Negosiasi yang Tidak Adil bagi Ukraina

Hingga saat ini, dialog untuk mewujudkan perdamaian di Ukraina masih menemui banyak tantangan. Perang Ukraina-Rusia belum berhenti.

09 Apr 2025 17:19 WIB · Opini

Oleh redaksi

Meskipun diwarnai keraguan, dunia sempat berharap pada janji Presiden Amerika Serikat Donald Trump soal misinya menghentikan perang Rusia-Ukraina.

Akan tetapi, hingga hari ini harapan itu kian jauh dari kenyataan. Trump yang semula jemawa mampu menghentikan perang itu hanya dalam waktu satu hari, akhir-akhir ini justru jengah dengan sikap Presiden Rusia Vladimir Putin.

Rusia dinilai terlalu berbelit-belit, seperti Rusia tidak perlu mengembalikan wilayah Ukraina yang telah dikuasainya dan meminta NATO tidak lagi membuka diri bagi Ukraina. Dampaknya, proposal gencatan senjata 30 hari yang ditawarkan AS menjadi terkatung-katung meski Zelenskyy telah sepakat.

TOPSHOT - A woman touches a plate as she lays flowers to memorial set to pay homage to the civilians buried in the mass grave at Church of St. Andrew and Pyervozvannoho All Saints in the Ukrainian town of Bucha, northwest of Kyiv on March 30, 2025, marking the third anniversary of the liberation of Bucha from the Russian occupiers on March 31, 2022. More 500 civilian people were killed during Russian occupation of the city. (Photo by Sergei SUPINSKY / AFP)

Sikap Rusia itu membuat Trump frustrasi. Selain tekanan janji kampanye, Moskwa dinilainya tidak memiliki itikad baik. Oleh karena itu, Trump mempertimbangkan sanksi baru untuk Rusia.

Demi meredakan amarah Trump, Putin pun mengirim utusan khususnya, Kirill Dmitriev, CEO Russian Direct Investment Fund (RDIF), ke AS. Selama berada di AS, Dmitriev bertemu dengan banyak politisi dan petinggi AS. Kremlin menyebut kunjungan itu membangkitkan optimisme, tetapi tetap membutuhkan waktu yang panjang dan aneka saluran untuk mewujudkan perdamaian di Rusia.

Yang juga menarik, ketika Trump menyapu dunia dengan tarif baru impor, Trump mengecualikan Rusia. Namun, tidak dengan Ukraina. Kepada Kyiv, Trump mengenakan tarif baru impor sebesar 10 persen.

"Peace to the world", a painting created by Russian artist Alexei Sergienko showing a combination of faces of Russian President Vladimir Putin and US President Donald Trump, is on display at the Sergienko's gallery in St. Petersburg, Russia, Friday, March 14, 2025. (AP Photo/Dmitri Lovetsky)

Hingga titik ini, tampak nuansa bahwa isu perdamaian di Ukraina semata-mata adalah negosiasi di antara dua raksasa AS-Rusia. Alotnya perundingan gencatan senjata bukan lantaran sulitnya meyakinkan Ukraina, melainkan bagaimana mengamankan kepentingan AS dan Rusia. Dengan kata lain, jika AS dan Rusia tidak bersepakat, perdamaian di Ukraina bakal sulit terwujud.

Di sisi lain, meskipun setiap pihak yang terlibat mengatakan prosesnya masih panjang dan butuh kehati-hatian, tidak bisa dimungkiri, selama ini Kyiv tak pernah persis berada di posisi utama negosiasi. Yang justru terus mengemuka adalah sikap AS yang seolah bisa menekan atau mendikte Rusia serta Rusia yang selalu berkelit di belakang aneka alasan.

Tentu situasi ini tidak adil bagi Kyiv. Ukraina yang adalah korban justru seperti ”anak bawang”. Ukraina seolah tidak memiliki daya dalam perundingan yang sejatinya tengah membahas masa depan negeri itu. Dalam situasi seperti itu, dunia sebaiknya memberikan dukungan lebih kuat untuk Kyiv.

Ukrainian President Volodymyr Zelensky (R) and Belgium Prime Minister Bart de Wever (L) attend a joint press conference in Kyiv on April 8, 2025, amid the Russian invasion of Ukraine. (Photo by Genya SAVILOV / AFP)

Kerabat Kerja

Penulis:

redaksi
 | 

Editor:

Andreas Maryoto, Bonifasius Josie Susilo H
 | 

Penyelaras Bahasa:

Rosdiana Sitompul