Paus Leo XIV: Agama Bukan Alasan untuk Membenarkan Perang

Kunjungan Paus Leo XIV yang sarat pesan damai sekaligus menampilkan evolusi diplomasi Gereja Katolik yang dinilai semakin menjauh dari Eropa.

29 Nov 2025 12:01 WIB · Internasional

AFP/OZAN KOSE

Oleh Elsa Emiria Leba

IZNIK, SABTU — Dalam kunjungan apolistik di Timur Tengah, Paus Leo XIV mengecam perang atas nama agama. Diplomasi yang sarat pesan damai tersebut sekaligus menunjukkan evolusi diplomasi Gereja Katolik beberapa tahun terakhir. Vatikan berusaha menjangkau wilayah luar Eropa.

Pada Sabtu (29/11/2025), Paus Leo XIV dijadwalkan mengunjungi Masjid Biru di Istanbul. Dengan gestur yang sangat simbolis, Paus Leo mengikuti jejak Paus Benediktus XVI yang mengunjungi masjid itu pada 2006 dan Paus Fransiskus pada 2014.

Saat berada di Iznik, Jumat, Paus Leo mengikuti perayaan 1.700 tahun Konsili Nikea Pertama bersama para pemimpin agama Kristen Timur Tengah. ”Kita harus dengan tegas menolak penggunaan agama untuk membenarkan perang, kekerasan, ataupun segala bentuk fundamentalisme atau fanatisme. Jalan yang harus ditempuh adalah jalan pertemuan, dialog, dan kerja sama persaudaraan,” kata Paus Leo XIV yang melakukan perjalanan apolistik pertama ke Turki dan Lebanon selama 27 November-2 Desember 2025.

Kunjungan ke Iznik merupakan inti dari lawatan selama empat hari di Turki. Iznik adalah tempat Konsili Nikea Pertama berlangsung pada tahun 325 Masehi. Konsili itu menghasilkan Kredo Nikea, inti kepercayaan umat Kristen yang mengakui Yesus setara dengan Allah Bapa.

Setelah itu, umat Kristen mulai terpecah menjadi berbagai denominasi setelah terjadi peristiwa Skisma Timur–Barat tahun 1054. Kala itu, umat Katolik dan Ortodoks berpisah karena perbedaan pandangan soal teologi, liturgi, dan politik. Perpecahan lain mengguncang kekristenan pada abad-abad berikutnya.

Patriark Bartholomew I dari Konstantinopel (tengah) dan Paus Leo XIV meninggalkan tempat setelah misa doa ekumenis di dekat Basilika Bizantium Santo Neophytos yang tenggelam di tepi Danau Iznik, Turki, Jumat (28/11/2025). Pemimpin tertinggi agama Katolik Roma sedunia itu melakukan kunjungan apolistik pertama ke Turki dan Lebanon selama 27 November-2 Desember 2025.

Pemimpin tertinggi Gereja Katolik Roma sedunia itu lantas mendesak agar para petinggi agama mengatasi perpecahan yang terjadi selama berabad-abad. Sungguh sayang ada 2,6 miliar orang Kristen di dunia tidak lebih erat bersatu.

”Saat ini, seluruh umat manusia, yang tertimpa kekerasan dan konflik, sedang menyerukan rekonsiliasi. Jika umat Kristen dapat mengatasi perbedaan, itu akan menawarkan pesan perdamaian dan persaudaraan universal yang melampaui batas-batas komunitas dan negara kita,” tutur Paus Leo XIV.

Patriark Ekumenis Gereja Ortodoks Bartholomeus I turut mendesak para pemimpin agama Kristen untuk tidak sekadar mengenang masa lalu. Mereka harus ”bergerak maju” bersama.

Di era kontemporer ini, konflik terbaru terjadi antara Gereja Ortodoks Rusia, Gereja Ortodoks Ukraina, dan Gereja Ortodoks Konstantinopel (Turki) selama perang Ukraina-Rusia. Pada 2018, Konstantinopel setuju memberi Gereja Ortodoks Ukraina kemandirian penuh. Keputusan ini secara efektif melepas Ukraina dari otoritas Moskwa.

Persiapan Lebanon

Setelah menyelesaikan agenda di Turki, Paus Leo XIV akan menuju Lebanon, Minggu (30/11/2025). Perdamaian diperkirakan kembali menjadi tema utama dalam lawatan di negara dengan jumlah umat Kristen terbesar di Timur Tengah itu.

Lebanon sedang terguncang oleh krisis ekonomi, konflik Hizbullah-Israel, dan banjir satu juta pengungsi dari Suriah serta Palestina. Kunjungan selama tiga hari di sana mencakup sejumlah agenda, termasuk berdoa di lokasi ledakan pelabuhan Beirut pada 4 Agustus 2020 dan pertemuan dengan kaum muda.

