Mungkinkah Target Pertumbuhan Ekonomi 2026 Akan Terwujud?

Jika target 5,3 persen tahun 2025 masih sulit terealisasi, sasaran pertumbuhan pada tahun 2026 hingga 2029 akan semakin berat dihadirkan.

02 Jan 2026 16:00 WIB · Ekonomi & Bisnis

KOMPAS/RONY ARIYANTO NUGROHO

Oleh Budiawan Sidik A

Tahapan menuju pertumbuhan ekonomi tinggi di Indonesia masih sulit tercapai hingga saat ini. Pertumbuhan ekonomi masih stagnan di kisaran 5 persen sehingga untuk melonjak di atas 6 persen sepertinya mustahil diwujudkan dalam tempo singkat. Kalau target tahap awal pada tahun 2025 masih sulit direalisasikan, sepertinya sasaran pertumbuhan pada tahun 2026 hingga 2029 akan semakin berat dihadirkan.

Berdasarkan skenario Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025-2029, Bappenas menyebutkan, tahapan pertumbuhan ekonomi tinggi hingga 8 persen ditargetkan akan tercapai pada tahun 2029.

Rinciannya, pada tahun 2025, target pertumbuhan mencapai 5,3 persen dan berikutnya naik menjadi 6,3 persen tahun 2026. Tahun-tahun selanjutnya, pertumbuhan sudah bertengger di atas 7 persen. Tahun 2027 sebesar 7,5 persen, tahun 2028 sebesar 7,7 persen, dan pada akhir pemerintahan Prabowo-Gibran tahun 2029 sudah bertengger di angka 8,0 persen.

Lantas, apakah target pertumbuhan tersebut secara riil dapat diwujudkan secara bertahap seperti yang diproyeksikan?

Pada kenyataannya, untuk meraih target tersebut tidaklah mudah. Pada tahap awal saja tampaknya mencapai pertumbuhan ekonomi 5,3 persen di tahun 2025 sepertinya sulit dihadirkan. Hingga triwulan III-2025, laporan BPS menyebutkan pertumbuhan ekonomi nasional secara year on year (YOY) sebesar 5,04 persen. Besaran ini relatif masih terpaut cukup jauh dengan skenario pertumbuhan ekonomi sebesar 5,3 persen pada akhir 2025.

Infografik Laju Pertumbuhan Ekonomi 2021-2025

Meskipun demikian, optimisme untuk meraih pertumbuhan yang mendekati target tersebut masih terbuka. Salah satu indikasinya terlihat dari survei Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Bank Indonesia yang menunjukkan peningkatan menjelang akhir tahun 2025.

Setelah menurun cukup dalam pada September 2025 dengan besaran IKK senilai 109,1, indeks tersebut menguat cukup signifikan pada bulan-bulan berikutnya. Pada Oktober 2025, IKK melonjak 121,2 dan sebulan berikutnya pada November 2025 kembali naik menjadi 124,0. Kondisi ini mengindikasikan keyakinan konsumen terhadap perekonomian pada akhir tahun meningkat.

Kenaikan IKK itu juga disertai dengan kenaikan Indeks Keyakinan Ekonomi Saat ini (IKE) yang hampir menyentuh batas kritikal pada September 2025 dengan besaran indeks senilai 102,7. Angka ini hampir mendekati level 100 yang menjadi batas akhir tingkat optimisme. Apabila skor indeks kurang dari 100, hal itu secara umum menggambarkan situasi yang pesimistis.

Pada Oktober dan November 2025, IKE melonjak cukup signifikan menjadi masing-masing 109,1 dan 111,5. Berdasarkan laporan Bank Indonesia, kenaikan IKE ini bersumber dari sejumlah indikator penyusun, antara lain keyakinan terhadap peningkatan penghasilan, ketersediaan lapangan pekerjaan, dan juga pembelian barang tahan lama. Secara tidak langsung, indeks ini menggambarkan adanya optimisme di sejumlah indikator ekonomi saat ini.

Perkembangan indeks keyakinan konsumen pada November 2025. Sumber: Survei Konsumen Bank Indonesia

Hal lain lagi yang turut mendorong IKK naik adalah pertumbuhan Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) menjelang akhir tahun. Indeks ini memproyeksi kondisi ekonomi enam bulan ke depan berdasarkan perspektif responden. Hasilnya, IEK yang pada September 2025 berada di posisi 127,2, atau posisi terendah sejak Januari 2024, kini berangsur kembali meningkat. Pada Oktober 2025 IEK naik menjadi 133,4 dan pada November 2025 kembali bertambah menjadi 136,6.

