Tarif Trump Membuat Para Ekonom Marah

Kamar Dagang dan Industri AS pun menolak palugada tarif yang membuat bursa saham merosot. Trump telah merusak tatanan ekonomi global yang turut dibentuk oleh AS.

08 Apr 2025 18:50 WIB · Internasional

Oleh Laraswati Ariadne Anwar

Penerapan tarif impor yang dijatuhkan oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump akan efektif berjalan pada Rabu (9/4/2025). Ketika sejumlah negara, termasuk Indonesia, menegosiasikan kebijakan tersebut dengan Trump, para pakar ekonomi dunia justru habis-habisan mengkritisi Trump. Menurut mereka, kebijakan tersebut menjerumuskan dunia ke perang dagang.

”Ini tindakan yang sangat bodoh,” kata ekonom Paul Krugman di New York, AS, Senin (7/4/2025), waktu setempat atau Selasa (8/4/2025) waktu Indonesia. Krugman adalah Guru Besar Ekonomi di Universitas City New York. Ia meraih Hadiah Nobel di bidang ekonomi pada 2008. Krugman juga memberi perhatian pada teori perdagangan baru dan teori geografi ekonomi.

Krugman menerangkan, AS adalah penemu skema rantai pasok global sehingga warga dunia bisa menikmati perdagangan bebas dan membeli produk dengan harga terjangkau. Sistem yang dibangun dan dijaga dengan susah payah itu kini dihancurkan oleh Trump.

”Trump tidak melakukan apa pun untuk kemajuan ekonomi. Ini murni perundungan supaya orang-orang datang dan menyembah-nyembah dia,” ujar Krugman.

Pernyataan ini mengacu pada sikap Trump yang tidak memercayai perjanjian perdagangan multilateral. Ketika menjatuhkan tarif, Trump menginginkan setiap negara menemui dia satu per satu. Vietnam, misalnya, demi menghindari tarif impor 46 persen akhirnya membebaskan semua produk AS yang masuk ke negara itu dari tarif.

Bagi Krugman, tindakan Trump ini justru menjatuhkan reputasi AS. Meskipun negara-negara akhirnya merayu Trump, di dalam hati, mereka menilai AS tidak bisa dipercaya. Cepat atau lambat mereka secara bertahap akan menghindari AS.

US President Donald Trump speaks during a meeting with Israeli Prime Minister Benjamin Netanyahu in the Oval Office of the White House in Washington, DC, on April 7, 2025. Israeli Prime Minister Benjamin Netanyahu was in Washington on Monday to meet Donald Trump, whom he will likely ask for a reprieve from US tariffs while seeking further backing on Iran and Gaza. (Photo by SAUL LOEB / AFP)

Sementara itu, Guru Besar Universitas Lome di Togo, Kako Nubukpo, menuturkan, tarif adalah senjata orang yang lemah. ”Trump merasa kecil hati melihat defisit perdagangan AS dari China, makanya ia secara sepihak menetapkan tarif,” kata Menteri Pembangunan Togo 2013-2015.

Nubukpo menjelaskan, kondisi dunia saat ini rentan. Semakin banyak negara di Afrika, Eropa, Amerika, dan Asia yang bergeser dari sistem demokrasi. Akibatnya, rakyat semakin tertekan. Mereka sudah mengalami kesulitan hidup dan kini dirundung tekanan tambahan dari Trump.

”Negara-negara berkembang akan kian miskin dan globalisasi berisiko terhenti,” ujarnya. Menurut dia, negara-negara di Afrika harus mengedepankan kepentingan nasional sekaligus kawasan. Ini membangun ketahanan bersama di tengah iklim ekonomi yang tidak bersahabat.

Ekonom Lebanon Nasser Saidi juga mengutarakan pandangan serupa. Rantai pasok dunia jelas terganggu. Apalagi, perhitungan tarif oleh Trump ini asal-asalan karena tidak mengacu pada teori ekonomi dan perdagangan mana pun. Caranya hanya surplus dikurangi defisit dan dikali 100 persen.

Ke depan, negara-negara Afrika dan Asia Barat akan semakin mendekat ke Asia Timur, Selatan, dan Tenggara. Memang untuk saat ini masih ada kesulitan akses, tetapi gara-gara perilaku AS kerja sama kawasan akan meningkat.

Kembali ke AS, perusahaan sekuritas Berkshire & Hathaway mengeluarkan keterangan pers bahwa pemimpin mereka, Warren Buffett, sama sekali tidak mendukung tarif Trump. Sebelumnya, sejumlah akun media sosial pendukung Trump mencatut nama Buffett dan mengatakan investor ini memuji tarif.

Kadin menggugat 

Tidak hanya ekonom, Kamar Dagang dan Industri AS juga marah. Menurut bocoran yang diterima majalah Fortune, kelompok pelobi terbesar di AS ini berencana menggugat pemerintahan Trump. Gedung Putih dianggap mengacaukan perdagangan. Mereka menginginkan tarif batal diterapkan pada Rabu (9/4/2025).

Pada 2020, Kadin AS pernah menggugat pemerintahan Trump. Ketika itu, Trump menjabat sebagai presiden periode 2017-2021. Ia memberlakukan peraturan anti-imigran. Menurut Kadin AS, ekonomi membutuhkan imigran berketerampilan untuk datang dan bekerja secara resmi.

