Bagi dia, semua kemalangan Israel adalah salah dunia. Mengakui kemerdekaan Palestina hanya akan menambah persoalan, walaupun ia bilang pidato Prabowo siratkan optimisme.
27 Sep 2025 07:12 WIB · Internasional
NEW YORK, KOMPAS — Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu memuji pidato Presiden Prabowo Subianto dalam sesi debat umum Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa. Akan tetapi, ia juga menyangkal Solusi Dua Negara bisa menyelesaikan masalah.
Netanyahu memperoleh giliran berpidato dalam debat umum Sidang Majelis Umum PBB di New York, Amerika Serikat, pada Jumat (26/9/2025) pagi waktu setempat. Saat ia mulai tampil di podium, banyak delegasi meninggalkan aula ruangan sidang (walk out). Banyak kursi kosong ditinggalkan delegasi.
Ketika ia berpidato, mayoritas peserta sidang banyak yang tidak datang. Tidak ada pemberitahuan formal, apakah negara-negara yang tidak hadir di dalam ruang Sidang Majelis Umum PBB itu memang karena memboikot pidato Netanyahu atau karena ada jadwal pertemuan bilateral.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/09/26/8af6aa1d-ee6a-4f15-9610-3d135022f2f1_jpg.jpg)
”Saya memperhatikan pernyataan yang optimistis dari Presiden Indonesia (Prabowo Subianto). Indonesia adalah negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia,” kata Netanyahu.
Ia mengacu pada pidato Prabowo di sesi yang sama pada 23 September 2025. Ketika itu, Prabowo mengatakan bahwa Solusi Dua Negara adalah jalan keluar bagi konflik yang merajalela antara Palestina dan Israel.
Menurut Prabowo, begitu Israel berhenti menyerang dan langsung mengakui kemerdekaan Palestina, Jakarta akan membuka hubungan diplomatik dengan Tel Aviv. Hanya dengan cara itu kedaulatan dan martabat bangsa Palestina bisa tercapai dan pada saat yang sama keamanan bangsa Israel bisa terjamin.
Namun, dalam pidatonya, tak hanya menyangkal bahwa Solusi Dua Negara bisa menyelesaikan konflik Palestina-Israel, Netanyahu juga menyatakan akan menghalangi berdirinya negara Palestina.
”Banyak negara yang ingin berhubungan diplomatik dengan Israel karena kami memiliki teknologi yang canggih,” kata Netanyahu.
Menteri Luar Negeri Sugiono di sela-sela rangkaian pertemuan bilateral dan multilateral Sidang Majelis Umum PBB memberikan tanggapan atas pidato Netanyahu. Perihal Netanyahu menghargai pidato Prabowo merupakan hak dari pihak Israel untuk merasa demikian.
”Bagi Indonesia, persyaratannya jelas. Gencatan senjata, tarik pasukan, dan akui kedaulatan Palestina. Setelah itu, baru kita bicarakan soal hubungan diplomatik,” kata Sugiono.
Dalam pidatonya, Netanyahu turut memuji Pemerintah Lebanon atas pernyataan mereka hendak melucuti Hizbullah. Tel Aviv menunggu aksi nyata Beirut atas pernyataan itu karena dengan melucuti Hizbullah, perdamaian antara Israel dan negara-negara di utaranya—Lebanon serta Suriah—bisa tercapai.
”Demikian pula dengan melucuti Hamas, perdamaian dan kerja sama dengan negara-negara Arab ataupun berpenduduk Muslim global bisa tercapai," kata Netanyahu.
Kemenangan atas Hamas, lanjut Netanyahu, berarti perdamaian dunia. Ia mencontohkan Iran, negara yang beberapa bulan lalu diserang oleh Israel. Netanyahu mengklaim masyarakat Iran menderita dikekang oleh pemerintahnya sendiri.
Ia meyakini, di masa depan akan terwujud pemerintahan Iran yang lebih baik. ”Ketika itu terjadi, dua bangsa kuno dan agung, Iran dan Israel, bisa berteman,” ujarnya.
Terkait situasi terkini di Gaza, Netanyahu hanya berbicara mengenai para sandera. Masih ada 48 orang yang disandera Hamas. Setengah di antaranya diperkirakan sudah tewas. Ia meminta semua sandera dikembalikan.
”Pulangkan para sandera atau kami terus memburu kalian,” ujarnya.
