EFISIENSI ANGGARAN

Panjat Tebing Pulangkan Atlet Beramai-ramai

Untuk pertama kalinya, panjat tebing memulangkan para atlet karena efisiensi. Atlet hanya berharap bisa terus berlatih dan berkompetisi. FPTI sebut ada titik terang.

07 Jul 2026 18:06 WIB · Olahraga

KOMPAS/REBIYYAH SALASAH

Oleh Rebiyyah Salasah

Pemandangan janggal terlihat di lobi Hotel Santika Premier Kota Harapan Indah, Bekasi, Jawa Barat, Minggu (5/7/2026). Selain area itu sedang direnovasi sehingga diselimuti penutup putih, para pemanjat tebing Indonesia—yang biasanya berkumpul di area latihan belakang—justru berada di lobi. Latihan memang libur, tetapi ada hal lain yang membuat mereka berkumpul di sana.

Kiromal Katibin, yang baru tiba setelah mengirim lebih dari 160 kilogram barang ke kampung halaman, bergantian memeluk dokter, fisioterapis, masseur, dan psikolog tim. Begitu juga dengan pemanjat lain, Alfian Muhammad Fajri dan Sukma Lintang Cahyani. Suasana haru menyeruak siang itu.

Para pemanjat Indonesia yang tidak diberangkatkan ke seri Piala Dunia 2026 Krakow, Polandia, 3-5 Juli, dan Chamonix, 10-12 Juli, itu diminta membereskan kamar dan pulang per Minggu. Tim medis juga diminta mengosongkan kamar.

”Jumat sore diberi tahu kalau Minggu harus sudah check out. Alasannya karena efisiensi,” kata Kiromal, pemanjat nomor satu dunia seri Piala Dunia 2025.

Pemanjat tebing disiplin <em>lead</em> Indonesia, Sukma Lintang Cahyani, tak kuasa menahan haru ketika berpamitan dengan tim medis selepas para atlet dan tim pendukung diminta untuk meninggalkan Hotel Santika Premier Kota Harapan Indah, Bekasi, Jawa Barat, Minggu (5/7/2026), karena terdampak efisiensi anggaran dan demi mereset tim. Di hotel tersebut, atlet-atlet panjat tebing menjalani pemusatan latihan nasional sejak 2020.
Pemanjat tebing disiplin <em>speed</em> Indonesia, Kiromal Katibin, berpelukan dengan tim medis selepas para atlet dan tim pendukung diminta untuk meninggalkan Hotel Santika Premier Kota Harapan Indah, Bekasi, Jawa Barat, Minggu (5/7/2026), karena terdampak efisiensi anggaran dan demi mereset tim. Di hotel tersebut, atlet-atlet panjat tebing menjalani pemusatan latihan nasional sejak 2020.
Para atlet panjat tebing Indonesia dan tim medis berpelukan selepas mereka diminta untuk meninggalkan Hotel Santika Premier Kota Harapan Indah, Bekasi, Jawa Barat, Minggu (5/7/2026), karena terdampak efisiensi anggaran. Di hotel tersebut, atlet-atlet panjat tebing menjalani pemusatan latihan nasional sejak 2020.
Pemanjat tebing disiplin <em>lead</em> Indonesia, Sukma Lintang Cahyani, tak kuasa menahan haru ketika berpamitan dengan tim medis selepas para atlet dan tim pendukung diminta untuk meninggalkan Hotel Santika Premier Kota Harapan Indah, Bekasi, Jawa Barat, Minggu (5/7/2026), karena terdampak efisiensi anggaran dan demi mereset tim. Di hotel tersebut, atlet-atlet panjat tebing menjalani pemusatan latihan nasional sejak 2020.
Para pemanjat tebing Indonesia berfoto dengan tim medis sebelum meninggalkan Hotel Santika Premier Kota Harapan Indah, Bekasi, Jawa Barat, Minggu (5/7/2026), karena terdampak efisiensi anggaran dan demi mereset tim. Di hotel tersebut, atlet-atlet panjat tebing menjalani pemusatan latihan nasional sejak 2020.
Suasana lobi Hotel Santika Premier Kota Harapan Indah, Bekasi, Jawa Barat, Minggu (5/7/2026) yang tengah direnovasi. Di hotel tersebut, atlet-atlet panjat tebing menjalani pemusatan latihan nasional sejak 2020.

Kiromal bercerita, Pengurus Pusat Federasi Panjat Tebing Indonesia (PP FPTI) menyampaikan anggaran pemerintah hanya mencukupi kebutuhan pemusatan latihan nasional (pelatnas) hingga Mei. Walakin, PP FPTI meminta pelatnas tetap berjalan pada Juni. Lalu, Jumat (3/7/2026), para atlet diminta untuk pulang dengan gaji Juni masih belum terbayarkan.

