Tak Lagi Jadi Penguasa Italia, Ada Apa dengan AC Milan dan Juventus?

Dua tim ”penguasa” Italia, AC Milan dan Juventus, kini cuma jadi penonton. Melihat Napoli dan Inter Milan bersaing sembari terpuruk nyaris tanpa bawa pulang apa-apa.

24 Mei 2025 13:10 WIB · Olahraga

Oleh Rebiyyah Salasah

Ketika gelar juara Liga Italia 2024-2025 diperebutkan dengan ketat oleh Napoli dan Inter Milan hingga pekan terakhir, dua tim yang selama ini menjadi ”penguasa” Italia, AC Milan dan Juventus, hanya bisa berada di pinggiran, cuma menjadi penonton. Milan dan Juventus sudah pasti mengakhiri musim ini tanpa banyak hal dibanggakan, bahkan hampir tak membawa pulang apa-apa.

AC Milan boleh saja tak terkalahkan dari Inter Milan pada musim ini. Dalam Derbi della Madonnina, AC Milan mampu meraih tiga kemenangan dan dua imbang. Salah satu kemenangan AC Milan atas Inter Milan dengan skor 3-2 di Piala Super Italia bahkan menghasilkan gelar satu-satunya ”Rossoneri” musim ini.

Namun, apalah artinya rekor tak terkalahkan itu jika ada jurang yang memisahkan AC Milan dan Inter Milan di ujung jalan. Inter Milan memang tak bisa mengalahkan AC Milan, tetapi mampu bersaing untuk raihan gelar Liga Italia.

Meski Inter pun gagal total di kancah domestik setelah kalah saing dari Napoli yang keluar sebagai juara, mereka bersaing hingga titik akhir. Bahkan, ”Nerazzurri” masih punya asa mengangkat trofi dengan menantang Paris Saint-Germain pada partai puncak Liga Champions.

Inter Milan's Lautaro Martinez, left, and AC Milan's Theo Hernandez vie for the ball during an Italian Cup semifinal second leg soccer match between Inter Milan and AC Milan at the San Siro stadium in Milan, Italy, Wednesday, April 23, 2025. (AP Photo/Luca Bruno)

AC Milan dan Juventus? Mereka sudah tersingkir lebih dulu. Milan bahkan pasti tak akan mencicipi persaingan Liga Champions musim depan. Sementara, Juventus masih perlu berjuang untuk tiket terakhir ke ajang itu.

Milan tercecer ke posisi kesembilan klasemen Liga Italia dengan 60 poin. Skuad asuhan pelatih Sergio Conceicao ini tertinggal tujuh posisi dan 21 poin dari tim yang berbagi stadion dengan mereka. Jika menang pada laga terakhir kontra Moza pun, jarak itu tak akan terpangkas dan tidak berpengaruh apa-apa pada nasib Milan.

Kekalahan 1-3 dari AS Roma pada pekan lalu tak hanya mengakhiri rangkaian tak terkalahkan Milan sejak Oktober 2019 dari lawannya itu. Hasil itu juga membuat Mike Maignan dan kawan-kawan tak mampu menembus posisi enam besar klasemen. Artinya, mereka tak akan tampil di kompetisi Eropa musim depan.

Jangankan Liga Champions atau Liga Europa, tiket ke Liga Konferensi Eropa musim depan saja tak mampu diraih Milan. Klub Italia dengan gelar Liga Champions terbanyak (7) ini gagal lolos lewat jalur peringkat di Serie A yang menyediakan tiket ke Liga Champions untuk empat tim teratas.

AC Milan's Portuguese forward #10 Rafael Leao reacts at the end of the Italian Cup (Coppa Italia) final football match between AC Milan and Bologna at the Olympic stadium in Rome, on May 14, 2025. (Photo by Isabella BONOTTO / AFP)

Mereka pun tak mampu merebut satu tiket ke Liga Europa bagi peringkat kelima dan satu tiket ke Liga Konferensi Eropa untuk penghuni peringkat keenam. Kekalahan 0-1 dari Bologna pada partai final juga membuat mereka gagal meraih tiket ke Liga Europa dari jalur juara Coppa Italia.