Namun, pujian-pujian itu bertolak belakang dengan bagian pertama pidatonya. Netanyahu memulai sesi debat umumnya dengan menyalahkan negara-negara Barat. Menuduh mereka munafik. Di depan sok membela Gaza, padahal secara pribadi berterima kasih kepada Israel.
”Israel yang melakukan pekerjaan kotor kalian,” kata Netanyahu.
Ia bahkan melakukan kuis mendadak di atas mimbar. Intinya, Hamas, Hizbullah, dan Taliban adalah sumber semua petaka di dunia. Israel secara serentak memiliki tujuh front perang guna memberantas pihak-pihak yang membenci negara-negara Barat dan maju.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/09/26/0bc11fd4-6003-40bd-9da9-9e70e2583ac5_jpg.jpg)
”Bagaimana mungkin kalian mendukung kemerdekaan Palestina, sementara 90 persen rakyatnya mendukung serangan 7 Oktober 2023? Mereka juga merayakan tragedi 9 September 2001,” kata Netanyahu.
Ia menuduh Hamas menggunakan warga sipil di Gaza sebagai tameng. Mereka bersembunyi di permukiman warga, sekolah, dan rumah sakit. Hamas melarang warga sipil mengungsi, terlepas militer Israel sudah mengimbau warga untuk berpindah sebelum setiap kali mau menyerang.
Netanyahu menyangkal melakukan genosida di Gaza. Alasan dia adalah, pertama, militer selalu mengumumkan serangan dan memberi waktu bagi warga untuk angkat kaki. Kedua, Israel menyalurkan berton-ton bantuan pangan yang menurut dia 85 persennya dijarah Hamas.
”Ini bukan perbuatan pemerintahan yang melakukan genosida,” katanya.
Selama Netanyahu berpidato di Markas Besar PBB, ribuan pengunjuk rasa berpawai di kawasan Times Square, New York City. Mereka mengibarkan bendera Palestina, sebagian mengenakan kafiyeh, dan membawa banner-banner bertuliskan ”Bebaskan Palestina," ”Hentikan membuat kelaparan di Gaza”, dan ”Embargo senjata (ke Israel) sekarang juga”.
"Netanyahu, kamu tak bisa mengelak, kami dakwa kamu melakukan genosida,” seru pengunjuk rasa.
Pejabat Kementerian Luar Negeri Palestina Adel Atieh menyebut pidato Netanyahu di Majelis Umum PBB sebagai ”pidato orang yang terkalahkan”.
Sehari sebelumnya, pada 25 September 2025, Presiden Palestina Mahmoud Abbas berpidato di sesi debat umum Sidang Majelis Umum PBB. Ia mengatakan, Palestina sudah sejak 1993 mengakui kedaulatan Israel. Hal itu tertuang di dalam Perjanjian Oslo.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/09/25/4114e5a8-0cae-413b-bf32-e303c1206016_jpg.jpg)
Israel ketika itu mengakui Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) sebagai entitas pemerintahan de facto Palestina. Akan tetapi, kalangan ekstrem kanan di Palestina ataupun Israel sama-sama menentang Perjanjian Oslo.
Ketika itu, Hamas dan Jihad Islam Palestina melakukan serangan bom bunuh diri. Orang-orang Yahudi ultrakanan menyerang warga Muslim di Hebron. Puncaknya ialah penembakan Perdana Menteri Israel Yitzhak Rabin oleh Yahudi ultrakanan pada 1995.
Rabin, pejuang perdamaian, tewas akibat serangan itu. Gara-gara kejadian tersebut, upaya bina damai Palestina dan Israel berkali-kali gagal.
Dalam pidatonya, Abbas mengajak semua pihak kembali ke semangat Perjanjian Oslo. Otoritas Palestina meminta Hamas meletakkan senjata dan mengembalikan proses demokrasi di Gaza ke tangan rakyat. Ia juga menjanjikan bahwa Hamas tidak akan masuk dalam pemerintahan baru Palestina.
”Palestina ingin menjadi negara yang berdaulat, berlandaskan hukum internasional, dan memberi sumbangsih kepada dunia,” kata Abbas.
Ia menuturkan, Palestina ingin kembali kepada wilayah geografis sebelum pencaplokan oleh Israel pada Perang Enam Hari 1967. Jerusalem Timur menjadi ibu kotanya. (AFP/REUTERS)
Penulis:
Laraswati Ariadne Anwar dari New York, ASEditor:
Bonifasius Josie Susilo HPenyelaras Bahasa:
Didik Durianto