Pasar Global Bersiap Hadapi Dampak Perang Tarif Trump

Perekonomian dunia berpotensi mengalami ketidakpastian tambahan setelah pekan lalu pasar terpukul dengan kemunculan DeepSeek.

03 Feb 2025 13:00 WIB · Internasional

Oleh Mahdi Muhammad

NEW YORK, SENIN — Ekonomi global bersiap menghadapi turbulensi pascakeputusan kenaikan tarif oleh Amerika Serikat terhadap tiga negara mitra ekonominya. Perekonomian global berpotensi mengalami ketidakpastian tambahan setelah pekan lalu pasar terpukul dengan kemunculan kecerdasan buatan DeepSeek.

Potensi perang dagang akibat pengenaan tarif ini mengancam proyeksi pertumbuhan ekonomi dan memicu kembali inflasi. Efeknya mulai terasa pada sesi perdagangan saham Senin (3/2/2025) pagi.

Bursa saham di Jepang dan Korea Selatan turun 2 persen pada sesi pembukaan perdagangan. Harga saham berjangka AS merosot pada jam-jam awal perdagangan Asia. Harga berjangka Nasdaq turun 2,35 persen dan harga berjangka S&P 500 turun 1,8 persen.

Harga saham sejumlah perusahaan otomotif turun cukup tajam, terutama perusahaan-perusahaan yang telah menggelontorkan miliaran dollar AS dana untuk memperkuat rantai pasok di Kanada dan Meksiko. Harga saham Toyota Motor turun hampir 5 persen, sementara Honda Motor dan Nissan Motor merosot lebih dari 7 persen.

Harga minyak AS melonjak lebih dari 2 dollar AS per barel saat perdagangan saham di Asia dibuka. Sementara harga bensin berjangka melonjak lebih dari 3 persen.

Pascakeputusan kenaikan tarif, Gedung Putih belum menerbitkan semua rinciannya. Hal ini menimbulkan pertanyaan tentang dampak yang ditimbulkan dan potensi durasinya.

Meski begitu, banyak analis memproyeksikan kebijakan itu akan membuat keuntungan perusahaan-perusahaan AS akan menurun dan angka inflasi yang lebih tinggi. Ahli strategi Barclays memperkirakan kebijakan tarif Trump bisa menyebabkan penurunan pendapatan perusahaan S&P 500 hingga 2,8 persen. Hal itu akan berpotensi mengacaukan efek positif pemotongan suku bunga AS oleh Bank Sentral AS (Federal Reserve/The Fed) serta melemahkan mata uang seperti dollar Kanada dan yuan China.

Sejumlah pialang saham berjalan sambil memantau layar untuk mengamati perkembangan harga saham di Bursa Saham New York (NYSE) pada sesi perdagangan Selasa (28/1/2025) pagi.

Mata uang yuan melemah ke rekor terendah sebesar 7,3765 yuan per dollar AS. Sementara dollar AS menyentuh level tertinggi lebih dari 20 tahun terhadap mata uang Kanada. Dollar AS juga menguat lebih dari 2 persen terhadap peso Meksiko.

Bank investasi AS JP Morgan dalam catatan yang terbit akhir pekan lalu menyebutkan, mata uang peso Meksiko diproyeksikan mengalami penurunan hampir 12 persen setelah kenaikan tarif 25 persen oleh Gedung Putih. Mata uang bersama Uni Eropa, euro, mengalami penurunan lebih dari 1 persen dan mencapai level terendah dalam dua tahun.

Analis pun bersiap menghadapi aksi jual saham dan aset berisiko tinggi lainnya. ”Jika tarif diberlakukan dan tampaknya akan berlaku mungkin selama berbulan-bulan, saham akan dijual meskipun sensitivitas sektor akan bervariasi,” kata peneliti Morgan Stanley dalam sebuah catatan.

”Keputusan Trump untuk menaikkan tarif akan menekan pendapatan domestik bruto AS dan negara-negara yang menjadi sasaran, dan juga akan menyebabkan peningkatan tekanan inflasi,” kata Ryuta Otsuka, analis dan ahli strategi keuangan Toyo Securities Co.

