Tiga petenis berusia 18 tahun menyita perhatian di Roland Garros. Mereka berada di antara petenis top dunia dalam turnamen Perancis Terbuka.
29 Mei 2025 22:28 WIB · Olahraga
Selain Carlos Alcaraz, Jannik Sinner, dan Aryna Sabalenka, persaingan menarik dalam turnamen Perancis Terbuka melibatkan petenis remaja. Jalan berbeda ditempuh hingga bisa tampil pada babak utama Grand Slam.
Di antara petenis-petenis muda yang menjadi sorotan di lapangan tanah liat Roland Garros, Paris, Perancis, pada 25 Mei-8 Juni, terdapat tiga bintang yang menjadi sorotan penggemar dan media internasional. Meski berbeda dalam tahun kelahiran, ketiganya berusia 18 tahun saat tampil di Roland Garros.
Mereka adalah Mirra Andreeva, petenis Rusia kelahiran 2007, serta Victoria Mboko dan Joao Fonseca yang hanya berbeda usia lima hari. Mboko lahir 26 Agustus 2006, sementara Fonseca lahir pada 21 Agustus 2006.
Kiprah mereka dalam persaingan tertinggi turnamen tanah liat ini dinanti dengan latar belakang berbeda. Di antara ketiganya, Andreeva menjadi yang terdepan, salah satunya berkat posisi keenam dalam daftar peringkat dunia tenis tunggal putri dan menjadi unggulan keenam Perancis Terbuka. Dia pun tampil di ajang Grand Slam sebagai petenis ranking sepuluh besar untuk pertama kalinya.
Andreeva melangkah ke babak ketiga setelah mengalahkan Ashlyn Krueger di Lapangan Simonne-Mathieu, Roland Garros, Kamis (29/5/2025), dengan skor 6-3, 6-4, pada babak kedua. Di lapangan yang sama, dalam debut di Perancis Terbuka pada 2023, Andreeva juga memastikan langkah ke babak ketiga. Akan tetapi, perjalanannya sejak babak kualifikasi pada saat itu dihentikan Cori ”Coco” Gauff.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/05/29/b046a134ebf6ed6f60456debba276b6d-wires_photo_14_.jpg)
Setahun kemudian, Andreeva kembali ke Roland Garros dengan tiket babak utama dan dia bisa bertahan lebih lama, hingga semifinal. Di tempat itu pula, berselang dua bulan kemudian, dia meraih medali perak ganda putri dalam Olimpiade Paris 2024 saat bermain bersama Diane Shnaider.
”Ya, saya semakin menikmati bermain di Roland Garros. Meski terkadang kesal karena ada teriakan penonton saat akan servis, saya terbiasa karena mereka memberi dukungan kepada saya,” kata Andreeva yang akan berhadapan dengan Yulia Putintseva pada babak ketiga.
Memasuki arena persaingan profesional pada 2022, Andreeva masih tergolong petenis yunior karena berusia 18 tahun ke bawah, tepatnya pada usia 15 tahun. Dia menjadi tunggal putri nomor satu dunia yunior pada Mei 2023. Andreeva dan kakaknya yang juga petenis, Erika Andreeva, mengasah kemampuan di Elite Tennis Center di Cannes, Perancis, tempat yang pernah digunakan sebagai tempat latihan Daniil Medvedev.
Sehari sebelumnya, Victoria Mboko mendahului Andreeva untuk mendapatkan tiket perempat final. Petenis asal Kanada ini mengalahkan Eva Lys, 6-4, 6-4, pada babak kedua dan akan menguji diri melawan peraih emas Olimpiade Paris 2025, Zheng Qin Wen, dalam tantangan berikutnya, Jumat (30/5/2025).
Mboko menjalani Perancis Terbuka 2025 sejak fase kualifikasi. Dia telah memenangi lima pertandingan untuk tampil pada babak ketiga. Catatan lainnya, Perancis Terbuka ini menjadi Grand Slam pertama bagi Mboko, petenis Kanada yang lahir di Amerika Serikat dari orangtua asal Kongo.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/05/29/d0d3cc49063e258a0f506bdbef93d357-wires_photo_17_.jpg)
Ketika Andreeva memiliki ikatan spesial dengan Paris karena menjadi semifinalis Perancis Terbuka dan meraih medali perak Olimpiade Paris 2024, Mboko mempunyai ikatan meski dalam bentuk lain. Pelatihnya, yaitu Nathalie Tauziat, adalah petenis Perancis yang aktif bermain pada 1984-2003. Prestasi tertinggi Tauziat adalah saat menjadi finalis Wimbledon 1998 dan dia menjadi petenis peringkat ketiga dunia pada pertengahan 2000.
Tak hanya mendampingi Mboko sejak bermain di kategori yunior, Tauziat juga pernah bekerja sama dengan petenis Kanada lainnya, Bianca Andreescu. Juara Grand Slam Amerika Serikat Terbuka 2019 itu dilatih Tauziat sejak berusia 14 tahun, pada 2015. Hubungan itu terjadi karena Tauziat bekerja untuk Tennis Canada setelah pensiun sebagai petenis.
