Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Mojtaba Khamenei dikabarkan terluka saat serangan pembuka Israel dan Amerika Serikat.
13 Mar 2026 10:22 WIB · Internasional
AP/Vahid Salemi
Setelah dikabarkan terluka dalam sebuah serangan Amerika Serikat, pemimpin tertinggi baru Iran, Ayatollah Mojtaba Khamenei, mengeluarkan pernyataan, Kamis (12/3/2026). Mojtaba tidak muncul di depan kamera, seorang pembawa berita membacakan naskah pidatonya.
Sebelumnya, penilaian intelijen Israel menunjukkan bahwa Mojtaba Khamenei mengalami cedera ringan dalam serangan gabungan Israel dan AS beberapa waktu sebelumnya. Sumber Reuters, seorang pejabat Iran menyatakan hal yang sama. Pemimpin Tertinggi Mojtaba mengalami cedera ringan, tetapi masih terus menjalani operasi untuk penanganan cederanya.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/03/13/2ef984a0-1528-46f7-b60c-6e832899d07c.jpg)
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/03/13/ff97b6e2-71f7-414b-b9ca-5d63dac36def.jpg)
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/03/13/bde01da6-4290-4a32-951d-a72eaa4e6b0c.jpg)
Seorang gadis menonton pernyataan pemimpin tertinggi baru Iran Mojtaba Khamenei di ponsel pada 12 Maret 2026. AFP
Papan iklan yang menggambarkan pemimpin tertinggi Iran yang terbunuh Ayatollah Ali Khamenei dan putranya, pemimpin tertinggi baru Iran Ayatollah Mojtaba Khamenei di pintu masuk ke kota pesisir selatan Lebanon, Tirus pada Selasa (10/3/2026). AFP/Kawna
Muslim Syiah memegang potret pemimpin tertinggi Iran yang terbunuh Ali Khamenei dan putranya, pemimpin tertinggi baru negara itu Mojtaba Khamenei di Karachi pada Rabu (11/3/2026).
AFP/Rizwan TABASSUM
”Pesan pertama dari pemimpin tertinggi revolusi Islam, Yang Mulia Ayatollah Seyyed Mojtaba Hossein Khamenei!” seru seorang pembawa acara TV Iran sebelum membacakan pernyataan panjang tersebut. Sepanjang pembacaan pernyataan Khamenei, visual televisi menunjukkan foto arsip Khamenei dan bendera Republik Islam.
Seruan untuk balas dendam menjadi poin pertama yang dibacakan dari naskah pidato Khamenei. Dalam pernyataan itu, Khamenei tidak memberikan petunjuk bahwa dirinya berupaya berdamai dengan musuh-musuh Iran. Bahkan secara tegas ia menekankan keinginannya untuk membalas dendam dalam perang yang telah merenggut nyawa ayah dan istrinya.
”Sebagian kecil dari pembalasan ini telah terwujud secara nyata, tetapi sampai sepenuhnya tercapai, kasus ini akan tetap menjadi salah satu prioritas kami,” kata Khamenei.
Mojtaba mengatakan bahwa Iran akan meminta ganti rugi akibat serangan musuh. Jika tidak dipenuhi, Iran mengancam akan menghancurkan dengan kerusakan yang sama.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/03/13/b97377e3-c5fd-4497-9fea-b51a88921f82.jpg)
Secara khusus Mojtaba juga menyoroti serangan mematikan terhadap sebuah sekolah di Minab, Iran selatan, yang menurut otoritas Iran dilakukan AS dan menewaskan 150 siswa. Ia menggambarkan serangan itu sebagai sebuah kejahatan yang disengaja oleh musuh.
Selain itu, pemblokiran Selat Hormuz juga menjadi seruan lain Mojtaba. Menggemakan bahasa mendiang ayahnya, Khamanei menekankan potensi Iran untuk menimbulkan kekacauan di seluruh kawasan dengan menekan pasokan minyak dan menggunakan proksi regional.
Selat Hormuz adalah jalur air strategis yang dilalui seperlima dari total produksi minyak dunia. ”Kehendak rakyat adalah untuk melanjutkan pertahanan yang efektif dan bersifat jera yang akan membuat musuh menyesali tindakannya.”
