Palu Godam Trump, Tarif Baja-Aluminium 25 Persen Hantam Lawan dan Kawan AS

Trump berjanji lapangan kerja akan bertambah di Amerika Serikat dengan kenaikan tarif baja dan aluminium. Namun, ia mengabaikan ancaman inflasi.

11 Feb 2025 09:26 WIB · Internasional

Oleh Iwan Santosa

Catatan Editor:

Ada pembaruan informasi tanggal berlakunya tarif 25 persen baja dan aluminium (paragraf ke-3), mengacu informasi terbaru dalam surat perintah eksekutif Trump.

_______________

WASHINGTON, SELASA — Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan kenaikan tarif impor baja dan aluminium menjadi 25 persen dari sebelumnya 10 persen, Senin (10/2/2025). Menurut Institut Besi dan Baja AS, keputusan itu juga menghantam negara sahabat dan pemasok baja Amerika Serikat, seperti Kanada, Meksiko, Korea Selatan, dan Brasil.

”Kita dihantam teman dan lawan dalam hal ini. Sekarang waktunya mengembalikan kejayaan industri Amerrika Serikat,” kata Trump di atas pesawat kepresidenan Air Force One saat mengumumkan keputusan tersebut.

Tarif tersebut sebelumnya disebutkan akan mulai berlaku 4 Maret 2025. Namun, dalam perintah eksekutif yang ditandatangani oleh Trump, tarif baru 25 persen untuk baja dan aluminium itu akan berlaku efektif pada 12 Maret 2025.

Semula Trump mengatakan, tarif itu diterapkan tanpa pandang bulu. Namun, belakangan ia mengaku mempertimbangkan pengecualian untuk Australia. Pengecualian ini dipertimbangkan karena AS mencatat surplus perdagangan dengan Australia.

Trump juga berniat mengubah seluruh tarif impor AS agar sama dengan besaran tarif negara lain terhadap produk AS. Besarannya rata-rata di atas 10 persen dari tarif yang diterapkan terhadap China yang mulai berlaku, Senin. Adapun rencana kenaikan tarif AS kepada Kanada dan Meksiko ditangguhkan sementara hingga 1 Maret 2025.

Kanada langsung mengkritik AS. Presiden dan Direktur Eksekutif Kamar Dagang Kanada Candace Laing mengatakan, Trump mengganggu stabilitas ekonomi dunia. ”Ketidakpastian ekonomi akan berlangsung lama,” kata Laing.

Penerapan tarif baru yang dijadikan senjata andalan Trump juga membawa resiko inflasi meroket di AS. Kenaikan harga-harga itu dikhawatirkan tidak bisa ditangani oleh pertambahan pendapatan yang didapat warga AS.

Menurut Trump, penerapan kenaikan tarif akan menciptakan situasi yang lebih adil dalam perdagangan internasional dan membuat pabrik-pabrik AS memiliki daya saing. Kalaupun ada dampak menyakitkan, berupa kenaikan harga yang harus dialami konsumen dan dunia usaha AS, itu hanya terjadi sementara.

An employee checks the temperature of molten metal at the TMK Ipsco Koppel factory in Koppel, Pennsylvania, United States, on Friday (9/3). Many US legislators, industry leaders and foreign governments have condemned US President Donald Trump’s policy on foreign steel and aluminum.

Langkah Trump tersebut merupakan kelanjutan kebijakan Trump, yakni Tarif Terkait Keamanan Nasional Nomor 232 Tahun 2018, untuk melindungi industri besi baja dan aluminium AS.

Trump juga akan menerapkan standar baru Amerika Utara untuk baja impor dan aluminium impor dilebur dan ditempa di AS demi mengurangi impor produk baja murah dari China. Penasihat perdagangan Trump, Peter Navarro, meyakini langkah tersebut akan menolong industri besi baja dan aluminium AS untuk memperkuat ekonomi dan keamanan nasional AS.

”Tarif besi baja dan aluminium 2.0 akan mengakhiri praktik dumping negara lain, mendorong produksi dalam negeri, mengamankan industri besi baja dan aluminium AS sebagai pilar industri AS yang menopang ekonomi dan keamanan nasional,” kata Navarro.

Keraguan di AS

Akan tetapi, dari dalam negeri AS justru banyak keraguan akan langkah kontroversial tersebut. ”Keadilan sepintas lalu terlihat dalam langkah yang diambil. Namun, apa betul AS diuntungkan dari beraneka tarif baru,” kata Benn Steil, Direktur Ekonomi di Council on Foreign Relations (CFR), lembaga pemikir di New York, AS.

”Harga-harga bagi konsumen AS akan naik, ada penerapan tarif balasan dari negara mitra dagang, kehilangan lapangan kerja, dan daya saing merosot karena besaran biaya produksi,” kata Steil.

