OKI Tentukan Sikap soal Serangan Israel ke Qatar

KTT Doha mencerminkan kerisauan mendalam dunia Arab dan Islam pada serangan Israel terhadap Qatar.

12 Sep 2025 19:00 WIB · Internasional

Oleh Kris Mada

DOHA, JUMAT — Pemimpin dan pejabat negara anggota Organisasi Kerja Sama Islam atau OKI akan berkumpul di Doha, Qatar. Mereka akan menghadiri konferensi tingkat tinggi darurat di Doha. Agenda pokoknya membahas serangan Israel terhadap Qatar.

Media Arab Saudi, Asharq al-Awsat, Jumat (12/9/2025), melaporkan bahwa KTT akan digelar pada Minggu sampai Senin. Juru bicara Liga Arab, Gamal Roshdy, mengatakan, KTT Doha mencerminkan kerisauan mendalam dunia Arab dan Islam pada serangan Israel terhadap Qatar. Serangan itu dilancarkan pada Selasa (9/9/2025).

KTT juga menjadi pelantar menyatukan sikap untuk menjunjung hukum internasional. Peserta KTT pun menolak perilaku preman Israel. ”KTT akan membahas langkah untuk menghentikan kawasan tergelincir ke konflik dan kekerasan lebih lanjut,” ujarnya.

Sejumlah petinggi negara lain telah dan akan datang ke Qatar. Presiden Uni Emirat Arab sekaligus Emir Abu Dhabi Mohammed bin Zayed al-Nahyan bergegas ke Doha selepas serangan. Ia memeluk Emir Qatar Tamim Hamad al-Thani.

Putra Mahkota Arab Saudi Pangeran Mohammed bin Salman mengajak ada reaksi bersama dunia Arab, Islam, dan komunitas internasional atas serangan Israel ke Qatar. Reaksi UEA dan Arab Saudi saat ini tidak terbayangkan bisa terjadi pada 2017-2021. Waktu itu, bersama sejumlah negara lain, UEA-Arab Saudi memblokade Qatar.

Adapun Presiden RI Prabowo Subianto menelepon Al-Thani pada Rabu untuk menyatakan solidaritas. Lalu, pada Jumat pagi, Prabowo bertolak ke Doha. Prabowo akan menghadiri KTT darurat OKI di Qatar.

Sejumlah diplomat Arab, menurut Asharq al-Awsat, menyebut KTT di Doha diharapkan menghasilkan kesatuan sikap Arab. Salah satunya soal menentukan peta jalan perdamaian Timur Tengah lewat pembentukan negara Palestina.

This handout picture released by Qatar's Amiri Diwan shows Qatar's Emir Sheikh Tamim bin Hamad al-Thani (R) welcoming UAE President Sheikh Mohamed bin Zayed al-Nahyan in Doha on September 10, 2025. Israel on September 10, warned its enemies they were not safe anywhere, a day after strikes targeting Hamas leaders in Qatar -- a US ally -- drew a rare rebuke from President Donald Trump. In a show of neighbourly solidarity, United Arab Emirates President flew to Qatar on September 10, and Saudi Arabia's de facto ruler, Crown Prince Mohammed bin Salman, will arrive on September 11. (Photo by Qatar Amiri Diwan / AFP) / RESTRICTED TO EDITORIAL USE - MANDATORY CREDIT "AFP PHOTO / QATAR AMIRI DIWAN" - NO MARKETING NO ADVERTISING CAMPAIGNS - DISTRIBUTED AS A SERVICE TO CLIENTS

Qatar konsultasi

Perdana Menteri Qatar Mohammed Abdulraham Al-Thani menyebut serangan itu tindakan pengkhianatan. Ia mengatakan, kawasan harus diselamatkan dari negara teroris yang mengancam keamanan. Qatar akan berkonsultasi dengan mitranya untuk menanggapi serangan Israel.

Serangan itu ditujukan ke rapat petinggi Hamas. Walakin, kecuali Direktur Kantor Juru Runding Hamas Jihad Labal, tidak ada pejabat Hamas yang tewas dalam serangan itu. Korban tewas lain adalah Humam al-Hayya, anak juru runding Hamas, Khalil Al-Hayya.

Bersama petinggi lain di Hamas, Khalil rapat di Doha untuk membahas usulan gencatan senjata di Gaza. Usulan itu dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump.

Sejak Rabu, PM Al-Thani berada di AS. Agendanya termasuk menghadiri sidang darurat Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk membahas serangan Israel ke Qatar yang digelar Kamis.

PM Al-Thani juga dijadwalkan bertemu Trump dan Wakil Presiden JD Vance. Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio dan Utusan Khusus AS untuk Perdamaian Steve Witkoff juga disebut akan menerima Al-Thani.

AS menyatakan Qatar sebagai sekutu utamanya di Timur Tengah. AS menjadikan Qatar sebagai pangkalan udara terbesarnya di Timur Tengah. Meski demikian, tetap saja Israel menyerang Qatar. Trump menyebut, serangan itu tak selaras kepentingan AS dan Israel.

Kantor berita Associated Press menulis, serangan itu memicu ketakutan negara-negara Arab: AS akan mengabaikan komitmen melindungi mereka dari agresor. Dulu, sosok agresornya adalah Saddam Hussein di Irak. Kini, Benjamin Netanyahu dari Israel dianggap sosok itu.

Di bawah Netanyahu, Israel telah menyerang hampir seluruh negara Arab. Tinggal Arab Saudi, Oman, Bahrain, dan UEA yang belum diserang Israel.

Serangan dilancarkan di tengah upaya Trump menambah penanda tangan Kesepakatan Ibrahim atau Abraham Accord. Kesepakatan itu membawa UEA, Bahrain, dan Maroko meresmikan hubungan diplomatik dengan Israel.

Trump membidik Arab Saudi jadi penanda tangan selanjutnya. Riyadh sudah menegaskan tidak ada peresmian relasi Arab Saudi-Israel sebelum negara Palestina terbentuk.

Selepas serangan Selasa, Netanyahu mengancam akan menyerang lagi Qatar atau negara lain yang masih menampung anggota Hamas. Ancaman dilontarkan setelah Trump menelepon Emir Qatar untuk menyatakan Qatar tak akan diserang Israel lagi.

Netanyahu tak cuma mengancam melanjutkan serangan. Ia juga telah meneken rencana pembangunan permukiman baru di Jerusalem Timur. ”Kami akan memenuhi janji kami bahwa tidak akan pernah ada negara Palestina. Tempat ini milik kami,” katanya kala mengumumkan penandatanganan persetujuan itu.

Rencana tetap ditandatangani meski UEA telah memperingatkan Israel. UEA mengatakan, Israel harus mengubur mimpi normalisasi hubungan dengan negara-negara Arab kalau tetap melanjutkan rencana pembangunan permukiman itu. (AP/AFP)


Kerabat Kerja

Penulis:

Kris Mada
 | 

Editor:

Nur Hidayati