Kegagalan ini hampir pasti menandai berakhirnya masa jabatan Sergio Conceicao. Milan bagai berada di titik nadir dengan hanya tiga gelar liga utama Italia yang mereka raih abad ini (musim 2003-2004, 2010-2011, dan 2021-2022).

Sejumlah masalah

Bagi Milan yang merupakan tim ketiga tersukses dalam raihan gelar liga (19 trofi), kegagalan tersebut adalah pukulan telak dan hal memalukan. Kegagalan ini pun menunjukkan, sejumlah masalah masih belum terselesaikan dalam beberapa musim terakhir.

Dari sisi finansial, Milan memang dalam kondisi kurang stabil sejak Li Yonghong membeli klub dari Silvio Berlusconi pada 2017. Kendati kemudian Elliott Advisors (sekarang Elliott Investment Management) mengambil alih dan memberikan investasi dalam jumlah besar, mereka juga menjual klub tersebut kepada RedBird Capital Partners pada 2022.

Ini menunjukkan bahwa dalam praktiknya, tidak banyak uang yang tersedia untuk dana transfer. Maka, pembelian pemain, seperti Alvaro Morata, yang sudah berusia 32 tahun (enam gol dalam 25 pertandingan) dan kemudian dipinjamkan ke Galatasaray dalam waktu enam bulan menjadi hal biasa.

Pemain AC Milan Joao Felix (kiri) berebut bola dengan pemain Hellas Verona Grigoris Kastanos pada laga Liga Italia di Stadion San Siro, Milan, Sabtu (15/2/2025). Milan menang 1-0 pada laga itu.

Kegagalan menembus kompetisi Eropa musim depan juga akan membuat finansial Milan terganggu. Dikutip dari Calcio e Finanza, Milan akan kehilangan sumber pemasukan paling tidak 80 juta euro seperti yang diraih musim ini dari penampilan di Liga Champions. Dari Liga Europa dan Liga Konferensi Eropa, Milan juga tak akan dapat kesempatan mendapatkan lebih kurang 20 juta euro hingga 35 juta euro.

Di luar masalah finansial, krisis lain juga menerpa Milan dalam banyak segi. Keputusan menyingkirkan legenda hidup mereka, Paolo Maldini, dari jabatannya sebagai direktur teknik bisa menjadi salah satu wajah yang nyata. Pemecatan ini menyiratkan, Milan telah kehilangan identitasnya.

Secara manajerial, setidaknya pelatih Stefano Pioli dapat memberikan gelar selama lima tahun jabatannya. Pelatih pengganti Pioli, Paulo Fonseca, sempat dipandang sebagai semacam penyelamat. Namun, Fonseca akhirnya dipecat setelah enam bulan.

Ketika Fonseca dipecat akhir tahun lalu, Milan berada di posisi kedelapan dan delapan poin di bawah posisi Liga Champions. Saat ini, Milan berada di posisi kesembilan dan sudah tak punya harapan ke ajang tersebut.

Para pemain Napoli mengangkat trofi untuk merayakan gelar juara Liga Italia. Kepastian juara didapat setelah Napoli menang 2-0 atas Cagliari di Stadion Diego Armando Maradona, Naples, Sabtu (24/5/2025), dini hari WIB.

Walakin, pelatih legendaris Milan, Arrigo Sacchi, menilai Conceicao adalah sosok yang paling tidak bisa disalahkan dari keterpurukan klub. Sebab, Conceicao datang dan bekerja dalam kekacauan total yang sudah ada dalam tubuh Milan.

Menurut Sacchi, sebenarnya ada banyak kesalahan Milan sehingga mereka berada di titik nadir musim ini. Salah satunya, Milan bergerak tanpa visi. ”Mereka bergerak secara membabi buta, dan dengan melakukan itu, mereka pasti akan menabrak tembok,” kata Sacchi dikutip dari Football Italia.

Di sisi lain, para pemain pun tak mampu menunjukkan soliditas. Pendapat Sacchi masuk akal jika melihat pemain yang seharusnya jadi pembeda seperti Joao Felix bahkan gagal memenuhi harapan. Dua gol dalam 20 laga menunjukkan pemain asal Portugal itu tidak akan pernah menjadi jawabannya.

