Perdamaian Rusia-Ukraina bukan cuma isu penghentian perang. Ada isu bagi-bagi wilayah dan kekayaan Ukraina
05 Apr 2025 17:30 WIB · Internasional
Perundingan damai Rusia-Ukraina naik turun. Sementara ini, hasilnya bisa merugikan Ukraina. Berbagai pihak ingin dapat jatah dari kekayaan dan wilayah Ukraina.
Pada Kamis (4/4/2025), Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Marco Rubio menyebut, keseriusan Rusia soal gencatan senjata akan terlihat dalam sepekan ke depan. ”Pada akhirnya, akan jelas apakah Anda (Rusia) mau perdamaian atau Anda tidak mau perdamaian,” ujarnya di sela pertemuan para menlu anggota Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) di Brussels, Belgia.
Ia menyatakan itu kala Rusia-Ukraina terus saling serang. Pada Jumat malam, Rusia mengebom Kryvyi Rih, kampung halaman Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy. Serangan itu, menurut Kyiv, menewaskan 19 orang dan melukai 68 orang Ukraina.
Serangan itu juga menambah keraguan berbagai pihak pada keseriusan Rusia mencapai perdamaian di perang Ukraina. ”Serangan itu menyasar bangunan tempat tinggal, taman bermain,” kata Zelenskyy.
Rusia juga disebut menyerang pembangkit listrik di Kherson. ”Serangan itu tidak mungkin kebetulan. Rusia tahu itu fasilitas energi. Ini jenis fasilitas yang harus dilindungi dari serangan apa pun, sesuai janji Rusia ke Amerika,” lanjut Zelenskyy.
Sementara Rusia berkilah, serangan di Kryvyi Rih menyasar pertemuan komandan Ukraina dan perwakilan militer asing. Kementerian Pertahanan Rusia menyebut, 85 tentara Ukraina dan negara asing tewas dalam serangan itu.
Serangan dilancarkan berdekatan dengan waktu kunjungan Kirill Dmitriev, Utusan Khusus Presiden Rusia Vladimir Putin, ke AS. Rubio salah satu yang ditemui Dmitriev. Rupanya, AS diam-diam mencabut sanksi ke Dmitriev.
CEO Russian Direct Investment Fund (RDIF) itu dilarang masuk AS atau bertransaksi dengan orang dan perusahaan AS. Pencabutan sanksi membuat Dmitriev bisa masuk ke AS pada pekan ini dan bertemu berbagai pihak
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2020/04/11/OIL-OPEC_88421997_1586540974_jpg.jpg)
Ia datang tidak lama setelah Presiden AS Donald Trump marah ke Putin. Dalam wawancara ke sejumlah media, Trump tidak sabar lagi ke Putin soal pembahasan gencatan senjata Rusia-Ukraina.
Pada akhir Maret 2025, Rusia mengajukan sejumlah syarat tambahan. Sampai sekarang, gencatan senjata terbatas tidak kunjung diterapkan.
Salah satu alasan Putin soal gencatan senjata adalah tidak jelas apakah Ukraina akan mematuhi. Sebab, bagi Putin, Ukraina sekarang tidak punya pemimpin definitif. Masa jabatan Zelenskyy sudah habis dan pemilu belum digelar.
Trump sebenarnya pernah membahas isu legitimasi Zelenskyy. Giliran Putin yang membahas, ia marah.
Bagi Trump, pertanyaan Putin sama saja hambatan pada gencatan senjata. ”Kalau Rusia dan saya tidak bisa bersepakat soal penghentian pertumpahan darah di Ukraian, dan jika saya berpikir itu kesalahan Rusia, saya akan mengenakan tarif tambahan ke minyak, semua minyak yang keluar Rusia,” ujarnya.
Kemarahan itu tak lazim bagi Trump, yang sejak dilantik lagi menjadi Presiden AS, selalu lebih ramah ke Rusia daripada ke Ukraina. Bahkan, ia pernah menyebut Putin salah dipahami.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/09/28/c43158eb-7553-4b28-b748-3218e1c39a26_jpg.jpg)
Kedatangan Dmitriev untuk meredakan kemarahan Trump. ”Saya pikir ada pemahaman soal bagaimanan kami bisa menyelesaikan kesepakatan. Ada banyak diskusi dalam kondisi, masih banyak perbedaan. Akan tetapi, sebagian dilalui untuk membahas isu-isu itu dan hanya solusi diplomatik yang mungkin,” kata Dmitriev, bankir kelahiran Kyiv yang memilih jadi warga Rusia saat Uni Soviet pecah itu.
Sebagai pimpinan RDIF, dana pengelola investasi Pemerintah Rusia, Dmitriev salah satu yang disanksi AS setelah Rusia menyerbu Ukraina. Menurut Putin, 28.965 orang dan badan usaha Rusia disanksi. Tidak ada negara, lanjut Putin, dikenai sanksi sebanyak Rusia.
Untungnya, Rusia tidak masuk daftar penerima tarif bea masuk impor yang diumumkan Trump Selasa lalu. Trump beralasan, Rusia tidak banyak berdagang dengan AS. Selain itu, sanksi ke Rusia sudah terlalu banyak.
Alasan itu bisa dimaknai Trump kembali memberi angin segar untuk Rusia. Semacam insentif agar Rusia mau bersepakat soal Ukraina.
Dmitriev juga menyebut, gencatan senjata terbatas menjadi angin segar terbaik sejak perang meletus. Rusia dan Ukraina telah setuju berhenti menyasar infrastruktur energi. Walakin, seperti terjadi pada Jumat pekan ini, saling serang masih terus berlanjut.
