BULU TANGKIS

Oleh-oleh Raymond Indra/Nikolaus Joaquin dari All England

Perjalanan Indonesia di turnamen bulu tangkis All England 2026 selesai. Semifinal, yang dicapai debutan, Raymond Indra/Nikolaus Joaquin, menjadi hasil terbaik.

08 Mar 2026 08:30 WIB · Olahraga

Humas PP PBSI

Oleh Yulia Sapthiani

BIRMINGHAM, SABTU — Raymond Indra/Nikolaus Joaquin masih punya banyak waktu untuk memperkaya kemampuan agar bisa memasuki jajaran pebulu tangkis ganda putra top dunia. Semifinal All England, setidaknya, bisa menjadi modal untuk terus berkembang.

Bermain di All England untuk pertama kalinya, perjalanan Raymond/Nikolaus terhenti di semifinal. Mereka menghentikan pemain senior, termasuk dua pasangan peringkat sepuluh besar dunia, untuk mencapai tahap itu. Namun, di tangan ganda putra terbaik dunia, Kim Won-ho/Seo Seung-jae, kelemahan Raymond/Nikolaus terlihat.

Dalam semifinal terakhir yang berlangsung di Utilita Arena, Birmingham, Sabtu (7/3/2026) malam waktu setempat atau Minggu subuh WIB, Raymond/Nikolaus kalah 19-21, 13-21. Ini menjadi hasil terbaik tim bulu tangkis Indonesia di All England 2026, tetapi lebih buruk dibandingkan 2025 yang menempatkan satu wakil di final, yaitu Leo Rolly Carnando/Bagas Maulana.

ganda putra indonesia di all england - 1

Dengan hasil ini pula, Indonesia tak mendapat gelar juara dalam dua edisi terakhir setelah Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto juara pada 2024. Tahun ini, Fajar yang berpasangan dengan Muhammad Shohibul Fikri kalah pada babak kedua (dari Raymond/Nikolaus), sementara Leo/Bagas tersingkir pada babak pertama.

Selain Fajar/Fikri, ganda putra peringkat kelima dunia, Raymond/Nikolaus menyingkirkan pasangan peringkat ketiga, Liang Wei Keng/Wang Chang. Mereka mengalahkan peraih perak Olimpiade Paris 2024 itu dalam dua gim, 21-18, 21-12.

Pola permainan menyerang dengan cepat Raymond/Nikolaus pada akhirnya bisa diredam Kim/Seo. Pemilik 11 gelar juara pada 2025, termasuk juara All England dan juara dunia, itu tertinggal hingga selisih tiga angka pada pertengahan gim pertama, pada skor 8-11 dan 12-15.

Britain All England Open Badminton

Kelebihan Kim/Seo, justru, terlihat pada posisi ini. Sebagai pemain top dunia, kapasitas mereka lebih terlihat saat tertinggal. Kim/Seo tetap tenang meski Raymond/Nikolaus menyerang sejak pukulan-pukulan awal pada setiap perebutan poin.

Kecepatan pasangan Indonesia berusia 21 dan 20 tahun itu diredam dengan kecerdikan Kim/Seo dalam melihat celah di lapangan lawan. Ke arah celah inilah, mereka menempatkan pukulan, baik dengan smes atau dengan mengubah ritme permainan, seperti melakukan dropshot.

Perbedaan lain antara Kim/Seo dan Raymond/Nikolaus ada pada penyelesaian akhir. Raymond/Nikolaus berulang kali melakukan kesalahan dalam penyelesaian akhir setelah merancang serangan, tetapi hal yang sama sangat jarang terjadi pada Kim/Seo. Faktor ini menjadi penentu hasil gim pertama setelah skor 19-19.

Britain All England Open Badminton

Raymond/Nikolaus semakin kesulitan mengimbangi lawan pada gim kedua yang tampil semakin solid. Serangan ganda putra ranking ke-17 dunia itu melemah, unforced error pun lebih sering terjadi.

”Di gim pertama, kami sudah unggul, tapi konsentrasinya kurang, jadi lawan bisa membalikkan keadaan. Mereka punya kekuatan, yaitu bisa tampil konsisten terutama di poin-poin akhir,” kata Raymond.

Meski demikian, tetap banyak hal positif yang bisa didapat Raymond/Nikolaus dari debut di All England. Mereka bertemu lebih banyak pemain top dunia untuk mendapat lebih banyak wawasan bersaing di level tinggi. Melawan Kim/Seo, bahkan, menjadi cita-cita yang akhirnya terwujud di All England ini.

”Pengalaman yang sangat berharga kami dapat. Dari babak pertama, kami tidak menemukan lawan yang mudah. Semuanya setara di level Super 1000. Makin tinggi levelnya makin susah juga,” ujar Raymond.

Nikolaus Joaquin melakukan backhand pada semifinal ganda putra All England di Utilita Arena, Birmingham, Inggris, Sabtu (7/3/2026). Raymond Indra/Nikolaus kalah dari Kim Won-ho/Seo Seung-jae (Korea Selatan).

Sementara, Nikolaus menyatakan, mereka ingin meniru konsistensi performa Kim/Seo. ”Mereka benar-benar stabil dari awal sampai akhir. Kami akan mencoba meniru supaya lebih baik ke depannya,” katanya.

Sebelum All England, Raymond/Nikolaus baru bisa menembus turnamen Super 1000 di Malaysia Terbuka, pada Januari, dan kalah di babak pertama. Pencapaian tertinggi sebelum itu adalah saat menjuarai Australia Terbuka 2025. Mereka mengalahkan Fajar/Fikri dan dua pasangan Malaysia berperingkat sepuluh besar dunia.