Panjat tebing bukan satu-satunya cabang olahraga yang memulangkan atlet pelatnas karena efisiensi. Renang memulangkan seluruh atletnya sejak Mei, sedangkan atletik memangkas sebagian atlet pelatnas pada April.

Kiromal ingat, tim panjat tebing pertama kali menjalani pelatnas di Santika pada Juli 2020. Mereka bahkan membangun dinding panjat di lahan parkir Santika secara bersama-sama. Di parkiran itu, menjulang dinding panjat speed dan lead serta berderet dinding boulder.

Quote

Kami hanya ingin berlatih dan berkompetisi demi mimpi yang juga akan membawa nama Indonesia sampai dunia. - Kiromal -

Tepat enam tahun berlalu, Kiromal dan kawan-kawan diminta meninggalkan Hotel Santika untuk pertama kalinya. Ketika cabang lain memulangkan atlet saat efisiensi sebelumnya, panjat tebing tidak pernah mengambil langkah serupa.

Pemanjat tebing disiplin speed Indonesia, Kiromal Katibin, membereskan kamarnya sebelum meninggalkan Hotel Santika Premier Kota Harapan Indah, Bekasi, Jawa Barat, Minggu (5/7/2026), karena terdampak efisiensi anggaran dan demi mereset tim. Di hotel tersebut, atlet-atlet panjat tebing menjalani pemusatan latihan nasional sejak 2020.

Tanpa kepastian

Kiriman barang masing-masing lebih dari 100 kilogram milik Kiromal, Alfian, dan Lintang menunjukkan kepulangan kali ini berbeda. Bukan lagi pulang karena libur dan tak perlu membawa banyak barang, tetapi meninggalkan pelatnas tanpa kepastian kembali. Wajar jika momen perpisahan itu berlangsung emosional.

”Dari dulu juga sempat dengar soal efisiensi-efisiensi, tetapi bersyukurnya tidak terdampak. Mungkin bisa mengelola tepat atau menyesuaikan,” ucap Lintang.

FPTI menyebut pelatnas terdiri dari 28 atlet speed, lead, dan boulder. Tujuh atlet speed berangkat ke Krakow dan Chamonix, tiga atlet lead akan ke Chamonix, sedangkan 19 atlet lainnya dipulangkan. Hanya dua atlet yang tetap tinggal untuk ke Kejuaraan Dunia Remaja 2026, 18-25 Juli.

Pemilik tiket Asian Games Aichi-Nagoya 2026, seperti Lintang, bahkan ikut dipulangkan. Padahal, seri Piala Dunia seperti di Chamonix menjadi bagian dari persiapan Asian Games pada September mendatang.

Menteri Pemuda dan Olahraga Erick Thohir memaparkan soal persiapan Asian Games 2026 dalam rapat kerja bersama Komisi X DPRI RI di kompleks DPR RI, Senayan, Jakarta, Selasa (2/6/2026).

Efisiensi anggaran memang membayangi persiapan cabang olahraga untuk Asian Games 2026. Menteri Pemuda dan Olahraga Erick Thohir menyebut anggaran pelatnas untuk Asian Games 2026 sebesar Rp 81 miliar, menurun 79 persen dibandingkan dengan Asian Games 2022 akibat pemangkasan anggaran. Dari total anggaran Kemenpora sebesar Rp 1,15 triliun, terdapat pemangkasan mencapai Rp 270 miliar.

Panjat tebing adalah salah satu cabang unggulan dengan target prestasi Olimpiade. Di Olimpiade Paris 2024, panjat tebing menyumbangkan satu dari dua emas untuk Indonesia lewat Veddriq Leonardo. Dengan catatan prestasi dan status itu, idealnya panjat tebing membutuhkan pembinaan berkelanjutan.

Situasi efisiensi datang bertepatan dengan transisi setelah Pelatih Hendra Basir diberhentikan karena dugaan kekerasan seksual dan fisik. Tim kepelatihan, manajemen, beserta sistem yang bertahan bertahun-tahun digantikan seluruhnya.

Perubahan seperti itu biasanya memang menciptakan ketidaknyamanan atau bahkan turbulensi. Kondisi inilah yang menambah kekhawatiran atlet.

Pengurus Pusat Federasi Panjat Tebing Indonesia berfoto bersama tim kepelatihan baru di pemusatan latihan nasional panjat tebing di Hotel Santika Premier Kota Harapan Indah, Bekasi, Jawa Barat, Rabu (4/3/2026). Tim kepelatihan baru dibentuk setelah pemecatan Hendra Basir imbas kasus dugaan kekerasan seksual dan fisik di lingkungan pelatnas.