Menurut Dmitriev, ada kemajuan selama kunjungannya ke AS. Selain Rubio, ia bertemu juga dengan Steve Witkoff. Tugas utama Witkoff sebenarnya Utusan Khusus Presiden AS untuk Timur Tengah. Akan tetapi, ia juga menjadi perunding AS untuk urusan Ukraina-Rusia. Witkoff salah satu anggota delegasi AS dalam perundingan AS-Rusia di Arab Saudi pada Februari 2025.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/02/19/99bd2651eb0165afa7435b32bf303f05-cropped_image.png)
Senator Republikan, Lindsey Graham dan Markwayne Mullin, juga ditemui Dmitriev. Graham salah satu pendukung utama Trump di Senat AS.
Menurut Dmitriev, AS-Rusia berusaha keras mewujudkan perdamaian di Ukraina. Akan tetapi, ada pihak-pihak yang tidak mau perang Ukraina berhenti.
Soal kunjungan Dmitriev, Juru Bicara Kremlin Dmitry Peskov meminta semua pihak bersabar sampai bankir itu pulang. ”Ada optimistis yang hati-hati. Pekerjaan masih panjang, termasuk melalui beragam saluran,” ujarnya.
Dmitriev bisa diterima Putin dan Trump melalui anak Trump dan Putin. Dia jadi penasihat keuangan di lembaga yang dikelola anak Putin, Katerina Tikhonova. Dia juga menjalin kontak ke lingkaran Jared Kushner, menantu Trump.
Semua bisa dilakukan karena Dmitriev, bankir kelahiran Kyiv dan sekolah AS, lama berkarier di industri keuangan. Ia kembali ke Rusia di periode awal Putin mulai berkuasa.
Kunjungan Dmitriev juga membahas soal penguatan hubungan AS-Rusia. Hubungan itu dinilai amat memburuk di masa pemerintahan Joe Biden. ”Salah satu topik pemulihan hubungan Amerika-Rusia, dialog dihentikan dan dijeda di masa pemerintahan Joe Biden,” kata Dmitriev.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/03/10/590b2ec2-d322-448e-8dec-fe15bff716b1_jpg.jpg)
Penjajakan hubungannya termasuk soal kemitraan di sekitar kutub utara, pemanfaatan logam tanah jarang, dan pembukaan kembali akses ruang udara AS-Rusia untuk maskapai kedua negara. ”Kami tidak meminta pencabutan sanksi apa pun. Kami cuma membahas jika Amerika mau lebih banyak berbisnis dengan Rusia, AS bisa melakukan itu,” kata Dmitriev kepada CNN.
Sejak perang Ukraina meletus, AS-Rusia saling melarang akses ruang udara. Dampaknya lebih merugikan maskapai-maskapai AS. Sebab, pesawat-pesawat AS harus terbang lebih jauh setelah dilarang melewati langit Rusia. Biaya operasional lebih mahal.
Soal kerja sama kutub utara, Rusia sebenarnya berhati-hati. Beberapa hari sebelum lawatan Dmitriev, Putin menunjukkan sejumlah kapal selam yang khusus dirancang beroperasi di kutub. Pameran itu menunjukkan, Rusia siap berhadapan dengan siapa pun demi mempertahankan hak di kutub utara.
Soal perdamaian Ukraina, Rusia berulang kali mengajukan syarat tidak mau menyerahkan lagi wilayah yang didudukinya. Kini, setidaknya 20 persen wilayah Ukraina dikuasai Rusia.
Pendudukan itu bagian dari konsesi alias bagi-bagi wilayah dan kekayaan Ukraina. Rupanya, sejumlah pihak lain juga mau dapat konsesi dari Ukraina.
Menteri Pertanian dan Desa Polandia Michal Kolodziejczak mengatakan, Polandia harus menguasai sebagai pelabuhan Odessa. Pelabuhan itu memberi akses ke Laut Hitam. ”Kenapa kita tidak berunding ke Ukraina soal menjual atau menyewakan itu (pelabuhan Odessa) selama 50 tahun sehingga Polandia punya pelabuhan ekspor biji-bijian sendiri,” ujarnya kepada media Polandia, Polsat News.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/04/05/374f0996-2d12-4468-b651-a786762e91f6_jpg.jpg)
Menurut dia, Uni Eropa juga akan diuntungkan kalau Polandia menguasai sebagian pelabuhan Odessa. ”Akan mengamankan akses ke Laut Hitam,” ujarnya.
Sementara itu, Parlemen Eropa menyoroti kendali perusahaan-perusahaan AS atas ladang-ladang Ukraina. Menurut Barbara Bonte, perusahaan AS, seperti Cargill, ADM, Blackrock, Oaktree Capital Management, dan Bunge Limited, menguasai ribuan hektar ladang gandum dan aneka komoditas lain di Ukraina. Bagi Bonte, anggota Parlemen Eropa, Uni Eropa harus bersikap.
Dalam pembicaraan dengan Ukraina, AS juga membahas kendali penuh atas pemanfaatan bahan tambang di sana. Waktu Zelenskyy meminta kesepakatan lebih baik, Trump dan Wapres AS JD Vance menudingnya tidak tahu terima kasih.
Sikap AS itu dinilai sebagian Eropa sebagai tekanan pada Ukraina. Karena itu, Eropa berusaha menunjukkan komitmen terus memperkuat Ukraina menghadapi Rusia. Bagi Eropa, kemenangan Ukraina akan meredam ambisi Rusia menguasai Eropa.
Sikap Eropa membuat Rusia dan AS menuding Eropa berusaha terus mengobarkan perang dan mengorbankan rakyat Ukraina. (AP/AFP)
Penulis:
Iwan SantosaEditor:
Kris MadaPenyelaras Bahasa:
Rosdiana Sitompul