Santiago Gimenez juga belum benar-benar memberikan dampak yang diharapkan semua orang setelah kepindahannya dari Feyenoord. Sementara, Theo Hernandez mulai menjadi semacam beban di sisi kiri.

AC Milan's head coach Sergio Conceicao hugs Christian Pulisic after the Italian Super Cup semifinal soccer match between Juventus and Milan in Riyadh, Saudi Arabia, Friday, Jan. 3, 2025. (AP Photo/Altaf Qadri)

Menurut Sacchi, hal ini menunjukkan adanya masalah lebih lanjut dalam pemilihan pemain selama bursa transfer musim panas. Dia meragukan proses perekrutan.

”Milan memiliki sekelompok pemain yang direkrut secara acak. Saya bahkan tidak mempertanyakan kualitas teknis individu, meskipun saya bisa, tetapi masalah sebenarnya adalah mereka bukanlah tipe pemain yang dapat membentuk tim yang kohesif,” ucap Sacchi.

Milan pun mulai kehilangan kepercayaan dari para pendukungnya. Ultras Milan telah mengumumkan bahwa mereka akan meninggalkan San Siro setelah 15 menit pertama pertandingan melawan Monza untuk memprotes pemilik klub Gerry Cardinale, direktur, dan para pemain.

”Kemudian kami akan meninggalkan mereka, meninggalkan mereka sendirian dengan rasa malu mereka,” tulis pernyataan Ultras Milan.

Pemain Juventus Manuel Locatelli (tengah) merayakan golnya ke gawang AS Roma pada laga Liga Italia di Stadion Olympico, Roma, Minggu (6/4/2025). Laga berakhir imbang 1-1.

Jika dibandingkan dengan Milan, kondisi Juventus bisa dibilang lebih baik. Meski tersingkir dari Liga Champions dan gagal total di kompetisi domestik, mereka masih punya peluang lolos ke kompetisi kasta tertinggi Eropa itu musim depan. Juventus, yang saat ini berada di posisi keempat klasemen, harus berjuang pada laga terakhir kontra Venezia untuk satu slot tersisa ke Liga Champions.

Juventus bersaing dengan Roma dan Lazio yang juga sama-sama punya kesempatan lolos ke Liga Champions. Ada 27 kemungkinan hasil pertandingan pada pekan terakhir Liga Italia, dengan 17 di antaranya berakhir dengan Juventus yang mengklaim posisi keempat.

Namun, tim asuhan Igor Tudor tersebut masih belum sepenuhnya keluar dari krisis. Dalam 10 laga terakhir, misalnya, mereka hanya meraih empat kemenangan dan menekan tiga kekalahan.

Kehadiran Tudor untuk mengganti Thiago Motta yang didepak setelah serangkaian hasil buruk belum memperbaiki sejumlah masalah mendasar, seperti serangan yang tak efektif dan pertahanan yang buruk.

Juventus' Croatian coach Igor Tudor (C) celebrates with Juventus' Serbian forward #09 Dusan Vlahovic (L) and Juventus' Portuguese defender #12 Renato Veiga (R) after winning the  Italian Serie A football match between Juventus and Genoa at the Allianz Stadium in Turin, on March 29, 2025. (Photo by MARCO BERTORELLO / AFP)

Hanya satu trofi yang berhasil diraih klub dengan gelar Liga Italia terbanyak (36) ini dalam empat tahun terakhir. Satu-satunya kesempatan yang tersisa agar tidak pulang dengan tangan hampa musim ini hanya Piala Dunia Antarklub 2025 pada Juli mendatang.

Namun, perjalanan Juventus ataupun Milan musim ini sudah cukup untuk menunjukkan bahwa ada banyak hal yang perlu mereka perbaiki untuk kembali ke papan atas sepak bola domestik dan Eropa. Langkah progresif perlu dilakukan karena tak hanya Roma yang tidak dibangun dalam semalam.


Kerabat Kerja

Penulis:

Rebiyyah Salasah
 | 

Editor:

Emilius Caesar Alexey
 | 

Penyelaras Bahasa:

Lucia Dwi Puspita Sari