PERANG TIMUR TENGAH

Negara-negara Arab Diam-diam Dorong AS Terus Perangi Iran

Negara-negara Arab sempat mengeluh tak diberi tahu rencana serangan ke Iran. Kini,  perang dilihat sebagai peluang melumpuhkan kekuatan Iran selamanya.

31 Mar 2026 11:27 WIB · Internasional

AP

Oleh Luki Aulia

WASHINGTON, SENIN — Negara-negara di Teluk yang menjadi sekutu Amerika Serikat, yakni Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Kuwait, dan Bahrain, ternyata diam-diam mendorong Presiden AS Donald Trump untuk terus memerangi Iran. Alasan mereka, Iran masih kuat melawan meski sudah sebulan dibombardir serangan udara AS dan Israel.

Dalam percakapan pribadi secara terpisah, keempat negara sekutu tersebut menyampaikan dorongan agar serangan terhadap Iran berlanjut. Mereka tidak ingin operasi militer AS berakhir sampai ada perubahan signifikan dalam kepemimpinan Iran atau ada perubahan dramatis dalam perilaku Iran.

Informasi ini disampaikan oleh para pejabat dan diplomat AS, negara-negara Teluk, dan Israel kepada kantor berita Associated Press (AP), Senin (30/3/2026). Para pejabat ini tidak berwenang berkomentar secara terbuka dan mau berbicara dengan syarat anonimitas. Gedung Putih menolak berkomentar tentang ini.

Namun, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyatakan, AS dan sekutu-sekutu Arabnya sependapat tentang Iran. ”Mereka adalah fanatik agama yang tidak boleh memiliki senjata nuklir karena mereka memiliki visi apokaliptik tentang masa depan. Semua tetangga mereka tahu itu. Itulah sebabnya semua tetangganya mendukung upaya yang sedang kita lakukan,” kata Rubio di program acara ”Good Morning America” stasiun televisi ABC.

Menurut para diplomat yang mengetahui isu ini, Uni Emirat Arab (UEA) menjadi negara di Teluk yang paling agresif dan kuat mendorong agar Trump memerintahkan invasi darat. Kuwait dan Bahrain juga mendukung pilihan ini. Sejak awal serangan Iran, UEA telah menghadapi sedikitnya 2.300 serangan rudal dan pesawat nirawak dari Iran.

Plumes of smoke rise from an oil facility in Fujairah, United Arab Emirates, Saturday, March 14, 2026. (AP Photo/Altaf Qadri)

UEA semakin kesal karena perang terus berlanjut dan serangan-serangan Iran itu mengancam serta menodai citranya sebagai pusat perdagangan dan pariwisata Timur Tengah yang aman, bersih, dan makmur. UEA menjadi semakin tajam dalam retorikanya terhadap Iran.

”Rezim Iran yang meluncurkan rudal balistik ke permukiman, mempersenjatai perdagangan global, dan mendukung proksi bukanlah lagi ciri yang dapat diterima dalam lanskap regional. Kami butuh jaminan ini tidak akan pernah terjadi lagi,” tulis Menteri Negara di Kementerian Luar Negeri UEA Noura Al Kaabi dalam kolom di harian The National, Senin.

Arab Saudi juga menyampaikan ke AS bahwa mengakhiri perang sekarang tidak akan menghasilkan kesepakatan yang menjamin keamanan bagi negara-negara Arab. Menurut Arab Saudi, penyelesaian perang pada akhirnya harus menetralkan program nuklir Iran, menghancurkan kemampuan rudal balistiknya, dan mengakhiri dukungan Teheran terhadap kelompok proksi.

Selain itu, Arab Saudi juga berharap penyelesaian perang harus memastikan Selat Hormuz tidak dapat ditutup secara efektif oleh Iran di masa depan seperti yang sekarang terjadi. Gara-gara Selat Hormuz ditutup, aliran minyak dunia tersendat. Sebelum perang, sekitar 20 persen minyak dunia mengalir melalui selat itu.

Untuk mencapai semua tujuan itu, menurut Arab Saudi, kepemimpinan Iran harus diubah atau digulingkan. Putra Mahkota Mohammed bin Salman, pemimpin de facto kerajaan Arab Saudi, sudah menyampaikan kepada para pejabat AS bahwa jika kemampuan militer dan kepemimpinan ulama Iran bisa dilemahkan, hal itu akan bisa menjamin kepentingan jangka panjang kawasan Teluk dan sekitarnya.

Meski demikian, Arab Saudi juga menyadari bahwa semakin lama konflik berlangsung, semakin banyak kesempatan Iran untuk menyerang infrastruktur energi Arab Saudi yang menjadi jantung perekonomiannya. Seorang pejabat Pemerintah Arab Saudi menekankan, kerajaan Arab Saudi menginginkan ada solusi politik, tetapi fokus utamanya tetap pada perlindungan terhadap rakyat dan infrastruktur pentingnya.

