AC Milan memecat pelatih Sergio Conceicao dan diisukan akan menggantinya dengan Massimiliano Allegri. Tepatkah keputusan Milan memilih Allegri?
30 Mei 2025 14:37 WIB · Olahraga
MILAN, JUMAT - Seperti sudah diduga sebelumnya, Sergio Conceicao tidak punya peluang mempertahankan posisinya sebagai Pelatih AC Milan pada akhir musim ini. Kegagalan memenangi trofi mayor, ditambah finis di peringkat kedelapan, sudah cukup menjadi alasan Milan mendepaknya. Sebagai pengganti, Milan dikabarkan tertarik kembali menggunakan jasa Massimiliano Allegri.
“Kami ingin mengucapkan terima kasih kepada Sergio Conceicao dan stafnya atas komitmen, profesionalisme, dan dedikasi mereka yang ditunjukkan selama memimpin tim utama selama beberapa bulan terakhir,” tulis Milan lewat unggahan di media sosial klub, Jumat (30/5/2025) dini hari WIB.
Conceicao ditunjuk menggantikan Paulo Fonseca pada Desember 2024. Dengan begitu, ia hanya sempat bertugas selama enam bulan di “Kota Mode”. Dalam waktu sesingkat itu, Conceicao mempersembahkan trofi Piala Super Italia usai mengalahkan rival sekota, Inter Milan, pada awal 2025.
Namun, petinggi Milan merasa gerah lantaran Conceicao tidak mampu mengangkat performa tim setelahnya. Milan finis di peringkat kedelapan pada akhir musim. Artinya, “I Rossoneri” tidak akan berkompetisi di kancah Eropa musim depan.
Satu-satunya harapan meraih tiket ke Eropa dengan memenangkan Piala Italia juga kandas setelah kalah dari Bologna di final. Musim Milan sudah berantakan saat mereka gagal mengalahkan Feyeenord pada playoff babak 16 besar Liga Champions Eropa.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/02/28/811f5d499093b5800ec6d2640e9ade6b-FBL_EUR_C1_MILAN_FEYENOORD_127581576.jpg)
Usai memecat Conceicao, jajaran petinggi Milan bergerak cepat mencari penggantinya. Isu yang ramai beredar di Italia menyebutkan, Massimiliano Allegri menjadi kandidat kuat pengganti Conceico.
Mantan pelatih Juventus yang kini menganggur itu sebelumnya lebih sering dikaitkan dengan Napoli bila Antonio Conte hengkang. Akan tetapi, pilihan Milan semakin terbatas setelah Vincenzo Italiano memilih bertahan di Bologna.
Adapun Maurizio Sarri, kandidat lainnya, akhirnya tidak masuk daftar calon pelatih Milan mengingat masalahnya dengan Direktur Olahraga Milan Igli Tare saat mereka masih di Lazio. Pelatih Atalanta Gian Piero Gasperini pun tidak masuk radar lantaran telah dikaitkan dengan kepindahan ke AS Roma.
Jika Allegri benar-benar akan menjadi pengganti Conceicao, hal ini akan menjadi kabar baik bagi Rafael Leao.
Allegri bukanlah sosok baru di Milan. Pelatih berusia 57 tahun itu sebelumnya sempat menangani Milan pada 2010 hingga 2014. Di musim perdananya, Allegri mempersembahkan gelar Liga Italia tetapi gagal mempertahankannya pada musim berikutnya.
Selain trofi Liga Italia, Allegri turut membawa Milan menjuarai Piala Super Italia pada musim 2011-2012. Ia kemudian dipecat pada 2014 karena gagal membawa Milan menembus zona Eropa.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/05/16/172adeda-ff4e-4315-988f-79724ed9c166_jpg.jpg)
Pro dan kontra mengiringi isu kembalinya Allegri ke Milan. Sebagian fans Milan merasa dialah sosok yang pantas memimpin klub kembali berjaya. Di sisi lain, tidak sedikit pula yang menentang Allegri lantaran punya kecenderungan taktik bermain yang amat pasif.
Selama menangani Juventus, Allegri dikenal amat pragmatis dan sangat mementingkan hasil akhir. Dia tidak perduli timnya bermain sangat bertahan asalkan bisa mencetak kemenangan. Frasa “curto muso”, atau hidung pendek, begitu melekat pada dirinya. Frasa itu berkaitan dengan olahraga pacuan kuda yang digunakan oleh Allegri untuk menggambarkan kemenangan dengan hasil tipis.
Pendekatan Allegri bisa jadi sangat berbeda dengan Conceicao yang, meski gagal mengangkat performa Milan, tetapi bisa memperagakan sepak bola menyerang. Milan di bawah Conceicao memang bukanlah tim yang produktif. Jumlah gol per pertandingan Milan juga tidak masuk tiga besar.
Akan tetapi, Conceicao membuat Milan begitu atraktif dalam menyerang. Milan adalah tim terbanyak kedua yang melepaskan tembakan tepat sasaran per laga, yaitu 5,2 kali. Angka harapan gol (expected goal/xG) Milan juga mencapai 63,5 atau termasuk tiga besar di liga. Mereka hanya kalah dari Inter Milan (68,3) dan Atalanta (66,8).
Fans Milan kini terbelah dengan diskursus sosok pelatih seperti apa yang tim mereka butuhkan. Allegri dengan pragmatismenya dipandang cocok untuk Milan yang musim ini berakhir dengan tangan hampa. Di sisi lain, ada fans yang tidak ingin Milan mengorbankan gaya bermain hanya demi hasil semata.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/01/07/8d1d4f11-7bfd-4a4e-b319-1043a2d87f70_jpg.jpg)
Jika Allegri benar-benar akan menjadi pengganti Conceicao, hal ini akan menjadi kabar baik bagi Rafael Leao. Dengan kecenderungan Allegri pada pertahanan, aspek serangan Milan kemungkinan besar akan lebih banyak diemban oleh Leao.
Apalagi, Leao tergolong pemain yang jarang turun membantu pertahanan. Bek kiri Theo Hernandez juga berpotensi mendapat lebih banyak tanggung jawab membantu serangan mengingat Allegri juga fasih memainkan formasi tiga bek.
Isu kembalinya Allegri memantik pro dan kontra, tetapi barangkali ialah sosok pelatih yang dibutuhkan Milan saat ini. Bagaimanapun, Milan yang kini kering prestasi amat membutuhkan pragmatisme untuk kembali bersaing di papan atas. Bermain cantik tidak memberikan jaminan untuk tujuan tersebut.
Penulis:
I Gusti Agung Bagus Angga PutraEditor:
Yulvianus HarjonoPenyelaras Bahasa:
Lucia Dwi Puspita Sari