Momen Australia Terbuka tersebut menjadi pintu gerbang untuk memasuki persaingan dengan level lebih tinggi dan Raymond/Indra harus banyak belajar untuk tampil konsisten.

”Hasil semifinal ini tentu membuat kami lebih percaya diri, tetapi tidak boleh dijadikan beban untuk ke depannya. Target kami ingin bisa menikmati pertandingan,” kata Nikolaus.

Kim/Seo menjadi salah satu juara bertahan yang kembali ke final. Mereka akan berebut gelar juara dengan unggulan kedua, Aaron Chia/Soh Wooi Yik (Malaysia), yang menang atas Chen Bo Yang/Liu Yi (China), 21-11, 21-19.

Britain All England Open Badminton

Juara bertahan lain, An Se-young, juga kembali ke final tunggal putri. Seperti pada ganda putra, laga puncak nomor ini mempertemukan dua unggulan teratas yang juga merupakan pemain ranking pertama dan kedua dunia. An, yang menang atas Chen Yu Fei 20-22, 21-9, 21-12, akan berhadapan dengan Wang Zhi Yi (China) yang mengalahkan Akane Yamaguchi 21-15, 21-19.

Final itu menjadi ulangan final All England 2025 yang dimenangi An. Selain 2025, atlet Korea Selatan yang mendominasi persaingan tunggal putri sepanjang 2025 itu menjuarai All England pada 2023 dan menjadi finalis 2022. Adapun Wang akan berusaha menjadi juara tunggal putri dari China setelah Chen pada 2019.

Sejarah para finalis

Bagi pemain lain, final All England menjadi catatan sejarah dalam karier masing-masing. Thom Gicquel/Delphine Delrue (Perancis) dan lawannya di final ganda campuran, Ye Hong Wei/Nicole Gonzales Chan (Taiwan), akan menjalani final pertama All England. Mereka juga menjadi finalis pertama nomor tersebut dari negara masing-masing.

Gicquel/Delrue, bahkan, menjadi finalis pertama dari Perancis setelah Pi Hongyan tampil pada final tunggal putri pada 2007. Atlet kelahiran China itu kalah dari Xie Xing Fang.

Thom Gicquel/Delphine Delrue (Perancis) memenangi semifinal ganda campuran All England di Birmingham, Inggris, Sabtu (7/3/2026). Mereka mengalahkan juara bertahan, Guo Xin Wa/Chen Fang Hui (China).

Bagi Ye/Chan, final pada Minggu ini bahkan menjadi yang pertama di ajang Super 1000. Sejak berpasangan pada 2024, mereka hanya bisa mencapai final Malaysia Super 100 pada tahun tersebut. Tiket final All England didapat setelah mengalahkan unggulan ketujuh, Tang Chun Man/Tse Ying Tsuet, 16-21, 21-15, 21-13.

”Sulit dipercaya. Tahun lalu, kami tersingkir di babak pertama. Jadi, kami tidak punya ekspektasi apa pun pada tahun ini. Kami tidak ingin bermimpi berlebihan, hanya fokus untuk setiap pertandingan,” komentar Ye dalam laman resmi BWF.

Gicquel/Delrue memupus harapan China untuk memperpanjang dominasi ganda campuran yang meraih gelar dalam tiga tahun terakhir. Mereka menyingkirkan juara bertahan, Guo Xin Wa/Chen Fang Hui, 11-21, 21-18, 21-12. Sehari sebelumnya, pasangan ranking kelima dunia itu mengalahkan pasangan China lainnya dengan peringkat kedua dunia, Jiang Zhen Bang/Wei Ya Xin.

Wakil Taiwan lainnya, Lin Chun Yi, juga akan menjalani final pertama dalam level Super 1000 ketika berhadapan dengan Lakhsya Sen (India) di tunggal putra. Lin menjaga momentum baik setelah menjuarai India Terbuka Super 750, Januari, dengan mengalahkan unggulan kedua, Kunlavut Vitidsarn, 21-14, 8-21, 21-16 di semifinal. Lin menyingkirkan unggulan lainnya, yaitu Jonatan Christie (4), pada babak kedua.

Britain All England Open Badminton

Sen juga menyisihkan dua unggulan dalam perjalanan menuju final, yaitu Shi Yu Qi (1) pada babak pertama dan Li Shi Feng (6) di perempat final, sebelum mengalahkan Victor Lai (Kanada) di semifinal. Sen menang 21-16, 18-21, 21-15.

Namun, berbeda dengan Lin, Sen pernah merasakan atmosfer final Super 1000 yang juga didapat di All England. Dia mencapai laga puncak pada 2022, tetapi kalah dari Viktor Axelsen.

Di ganda putri, Liu Sheng Shu/Tan Ning akan menjalani final pertama All England, tetapi pasangan nomor satu dunia asal China ini selalu menang dalam tiga final lain di level Super 1000. Mereka menjuarai Indonesia dan China Terbuka 2025, serta Malaysia Terbuka 2026.

Lawan Liu/Tan di final, Lee So-hee/Baek Ha-na, akan tampil dalam final di Birmingham untuk ketiga kali setelah juara pada 2024 dan kalah pada tahun sebelumnya.


Kerabat Kerja

Penulis:

Yulia Sapthiani
 | 

Editor:

Emilius Caesar Alexey
 | 

Penyelaras Bahasa:

Nur Adji