DAMPAK PERANG

Orang Kaya Beramai-ramai Pindahkan Aset dari Teluk

Khawatir dengan risiko perang terus berlanjut, banyak orang kaya yang mulai memindahkan aset kekayaannya ke luar dari negara-negara Teluk.

06 Mar 2026 20:00 WIB · Internasional

AFP/Ryan Lim

Oleh Luki Aulia

DUBAI, JUMAT — Sudah sepekan Iran membalas serangan Israel-Amerika Serikat dengan menyerang aset milik AS di negara-negara tetangganya. Banyak orang kaya yang mulai terusik dan khawatir dengan nasib kekayaannya, khususnya di Dubai, Uni Emirat Arab.

Padahal, selama beberapa tahun terakhir, Dubai dipilih menjadi tempat para pengusaha dan keluarga kaya menyimpan kekayaan. Mayoritas berasal dari Asia seperti China dan India.

Alasannya, kebijakan Pemerintah Uni Emirat Arab dianggap lebih menguntungkan. Secara umum, kawasan Teluk menjadi tujuan investasi karena sektor properti dan infrastruktur yang sedang naik daun.

Orang kaya biasanya mendiversifikasi investasi mereka di berbagai wilayah dan kelas aset. Namun, pada umumnya mereka memilih tempat berinvestasi dengan mempertimbangkan pajak, peraturan, privasi, dan operasional.

Sejak menjadi korban serangan balasan Iran, orang-orang kaya mulai meragukan reputasi UEA sebagai tempat investasi yang stabil. Dua pengusaha India, contohnya, buru-buru berupaya memindahkan 100.000 dolar AS uang mereka dari rekening bank lokal ke rekening di Singapura.

A black plume of smoke rises from a warehouse at the industrial area of Sharjah City in the United Arab Emirates following reports of Iranian strikes in Dubai, United Arab Emirates, Sunday, March 1, 2026. (AP Photo/Altaf Qadri)

Puluhan orang kaya Asia di Dubai juga memindahkan aset-aset mereka ke Singapura dan Hong Kong. Pengacara kekayaan pribadi di Singapura, Ryan Lin, menceritakan, ada tiga kliennya di Dubai yang masing-masing punya aset rata-rata 50 juta dolar AS yang ingin asetnya dipindah ke Singapura. Semuanya ingin hal itu dilakukan sesegera mungkin.

Iris Xu, kepala di penyedia layanan korporasi dan dana global Anderson Global, punya klien-klien yang khawatir perang akan berlarut-larut dan kekayaan mereka tersandera. ”Ini masalah kepercayaan. Selama ini Dubai menguntungkan dari sisi pajak. Tetapi, sekarang itu bukan prioritas utama klien-klien saya,” ujarnya.

Namun, menurut CEO WRISE Private Middle East, grup manajemen kekayaan, Dhruba Jyoti Sengupta, tidak semua melakukannya. Banyak investor berpengalaman yang yakin pada ketahanan jangka panjang UEA. Mereka masih merasa aman dan terlindungi.

Gubernur Bank Sentral UEA Khaled Mohamed Balama menjamin sektor perbankan dan keuangan UEA tangguh dan stabil. Bank, perusahaan keuangan, dan perusahaan asuransi masih beroperasi normal.

Jeremy Lim, salah satu pendiri GrandWay Family Office, menceritakan, mereka sedang membantu klien berinvestasi di Abu Dhabi. Kliennya masih percaya pada UEA selama tidak terlibat langsung dalam konflik dan tidak ada ekskalasi lebih lanjut dari Iran. ”Akan jadi masalah pada bisnis jika UEA terlibat langsung dalam konflik,” ujarnya.

Workers clean debris from damage caused by an Iranian strike at the Fairmont hotel in Dubai on March 2, 2026. The United States hit hundreds of targets across Iran, and Israel expanded its bombing to Lebanon on March 2 as US President Donald Trump vowed to avenge the first US deaths in the war he launched to topple Tehran's ruling clerics. Iranian forces fired missiles and drones across the Middle East, killing people in Israel and the United Arab Emirates, in retaliation for the conflict that began Saturday with the death of Iran's supreme leader, Ayatollah Ali Khamenei. (Photo by Fadel SENNA / AFP)

Saking jengkelnya dengan AS-Israel dan Iran yang menyeret negara-negara Teluk, miliarder UEA, Khalaf Al Habtoor, menulis surat terbuka kepada Presiden AS Donald Trump. Ia mempertanyakan kewenangan Trump menyeret Teluk dan Timur Tengah ke dalam konflik AS-Israel dengan Iran.

