PAN Mulai Singgung Pilpres 2029, Partai Lain Sebut Masih Terlalu Dini

Sejumlah partai menilai pembahasan Pilpres 2029 masih terlalu dini meski PAN sudah menyatakan dukungan pada Prabowo dan sinyal tak mengusung Gibran sebagai cawapres.

22 Apr 2025 05:35 WIB · Politik & Hukum

Oleh Nikolaus Harbowo, Machradin Wahyudi Ritonga

JAKARTA, KOMPAS — Sejumlah partai politik menyebut masih terlalu dini untuk membicarakan persoalan Pemilihan Presiden atau Pilpres 2029 karena pemerintahan Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka baru berjalan kurang dari setahun. Hal ini menanggapi pernyataan Ketua Umum Partai Amanat Nasional Zulkifli Hasan yang memberi sinyal tidak akan mengusung Giban Rakabuming Raka sebagai calon wakil presiden di Pilpres 2029. PAN hanya akan mendukung Prabowo Subianto sebagai calon presiden pada 2029.

Ketua DPP PDI Perjuangan Deddy Yevri Sitorus mengaku heran terhadap Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan yang sudah membicarakan Pilpres 2029. Sebab, pemerintahan saat ini baru berjalan selama enam bulan.

”Kalau menurut kami, sih, aneh. Pemerintah baru enam bulan, kok, sudah ngomongin 2029. Tetapi, kan, semua partai punya haknya sendiri, enggak mungkin kami campurilah. Enggak ada aturan, sih, soal itu, kepantasan saja,” ujar Deddy, Senin (21/4/2025), di Jakarta.

Kepala Kantor Rumah Aspirasi Rakyat #01 Deddy Yevri Sitorus

Di sisi lain, Deddy menilai wajar apabila PAN menyatakan bakal kembali mengusung Prabowo Subianto pada Pilpres 2029. Sebab, partai berlambang matahari itu saat ini berada di dalam pemerintahan Prabowo.

Berkaitan dengan PAN yang memberi sinyal tidak mengusung Gibran Rakabuming Raka sebagai calon wakil presiden pada 2029, hal itu juga dianggap wajar. Sebab, menurut Deddy, PAN tentu memilih menyiapkan kader sendiri untuk dipasangkan dengan Prabowo.

”Wajar saya kira kalau dia (Zulkifli) bilang mendukung Prabowo untuk Pilpres 2029. Soal wakil, kan, terserah presidennya. Siapa tahu dia (Zulkifli) juga punya kader yang menurut dia mampu untuk mendampingi Pak Prabowo, kan, kami enggak tahu,” tutur Deddy.

Deddy enggan berspekulasi mengenai apakah ada perpecahan di internal koalisi pemerintah sekarang sehingga PAN sejak dini sudah melempar sinyal untuk tidak mendukung Gibran di pilpres mendatang. ”Wah, itu saya enggak tahu. Bukan urusan saya. Mau pecah, mau kompak, mau apa, yang penting kami berharap pemerintah bisa berjalan dengan baik,” ucapnya.

Bendahara Umum Partai Nasdem Ahmad Sahroni di Kantor Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Nasdem, Jakarta, Kamis (25/7/2024).

Bendahara Umum Partai Nasdem Ahmad Sahroni pun berpendapat, masih terlalu dini untuk membicarakan dukungan presiden dan wakil presiden pada Pilpres 2029. ”Kalau mau menentukan bahwa Prabowo akan running (maju) kedua kali itu, haknya PAN dalam hal ini. Tetapi, bagi kami, masih dini untuk berbicara masalah selanjutnya periode kedua gitu,” katanya.

Menurut dia, waktu paling tepat untuk mendiskusikan masalah Pilpres 2029 adalah sekitar 2-3 tahun lagi ketika sudah mendekati perhelatan Pilpres 2029. ”Nanti kalau 2027-2028 masih better (lebih baik) gitu, mikirin siapa calon yang mumpuni gitu. So (jadi), nanti kita bicarain lebih lanjut,” ucapnya.