Ia mengingatkan, beberapa negara sudah mengadopsi gaya pendekatan Trump dengan menerapkan beraneka tarif, dengan dalih arus impor membahayakan keamanan nasional. Dasarnya, pemberlakuan tarif yang terkait dengan isu keamanan nasional tidak dapat digugat di Organisasi Perdagangan Dunia (WTO).

Steil menambahkan, dari kusen pintu hingga minuman beralkohol semua dikenakan hambatan impor di negara berkembang dengan dasar keamanan ekonomi nasional.

In this March 5, 2018, photo, a man works at Xiwang Special Steel in Zouping County in eastern China's Shandong province. China's steel mills, a target of U.S. President Donald Trump's ire, are their industry's 800-pound gorilla: They supply half of world output, so every move they make has a global impact. (Chinatopix via AP)

Sepintas lalu, kenaikan tarif terlihat dapat menyokong pertumbuhan peleburan dan pengolahan baja dan aluminium di AS. Pada saat sama, hal itu mendorong kenaikan biaya produksi karena bahan mentah untuk membuat kendaraan bermotor, perangkat rumah tangga, dan produk lain juga akan naik.

Direktur MichAuto Glenn Stevens Jr mengatakan, industri otomotif kemungkinan akan menaikan harga jual sejalan dengan kenaikan tarif. Muaranya, melonjaknya harga akan membuat penjualan turun dan mengurangi kesempatan kerja di pabrikan otomotif AS.

”Tidak banyak hal baik akan muncul dari kenaikan tarif yang tiba-tiba,” ujar Stevens.

Perlawanan negara lain

Langkah Trump mendorong negara-negara lain meningkatkan hambatan perdagangan di era perdagangan bebas. Pabrikan baja di Kanada sudah memperingatkan terjadinya gejolak besar-besaran.

Sementara Komisi Eropa menyatakan akan melindungi kepentingan pebisnis, pekerja, dan konsumen Eropa dari langkah tidak adil. Presiden Perancis Emmanuel Macron dalam wawancara televisi, Minggu (9/2/2025), menyatakan akan menghadapi langkah Trump terhadap Uni Eropa. Dia menambahkan, AS seharusnya fokus dalam menghadapi China.

Menteri Ekonomi Jerman Robert Habeck mengatakan, kenaikan dan konflik tarif hanya menciptakan pecundang. Lembaga konsultan Roland Berger menyatakan, sekurangnya 25 persen ekspor besi baja Eropa ditujukan ke Amerika Serikat. Sementara Lembaga Industri Baja Inggris mengatakan, rencana tarif Trump adalah hantaman besar.

Setelah Trump mengumumkan penerapan tarif sebagai senjata ekonomi terhadap China, Meksiko, dan Kanada, ketiga negara membalas. China langsung membalas dengan penerapan tarif terhadap impor batubara dan gas dari Amerika Serikat yang berlaku sejak Minggu (9/2/2025).

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Guo Jiakun mengatkan, Senin (11/2/2025), tidak ada pemenang dalam perang tarif dan perang dagang.

Dari 29 juta ton baja impor yang masuk ke AS tahun 2024, tidak sampai 2 persen yang berasal dari China. Akan tetapi, Gedung Putih menegaskan pengecualian tarif yang dilakukan Presiden Joe Biden dalam empat tahun terakhir membuat China dan Rusia menyiasati ekspor ke AS melalui negara ketiga.

Tesla Model 3, model dengan harga paling terjangkau dari seluruh mobil listrik buatan Tesla saat ini.

Ancaman inflasi

Survei Konsumen yang dilakukan Universitas Michigan, AS, pada awal Februari 2025, menunjukkan kenaikan inflasi 4,3 persen dari 3,3 persen di bulan Januari. Namun, kandidat Menteri Perdagangan Trump, Howard Lutnick, bersikeras, kenaikan tarif akan menciptakan 120.000 lapangan kerja kembali ke AS.

Industri besi baja menambah 14.000 lapangan kerja ketika awal-awal tarif diberlakukan pada 2018. Namun, itu tidak berlangsung lama karena terjadi pandemi Covid-19 tahun 2020.

Panos Kouvelis, guru besar ekonomi bidang rantai pasokan di Universitas Washington di St Louis dalam kajian di tahun 2018 mendapati penerapan tarif tidak mendorong pertumbuhan sektor manufaktur AS.

”Ini ilmu ekonomi dasar, ketika harga naik, daya beli dan permintaan akan turun,” kata Kouvelis. Dia menambahkan, yang dibutuhkan adalah insentif, terutama di bidang teknologi maju, kemananan nasional, dan medis. (AP/REUTERS/AFP)


Kerabat Kerja

Penulis:

Iwan Santosa
 | 

Editor:

Muhammad Samsul Hadi
 | 

Penyelaras Bahasa:

Kusnadi .