Karya foto Kurkdjian dianggap telah memberikan gambaran mendalam pada persepsi orang Barat terhadap Hindia Belanda dan perkembangan fotografi Indonesia selanjutnya.
06 Mei 2025 06:00 WIB · Foto
Keindahan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru telah dikenal sebagai obyek foto bagi siapa pun yang pernah mengunjunginya. Lanskap kaldera Tengger dengan kawah Gunung Bromo yang mengepulkan asap sulfatara bersanding dengan gurat-gurat lereng Gunung Batok, serta di latar belakang letupan material vulkanik dari kerucut Mahameru puncak abadi Gunung Semeru, telah menjadi ikon wisata dan keindahan alam Pulau Jawa.
Tak heran, gambaran keindahan Bromo ini akan membuat siapa pun jatuh hati padanya. Bukan tanpa alasan jika sejak teknologi fotografi masuk ke Indonesia pada abad ke-19, lanskap Gunung Bromo telah membuat fotografer tertarik mengabadikannya. Salah satunya Ohannes Kurkdjian, fotografer asal Armenia, yang jatuh cinta pada keindahan alam dan budaya tanah Jawa.
Ohannes Kurkdjian merupakan fotografer dan pendiri salah satu firma fotografi paling terkenal di Asia Tenggara pada masa kolonial abad ke-19. Kurkdjian lahir di Kyurin (sekarang kota Gurun), sebuah kota di Armenia di bawah Kekaisaran Ottoman tahun 1851. Setelah belajar fotografi dan mendapat pendidikan di Vienna, Austria, pada tahun 1870, Kurkdjian muda pindah ke Tiflis (Tbilisi), Georgia.
Selama perang Rusia-Turki tahun 1878-1879, ia menjadi fotografer Angkatan Darat Rusia. Setelah itu ia pindah ke Yerevan, Armenia. Di kota perdesaan Armenia ini, ia terus berkarya dan berpartisipasi hingga mendapatkan penghargaan di komunitas salon fotografi Eropa.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/05/05/378b11690e7234bd37e2a7235b9ae99e-20150505SETF.jpg)
Selama lima bulan pada tahun 1879, ia memotret dan mempelajari monumen-monumen bersejarah di Ani, ibu kota Armenia kuno yang sekarang berada di bawah kekuasaan Turki. Dari hasil pendokumentasian ini, Kurkdjian menerbitkan sebuah album berjudul Ruins of Armenia yang terdiri atas 40 visual dengan tampilan stereoskopik. Album ini sengaja dicetak dalam bahasa Armenia dan Perancis, bukan bahasa Rusia yang saat itu masih menjadi bangsa penguasa di Armenia. Apa yang dilakukan Kurkdjian ini merupakan upaya mengenalkan warisan sejarah yang baru ditemukan itu sekaligus membangkitkan kembali minat nasional pada warisan bangsa Armenia.
Penerbitan foto-foto warisan sejarah di Ani tersebut bukan suatu kebetulan jika bertepatan dengan gerakan kemerdekaan Armenia tahun 1878-1882. Kurkdjian termasuk orang yang aktif dalam usaha kemerdekaan ini dan akhirnya menjadi sasaran penindasan politik dari pemerintah Tsar, penguasa Rusia saat itu. Hal tersebut membuat Kurkdjian mengungsi ke Vienna tahun 1881.
Tekanan politik penguasa Tsar diduga membuat banyak orang Armenia pergi meninggalkan tanah kelahiran mereka, termasuk Kurkdjian. Sebagian dari mereka merantau ke timur, ke kawasan Asia Timur dan Asia Tenggara. Kurkdjian akhirnya memilih pindah ke Asia Tenggara dan pertama kali tiba di Singapura tahun 1885, kemudian ke Jawa tahun 1886. Keberadaan komunitas Armenia yang kecil namun makmur di dua tempat ini, serta jiwa petualang dan semangat kewirausahaannya, membuat Kurkdjian memilih Surabaya sebagai tempat perantauan mengadu nasib.
Pada tahun 1890, ia mendirikan sebuah atelir fotografi, Atelier Kurkdjian, yang pada awalnya disebut berlokasi di Bultzingslowenplein, Surabaya. Nama tempat ini merujuk pada kawasan yang saat ini berada di antara Jalan Pahlawan dan Jalan Kramat Gantung, yang sekarang dikenal masuk dalam wilayah Kelurahan Alun-alun Contong di Kecamatan Bubutan, Surabaya.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/05/05/475aa8b3abb6df3708fb3afe85422714-20150505SETE.jpg)
Sambil menjalankan bisnis studio foto, Kurkdjian juga mulai membuat potret orang-orang Eropa di sekitar Surabaya. Ia juga tertarik mengabadikan perempuan Jawa. Jiwa petualangnya membawa ia berkeliling Jawa dan mengabadikan hutan tropis, pohon, candi, serta gunung berapi.
Foto-foto lanskap Candi Borobudur dan bagian-bagian candi yang memuat relief juga banyak dibuat Kurkdjian. Termasuk Candi Mendut yang berada satu kawasan dengan Candi Borobudur.