Ia bahkan juga belum dapat memastikan apakah partainya akan mendukung Prabowo Subianto sebagai capres di Pilpres 2029. Sebab, semua keputusan berada di tangan Ketua Umum Nasdem Surya Paloh.

Quote

Kalau menurut kami sih aneh, pemerintah baru enam bulan, kok, sudah ngomongin 2029. Tetapi, kan, semua partai punya haknya sendiri, enggak mungkin kami campurilah. Enggak ada aturan sih soal itu, kepantasan saja.

Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto (kiri) saat mengantar Ketua Umum Partai Nasdem Surya Paloh (kanan) menuju mobil seusai bertemu di kediaman Prabowo Subianto di Padepokan Garuda Yaksa, Bojong Koneng, Babakan Madang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Minggu (5/3/2023). Kunjungan Surya Paloh kepada Prabowo Subianto ini menjadi kunjungan balasan silaturahmi politik yang berlangsung beberapa waktu lalu. Dalam kunjungan ini keduanya membahas tentang pandangan masa depan bagi Indonesia. Mengenai keputusan politik dalam pencalonan pimpinan nasional di Pemilu 2024, keduanya mengaku saling menghormati sikap masing-masing dalam menentukan pilihan calon. Meski memiliki calon berbeda dalam penentuan calon presisden, Prabowo meminta jangan menimbulkan perpecahan bangsa. Partai Gerindra tetap mengusung Prabowo Subianto sebagai calon presiden, sedangkan Partai Nasdem mengusung Anies Baswedan. KOMPAS/RONY ARIYANTO NUGROHO 5-3-2023

Terlepas dari itu, Sahroni melihat peluang Prabowo untuk maju kembali di Pilpres 2029 sangat besar. Apalagi, kondisi fisik Prabowo saat ini masih terlihat sehat. ”Sangat bisa, fleksibilitasnya sangat kuatlah. Apalagi Pak Prabowo yang masih sehat, luar biasa. Kalau dia mumpuni, dipastikan running untuk kedua kali, kemungkinan 100 persennya banyak. Tetapi belum (ada keputusan). Pak Surya akan menyikapi (soal Pilpres 2029), tetapi mungkin nanti. Enggak sekarang,” ucap Sahroni.

Ia justru berkelakar, siapa pun bisa maju sebagai presiden nantinya. Termasuk dirinya bisa juga menjadi capres yang diusung Nasdem. ”Ya, misalnya Sahroni juga bisa maju calon presiden misalnya gitu. Namanya ritual, kan, enggak tahu, tetapi Pak Prabowo itu punya chance (peluang) dua periode itu sangat luar biasa,” ujarnya.

Melihat kekuatan partai

Dalam acara Halalbihalal dan Pengumuman Pengurus DPP PAN di Kantor DPP PAN, Jakarta, Minggu (20/4/2025), Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan memastikan partainya akan tetap mendukung Prabowo Subianto apabila kembali mencalonkan diri pada Pilpres 2029. Baginya, hal yang terpenting di Pemilu 2029 adalah menjadikan PAN masuk partai empat besar.

Zulkifli meminta kepada seluruh kader PAN agar satu komando dan tidak saling bertengkar soal politik. Ia pun mempersilakan siapa pun kadernya jika ingin maju menjadi cawapres di Pilpres 2029.

”Saya hanya minta satu syarat, satu komando. Habis waktu kita bertengkar soal politik, jangan lagi. Kita ingin jadi empat besar. Itu tujuan kita. Tujuan kita bukan ingin bertengkar, kalau ada yang pengen wapres, silakan saja,” jelasnya.