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/03/13/3bc9c6e3-41b4-4eef-bd67-19eb6a80fcae.jpg)
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/03/13/7badddd6-2682-4c2d-b0b7-b50302935661.jpg)
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/03/13/c8dfa641-5853-4cd4-9e02-eb3d8f15d908.jpg)
Gambar yang diambil dari video yang disediakan oleh TV Pemerintah Iran menunjukkan Mojtaba Khamenei, putra pemimpin tertinggi Iran yang terbunuh, yang telah ditunjuk sebagai penguasa Republik Islam berikutnya, Senin, 9 Maret 2026. AP
Foto dari kantor berita ISNA Iran, Mojtaba Khamenei, putra pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei disambut oleh orang-orang di Teheran pada 31 Mei 2019.AFP/ALI TAGHAVI / ISNA
Seorang pria menonton pernyataan pemimpin tertinggi baru Iran Mojtaba Khamenei pada 12 Maret 2026. AFP/ALI TAGHAVI / ISNA
Sementara itu, berkaitan dengan negara-negara yang menjadi tetangga, Mojtaba mengatakan, Iran berbatasan darat atau laut dengan sekitar 15 negara dan ia selalu menginginkan hubungan yang hangat dan konstruktif dengan negara-negara tetangga ini.
Namun, ia menyerukan penutupan pangkalan-pangkalan AS di negara-negara tetangga, dengan mengatakan klaim AS tentang terciptanya keamanan dan perdamaian hanyalah kebohongan. Negara-negara ini harus menentukan sikap mereka terhadap mereka yang telah menginvasi tanah air kita tercinta dan membunuh rakyat kita, tambah Mojtaba.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/03/13/a819b7af-a620-4975-8ab2-045acd811000.jpg)
Ucapan terima kasih juga khusus disampaikan Mojtaba untuk militer Iran. ”Terima kasih tulus kami sampaikan kepada para pejuang pemberani kami yang, pada saat bangsa dan tanah air tercinta kami diserang secara tidak adil oleh para pemimpin front kesombongan, telah menghalangi jalan musuh dengan pukulan-pukulan dahsyat mereka dan menghilangkan ilusi mereka tentang kemampuan untuk mendominasi negara tercinta kami atau bahkan memecah belahnya.”
Pada bagian lain Mojtaba memuji ayahnya sebagai harta karun yang bersinar dan tokoh terkemuka dalam sejarah dan mengatakan bahwa dirinya telah melihat jenazah almarhum Ayatollah Ali Khamenei. Ini seakan membenarkan spekulasi awal yang beredar bahwa Mojtaba berada di lokasi saat serangan AS dan Israel menewaskan ayahnya.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/03/13/939a21c8-9f92-4b07-ae4f-a25f219660aa.jpg)
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/03/13/584339d6-cda0-4df3-b868-5baad1bb6c60.jpg)
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/03/13/083083b4-2827-481e-820e-7b0e4d1e4e25.jpg)
Petugas penyelamat berkumpul di luar bangunan di Teheran pada Kamis (12/3/2026). AFP
Dalam gambar yang diperoleh dari kantor berita ISNA Iran pada Selasa (3/3/2026), orang-orang dan pekerja penyelamat mencari korban setelah ledakan terjadi disebuah bangunan di Lapangan Enghelab Teheran. AFP/MAJID KHAHI / ISNA
Seorang pria mengendarai sepeda motor melewati spanduk yang dipajang di Lapangan Valiasr di pusat kota Teheran pada 10 Maret 2026. AFP
”Saya mendapat kehormatan melihat jenazahnya setelah kemartirannya,” katanya. ”Yang saya lihat adalah keteguhan hati yang luar biasa, dan saya diberi tahu bahwa kepalan tangan utuhnya telah terkepal.”
Mojbata menekankan bahwa selain ayahnya, ia juga kehilangan istri tercintanya, saudara perempuannya, anaknya, dan saudara iparnya dalam serangan itu. Dia tidak menyebutkan ibunya, yang menurut laporan sebelumnya juga telah tewas. Belakangan, kantor berita Fars mengatakan pada Kamis bahwa laporan tersebut tidak akurat dan ibunya selamat dalam serangan itu.
Terakhir, Mojtaba mengatakan bahwa dirinya mengetahui pengangkatannya oleh Majelis Pakar, badan ulama, ”pada saat yang sama dengan Anda” melalui televisi dari stasiun penyiaran negara.
(AP/AFP/Reuters)
Penulis:
Ignatius Danu KusworoEditor:
Yuniadhi AgungPenyelaras Bahasa:
Nur Adji