”Sampai saat ini pasar berada di pihak Trump. Akan tetapi, itu dapat berubah dan pasar dapat menantangnya untuk pertama kali,” kata Mark Malek, Kepala Investasi Siebert Financial di New York.

Inflasi

Keputusan Trump untuk menaikkan tarif dikhawatirkan akan memicu inflasi, sejalan dengan kenaikan harga barang. Kalangan investor menilai hal itu akan mengganggu perekonomian AS yang tengah berupaya bangkit kembali.

Potensi untuk menaikkan harga barang di tingkat konsumen merupakan area yang sangat sensitif bagi investor, terutama yang akan berdampak pada kenaikan angka inflasi. Hal ini bisa mendorong The Fed menghentikan pemotongan suku bunga. Minggu lalu, The Fed menghentikan siklus pemotongan suku bunga dan menanti kebijakan yang akan diambil Pemerintah AS.

Seorang pekerja memindahkan buah nanas di Pasar Sentral de Abastos, Gualadajara, Negara Bagian Jalisko, Meksiko, Jumat (31/1/2025). Kebijakan tarif baru Presiden Amerika Serikat Donald Trump diyakini akan berdampak pada kenaikan harga bahan makanan, termasuk nanas, di AS.

Dilansir dari laporan The New York Times, ada potensi kenaikan harga barang konsumsi besar, mulai dari bahan makanan, kendaraan, barang elektronik, hingga harga bahan bakar minyak.

”Karena gabungan ketiga negara (yang menjadi sasaran kebijakan tarif Trump), akan sulit untuk menyusuri lorong toko kelontong dan tidak melihat semacam efek inflasi,” kata Jason Miller, profesor manajemen rantai pasok Universitas Negeri Michigan.

Bahan makanan seperti alpukat, tomat, dan stroberi berpotensi mengalami kenaikan harga karena sebagian besar produk ini diimpor dari Meksiko.Pada 2023, hampir tiga perempat impor pertanian AS dari Meksiko terdiri dari sayur-sayuran, buah, minuman, dan minuman beralkohol sulingan, menurut Departemen Pertanian AS. Toko kelontong akan kekurangan stok bahan makanan yang substansial dan berujung pada kenaikan harga.

Alpukat dari Meksiko terlihat dijual di toko pada 6 Juni 2019 di Washington, DC. - Presiden AS Donald Trump telah meneriakkan ekonomi AS yang kuat tetapi memukul semua produk dari Meksiko dengan tarif 25 persen mengancam akan melemahkan pertumbuhan dan melemahkan industri-industri utama Amerika, para ekonom memperingatkan. Tomat dan alpukat - hampir 90 persen di antaranya berasal dari Meksiko dan musiman lainnya buah akan dipukul keras. (Foto oleh )

AS juga mengimpor berbagai produk pertanian dari Kanada, termasuk daging dan biji-bijian. Kenaikan tarif berpotensi meningkatkan harga eceran daging sapi apabila toko-toko kelontong membebankan biaya tersebut kepada konsumen.

Sirup maple bisa menjadi lebih mahal. Produk sirup maple Kanada menyumbang 70 persen dari produksi global. Pada 2023, lebih dari 60 persen ekspor maple negara itu dikirim ke AS.

Seberapa cepat perusahaan bersedia dan mampu menaikkan harga mereka masih harus dilihat, kata Peter Simon, profesor ekonomi di Universitas Northeastern, Sabtu. Beberapa kenaikan harga mungkin merupakan respons sah terhadap kenaikan biaya bagi para pemilik usaha. Akan tetapi, ada pula penetapan harga oportunistik, yang berarti perusahaan dapat menggunakan tarif sebagai alasan untuk menaikkan harga lebih dari yang diperlukan, ujar Simon.

Presiden Bank Sentral Belanda Klaas Knot, yang juga anggota Dewan Gubernur Bank Sentral Eropa, Minggu (2/2/2025), memperkirakan kebijakan tarif yang baru akan menyebabkan inflasi dan suku bunga yang lebih tinggi di AS. Hal ini berpotensi melemahkan euro. (Reuters)


Kerabat Kerja

Penulis:

Mahdi Muhammad
 | 

Editor:

Fransisca Romana Ninik W
 | 

Penyelaras Bahasa:

Nur Adji