Sentuhan Tauziat, yang memiliki karakter permainan serve and volley, terlihat pada perkembangan kemampuan Mboko, terutama pada 2025. Walaupun masih lebih sering bersaing dalam turnamen ITF dibandingkan di WTA Tour, dia 37 kali menang dan lima kali kalah sebelum bertanding di Perancis Terbuka. Sebanyak 22 kemenangan beruntun mengantarkan Mboko menjadi juara pada empat turnamen di awal tahun.
Rangkaian penampilan itu membuatnya mendapat wildcard untuk bermain pada babak utama turnamen WTA 1000 pertama kalinya, yaitu di Miami. Saat memasuki persaingan di lapangan tanah liat, dia tampil di WTA 1000 Roma sebagai pemain kualifikasi.
Mboko sebenarnya bersiap untuk tampil dalam turnamen ITF ketika WTA Roma digelar pada 6-18 Mei. Maka, tiket kualifikasi yang diberikan panitia menjadi kejutan baginya.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/05/29/56f4ffb8f2ab5d06c92138bcc49cd0ce-wires_photo_16_.jpg)
Idola Mboko tak lain adalah Serena Williams. ”Saat menonton tenis di TV, saya selalu melihat Serena memenangi segalanya. Saat anak-anak, saya berusaha meniru gaya permainannya, berusaha memukul bola sekeras mungkin. Dia adalah panutan dan ikon sepanjang masa, bukan hanya untuk saya, melainkan juga untuk petenis-petenis muda putri,” kata Mboko dalam laman resmi Perancis Terbuka.
Pada persaingan tunggal putra, Fonseca adalah remaja yang paling menarik perhatian. Sebelum Roland Garros, dia menjadi pusat perhatian penggemar tenis saat tampil di Melbourne Park pada Grand Slam Australia Terbuka, ATP Rio de Janeiro, ATP Buenos Aires, dan ATP Masters 1000 Miami.
Di Melbourne Park, pada partisipasi pertamanya di Australia Terbuka, Fonseca tampil sejak babak kualifikasi. Namun, berbeda dengan dua Grand Slam lain yang diikuti, Wimbledon dan Amerika Serikat Terbuka 2024, Fonseca berhasil memasuki persaingan babak utama di Australia Terbuka.
Dia bahkan menyingkirkan pemain peringkat sepuluh besar dunia yang menjadi unggulan kesembilan, Andrey Rublev, pada babak pertama. Meski akhirnya kalah pada babak kedua, atlet yang lahir dan tinggal di Rio de Janeiro, Brasil, itu bisa memaksa Lorenzo Sonego bermain lima set.
”Melawan Rublev menjadi pengalaman pertama saya tampil di stadion besar, juga pertama kalinya berhadapan dengan pemain peringkat sepuluh besar dunia. Penonton juga sangat banyak,” kata Fonseca.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/05/29/636d8d8c815bc62230963ba1f4014d7e-wires_photo_20_.jpg)
Pertandingan melawan Rublev dijalani di Margaret Court Arena yang berkapasitas 7.500 penonton. Tempat itu menjadi stadion terbesar ketiga di Melbourne Park setelah Rod Laver Arena dan John Cain Arena.
Sebulan setelah momen itu, Fonseca mendapat gelar pertama dari ATP Tour ketika menjuarai ATP 250 Buenos Aires dengan status sebagai pemain non-unggulan. Gelar itu didapat dari final pertamanya pada persaingan tenis profesional.
Gelar juara di Buenos Aires, babak ketiga Miami Masters, dan pengalaman bermain di Melbourne Park dibawa ke Roland Garros saat Fonseca bisa langsung tampil pada babak utama. Dia mengatakan, pertemuan melawan Rublev membuatnya belajar menjalani pertandingan dalam atmosfer berbeda, yaitu bermain dalam babak utama Grand Slam, di stadion besar, dan dengan banyak penonton.
Ditambah dengan keberaniannya dalam menghadapi petenis yang lebih berpengalaman, Fonseca melangkah ke babak kedua dalam debutnya di Perancis Terbuka. Pertandingan melawan Pierre-Hugues Herbert pada Kamis (29/5/2025) malam dijalani setelah dia menyingkirkan Hubert Hurkacz pada babak pertama, dua hari sebelumnya.
Fonseca menang atas semifinalis Wimbledon 2021 yang menjadi unggulan ke-30 tersebut dalam straight sets, 6-2, 6-4, 6-2. Dia membuat 36 winner dan hanya 15 unforced error pada pertandingan tersebut.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/05/29/a9853729c8322535aa73c2bc968f93d6-wires_photo_19_.jpg)
Warga Brasil yang menonton pertandingan Fonseca melawan Hurkacz menyanjung juara Final ATP NextGen 2024 tersebut. Meski berusia 18 tahun, Fonseca dinilai mempunyai aura yang memikat orang untuk menontonnya.
Ivan, warga Brasil yang menonton bersama anaknya, membandingkan Fonseca dengan mantan petenis Brasil, Gustavo ”Guga” Kuerten. Kuerten, yang bersaing di tenis profesional pada 1995 hingga 2008, menjuarai Perancis Terbuka pada 1997, 2000, dan 2001. Dia juga pernah menempati peringkat teratas dunia pada Desember 2000.
”Anak muda itu sangat bagus. Dia adalah Guga masa depan,” kata Ivan. (AFP)
Penulis:
Yulia SapthianiEditor:
Prasetyo Eko PrihanantoPenyelaras Bahasa:
Amin Iskandar