Gaya fotografi Kurkdjian dicirikan oleh penggunaan kamera berformat besar untuk menghasilkan gambar dengan kejernihan tinggi. Dalam banyak hal, karyanya tampak seperti karya fotografer studio profesional pada umumnya yang bekerja pada pergantian abad. Potret-potretnya dicetak pada permukaan matte bertekstur, sementara pemandangan dan foto-foto rekaman dicetak pada permukaan mengilap yang sering kali ditik secara ferotipe. Penghasilannya diperoleh dari uang komisi serta royalti yang didapatkan dari album foto yang diterbitkan untuk keperluan promosi. Ia juga banyak mencetak foto-fotonya dalam bentuk kartu pos.
Salah satu tugas paling penting dilakukan pada tahun 1898 ketika mendokumentasikan kunjungan Ratu Wilhelmina ke Pulau Jawa. Hasilnya terwujud dalam Album Ratu, yang dibuat untuk memperingati kunjungan Ratu Wilhelmina ke Jawa pada tanggal 31 Agustus 1898. Album ini mencakup pemandangan persiapan parade, kunjungan itu sendiri, dan banyak kemegahan serta suasana yang menyertainya. Gambar-gambar tersebut dipasang ke dalam album berlapis beludru yang rumit dan dekoratif bercap perak yang diproduksi Kurkdjian sebagai karya presentasi untuk Ratu.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/05/05/84837403aadf92295951be49aa041bc6-20150505SETD.jpg)
Salah satu foto ikonik karya Kurkdjian adalah lanskap kawasan Gunung Bromo. Visual yang menggambarkan kaldera Tengger dengan Gunung Bromo dan Gunung Batok di dalamnya serta puncak Mahameru Gunung Semeru di latar belakang diabadikan dari wilayah Penanjakan, Pasuruan. Visual Gunung Bromo ini yang hingga kini seolah menjadi visual ”wajib” yang harus dibuat oleh siapa pun yang berkunjung ke Bromo.
Ketertarikan Kurkdjian pada asketisme dan hal-hal yang agung tampak jelas pada foto-fotonya tentang pemandangan alam dan gunung berapi Bromo serta Semeru. Gambaran Gunung Bromo dan lautan pasirnya yang tandus dan hiperrealistis menimbulkan rasa gundah yang melampaui romantisisme visual lanskap pada abad ke-19.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/05/04/c554c6804a98b2b219834a1fd346f12a-20150505SETA.jpg)
Pada tahun 1901, ia diundang oleh Pemerintah Belanda untuk memotret letusan Gunung Kelud pada tanggal 6 Juni (letusan awal terjadi pada tanggal 23 Mei). Letusan ini tercatat cukup dahsyat yang menimbulkan kerusakan hebat di wilayah Kediri dan Blitar. Korban jiwa tak ada catatan resmi, tapi diperkirakan ribuan orang tewas akibat bencana ini. Kurkdjian datang memotret ke Kelud didampingi asistennya yang berkebangsaan Inggris, George P Lewis. Asistennya tersebut yang membuat foto diri terkenal Kurkdjian saat bekerja, berdiri di belakang kamera yang dipasang pada tripod. Karena cuaca di daerah pegunungan sangat dingin, Kurkdjian berpakaian seperti untuk musim dingin Eropa.
Dalam pameran foto-fotonya yang diambil tak lama setelah letusan Gunung Kelud tahun 1901, banyak pujian diberikan karena dianggap membawa penonton ke dunia liar keagungan, perasaan sendiri, menjadi manusia kecil yang menghadapi keadaan tak terbatas. Untuk fotografi lanskap, Kurkdjian seolah mengabaikan topografi dan keindahan.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/05/05/7a7c11f0c1dc17e75bce0343d8ac0829-20150505SETB.jpg)
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/05/05/bc3cb3f8127aa2e6e4932152f17206f9-20150505SETC.jpg)
Di tengah pembahasan karya-karya foto Kurkdjian yang eksotis, dunia dikejutkan oleh kematiannya yang tiba-tiba pada tahun 1903. Kurkdjian dimakamkan di Surabaya. Hingga sekarang, makam Kurkdjian masih ada di Makam Peneleh, yang dikenal sebagai kompleks pemakaman Eropa di Surabaya.
Sepeninggal Kurkdjian, studio fotonya diambil alih oleh asistennya, George P Lewis, yang kemudian mengubah nama Atelier Kurkdjian menjadi O Kurkdjian and Co. Semua hasil foto dari studio ini diberi tanda O Kurkdjian and Co. Pada tahun 1915, perusahaan diambil alih oleh perusahaan farmasi Mieling & Co. Foto potret merupakan bisnis utama studio setelah kematian Kurkdjian, sedangkan pemandangan tidak lagi tersedia.
Selama periode 1914 hingga 1917, ketika Perang Dunia I berkecamuk di Eropa, Eastman Kodak Co dari Amerika Serikat menjadi pemasok utama barang-barang fotografi. Jumlah studio fotografi profesional tumbuh perlahan, penggunaan peralatan fotografi meningkat secara eksponensial. O Kurkdjian and Co merupakan satu-satunya agen Kodak di Jawa Timur, yang menyediakan layanan pengembangan dan perluasan bagi banyak pengguna baru.
Studio O Kurkdjian and Co tutup tahun 1936 dan dianggap telah memberikan gambaran mendalam pada persepsi orang Barat terhadap Hindia Belanda dan perkembangan fotografi Indonesia selanjutnya. Hingga kini, baik foto-foto karya Kurkdjian maupun studionya banyak menjadi koleksi museum serta galeri di sejumlah negara.
Penulis:
Iwan SetiyawanEditor:
Demitrius Wisnu WidiantoroPenyelaras Bahasa:
Nanik Dwiastuti