Patah Hati gara-gara Raja Ampat

Kondisi Raja Ampat kini bikin patah hati warga dan warganet. Mereka berharap kawasan itu dijaga selamanya.

07 Jun 2025 16:18 WIB · Nusantara

Oleh Cornelius Helmy Herlambang

Praktik tambang bukan hanya rawan menghapus keindahan kawasan Raja Ampat di Papua Barat Daya. Aktivitas itu juga rentan menghancurkan mimpi orang-orang yang ingin singgah ke sana.

Setelah kompak mendoakan tim nasional Indonesia menang lawan China di kualifikasi Piala Dunia 2026, banyak warganet dan warga satu suara tentang Raja Ampat. Mereka tidak rela saat Pulau Gag, satu dari pulau di kawasan berjulukan ”Surga Terumbu Karang Dunia” itu, diwarnai aktivitas tambang.

Pulau Gag mungkin hanya secuil di kawasan Raja Ampat. Luasnya hanya 6.060 hektar. Ukurannya sangat kecil dibandingkan dengan luas konservasi kawasan Raja Ampat yang mencapai 1,3 juta hektar.

Perbandingan citra satelit yang menunjukkan kondisi Pulau Gag, Kabupaten Raja Ampat, Papua Barat Daya, selama beberapa tahun terakhir.

Meski kecil, kelestarian Gag disebut vital menjamin keberlangsungan kawasan Raja Ampat. Setitik kerusakan di Gag bisa jadi masalah besar bagi ekosistem Raja Ampat. Desakan agar tambang di sana ditutup selamanya pun membahana.

”Sekali seumur hidup harus ke sana. Tempat itu surga. Sayang kalau nanti rusak karena tambang,” kata Rani Chandra, warga Tasikmalaya, Jawa Barat, yang pernah ke Raja Ampat empat tahun lalu, Sabtu (7/6/2025).

Gunawan, warga Bandung, Jabar, menyebut, jika suka menyelam, terumbu karang di sana bisa jadi bakal menjadi yang paling indah seumur hidup.

”Warna-warni di bawah lautan bakal sulit dilupakan. Hentikan tambang,” katanya.

----EKSPEDISI TANAH PAPUA -- Kawasan perbukitan yang menjadi lokasi penambangan di Pulau Gag, Raja Ampat, Papua Barat, Sabtu (5/6/2021). Penambangan material nikel di pulau itu saat ini masih terus berlangsung.

Aspirasi yang sama juga disuarakan di dunia maya. Akun @Veronica.twns di Instagram, misalnya, menulis ”Sakit hati tiap hari lihat alam Indonesia porak poranda” di postingan Instagram @didikasim tentang Raja Ampat berjudul ”Sebuah Catatan tentang Surga yang Luka”.

Pada Sabtu (7/6/2025) sore, postingan Didi yang berkisah pengalamannya di Raja Ampat itu disukai hingga 134.000 kali.

Quote

Sekali seumur hidup harus ke sana. Tempat itu surga. Sayang kalau nanti rusak karena tambang.

Akan tetapi, Raja Ampat bukan hanya kisah untuk mereka yang pernah ke sana saja. Di berbagai kolom komentar berbagai postingan tentang kerusakan Raja Ampat, mereka yang belum pernah ke sana juga patah hati. 

Akun @fhrezzy, misalnya, menulis ”Cita-citaku mau ke sanah. Aku MARAHHHHHH#saverajaampat” di kolom komentar postingan akun Instagram milik @muklay. 

Mengomentari postingan yang sama, akun @godfime menulis ”Bukan hanya merusak alam, kalian sudah merusak cita-cita dan mimpi orang orang yang mau kesana #saverajaampat”.

----EKSPEDISI TANAH PAPUA -- Kawasan pantai yang sebagian tertutup lumpur di Pulau Gag, Raja Ampat, Papua Barat, Minggu (6/6/2021). Penambangan material nikel di pulau itu saat ini masih terus berlangsung.

Postingan @muklay itu berupa karikatur seorang anak yang marah dan menangis. Latar belakang kartun itu adalah pemandangan indah Raja Ampat.

Dalam postingan yang disukai lebih dari 20.000 hingga Sabtu sore itu dituliskan juga ”Belum pernah kesana tapi selalu pengen kesana. Sekarang salah satu destinasi terindah di dunia akan rusak”.

Raja Ampat bukan hanya milik warga Papua, tak sekadar punya orang Indonesia. Raja Ampat adalah kekayaan dunia yang semestinya dijaga, bukan justru bikin patah hati bersama.




Kerabat Kerja

Penulis:

Cornelius Helmy Herlambang
 | 

Editor:

Haris Firdaus