Surat yang ditulis dalam bahasa Arab itu dibagikan di X. Habtoor menegaskan, negara-negara Teluk dan Timur Tengah bukan arena untuk menyelesaikan perselisihan di antara AS-Israel dan Iran.

Harian Khaleej Times, Kamis (5/3/2026), mengutip Habtoor yang mengatakan, Trump sudah melanggar janjinya untuk tidak terlibat dalam perang. Ia mempertanyakan siapa yang akan bertanggung jawab atas segala kerusakan akibat konflik. Keputusan AS untuk berperang dengan Iran dikatakannya tidak hanya mengancam rakyat Teluk, tetapi juga AS.

Perang dengan Iran, kata Habtoor, didanai oleh uang dan pajak rakyat AS. Ia mengutip kajian Institute for Policy Studies yang memperkirakan biaya operasi militer AS sekitar 40-65 miliar dolar AS. Ada pula dampak ekonomi dan kerugian tidak langsung sebesar 210 miliar dolar AS jika perang berlangsung empat hingga lima pekan.

Tarik investasi

Jika perang tak kunjung berhenti, negara-negara Teluk akan meninjau investasi dan komitmen masa depan mereka di luar negeri. Itu bisa dilakukan untuk meringankan tekanan keuangan akibat perang. Investasi dan komitmen itu bisa berupa jadi sponsor olahraga, investasi ke negara atau perusahaan asing, ataupun penjualan aset.

Poster ukuran besar para pemain sepak bola menghiasi gedung-gedung di Kota Doha, Qatar, Jumat (18/11/2022). Kompas/Yuniadhi Agung (MYE) 18-11-2022

Setidaknya ada tiga dari empat negara dengan ekonomi kuat di Teluk yang sudah membahas masalah ini. Mereka adalah Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Kuwait, dan Qatar.

Harian Financial Times, Kamis, mendapatkan informasi itu dari seorang pejabat yang tak mau disebutkan namanya. Tinjauan investasi dan komitmen mau tak mau harus dilakukan karena mereka bisa mengalami penurunan pendapatan dari sektor energi, perlambatan produksi atau tidak bisa mengirim apa pun. Sektor pariwisata serta penerbangan pun terganggu.

Masalah ini menarik perhatian AS. Mereka mengelola beberapa dana kekayaan negara terbesar dan paling aktif di dunia. Arab Saudi, UEA, dan Qatar tahun lalu berjanji untuk menginvestasikan ratusan miliar dolar di AS. Teluk juga selama ini jadi sponsor penting dalam acara olahraga di seluruh dunia.

Setiap langkah yang memengaruhi investasi di AS atau negara-negara Barat lainnya dapat meningkatkan tekanan pada Trump dalam mencari strategi diplomatik untuk mengakhiri perang.

Kekhawatiran negara-negara Teluk bisa dimaklumi. Gara-gara serangan ke Iran, lalu lintas pelayaran melambat, bahkan berhenti, di Selat Hormuz. Setidaknya ada 10 kapal tanker yang terkena serangan di selat itu.

Qatar, produsen gas alam cair terbesar kedua di dunia, terpaksa menyatakan force majeure setelah menangguhkan produksi menyusul serangan pesawat nirawak ke pabrik LNG utamanya. Salah satu kilang minyak terbesar Arab Saudi pun terkena serangan. Iran juga menyerang pangkalan dan kedutaan AS, bandara, hotel, dan bangunan tempat tinggal.

”Siapa yang memberi Anda izin untuk mengubah wilayah kami menjadi medan perang? Siapa yang akan mengganti kerugiannya,” tanya Habtoor pada Trump melalui suratnya. (REUTERS)


Kerabat Kerja

Penulis:

Luki Aulia
 | 

Editor:

Fransisca Romana Ninik W
 | 

Penyelaras Bahasa:

Didik Durianto