Meningkatnya IEK tersebut didorong oleh harapan atau ekspektasi yang besar terhadap penghasilan, ketersediaan lapangan kerja, dan kegiatan berusaha. Hal ini secara tidak langsung menunjukkan masyarakat mengharapkan adanya perbaikan pada sejumlah indikator tersebut pada 2026 ini.

Target pertumbuhan ekonomi 2025

Menelaah data dari Bank Indonesia itu, pada dasarnya kenaikan IKK menjelang akhir tahun adalah sebuah fenomena yang memang terjadi setiap tahun. Setidaknya, jika membandingkan dengan tahun 2024, besaran sejumlah indeks Bank Indonesia pada akhir tahun ini tidak berbeda jauh.

Besaran IKK, IKE, dan IEK pada November 2024 masing-masing senilai 125,9; 113,5; dan 138,3. Angka indeks ini relatif tidak menyimpang jauh dengan kondisi November 2025, yakni besaran IKK senilai 124,0; IKE 111,5; dan IEK 136,6. Hal ini secara tidak langsung menggambarkan keyakinan masyarakat yang optimistis bahwa kondisi ekonomi semakin membaik untuk saat ini dan juga untuk beberapa bulan mendatang.

Besaran indeks yang kurang lebih sama pada akhir tahun itu mengindikasikan bahwa fenomena akhir tahun yang identik dengan pergerakan masyarakat menyambut Natal dan juga masa liburan menjadi semacam oase yang menambah optimisme secara ekonomi.

Meskipun demikian, kembali pada skenario Bappenas terkait dengan tahapan pertumbuhan ekonomi sebesar 5,3 persen itu, apakah akan terjadi pada akhir tahun 2025? Berkaca pada indeks Bank Indonesia pada Desember 2024, besaran IKK, IKE, dan IEK tidak terpaut jauh dengan indeks yang terlaporkan pada September 2024. Peningkatan sejumlah poin indeks yang tidak terlalu besar antara September dan Desember 2024 itu membuat laju ekonomi nasional pada akhir tahun hanya bergeser naik tipis.

Pada triwulan III-2024, pertumbuhan ekonomi Indonesia year on year sebesar 4,95 persen dan pada triwulan IV-2024 sebesar 5,02 persen. Secara rata-rata tahunan ekonomi Indonesia 2024 tumbuh 5,03 persen.

Jika disandingkan dengan kondisi saat ini, setidaknya antara September dan November 2025, sepertinya indeks ekspektasi kenaikannya sedikit lebih baik dari akhir tahun lalu. Jika tahun lalu perbedaan skor IKK, IKE, dan IEK antara September dan Desember 2024 rata-rata kurang dari poin enam, pada tahun 2025 masing-masing indeks setidaknya meningkat 8 poin. Artinya, ekonomi pada triwulan IV-2025 kemungkinan besar mengalami peningkatan dibandingkan triwulan III-2025 dan memiliki besaran lebih baik dari periode yang sama tahun lalu.

Pada triwulan III-2025, pertumbuhan ekonomi nasional secara year on year tumbuh 5,04 persen dan kemungkinan pada triwulan IV-2025 angka pertumbuhannya tetap naik, tetapi tidak melonjak secara ekstrem. Kemungkinan terbesarnya di kisaran 5,1-5,2 persen atau lebih kecil dari perkiraan ini. Jika estimasi ini benar, kemungkinan pertumbuhan yang ditargetkan selama tahun 2025 sebesar 5,3 niscaya urung terealisasi.

Jika terjadi, hal itu akan menjadi pekerjaan rumah yang besar bagi pemerintah untuk mendorong pertumbuhan ekonomi lebih tinggi lagi pada tahun 2026 yang targetnya mencapai 6,3 persen.

Dengan target awal sebesar 5,3 persen saja sulit tercapai, apalagi dengan target besar di atas 6 persen. Dalam kurun 2010-2025, realisasi pertumbuhan ekonomi lebih dari 6 persen hanya terjadi dua kali, yakni tahun 2011 dan 2012, pada era pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono. Setelah itu, pertumbuhan ekonomi ajeg di kisaran 5 persen. Dapat diperkirakan bahwa target ekonomi tinggi yang dipatok di atas 7 persen mulai tahun 2027 seperti akan semakin sulit diwujudkan apabila ekonomi masih berjalan relatif stagnan seperti saat ini.

