Kekalahan dari Brighton di Piala FA bisa menjadi titik balik MU. Mereka memang tidak bisa meraih trofi lagi, tetapi itu bisa membuat proses transisi tim lebih mudah.
12 Jan 2026 06:51 WIB · Olahraga
AP/jon super
MANCHESTER, MINGGU — Musim Manchester United seolah tamat lebih cepat setelah tersingkir dari Piala FA. Mereka sudah kehilangan semua potensi trofi di pertengahan musim. Meskipun begitu, di tengah rendahnya ekspektasi, ”Si Setan Merah” kini bisa fokus mempersiapkan transisi untuk musim depan sambil berjuang finis setangguh mungkin.
Kehadiran pelatih interim Darren Fletcher, seusai pemecatan Ruben Amorim, tidak berpengaruh signifikan terhadap MU. Mereka ditaklukkan Brighton and Hove Albion 1-2 dalam laga putaran ketiga Piala FA di kandang sendiri, Stadion Old Trafford, Manchester, Minggu (11/1/2026).
Penyakit MU masih sama, seperti di era Amorim ataupun Erik Ten Hag, yaitu kurang disiplin dalam bertahan. Tim tuan rumah harus tertinggal dua gol lebih dulu lewat aksi Brajan Gruda dan Danny Welbeck. Di kedua gol itu, koordinasi antara bek tengah dan para gelandang tidak berjalan optimal.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/01/12/03e7bc9abe4a6d9effddf84026aa44bd-Britain_FA_Cup_Soccer_4_.jpg)
MU berusaha bangkit setelah gol striker Benjamin Sesko, dari asis Bruno Fernandes, pada menit ke-85. Saat momentum mulai berbalik, pemain pengganti berusia 18 tahun Shea Lacey malah menerima kartu merah. Dia dengan naif membanting bola karena tidak puas terhadap keputusan wasit, saat sudah mengatongi satu kartu kuning.
Lacey memang naif, tetapi setidaknya dia adalah pemain paling spartan sejak diturunkan pada menit ke-62. Skuad MU sempat kehilangan energi setelah kecolongan gol kedua seusai turun minum. ”Kartu merah itu merugikan karena kami sedang menguasai permainan di pengujung laga,” kata bek sayap Diogo Dalot yang membuang peluang emas di awal laga.
MU pun mengulang kisah buruk di Piala Liga Inggris saat kalah dalam laga pertama dari Grimsby Town. Untuk pertama kali sejak 1981-1982, ”Si Setan Merah” tersingkir dalam laga pembuka di Piala FA dan Piala Liga pada musim yang sama. Catatan itu bisa memperlihatkan betapa buruknya musim mereka.
Fernandes dan rekan-rekan hanya akan bermain di satu kompetisi, yakni Liga Inggris, di paruh kedua musim. Mereka sudah nyaris mustahil juara dengan posisi peringkat ketujuh saat ini, terpaut 17 poin dari pemuncak klasemen Arsenal. Target paling realistis bagi mereka adalah masuk empat besar. Adapun MU tidak tampil di kompetisi Eropa pada musim ini.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/01/12/39959fd87e0cf980c6bdb39d0611e30e-Statistik_Piala_FA_Manchester_United_vs_Brighton.png)
Menurut Fletcher, masalah utama di skuad MU sekarang adalah kepercayaan diri. ”Saya rasa Anda bisa melihat para pemain sedang rapuh, tetapi mereka harus merespons itu. Kepercayaan diri adalah salah satu hal terpenting dalam sepak bola. Jadi, ketika Anda tidak memilikinya, Anda harus berusaha keras dan kemudian kepercayaan diri itu akan kembali,” ujarnya.
Para pemain MU berada dalam situasi yang sulit. Mereka sudah menginvetasikan waktu dan tenaga untuk mempelajari sistem tiga bek tengah ala Amorim selama setahun terakhir. Namun, saat sistem mulai berjalan, Amorim dipecat pada pekan lalu. MU juga sedang dalam tren kurang baik ketika ditinggalkan sang pelatih.
Di bawah Fletcher, dalam dua laga terakhir, MU menerapkan formasi 4-2-3-1. Permainan mereka memang lebih ofensif dengan formasi tersebut, terutama Sesko yang mendapatkan lebih banyak suplai dari lini kedua. Namun, pertahanan mereka justru memburuk. Perpindahan dari lima bek sejajar dan empat bek sejajar belum berjalan mulus.
Kerentanan pertahanan MU terlihat sepanjang laga tadi. Lini belakang mereka dipimpin duet bek tengah Lenny Yoro dan Lisandro Martinez. Posisi keduanya tampak kurang pas dalam gol Gruda maupun Welbeck. Presensi gelandang bertahan Manuel Ugarte menambah kacau struktur pertahanan tuan rumah.
Sepanjang era Amorim, MU hanya sekali bermain dengan formasi empat bek. Itu terjadi dalam laga versus Newcastle United di akhir Desember 2025. ”Sangat sulit. Ini periode di mana kami harus menemukan cara untuk menyelesaikan masalah dengan sangat cepat. Kami harus beradaptasi dan terus maju,” kata Dalot.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/01/12/9b70b8de83767a349cb45dc44b54762f-Britain_FA_Cup_Soccer_7_.jpg)
Di tengah momen yang penuh ketidakpastiaan ini, manajemen MU harus membuat keputusan penting. Mereka perlu segera menentukan rencana di setengah musim tersisa dan musim depan. Sebelumnya, menurut The Athletic, mereka baru akan menunjuk pelatih tetap pada musim panas.
Peran pelatih darurat akan diambil Fletcher untuk sementara, atau diberikan kepada Ole Gunnar Solskjaer dan Michael Carrick yang lebih berpengalaman memimpin MU. Jika itu rencananya, sang pelatih interim perlu menyiapkan transisi untuk menyambut era selanjutnya, termasuk menyamakan sistem dengan calon pelatih di masa depan.
Bagi Fletcher, musim MU belum selesai. Mereka masih memiliki tugas untuk finis tangguh di akhir musim dan menjadikan itu batu loncatan di musim berikutnya. ”Sekarang terserah mereka. Mereka perlu memastikan, mereka punya banyak hal untuk diperjuangkan. Tim ini masih cukup bagus untuk sukses, tetapi mereka harus berusaha lebih keras,” pungkasnya. (AP/REUTERS)
Penulis:
Kelvin HianusaEditor:
Emilius Caesar AlexeyPenyelaras Bahasa:
FX Sukoto