Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengeluarkan palu godamnya. Sejumlah negara dikenai tarif karena dinilai selama ini telah merugikan Amerika Serikat.
04 Apr 2025 05:38 WIB · Opini
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyebut hari saat pengumuman disampaikan sebagai ”Hari Pembebasan” (Liberation Day). Indonesia tak luput dari palu godam Trump pada ”Hari Pembebasan” tersebut.
Dalam pengumuman yang dilakukan di Gedung Putih pada Rabu (2/4/2025) waktu setempat atau Kamis (3/4/2025) dini hari WIB, Indonesia dikenai tarif timbal balik 32 persen. Dua negara ASEAN, yakni Thailand dan Vietnam, ikut mendapat tekanan tarif cukup besar, masing-masing 36 persen serta 46 persen. ”Dalam banyak kasus, terutama dalam hal perdagangan, kawan lebih buruk daripada lawan,” kata Trump ketika mengumumkan kebijakan itu.
China sudah barang tentu ikut disebut dalam pengumuman. Sebelum ada tarif timbal balik baru, Trump telah mengenakan bea masuk 20 persen untuk semua produk yang diimpor dari China. Mitra dekat AS, Uni Eropa, dikenai pula tarif resiprokal. Hal serupa dialami Australia, Selandia Baru, dan sebagainya.
Dari pengalaman selama ini, apa yang disampaikan Trump bisa jadi teknik ”memaksa” pihak yang dikenai tarif agar mau bernegosiasi. Trump menunggu tawaran negara mitra agar defisit perdagangan AS berkurang. Dengan kata lain, AS menerapkan pendekatan bilateral dan kekuatannya sebagai negara raksasa untuk memengaruhi mitra dagang.
Apa yang dilakukan Trump pada ”Liberation Day” mirip dengan upaya yang diterapkannya terhadap negara-negara Eropa terkait pertahanan. AS menggertak negara-negara Eropa agar menambah belanja pertahanan demi kepentingan NATO. Trump merasa selama ini, Washington terlalu banyak memberi kepada Eropa dalam belanja pertahanan.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/08/01/8aa93e29-f79f-43f1-be07-05145146cc04_jpg.jpg)
Pemikiran bahwa AS telah ”terlalu banyak memberi” dipakai Trump dalam melihat perekonomian AS. Sudah terlalu besar defisit yang diderita AS selama melakoni perdagangan dengan banyak mitra, termasuk sekutu. Menurut Trump dan penasihatnya, cara ampuh untuk menekan defisit akibat konsumsi domestik dan impor yang berlebih adalah penerapan tarif. Bahkan, dalam konteks persaingan dengan China, kebijakan tarif akan membantu AS dalam menghadapi rival utamanya itu.
Mengingat ukuran ekonomi AS begitu besar dan ada banyak negara yang terdampak, kebijakan tarif yang diumumkan Trump menciptakan ketidakpastian besar di tengah kondisi yang memang sudah tidak mudah. Rencana-rencana investasi akan ditunda untuk menunggu perkembangan.
Palu godam tarif yang diterapkan Trump mengingatkan bahwa perubahan adalah keniscayaan. Kemudahan yang biasa dinikmati dapat hilang begitu saja. Karena itu, efisiensi, diversifikasi pasar, serta kerja sama di antara negara-negara menengah harus selalu ditingkatkan. Jangan mau bergantung begitu saja pada kekuatan besar.
Penulis:
RedaksiEditor:
Antonius Tomy TrinugrohoPenyelaras Bahasa:
Lucia Dwi Puspita Sari