Perusahaan petrokimia menemukan konfigurasi proses yang memungkinkan pencampuran bahan baku dari beberapa sumber sehingga dapat menekan dampak kenaikan harga minyak.
10 Mar 2026 18:41 WIB · Ekonomi & Bisnis
AFP/GIUSEPPE CACACE
JAKARTA, KOMPAS — Meski beberapa kapal sudah ada yang bisa melintas di Selat Hormuz, pelaku industri tetap merasa khawatir dengan keberlanjutan pasokan energi dan bahan baku industri dalam negeri dari jalur itu.
Sekretaris Jenderal Asosiasi Industri Olefin Aromatik dan Plastik (Inaplas) Fajar Budiono mengatakan, sebagian kapal pengangkut energi dan bahan baku kini sudah dapat melintasi Selat Hormuz sehingga kekhawatiran gangguan pasokan mulai berkurang.
“Beberapa kapal sudah bisa lolos dari Selat Hormuz. Artinya, jalur pasokan mulai terbuka kembali dan itu membantu menurunkan tekanan harga,” ujar Fajar saat dihubungi, Selasa (10/3/2026).
Selat Hormuz merupakan jalur perdagangan sekitar 30 persen minyak mentah, 20 persen gas alam cair, dan 40 persen pupuk urea dunia. Sementara Laut Hitam adalah jalur perdagangan 20-30 persen gandum, jagung, dan minyak nabati dunia, serta 40 persen pupuk dunia.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/04/1e867db5cb3ce3f3ecec55a77060bed6-000_98WG8TN.jpg)
Adapun sekitar 70 persen pasokan bahan baku industri petrokimia Indonesia, seperti nafta, selama ini berasal dari kawasan Timur Tengah. Konflik yang memicu gangguan jalur pelayaran di Selat Hormuz serta kerusakan sejumlah fasilitas produksi di kawasan tersebut membuat pasokan bahan baku tersendat.
Dalam industri petrokimia, nafta menjadi bahan baku penting karena digunakan untuk membuat berbagai macam bahan kimia, seperti butadiena (untuk sarung tangan, ban kendaraan, karet sintetis). Lalu, etilena untuk menghasilkan polietilena (botol plastik, kontainer, dan produk plastik lainnya. Ada pula propilena (suku cadang otomotif, mainan, kemasan), dan lainnya.
Selain faktor jalur logistik, pelaku industri juga mulai menyesuaikan strategi pengadaan bahan baku. Produsen petrokimia kini memanfaatkan kombinasi atau pencampuran (cocktail) berbagai sumber bahan baku atau feedstock untuk menjaga stabilitas biaya produksi.
Menurut Fajar, perusahaan petrokimia telah menemukan konfigurasi proses yang memungkinkan pencampuran bahan baku dari beberapa sumber sehingga dapat menekan dampak kenaikan harga minyak.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/07/327101a87a4b45381fbd97d921b0ee9f-20260307_KID_AFP_Teluk_Hormuz_mumed.jpg)
Di sisi lain, sanksi Amerika Serikat terhadap Rusia juga memicu pergeseran arus perdagangan energi global. Perubahan tersebut memaksa banyak negara dan pelaku industri menata kembali rantai pasok energi serta bahan baku industri petrokimia.
Dalam kondisi tersebut, sejumlah produsen kini memilih memprioritaskan pemenuhan kontrak lama dengan pelanggan. Pesanan yang sudah terikat kontrak tetap dilayani, tetapi sebagian perusahaan menahan pembukaan order atau pesanan baru sampai kondisi harga energi lebih stabil.
”Pabrik sekarang fokus menyelesaikan kontrak yang sudah ada. Kontrak lama dicicil dulu sampai selesai, tetapi untuk order baru banyak yang belum dibuka,” kata Fajar.
Ia menambahkan, lonjakan harga minyak yang terjadi dalam beberapa hari terakhir juga belum sepenuhnya berdampak pada biaya produksi industri. Kenaikan harga minyak baru terjadi sejak akhir pekan lalu sehingga sebagian pabrik masih memanfaatkan stok bahan baku yang dibeli dengan harga sebelumnya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/01/07/87d711af-dae0-4ccb-b7cb-ebb9b521232b.jpg)
Industri juga memiliki ruang fleksibilitas pada penggunaan elpiji dan bahan bakar lainnya. Produsen dapat meningkatkan produksi elpiji dengan mengurangi alokasi bahan baku untuk sektor petrokimia apabila diperlukan.
Dengan berbagai penyesuaian tersebut, Fajar menilai potensi kenaikan biaya produksi industri masih relatif terbatas. ”Kalaupun ada kenaikan, kemungkinan tidak sampai 5 persen dari biaya produksi. Kemungkinan besar harga masih bisa dipertahankan,” ujarnya.
