Paus Leo XIV mengecam dampak perbudakan yang terasa hingga kini. Paus juga mengecam penjajahan atas sumber daya migas yang terus memicu perang.
22 Apr 2026 19:00 WIB · Internasional
AP/Themba Hadebe
MALABO, RABU — Pemimpin Tertinggi Gereja Katolik Roma Paus Leo XIV terus menyoroti kesengsaraan yang dialami umat manusia akibat perang, perbudakan, dan kekerasan. Paus mengakhiri kunjungan apostolik di Afrika dengan melawat ke sebuah penjara di Guinea Ekuatorial, Rabu (22/4/2026).
Kunjungan Paus Leo ke penjara di Bata, kota pelabuhan di Afrika tengah, melanjutkan tradisi mendiang Paus Fransiskus. Dengan mengunjungi penjara, Paus Fransiskus bermaksud memberikan harapan kepada para narapidana, mengingatkan bahwa gereja bersama mereka, sekaligus menyoroti penyalahgunaan peradilan, kepadatan penjara, dan ketidakadilan lainnya.
Paus Leo XIV melawat selama 11 hari ke empat negara di Afrika, yakni Aljazair, Angola, Kamerun, dan Guinea Ekuatorial. Dalam kunjungan di negara-negara sebelumnya, Paus menekankan lagi pentingnya persatuan dan perdamaian, rekonsiliasi, serta sikap saling menghormati.
Menjelang kunjungan Paus Leo ke penjara, 70 organisasi hak asasi manusia menerbitkan surat terbuka. Mereka mendesak Paus untuk berbicara terutama tentang deportasi migran oleh AS ke Afrika dan mendorong negara-negara Afrika untuk tidak terlibat dalam praktik tersebut.
”Praktik-praktik ini mengabaikan perlindungan kemanusiaan, mengekspose pengungsi pada penahanan dan paksaan, dan membuat individu-individu tersebut dikenai pengusiran paksa, yang secara langsung bertentangan dengan hukum internasional,” tulis mereka.
”Kondisi deportasi ini dilakukan juga mencerminkan pengabaian yang sangat mengkhawatirkan terhadap kehidupan dan keselamatan manusia. Kami memohon campur tangan Paus Leo XIV untuk mencegah negara-negara Afrika terlibat dalam pelanggaran ini dan sebaliknya melindungi individu-individu ini,” kata kelompok-kelompok tersebut.
Sebelumnya, saat kunjungan di Angola, Minggu (19/4/2026), Paus Leo mengecam perbudakan. Ia menyebut perbudakan telah menimbulkan kesengsaraan dan kemiskinan hingga saat ini di Afrika dan di negara-negara tempat budak tersebut dikirim. Dampak perbudakan warga Afrika masih menghantui sampai kini.
Laman kantor berita Associated Press edisi Senin (20/4/2026) menulis, Paus Leo memiliki leluhur pemilik budak dan juga budak Afrika. Ia dengan sepenuh hati mengingatkan derita dan kesedihan akibat perbudakan saat berbicara di Gereja Bunda Suci Muxima di Sungai Kwanza.
Lokasi tersebut merupakan pelabuhan tempat pemberangkatan budak, sekaligus menjadi tempat pembaptisan dan gereja. Paus Leo XIV melanjutkan tradisi Paus Leo XIII yang secara terbuka mengkritik perbudakan dalam dua ensiklik tahun 1888 dan 1890.
Paus Leo memimpin misa dalam bahasa Portugis dan mendaraskan doa Rosari. Ia mengingatkan, selama berabad-abad banyak orang berdoa dalam sukacita, tetapi banyak juga yang berdoa dalam derita mereka.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/04/19/f73ee523-7997-4d3c-8a21-dec6c3a6db92.jpg)
Paus pada Selasa (21/4/2026) kembali mengingatkan, saat ini kemanusiaan dan peradaban sedang terancam oleh perang yang berkecamuk dan runtuhnya hukum internasional. Paus mengecam penjajahan modern atas sumber daya seperti minyak dan gas yang memicu berbagai konflik saat ini.
Menurut Anthea Butler di Pusat Studi Koch, Universitas Oxford, Inggris, bagi warga Katolik kulit hitam, kedatangan Paus Leo ke Muxima adalah momen pemulihan. Dia mengingatkan, banyak orang Afrika menjadi Katolik karena ”Code Noir”, yakni kewajiban menjadikan seorang budak menganut agama Katolik Roma oleh pemiliknya.