Ketua Majelis Penasihat Partai Amanat Nasional (PAN) Hatta Rajasa, Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan, dan Presiden terpilih Prabowo Subianto (dari kiri ke kanan) menghadiri penutupan Kongres VI PAN di Jakarta, Sabtu (24/8/2024). Dalam kongres yang berlangsung selama dua hari, Zulkifli Hasan ditetapkan sebagai Ketua Umum PAN periode 2024-2029 secara aklamasi. KOMPAS/ADRYAN YOGA PARAMADWYA (YGA) 24-08-2024

Zulkifli mengaku telah menyampaikan hal itu kepada Prabowo. Ia mengatakan tak masalah Prabowo menjadi capres, tetapi soal pemilihan cawapres perlu dibicarakan.

”Saya juga sampaikan kepada Pak Prabowo, yang penting, Pak (Prabowo), partai saya besar. Itu yang paling penting. Kalau capres silakan, kalau wapres kita bicara. Iya, kan, kita bicara, gitu. Jadi lihat kekuatan kita seperti ini yang terlihat saja saudara saksikan,” ucapnya.

Dinamika politik masih cair

Kepala Departemen Politik dan Perubahan Sosial Centre for Strategic and International Studies (CSIS) Arya Fernandes berpendapat, dukungan PAN terhadap Prabowo merupakan langkah strategis untuk mengincar posisi wapres pendamping Prabowo dalam Pilpres 2029. Oleh karena itu, dukungan PAN tidak serta-merta diberikan kepada Gibran.

Quote

Perubahan-perubahan positioning politik itu masih sangat terbuka lebar dengan waktu yang masih panjang. Karena itu, lebih baik partai-partai koalisi fokus terhadap kinerjanya di pemerintahan.

Kepala Departemen Politik dan Perubahan Sosial Centre for Strategic and International Studies (CSIS) Arya Fernandes memberikan keterangan kepada media terkait isu-isu krusial yang harus masuk dalam Revisi UU Pemilu dan UU Pilkada, Kamis (21/11/2024).

Prabowo, lanjut Arya, masih menjadi figur yang kuat pada Pilpres 2029. Tidak hanya menjadi petahana, Prabowo juga menawarkan berbagai produk populis, seperti makanan bergizi, pembangunan koperasi, dan program-program lain yang menyentuh seluruh lapisan masyarakat.

”Pengumuman DPP PAN menjadi momen untuk menunjukkan sikap dukungan tersebut. PAN kemungkinan besar melihat Prabowo akan menjadi figur dominan pada 2025. Oleh karena itu, lebih realistis jika menempatkan kader sebagai calon wapres, bukan menyiapkan calon presiden sendiri,” ujarnya.

Meski demikian, Arya menilai dinamika politik menuju Pilpres 2029 masih sangat cair. Dia melihat, beberapa partai memilih diam, sementara yang lain mengambil sikap terbuka. Namun, manuver yang terlalu dini juga dianggap berisiko, terutama bagi partai yang berada di dalam pemerintahan.

”Jika sebuah partai yang ada di koalisi tiba-tiba mencalonkan kandidat yang lain, tentu akan mengganggu hubungannya dengan presiden. Jadi, beberapa partai memang memilih untuk tidak bermanuver terkait 2029 karena ini masih jauh,” paparnya.

Meskipun wacana Pilpres 2029 ini mulai mengemuka, Arya melihat partai-partai politik pendukung Prabowo harus tetap fokus pada kinerja pemerintahan. Di sisi lain, kekuatan oposisi yang solid di luar pemerintahan juga belum terlihat sehingga semua peluang bisa saja terjadi.

”Perubahan-perubahan positioning politik itu masih sangat terbuka lebar dengan waktu yang masih panjang. Karena itu, lebih baik partai-partai koalisi fokus terhadap kinerjanya di pemerintahan,” kata Arya.


Kerabat Kerja

Penulis:

Nikolaus Harbowo, Machradin Wahyudi Ritonga
 | 

Editor:

C. Wahyu Haryo P
 | 

Penyelaras Bahasa:

Priskilia Bintang Cornelia Sitompul