Di sisi lain, ia berharap upaya diplomasi di Timur Tengah dapat meredakan ketegangan yang sempat memicu kekhawatiran pasar energi global. Sejumlah pemimpin kawasan dilaporkan melakukan kunjungan diplomatik ke Teheran untuk menurunkan eskalasi konflik dengan Iran.
Menurut Fajar, pelaku industri masih menunggu perkembangan harga minyak dalam beberapa hari ke depan sebelum mengambil keputusan lebih lanjut terkait produksi dan harga produk.
”Kita berharap akhir pekan ini sudah terlihat kecenderungan harga di level dasar atau bottom line-nya di mana,” katanya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/02/11/2611191419302f6aa6558721825e68d2-Terminal_LPG_Tanjung_Sekong_Pertamina_3_.JPG)
Sementara itu, Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Ban Indonesia (APBI) sekaligus Ketua Dewan Karet Indonesia Aziz Pane mengatakan, ketegangan geopolitik memang berpotensi memicu gangguan pasokan minyak dan gas.
Namun, persoalan utama industri di Indonesia justru terletak pada mahalnya harga gas yang sudah lama menjadi masalah struktural. Artinya, konflik di Timur Tengah dan masalah domestik semakin memukul pelaku industri.
”Masalah gas ini belum selesai. Sekarang ditambah konflik di Timur Tengah yang juga berkaitan dengan suplai minyak dan gas,” ujar Aziz.
Menurut dia, harga gas untuk industri di Indonesia saat ini 13-16 dolar AS per million metric british thermal units (MMBTU), meningkat dari sebelumnya sekitar 9–11 dolar AS per MMBTU. Kondisi ini membuat daya saing industri nasional semakin tertekan dibandingkan dengan negara pesaing di kawasan.
Aziz mencontohkan, harga gas industri di Malaysia berkisar sekitar 4 dolar AS per MMBTU, sedangkan di Thailand sekitar 3 dolar AS per MMBTU. Perbedaan biaya energi tersebut membuat struktur biaya produksi industri di Indonesia relatif lebih tinggi.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2024/09/10/9ef4d00e-a681-46d6-8704-681c18aab815.jpg)
Sementara itu, Vietnam dinilai memiliki ketahanan industri yang lebih kuat karena dukungan infrastruktur energi dan pasokan bahan baku yang stabil.
Sebagian industri di negara tersebut bahkan mendapatkan suplai energi langsung dari Rusia, didukung jaringan pipa dan ekosistem industri yang telah berkembang.
”Ekosistem industrinya (Vietnam) sudah terbentuk dengan baik. Infrastruktur energi mereka juga kuat sehingga lebih tahan ketika terjadi konflik geopolitik,” kata Aziz.
Di tengah ketidakpastian global, pelaku industri dalam negeri sebenarnya telah menyiapkan langkah mitigasi, termasuk menambah stok bahan baku dan melakukan lindung nilai (hedging) terhadap fluktuasi nilai tukar rupiah. Namun, langkah tersebut hanya bersifat sementara karena stok bahan baku memiliki batas waktu.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/02/28/950101f6b31d4f6f71cc91b59a5d55c3-20260228DRA007.JPG)
Aziz menilai, terbukanya kembali jalur pelayaran untuk beberapa kapal di kawasan Selat Hormuz yang memungkinkan kapal pengangkut energi melintas menjadi kabar positif bagi pasokan energi global dalam jangka pendek.
”Syukur ada kapal yang bisa melintas sehingga sementara ini menyelamatkan pasokan untuk industri,” ujarnya.
Meski demikian, ia mengingatkan bahwa ketahanan industri nasional tidak bisa hanya bergantung pada kondisi eksternal. Pemerintah perlu segera membenahi ekosistem industri domestik, terutama terkait ketersediaan dan harga gas bagi sektor manufaktur.
Menurut Aziz, industri yang terpaksa tutup akibat tekanan biaya akan sulit untuk bangkit kembali karena kerusakan ekosistem produksi, termasuk rantai pasok dan tenaga kerja.
Selain itu, ia juga menilai perlunya penguatan perlindungan pasar domestik dari serbuan produk impor agar industri dalam negeri tetap memiliki ruang tumbuh dan menjaga daya beli masyarakat.
Situasi geopolitik global yang tidak menentu seharusnya menjadi momentum bagi pemerintah dan pelaku industri untuk memperkuat ketahanan industri nasional secara bersama.
”Tidak ada jalan lain selain kompak menghadapi situasi seperti ini. Yang paling penting sekarang adalah memperhatikan kondisi industri dalam negeri, terutama soal pasokan dan harga gas,” ujarnya.
Penulis:
Aguido AdriEditor:
Budi SuwarnaPenyelaras Bahasa:
Teguh Candra