”Sebagian budak lainnya sudah memeluk iman Katolik ketika mereka diperdagangkan dari Angola ke negara-negara jajahan,” kata Butler yang juga keturunan Katolik Afrika dari Louisiana, AS. Louisiana merupakan salah satu asal-usul leluhur Paus Leo.
Angola menjadi jajahan Portugis sejak abad ke-15 karena adanya dorongan bisnis perbudakan. Sekurangnya 5 juta orang diberangkatkan dari Angola melintasi Samudra Atlantik dalam perdagangan budak di Benua Amerika. Jumlah tersebut hampir mencapai separuh dari 1,25 juta budak yang dibawa dari Benua Afrika ke Amerika.
Dalam kaitannya dengan Gereja Katolik, Christopher J Kellerman, seorang rohaniwan Jesuit, mengatakan, pada 1452 Paus Nicholas V mengeluarkan izin bagi Raja Portugal dan penerusnya untuk menaklukkan, menguasai, berperang, dan menundukkan orang-orang di daerah jajahan. Izin tersebut juga memberikan keleluasaan bagi penjajah Portugis untuk memperbudak seseorang.
Kebijakan itu melandasi Doktrin Penemuan yang menjadi dasar penjajahan di Afrika dan Amerika. Vatikan pada 2023 secara resmi menghapus Doktrin Penemuan.
Kellerman menambahkan, sebagian besar budak itu pertama-tama dijual oleh sesama orang Afrika. Mereka bukan orang-orang yang langsung ditangkap oleh orang Eropa lalu dijadikan budak.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/04/19/74fb889a-2e87-4321-a3de-9a2cf18ec020.jpg)
Sementara pengalaman buruk Angola, ujar Kellerman, adalah bangsa Portugis di Muxima membeli budak-budak dan juga membuka tanah jajahan. Hal itu berdampak pada masyarakat bekas korban perbudakan hingga kini.
Reuters dalam laporan Race Gap Black White mengungkapkan kesenjangan terjadi sejak kehamilan hingga kelahiran. Perempuan kulit hitam di AS memiliki risiko kematian tiga sampai empat kali lebih tinggi daripda perempuan kulit putih.
Dari sisi ketahanan pangan, warga Afro-Amerika 2,5 kali lebih rentan mengalami kelaparan dibandingkan dengan warga kulit putih. Adapun dari sisi pendidikan, setidaknya hanya sepertiga pelajar Afro-Amerika yang bisa mendapat gelar strata 1. Sementara pelajar kulit putih hampir separuhnya bisa meraih gelar strata 1.
Para mahasiswa kulit hitam AS pun terbelit pinjaman kuliah minimal 7.000 dollar AS saat lulus. Jumlah ini lebih tinggi dibandingkan dengan mahasiswa atau mahasiswi kulit putih.
Menyikapi tragedi kemanusiaan tersebut, Vatikan tidak tinggal diam. Paus Yohanes Paulus II pada 1985 dalam kunjungan ke Kamerun menyampaikan permintaan maaf pada Benua Afrika atas perbudakan yang terjadi di masa silam. Bahkan, pada 1992, Paus Yohanes Paulus II dalam kunjungan di Pulau Goree, Senegal, pusat perbudakan terbesar di Afrika Barat, mengatakan, perbudakan adalah tragedi kemanusiaan terlebih jika dilakukan oleh orang yang mengaku Kristiani.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/04/22/530c98d07957569cf3e33a42fe691a59-Angola_Africa_Pope.jpg)
Terkait studi asal-usul (genealogi) yang dilakukan Henry Louis Gates Jr di The New York Times, diketahui 17 leluhur Paus Leo XIV berdarah Afrika. Mereka terdaftar sebagai Black, Creole, atau orang bebas kulit berwarna.
Gates, guru besar Universitas Harvard, dalam seri dokumenter PBS Finding Your Roots akan menyampaikan temuannya saat audiensi dengan Paus Leo XIV di Vatikan, 5 Juli mendatang.
Kardinal Wilton Gregory, mantan Uskup Agung Washington dan Kardinal Afro-Amerika pertama, menyatakan siap mendukung pertemuan Gates dan Paus Leo XIV. ”Ini sangat penting bagi warga Afro-Amerika dan kulit berwarna untuk mengetahui bahwa Bapa Suci memiliki warisan darah Afrika. Paus juga akan senang mengetahui dirinya memiliki hubungan darah dengan orang-orang yang dilayaninya sepenuh hati,” kata Gregory pada kantor berita Associated Press. (AP/Reuters)
Penulis:
Iwan SantosaEditor:
Fransisca Romana Ninik WPenyelaras Bahasa:
Retma Wati