Vatikan kembali berusaha jadi juru damai dalam perang Ukraina. Rusia-Ukraina masih terus saling serang.
05 Jun 2025 14:00 WIB · Internasional
VATIKAN, KAMIS — Pemimpin Tertinggi Gereja Katolik Roma Paus Leo XIV menelepon Presiden Rusia Vladimir Putin. Mereka membahas mengenai penyelesaian perang di Ukraina, terutama percepatan gencatan senjata.
Menurut keterangan Kepala Kantor Kehumasan Takhta Suci Vatikan, Matteo Bruni, pada Kamis (5/6/2025), pembicaraan itu berlangsung pada Rabu (4/6/2025). ”Paus meminta Rusia agar mengutamakan perdamaian. Caranya, dengan mengedepankan dialog sebagai moda penyelesaian masalah dan membangun kontak positif di antara kedua pihak yang bertikai,” kata Bruni yang dikutip oleh Catholic News Agency.
Menurut Bruni, Paus juga membicarakan mengenai krisis kemanusiaan di Ukraina. Ia menekankan pentingnya memastikan bantuan sosial bisa disebarluaskan dengan baik kepada masyarakat Ukraina yang membutuhkan.
Vatikan telah berusaha jadi juru damai perang Ukraina sejak awal perang meletus pada Februari 2022. Uskup Bologna, Italia, Kardinal Matteo Zuppi merupakan salah satu petinggi Vatikan yang menjadi penengah di dalam proses pertukaran tahanan antara Rusia dan Ukraina.
Rusia memuji peran Vatikan. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Rusia Maria Zakharova mengatakan, di dalam proses mediasi, Uni Emirat Arab dan Vatikan menunjukkan teladan dengan tidak memihak dan mengutamakan kemanusiaan.
Sampai Mei 2025, sudah beberapa kali Kyiv-Moskwa bertukar tahanan dengan perantara sejumlah pihak. Pertukaran terbaru, 12.000 tahanan dari kedua belah pihak, dilakukan selepas perwakilan Rusia-Ukraina berunding di Turki.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/05/21/786dd11d4e164688a73ac70f033d99ec-VATICAN_RELIGION_POPE_AUDIENCE_129921152.jpg)
Di dalam pembicaraan dengan Putin, Paus Leo XIV menitipkan salam untuk Patriak Kiril, Pemimpin Tertinggi Gereja Ortodoks Rusia. Patriak Kiril mengucapkan selamat kala Leo XIV terpilih bulan lalu.
Sementara itu, menurut pernyataan dari Istana Kepresidenan Rusia, Kremlin, Putin menghargai telepon dari Paus. Moskwa mengatakan, mereka juga memilih diplomasi sebagai jalur penyelesaian konflik.
Meskipun begitu, Kremlin menekankan bahwa Rusia sudah berusaha mengupayakan perdamaian. Justru, menurut mereka, Ukraina yang meninda-nunda gencatan senjata. ”Rezim Kyiv menuai untung dengan memperpanjang konflik. Mereka menyabotase berbagai infrastruktur sipil Rusia,” demikian bunyi pernyataan Kremlin.
Pada 12 Mei lalu, Paus Leo XIV menelepon Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy. Pada misa sehari sebelumnya, Paus juga membahas mengenai perang Ukraina di dalam misa di Vatikan.
”Saya selalu mendoakan rakyat Ukraina. Penderitaan serta harapan rakyat Ukraina terus ada di hati saya,” ujarnya setelah membacakan doa Regina Coeli.
Perhatian Paus Leo ini melanjutkan perhatian almarhum Paus Fransiskus. Di dalam misa terakhir sebelum meninggal, Paus Fransiskus juga membahas mengenai Ukraina di dalam misa Paskah. Ia mendoakan agar rakyat Ukraina segera diberi berkat perdamaian.
Zelenskyy melalui akun resminya di X mengatakan, ia dan Paus secara khusus membicarakan persoalan anak-anak Ukraina yang diambil oleh Rusia. Menurut Zelenskyy, Vatikan terus membantu di dalam upaya memulangkan mereka ke tanah air dan keluarga masing-masing.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/05/21/9f1bec02-026d-4ce2-8151-355078192ebe_jpg.jpg)
Pengupayaan gencatan senjata antara Rusia dan Ukraina rumit karena kedua belah pihak sama-sama tidak menyutujui persyaratan dari pihak satunya. Syarat dari Rusia ialah tidak mau mengembalikan Semenanjung Crimea, Zaporizhzhia, Luhansk, Donetsk, dan Kharkiv yang dicaplok Moskwa.
Selain itu, Rusia melarang Ukraina mengembangkan proporsi militer ataupun terlibat aliansi pertahanan mana pun, terutama NATO. Ukraina menolak persyaratan tersebut karena tidak adil dan merupakan kapitulasi dibandingkan dengan keinginan untuk berunding.
Pada Rabu, Ukraina meledakkan Jembatan Kerch di Rusia. Kyiv juga melancarkan Operasi jaring Laba-laba, yaitu operasi serentak dengan menggunakan pesawat nirawak untuk merusak sejumlah fasilitas umum di Rusia.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/05/26/18e720b2f1efb4b27ac0a3537e3d21aa-wires_photo_2025_05_26T102228.930.jpg)
Sulit untuk melihat sejauh mana Ukraina bisa terus mempertahankan diri ataupun menyerang Rusia. Amerika Serikat yang dulu pendukung terbesar Ukraina kini di bawah Presiden Donald Trump menjauh. AS juga secara drastis mengurangi pengiriman bantuan alutsista ataupun dana ke Kyiv.
Ukraina telah memberi konsesi pengambilan dan pengolahan seluruh mineral strategis mereka kepada AS dengan harapan bisa mempercepat gencatan senjata. Akan tetapi, selain kontrak itu, tidak ada tanda-tanda Washington DC terlibat lebih lanjut di dalam mengupayakan perdamaian.
Eropa menantikan kejelasan sikap AS. Menteri Pertahanan Pete Hegseth dijadwalkan ke Brussels, Belgia, untuk menghadiri pertemuan para menhan NATO pada hari ini. Tanpa sokongan AS, bantuan Eropa ke Ukraina tidak akan cukup untuk menolong Ukraina bertahan dari serangan Rusia. (AFP/Reuters)
Penulis:
Laraswati Ariadne AnwarEditor:
Kris MadaPenyelaras Bahasa:
Kusnadi .