Percepatan pencairan dana investasi Danantara yang dikelola dengan baik dan diarahkan pada sektor-sektor strategis akan memperkuat prospek pertumbuhan ekonomi 2025.
04 Jun 2025 20:27 WIB · Ekonomi
JAKARTA, KOMPAS — Badan Pengelola Investasi atau BPI Danantara didorong untuk mempercepat penyaluran belanja investasi publik guna menjaga pertumbuhan ekonomi pada 2025. Langkah ini dinilai krusial di tengah kebijakan efisiensi belanja negara dan meningkatnya ketidakpastian ekonomi global.
Hal itu tertulis dalam laporan yang dikeluarkan Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) bertajuk ”OECD Economic Outlook” edisi Juni 2025.
Laporan tersebut menuliskan bahwa percepatan realisasi investasi publik melalui Danantara, yang disertai dengan jaminan transparansi dan akuntabilitas dalam pengelolaannya, dapat memberikan dorongan signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.
”Dalam jangka pendek, hal ini dipandang sebagai langkah tepat menghadapi tekanan fiskal dan melambatnya permintaan domestik,” tulis laporan tersebut, dikutip Kompas, Rabu (4/6/2025).
OECD memproyeksikan defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) akan meningkat, dari 2,3 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) pada 2024 menjadi 2,8 persen pada 2025.
Kenaikan ini dipicu oleh perluasan program makan gratis bagi anak sekolah dan ibu hamil, pembentukan dana kekayaan negara melalui BPI Danantara, serta kebijakan subsidi berupa diskon tarif listrik pada awal 2025. OECD memperkirakan, kebijakan-kebijakan tersebut akan memberi tekanan tambahan sebesar 1,6 persen terhadap defisit anggaran.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/03/13/9b145253-2148-4fd8-855c-b899bf9959c3_png.png)
Sementara posisi fiskal diperkirakan tetap netral. Pemerintah melakukan efisiensi belanja lintas sektor yang nilainya mencapai sekitar 1,3 persen dari PDB. Dengan demikian, defisit tetap berada di bawah batas maksimum yang diatur undang-undang, yakni 3 persen dari PDB.
Di luar terjaganya defisit anggaran, OECD menilai, percepatan pencairan dana investasi melalui Danantara yang dikelola dengan baik dan diarahkan pada sektor-sektor strategis akan memperkuat prospek pertumbuhan ekonomi nasional pada 2025.
Kendati demikian, organisasi tersebut tetap merekomendasikan agar pemerintah secara bertahap meningkatkan penerimaan negara mulai 2026. Ini penting guna menurunkan rasio utang publik yang saat ini berkisar 40 persen dari PDB.
Pada Simposium Nasional Sumitronomics di Jakarta, Selasa (3/6/2025), Managing Director Finance Danantara Arief Budiman mengatakan, Danantara menargetkan penyaluran investasi senilai 5 miliar dollar AS pada semester II-2025.
Target tersebut akan difokuskan pada sektor-sektor strategis yang dinilai berdampak tinggi terhadap perekonomian nasional. Keputusan investasi akan didasarkan pada tiga pertimbangan utama, yaitu dampak terhadap perekonomian Indonesia, potensi imbal hasil, dan besarnya peluang investasi di sektor terkait.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/03/24/fa945b59-67d0-40e4-be1a-29e80a26fc27_jpg.jpg)
Pada tahun ini, Danantara telah menetapkan delapan sektor untuk menjadi prioritas investasi. Sektor yang dimaksud meliputi mineral, energi terbarukan, infrastruktur digital, kesehatan, layanan keuangan, infrastruktur utilitas, kawasan industri, dan pangan.
”Terkait layanan keuangan, Danantara tidak berinvestasi langsung ke bank atau industri keuangan. Namun, kami akan menambahkan instrumen-instrumen yang dapat memperdalam pasar keuangan,” ujarnya.
Soal sumber pendanaan investasi sebesar 5 miliar dollar AS yang akan disalurkan Danantara sepanjang 2025, Arief enggan merinci.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/06/03/d3cbd4ddbe56d3ee535a1d9187332966-WhatsApp_Image_2025_06_03_at_15.44.01.jpeg)
Ekonom Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin, menilai, target investasi tersebut kemungkinan besar bersumber dari dana internal, khususnya dividen badan usaha milik negara (BUMN). Ini sejalan dengan langkah Danantara yang telah menjalin kemitraan strategis dengan seluruh BUMN di Indonesia.
Sejumlah komitmen dari mitra luar negeri yang telah dijalin Danantara merupakan langkah awal yang menjanjikan bagi lembaga pengelola investasi ini. Namun, dibutuhkan kerja keras agar komitmen investasi asing tersebut benar-benar terealisasi.
”Perlu waktu bagi Danantara untuk bisa menarik investor asing. Saya perkirakan modal awal itu berasal dari dividen BUMN,” ujarnya.
Wijayanto menilai, untuk lembaga pengelola dana kekayaan negara (sovereign wealth fund/SWF), dana sebesar 5 miliar dollar AS tergolong kecil. Untuk itu, ia mengingatkan agar Danantara selektif menyasar sektor-sektor strategis untuk penempatan dana investasi.
”Bagi SWF, dana sebesar itu masih tergolong mini. Pilihan sektor investasinya akan terbatas. Saya yakin hilirisasi akan menjadi prioritas utama,” kata Wijayanto.
Penulis:
Dimas Waraditya NugrahaEditor:
FX Laksana Agung Saputra