Museum dan Kampung Seni Borobudur menjadi destinasi wisata baru dengan beragam daya tarik. Pengembangan area itu juga bagian dari penataan kompleks Candi Borobudur.
26 Nov 2024 07:00 WIB · Perjalanan
Terik mentari siang itu, Minggu (10/11/2024), tidak menghalangi ratusan pengunjung pelesiran ke Museum dan Kampung Seni Borobudur di Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Sebagian dari mereka mengelilingi area seluas 10,7 hektar itu dengan berjalan kaki.
Tri Suwarti (62) bersama puluhan rekannya, misalnya, menjelajahi kios pedagang batik, aneka kerajinan, hingga kuliner. Selain berbelanja, ibu-ibu Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) Kecamatan Mertoyudan, Magelang, itu juga berfoto di atas amfiteater berlatar perbukitan.
Mengenakan seragam kaus hijau muda, mereka membawa spanduk bertuliskan ”Dolan Bareng, Bungah Bareng”. Terjemahan bebasnya, jalan bareng, bahagia bersama. ”Kami memilih ke sini karena ini tempat baru. Teman-teman penasaran mau lihat,” ujar Tri, ketua rombongan.
Museum dan Kampung Seni Borobudur, yang berlokasi di Jalan Medang Kamulan, Dusun Kujon, Desa Borobudur, memang baru dibuka untuk umum sekitar dua bulan terakhir. Kawasan ini menjadi pintu masuk bagi pengunjung yang ingin ke Candi Borobudur. Namun, Tri dan rombongannya ternyata hanya ingin menjelajahi area itu, tanpa berkunjung ke candi.
”Kalau masuk Candi Borobudur, kan, ada biaya tambahan. Kalau di sini (Museum dan Kampung Seni Borobudur), gratis. Paling bayar parkir sekitar Rp 15.000,” ujar Tri yang menyewa enam angkot untuk membawa 60 penumpang. Apalagi, sebagian besar dari mereka sudah pernah berwisata ke Candi Borobudur.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/11/08/20589309-e9d1-445e-aed3-685027c49118_jpg.jpg)
Selain tanpa tiket masuk, Tri menyebut, harga aneka dagangan di kawasan itu juga terjangkau. ”Tadi, saya beli baju batik untuk cucu, Rp 40.000. Ini harganya masih normal. Saya yang jualan baju di pasar aja belanja di sini. Jadi, kayak jeruk makan jeruk,” tutur nenek dua cucu ini diiringi senyum.
Di Museum dan Kampung Seni Borobudur, rombongan Tri bersantai juga di pendopo yang luas serta sejuk. Di bangunan tradisional itu, pengunjung bisa berlatih membuat batik atau tas anyaman. ”Kami senang bisa di sini. Mungkin, yang belum jelas itu letak toiletnya,” ungkapnya.
Destinasi wisata baru ini juga yang mengundang Arifa Nasywa (19), mahasiswi asal Semarang, Jateng. ”Saya lihat di medsos (media sosial), ada Museum dan Kampung Seni Borobudur yang bagus. Jadi, pengin lihat ke sini. Tempatnya cukup bagus, konsepnya milenial,” ujarnya.
Bangunan museum di kompleks itu, misalnya, menjadi spot foto untuk anak muda seperti Arifa. Bagaimana tidak, di dinding luar museum seluas 700 meter persegi itu terdapat relief-relief yang mengisahkan perjalanan Candi Borobudur dan kehidupan warga setempat. Ada juga gambar peta pulau-pulau Indonesia.
Di bagian bawah bangunan museum terdapat kolam bertingkat yang dihiasi lotus. Dalam agama Buddha, bunga teratai itu menyimbolkan kehormatan. Sayangnya, museum itu belum terbuka untuk umum. ”Kalau (museumnya) udah dibuka, saya pengin balik ke sini lagi,” tutur Arifa.
Kompas mendapatkan kesempatan melihat museum yang telah diisi sejumlah koleksi itu. Mulai dari replika arca singa Candi Borobudur, patung Buddha, stupa, miniatur Borobudur, instalasi seni, batu yang dipahat jadi jubah Buddha, hingga lukisan Borobudur karya maestro seni lukis Affandi.
Museum ini pun bakal dilengkapi dengan teknologi augmented reality sehingga pengunjung bisa merasakan berada di candi yang dibangun abad ke-8 tersebut. Monitor besar untuk penggunaan teknologi itu telah terpasang, tetapi belum difungsikan.
Meski jadi destinasi wisata baru, Museum dan Kampung Seni Borobudur tidak lepas dari keluhan. Para pedagang yang sebelumnya menempati Zona II Candi Borobudur, misalnya, mengeluhkan anjloknya penjualan di tempat baru. Sebab, lokasi mereka terpencar ke 21 blok.
Banyak kios pedagang yang tidak dilalui oleh pengunjung. Bahkan, sejumlah pedagang berinisiatif memasang tali agar wisatawan melintasi gerai mereka, termasuk yang berada di lantai dua. Namun, upaya itu belum sepenuhnya berhasil. Sejumlah kios pun dibiarkan kosong.
”Pada ngeluh enggak laku dagangannya. Makanya, enggak jualan. Saya saja kadang seminggu hanya laku satu atau dua pakaian,” ujar Heni Wahyu Utami (46), pedagang pakaian di Blok D2. Padahal, di tempat jualannya dulu, tiap hari selalu ada wisatawan yang membeli produknya.
Heni dan pedagang lainnya baru pindah ke area itu pada 18 September lalu. Sebelumnya, ia jualan di lokasi sementara semipermanen yang beratapkan terpal di kawasan candi. ”Sekarang, tempat jualannya bagus. Namun, cari uangnya susah,” ujar Heni yang meneruskan usaha keluarganya.