Bursa saham AS terus melorot. Per Senin (7/4/2025), S&P 500 turun 0,2 persen. Dow Jones turun 0,9 persen dan Nasdaq turun 0,1 persen. Sempat ada kenaikan sebentar karena di media sosial beredar kabar bahwa Trump akan menangguhkan tarif untuk 90 hari ke depan.

Namun, Gedung Putih kemudian mengatakan bahwa kabar itu bohong. Bursa saham pun turun lagi. Apalagi, Trump mengatakan kepikiran menambah tarif impor atas China lagi karena Beijing membalas dengan menaikkan tarif atas komoditas AS sebesar 34 persen.

Protesters form a human banner on Ocean Beach during a protest against President Donald Trump, part of the "Hands Off" rallies held nationwide, in San Francisco, Saturday, April 5, 2025. (Stephen Lam/San Francisco Chronicle via AP)

Pekan lalu, Aliansi Kebebasan Sipil Baru (NCLA) sudah mengajukan gugatan. Mereka mewakili usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di AS. Para pelaku UMKM ini banyak mengimpor bahan baku, barang setengah jadi, dan barang jadi dari China. Oleh Trump China dijatuhi tarif impor total 54 persen.

”Presiden tidak memiliki dasar hukum menetapkan tarif impor sepihak. Dalih China tidak menghentikan penyelundupan narkoba jenis fentanil bukan landasan legal,” demikian bunyi gugatan NCLA.

Trump memakai Undang-Undang Kekuatan Ekonomi Darurat (IEEPA). Menurut gugatan NCLA, di dalam IEEPA tidak ada pasal yang mengatakan presiden memiliki otoritas sepihak menjatuhkan tarif.

Resesi

Rakyat tidak bisa berharap banyak pada bank sentral. Biasanya, bank akan memotong suku bunga untuk melindungi perekonomian. Akan tetapi, AS dalam posisi terjepit. Inflasi tinggi dan daya beli masyarakat kurang. Jika suku bunga diturunkan, inflasi bisa melambung.

”Pertumbuhan pasti melambat. Kekhawatiran kita semua sekarang adalah jangan sampai jadi resesi,” kata Direktur Utama JP Morgan Jamie Dimon.

Kekhawatiran resesi disampaikan oleh Perdana Menteri Singapura Lawrence Wong dalam sidang parlemen. Ia mengatakan, era globalisasi dan penerapan hukum internasional dihentikan secara sepihak. Semua serba tidak pasti. Perekonomian AS dan dunia bisa terperosok ke dalam resesi.

”Kalau negara-negara lain menggunakan pendekatan unilateral seperti AS, perdagangan global rontok. Hukum internasional menjamin perdagangan global berkeadilan dan menguntungkan semua,” kata Wong, dalam pidato yang disiarkan langsung oleh Channel News Asia.

Negara-negara kecil, meskipun kaya raya seperti Singapura, tidak memiliki kapasitas besar ketika harus bernegosiasi satu per satu dengan AS. Apalagi, Singapura tidak memiliki sumber daya alam ataupun sumber daya manusia yang banyak untuk industri padat karya. Perekonomian Singapura bergantung pada perdagangan internasional.

Singapura dikenakan tarif 10 persen oleh Trump. Di Asia Tenggara, tarif yang dikenakan kepada Singapura merupakan yang paling rendah. Vietnam kena 46 persen, Kamboja 49 persen, dan Indonesia 32 persen. Di dunia, Lesotho terkena tarif tertinggi, yaitu 50 persen.

Pulau-pulau terpencil, yaitu Pulau Heard dan Pulau McDonald di Samudra Hindia yang tidak dihuni manusia, juga dijatuhi tarif. Kedua pulau itu masuk wilayah Australia dan merupakan suaka untuk penguin dan anjing laut. Canberra kebingungan AS menjatuhkan tarif ke pulau-pulau itu.

Nike shoes for sale at a store in Annapolis, Maryland, on April 7, 2025. Vietnam has asked for a last-minute delay to colossal tariffs imposed by Washington as government figures showed on Sunday that its economy grew at a slightly slower pace in the first quarter. Major US corporations with manufacturing operations in Vietnam, including Nike and Adidas, are likely to see orders decrease and reductions in revenue, potentially leading to factory downsizing and job losses, Pham Van Dai, a lecturer in economics at Fulbright University Vietnam, told AFP. (Photo by Jim WATSON / AFP)

”Ini pasti kesalahan dari pihak AS. Tampaknya, mereka terburu-buru membuat aturan soal tarif,” kata Menteri Perdagangan Australia Don Farrell kepada ABC.

Ketika diwawancara oleh CBS, Mendag AS Howard Lutnick mengatakan, Trump menjatuhkan tarif kepada Australia dan semua pulau yang masuk ke dalam wilayahnya. Trump tidak mau ada celah yang nanti bisa membuat AS dicurangi. (AP/AFP)


Kerabat Kerja

Penulis:

Laraswati Ariadne Anwar
 | 

Editor:

Bonifasius Josie Susilo H