Dorongan dari negara-negara Teluk ini datang ketika Trump bimbang. Ia mengklaim bahwa kepemimpinan Iran telah hancur dan siap untuk menyelesaikan konflik, sekaligus mengancam untuk meningkatkan eskalasi perang lebih lanjut jika kesepakatan tidak segera tercapai.

Meski secara umum negara-negara Teluk mendukung AS saat ini, seorang diplomat mengatakan ada beberapa perbedaan pendapat yang datang dari Oman dan Qatar. Kedua negara itu secara historis berperan penting sebagai perantara antara Iran dan Barat. Keduanya masih tetap mendukung solusi diplomatik.

Negara Teluk tanggung biaya perang Iran

Trump kini jadi semakin yakin bahwa ia mendapat dukungan penuh dari sekutu-sekutu Timur Tengah terpentingnya. ”Arab Saudi melawan balik dengan keras. Qatar, UEA, Kuwait, dan Bahrain melawan balik. Mereka semua melawan balik,” kata Trump kepada wartawan di pesawat Air Force One, Minggu.

Bahkan, Trump disebutkan terpikir untuk meminta negara-negara Arab menanggung biaya perang Iran. Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt mengakui Trump punya ide meminta sekutu-sekutunya menanggung biaya perang. Trump mengatakan, perundingan dengan Iran berjalan baik dan ia mengisyaratkan bahwa perubahan rezim di Iran sudah selesai.

Menteri Luar Negeri Mesir Badr Abdelatty menghadiri pertemuan konsultatif tingkat menteri di Riyadh, Arab Saudi, Kamis (19/3/2026). Para menteri luar negeri dari negara-negara Arab dan Islam bertemu untuk membahas krisis keamanan di kawasan tersebut akibat perang Amerika Serikat-Israel melawan Iran.

”Kita sudah mengalami perubahan rezim, jika Anda perhatikan, karena rezim yang pertama telah hancur, musnah, mereka semua sudah mati. Rezim berikutnya sebagian besar sudah mati. Dan, rezim ketiga, kita berurusan dengan orang-orang yang berbeda dari siapa pun yang pernah berurusan sebelumnya. Ini kelompok orang yang sama sekali berbeda,” tutur Trump

Meski demikian, Rubio mengingatkan, AS juga harus bersiap untuk segala kemungkinan, termasuk kemungkinan tidak akan terjadinya perubahan rezim.

Selama ini negara-negara Teluk menjadi tuan rumah pasukan dan pangkalan AS yang kemudian dijadikan sebagai tempat untuk menyerang Iran. Namun, mereka belum bergabung dalam serangan AS itu. Trump juga belum meminta mereka ikut ambil bagian dalam operasi militernya.

Salah satu faktornya mungkin karena AS sudah memperhitungkan bahwa hal itu tidak sebanding dengan komplikasi yang timbul akibat memenuhi wilayah udara dengan militer tambahan di luar Israel. Tiga jet tempur Amerika ditembak jatuh secara keliru oleh tembakan sekutu Kuwait pada hari-hari pertama konflik di tengah serangan udara Iran. Keenam awak pesawat berhasil melontarkan diri dengan selamat dari F-15E Strike Eagle.

Faktor lain adalah bahwa hanya UEA dan Bahrain yang memiliki hubungan diplomatik formal dengan Israel. Menurut Direktur Proyek Teluk dan Semenanjung Arab di International Crisis Group Yasmine Farouk, ini akan menambah rumit perhitungan AS.

Unggahan Tehran Time yang menunjukkan dampak serangan balasan Iran ke pangkalan AS di Qatar. Foto ini hasil AI dari foto satelit kota di Bahrain.

Iran memperingatkan akan menyerang infrastruktur penting negara-negara tetangganya, termasuk pabrik desalinasi yang digunakan untuk menyediakan air minum bagi kawasan Teluk, jika Trump menyerang pembangkit listrik Iran. Ancaman Trump itu dikeluarkan jika Iran tidak membuka Selat Hormuz hingga 6 April mendatang.

”Yang membuat sebagian negara Teluk enggan ikut campur itu karena perang ini tidak punya tujuan yang jelas. Tidak ada juga kepercayaan bahwa Amerika akan benar-benar berjuang sampai akhir dan menyelesaikan pekerjaannya. Namun, mereka akan bisa ikut berperang jika menimbulkan konsekuensi parah atau banyak korban jiwa,” papar Farouk. (REUTERS/AP)


Kerabat Kerja

Penulis:

Luki Aulia
 | 

Editor:

Nur Hidayati
 | 

Penyelaras Bahasa:

Teguh Candra