Nabilah (48), pedagang kuliner di Blok P2, juga mengeluhkan minimnya pembeli. ”Kalau dulu (di tempat lama), saya masih bisa dapat Rp 500.000. Ini untuk modal lagi beli bahan. Sekarang, boro-boro dapat segitu,” kata pedagang nasi goreng dan bakmi Jawa ini.
Meskipun lokasinya jauh dari pintu masuk utama, Nabilah mengakui, warungnya kini lebih bagus dibandingkan sebelumnya. Kios permanen itu berkeramik dan dilengkapi wastafel. ”Yang penting sabar dulu. Mungkin nanti kalau sudah berkembang, banyak orang belanja ke sini,” tuturnya.
Ketua Koperasi Medang Kamulan Borobudur, Jimi Belinda, mengatakan, masih ada beberapa hal yang harus dibenahi di Museum dan Kampung Seni Borobudur. Salah satunya, alur pengunjung yang belum jelas. Hal itu tampak dari lapak para pedagang yang tidak terjamah oleh wisatawan.
Apalagi, terdapat 1.951 pedagang anggota koperasi itu yang berjualan di sana. Masalah lainnya, terdapat beberapa tempias ketika hujan deras. Jimi berharap, kawasan yang termasuk Proyek Strategis Nasional (PSN) yang dibangun dengan biaya Rp 253 miliar itu segera diresmikan agar bisa beroperasi maksimal.
”Memang ini masa transisi bagi pedagang yang baru pindah. Namun, kami berharap, transisi ini tidak lama. Kami ingin kawasan ini lebih dikenal dan jadi destinasi wisata baru,” ujar Jimi.
Kami juga berharap, kawasan ini jadi pusat kreativitas bagi seniman setempat.
Apalagi, area itu juga menyajikan produk khas daerah, seperti batik, anyaman, dan ukiran bambu. ”Kami juga ingin mengubah mindset (pola pikir) warga agar tidak hanya menjual, tetapi juga membuat produknya sendiri. Musisi jalanan pun nantinya bisa tampil di sini,” ungkap Jimi.
Warga yang tergabung dalam koperasi pun tidak sekadar berjualan. Mereka turut berkolaborasi dengan biro travel pariwisata untuk mempromosikan kawasan itu. Pada 30 November nanti, misalnya, ratusan wisatawan dari luar daerah direncanakan berkunjung ke sana.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/11/08/3dca412b-f7b1-4e8e-a2ba-75cd2ec82a80_jpg.jpg)
Ryan Sakti, Corporate Secretary Group Head InJourney Destination Management (PT Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan, dan Ratu Boko), mengatakan, Museum dan Kampung Seni Borobudur merupakan bagian dari penataan kawasan Candi Borobudur. Sakti menyebut, sebelum penataan dilakukan, koefisien dasar bangunan (KDB) di kawasan itu tidak ideal.
Pada dasarnya, KDB merupakan batas maksimal lahan yang diperbolehkan untuk mendirikan bangunan. Sebagai situs warisan dunia, kata Sakti, Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan PBB (UNESCO) merekomendasikan KDB kawasan Borobudur di bawah 4 persen.
Namun, KDB kawasan itu tercatat hampir 13 persen. Sebagian besar area dihuni oleh pedagang. Dengan perpindahan pedagang ke Museum dan Kampung Seni Borobudur, Zona II Candi Borobudur kini menjadi area penghijauan. ”KDB kita sudah sesuai UNESCO, yakni di bawah 4 persen,” ujar Sakti.
Dia menambahkan, Museum dan Kampung Seni Borobudur juga diharapkan menjadi pusat ekonomi baru. Dengan kapasitas parkir 909 kendaraan, termasuk stasiun pengisian kendaraan listrik umum, dan 1.943 kios, arena ini bakal menjelma ruang perdagangan baru.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/07/24/fca2268e-805e-4191-b7f3-e8a149199f21_jpg.jpg)
Apalagi, area itu menjadi pintu masuk dan keluar pengunjung yang ingin ke Candi Borobudur. Oleh karena itu, area ini juga menjadi ”wajah” baru situs warisan dunia tersebut.
Untuk sementara ini, wisatawan yang ingin ke candi dapat menumpang kendaraan shuttle gratis. Kawasan yang masih dalam tahap uji coba operasional itu akan diresmikan dalam waktu dekat.
”Kami juga berharap, kawasan ini jadi creative hub (pusat kreativitas) bagi seniman setempat,” ujar Sakti. Di area itu, misalnya, terdapat ruang pameran hingga amfiteater terbuka untuk pergelaran seni. Sejumlah karya seniman juga akan dipajang di museum.
”Orang yang belum berkesempatan masuk (ke Candi Borobudur), mereka sudah bisa mendapatkan pengalaman tersendiri dengan adanya museum ini,” tutur Sakti. Apalagi, pengunjung yang bisa naik ke candi setinggi 35,4 meter itu dibatasi 1.200 orang per hari.
Museum dan Kampung Seni Borobudur kini menjadi destinasi baru yang menyimpan beragam asa, mulai dari menjaga keasrian kawasan Candi Borobudur, hingga menjelma pusat ekonomi dan kreativitas. Area ini juga bakal menyambut para pelari Bank Jateng Borobudur Marathon 2024 pada Minggu (1/12/2024) mendatang.
Penulis:
Abdullah Fikri AshriEditor:
Haris FirdausPenyelaras Bahasa:
Hibar Himawan