”Dulu khawatir performa, sekarang khawatir semuanya, termasuk pengelolaan pelatnas, seperti penentuan uji coba dan keberangkatan atlet. Kalau soal dukungan dari pemerintah, seperti gaji dan akomodasi, selama ini aman,” kata Kiromal.

Titik terang

Sekretaris Umum FPTI sekaligus Manajer Tim Panjat Tebing Indonesia Pristiawan Buntoro mengatakan, panjat tebing—yang sebelumnya ”kebal” efisiensi anggaran karena merupakan cabang olahraga unggulan—kini ikut terdampak. Walakin, Pristiawan berkata sudah ada titik terang.

Kemenpora mengabarkan akan memberikan bantuan, Selasa (7/7/2026), agar persiapan panjat tebing optimal ke Asian Games. Pelatnas Juni akan ditanggung bersama oleh FPTI, sponsor, dan pemerintah. Adapun kebutuhan hingga Asian Games ditanggung bantuan pemerintah tersebut.

Dengan adanya bantuan dari pemerintah, pihaknya akan menghitung ulang kebutuhan tim, lalu memanggil para atlet dalam sepekan ke depan. Atlet-atlet yang akan berangkat ke Asian Games akan jadi prioritas. Selanjutnya adalah atlet yang jadi sparring partner tim Asian Games.

”Pemulangan ini ibaratnya kami mundur satu langkah untuk maju lebih jauh dalam waktu yang sesingkat-singkatnya,” ujar Pristiawan.

Sementara Pristiawan mengatakan, keputusan memulangkan atlet tidak cuma karena efisiensi, tetapi juga guna mereset tim keseluruhan, termasuk tim pendukung. Pemulangan pun bagian dari percepatan proses promosi dan degradasi yang semula dijadwalkan akhir tahun.

Pemanjat tebing disiplin "speed" Indonesia, Kiromal Katibin, membereskan kamarnya sebelum meninggalkan Hotel Santika Premier Kota Harapan Indah, Bekasi, Jawa Barat, Minggu (5/7/2026), karena terdampak efisiensi anggaran dan demi mereset tim. Di hotel tersebut, atlet-atlet panjat tebing menjalani pemusatan latihan nasional sejak 2020.
Pemanjat tebing disiplin <em>speed </em>Indonesia, Kiromal Katibin, membereskan kamarnya sebelum meninggalkan Hotel Santika Premier Kota Harapan Indah, Bekasi, Jawa Barat, Minggu (5/7/2026), karena terdampak efisiensi anggaran dan demi mereset tim. Di hotel tersebut, atlet-atlet panjat tebing menjalani pemusatan latihan nasional sejak 2020.
Pemanjat tebing disiplin <em>speed </em>Indonesia, Kiromal Katibin, membereskan kamarnya sebelum meninggalkan Hotel Santika Premier Kota Harapan Indah, Bekasi, Jawa Barat, Minggu (5/7/2026), karena terdampak efisiensi anggaran dan demi mereset tim. Di hotel tersebut, atlet-atlet panjat tebing menjalani pemusatan latihan nasional sejak 2020.

Di Santika, setelah berpamitan dengan tim medis, Kiromal kembali ke kamar untuk membereskan barang tersisa sembari menikmati momen untuk terakhir kalinya. Pada momen itu, peraih dua medali emas Piala Dunia ini berharap persoalan ini segera menemukan jalan keluar.

Kiromal, juga Lintang dan Alfian, sebenarnya hanyalah atlet yang hanya ingin berlatih dan berkompetisi. Ketika pulang tanpa kepastian, program latihan mereka terputus. Padahal, mereka punya impian besar untuk meraih prestasi hingga ke level Olimpiade.

”Kalau dananya belum turun dari pemerintah, semoga segera turun. Kalau sudah turun, semoga bisa dikelola dengan baik dan profesional. Kalau memang tim juga mau dirombak, semoga juga penentuan nantinya dilakukan dengan cara sama, profesional dan sesuai kompetensi,” ucap Kiromal.

”Kami hanya ingin berlatih dan berkompetisi demi mimpi yang juga akan membawa nama Indonesia sampai dunia,” kata pemanjat putra pertama Indonesia yang memecahkan rekor dunia ini.


Kerabat Kerja

Penulis:

Rebiyyah Salasah
 | 

Editor:

Yulvianus Harjono
 | 

Penyelaras Bahasa:

Didik Durianto