sekaligus memberikan kesan meriah dan penuh kebersamaan dalam merayakan hari raya.

Warna yang kami pilih juga warna bernuansa kehangatan, seperti emas dan hijau. Warna emas melambangkan kemuliaan, kejayaan, dan kedamaian serta menunjukkan semangat perayaan yang penuh syukur. Warna hijau menggambarkan kesuburan, kehidupan, serta memberikan kesan alami yang terhubung dengan alam dan kehidupan yang harmonis.

Keseluruhan logo ini menggabungkan elemen-elemen yang mengandung makna spiritual, budaya, dan kebersamaan, yang mewakili semangat perayaan Lebaran di Indonesia dengan sentuhan tradisional dan Islami.

Wartawan meliput konferensi pers penangkapan empat tersangka pembuatan ekstasi rumahan di kawasan Kampung Rawa, Johar Baru, Jakarta Pusat, Selasa (7/2/2023). Direktorat Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri membongkar sindikat pembuatan narkotika jenis ekstasi rumahan di kawasan Kampung Rawa, Johar Baru, Jakarta Pusat. Dari penemuan tersebut, empat tersangka berinisial SP (43), RM (46), MM (34), dan MR (30) ditangkap dengan barang bukti 146 butir ekstasi, 349,86 gram serbuk ekstasi, 37 gram tembakau sintetis, peralatan pembuatan, dan alat komunikasi. ADRYAN YOGA PARAMADWYA (Z20) 07-02-2023

Para jurnalis Harian Kompas akan berupaya hadir secara langsung untuk pembaca melalui reportase langsung di sejumlah daerah di Indonesia saat malam takbiran hingga Lebaran. Kami akan melaporkan suasana Lebaran, pesan tokoh bangsa, hingga semarak Lebaran.

Pembaca dapat menikmati liputan edisi Lebaran ini mulai Senin (17/3/2025) di Kompas.id hingga Minggu (6/4/2025). Di koran Kompas, artikel terkait bisa dibaca sejak Senin (24/3/2025). Selamat menyambut Lebaran yang penuh berkah dan merajut silaturahmi bersama sanak saudara.


Kerabat Kerja

Penulis:

Nikolaus Harbowo
 | 

Editor:

Iqbal Basyari