Infografik riset skenario pertumbuhan ekonomi

Proyeksi ekonomi 2025-2029

Sejumlah lembaga memproyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2025 dengan besaran bervariasi. Bank Indonesia memproyeksi pertumbuhan ekonomi nasional pada rentang 4,7-5,5 persen, sedangkan Bank Dunia memperkirakan 4,8-5 persen. ADB juga memproyeksi dengan estimasi tidak berbeda jauh dengan Bank Dunia sebesar 5 persen. Selanjutnya, Dana Moneter Internasional (IMF) memperkirakan ekonomi Indonesia hanya naik sekitar 4,9 persen.

Bahkan, estimasi IMF tersebut sangat pesimistis terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia hingga lima tahun ke depan. Pada tahun 2030 nanti, pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan hanya 5,1 persen. Pada tahun ini diperkirakan juga tak lebih dari 5 persen, yakni hanya 4,9 persen.

Estimasi dari sejumlah lembaga tersebut harus menjadi acuan bagi pemerintah untuk berbenah dalam berbagai hal mengingat target yang disusun pemerintah terkesan sangat ambisius meraih pertumbuhan ekonomi tinggi dalam tempo relatif singkat. Secara narasi politik sangat menghibur, tetapi secara kenyataan bisa menimbulkan kegetiran bagi masyarakat.

Ada sejumlah indikator yang masih meleset dari skenario pertumbuhan ekonomi 5,3 persen pada tahun 2025. Pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi dari sisi pengeluaran dengan estimasi besaran yang belum semuanya terealisasi hingga menjelang akhir tahun 2025.

Pemerintah menargetkan pertumbuhan konsumsi masyarakat naik 5,14 persen selama tahun 2025. Namun, hingga triwulan III-2025, kenaikan konsumsi publik ini masih sebesar 4,89 persen. Demikian juga dengan konsumsi pemerintah hanya tumbuh 5,59 persen dari target sebesar 6,66 persen.

Sektor investasi baru tercapai 5,04 persen dari skenario sebesar 5,61 persen. Khusus untuk ekspor relatif sudah sangat baik melonjak di atas 9 persen dari target sebesar 6,95 persen. Untuk impornya masih jauh dari target yang ditetapkan, yakni baru di kisaran 1 persen dari target kenaikan lebih dari 7 persen.

Infografik-Tahapan Target Petumbuhan Ekonomi Indonesia Lima Tahun ke Depan

Dari rincian tersebut ada sejumlah indikator yang perlu menjadi perhatian serius, antara lain tingkat konsumsi masyarakat yang masih jauh dari target. Padahal, sektor konsumsi ini berkontribusi sekitar 54 persen dari semua komponen pertumbuhan ekonomi nasional. Demikian juga dengan sektor investasi yang menyumbang sekitar 28 persen bagi perekonomian, masih relatif jauh target realisasi kenaikannya.

Oleh karena itu, pemerintah harus terus mendorong kehadiran investasi yang menyerap banyak tenaga kerja sehingga meningkatkan pendapatan sekaligus belanja masyarakat. Investasi padat modal menjadi prioritas yang perlu terus dihadirkan di tengah kian terbatasnya lapangan kerja. Di sisi lain, pemerintah harus memproteksi pasar dari industri padat karya tersebut agar tidak kalah bersaing dengan komoditas impor yang cenderung mematikan industri dalam negeri.

Selain itu, pemerintah perlu memberikan stimulasi dan insentif bagi produsen domestik yang mampu menghasilkan produk yang kompetitif di pasar ekspor (global). Dengan demikian, sektor industri kian kokoh, menyerap banyak tenaga kerja, dan meningkatkan kesejahteraan para pekerjanya. Semakin banyak industri yang tangguh hadir di berbagai wilayah Indonesia sehingga perekonomian nasional akan terus naik dan menyejahterakan banyak pihak.

Pemerintah juga dapat menstimulasi kenaikan konsumsi masyarakat dengan melibatkannya dalam program yang didanai langsung pemerintah. Misalnya saja, program Makan Bergizi Gratis (MBG) dapat menjadi ruang untuk melibatkan kontribusi aktif, mulai dari level petani, nelayan, peternak, ibu rumah tangga, hingga masyarakat setempat, untuk menyuplai dan memproduksi menu MBG. Jika sistem ini mampu menetes hingga level terkecil masyarakat, niscaya konsumsi akan tumbuh dan turut membantu perekonomian daerah. Namun, apakah hal demikian terealisasi dari program MBG saat ini? (LITBANG KOMPAS)


Kerabat Kerja

Penulis:

Budiawan Sidik A
 | 

Editor:

Andreas Yoga Prasetyo
 | 

Penyelaras Bahasa:

Nur Adji