Rakyat Lebanon sangat menantikan kunjungan Paus yang dapat mendongkrak perhatian dunia ke negara itu. Kelompok Hizbullah pun menyambut baik.

”Saya menyambut baik kunjungan Paus ke Lebanon. Saya telah menugaskan anggota dewan politik kami untuk mengunjungi Kedutaan Besar Kepausan dan menyampaikan surat dari Hizbullah kepada Paus, yang juga akan dipublikasikan di media,” kata Pemimpin Hizbullah Naim Qassem, Jumat, dalam pidato di televisi.

FILE - Sheik Naim Kassem, Hezbollah's deputy leader speaks during a memorial of a Hezbollah fighter who killed few days ago in South Lebanon by an Israeli airstrike, in Beirut, Lebanon, Thursday, Dec. 28, 2023. (AP Photo/Hussein Malla, File) *** Local Caption *** Arsip-Wakil Pemimpin Hezbollah Sheik Naim Kassem berbicara saat peringatan seorang pejuang Hizbullah yang tewas beberapa hari lalu di Lebanon Selatan akibat serangan udara Israel, di Beirut, Lebanon, pada 28 Desember 2023.

Qassem melanjutkan, kunjungan tersebut terjadi di momen penting. ”Kami berdoa agar Bapa Suci berkontribusi dalam menyebarkan perdamaian, membebaskan, mengakhiri agresi Israel, dan mendukung Lebanon serta kaum tertindas, sebagaimana yang selalu kami ketahui,” ujarnya.

Lebanon sedang menghadapi tekanan berat setelah gencatan senjata antara Hizbullah dan Israel pada November 2024. Israel berulang kali mengebom negara itu meski ada kesepakatan gencatan senjata.

Israel berdalih ingin menghentikan Hizbullah memperkuat kembali persenjataannya. Tel Aviv turut menempatkan pasukan di lima posisi perbatasan. Seiring meningkatnya serangan Israel, banyak pihak khawatir konflik kembali meluas.

”Banyak keluarga merasa mereka menjalani hari demi hari dengan sangat sedikit harapan akan masa depan. Jadi, kunjungan Bapa Suci bukan sekadar simbolis, melainkan tanda yang sangat konkret bahwa Lebanon tidak dilupakan,” kata Marielle Boutros, Koordinator Proyek Aid to the Church in Need di Lebanon, kepada NPR.

Evolusi diplomasi

Perjalanan apolistik perdana Paus Leo XIV kian menegaskan perubahan diplomasi Gereja Katolik. Vatikan dinilai mulai ”menjauh” dari Eropa.

Paus Leo XIV memilih Turki dan Lebanon. Pengumuman itu jauh dari prediksi karena orang-orang mengira ia akan memilih Amerika Serikat, negara kelahirannya, atau Peru, negara pelayanannya. Ada spekulasi pula ia akan berkunjung ke Aljazair, tempat kelahiran Santo Agustinus yang menjadi inspirasi Ordo Santo Agustinus yang pernah dipimpinnya.

Turki dan Lebanon yang terletak di Timur Tengah adalah kawasan yang sarat perang dan perpecahan agama. Namun, Turki khususnya adalah pusat kekristenan selama ratusan tahun. Kunjungan ini memberi Paus Leo XIV tantangan diplomatik dan geopolitik terdalam selama masa jabatannya sejauh ini.

”Ini bukan hanya tentang masa lalu kekristenan. Ini tentang masa kini, dan mereka sangat berharap ini juga untuk masa depan,” tutur Fiona McCallum Guiney, cendekiawan Katolik Maronit dan Kekristenan Timur Tengah, kepada The New York Times.

Paus Leo XIV meninggalkan lokasi setelah kebaktian doa ekumenis di dekat Basilika Bizantium Santo Neophytos yang tenggelam di tepi Danau Iznik, Turki, Jumat (28/11/2025). Pemimpin tertinggi agama Katolik Roma sedunia itu melakukan kunjungan apolistik pertama ke Turki dan Lebanon selama 27 November-2 Desember 2025.

Pendahulu Paus Leo XIV, mendiang Paus Fransiskus (jabatan periode 2013-2025), mengadakan 66 perjalanan apostolik ke luar negeri. Ia berusaha menyeimbangkan kunjungan antara Eropa dan negara-negara Muslim, Asia, serta Timur Tengah.

Paus asal Argentina itu ingin menjangkau tempat-tempat yang terabaikan Gereja Katolik. Ketimbang paus lainnya, Paus Fransiskus banyak berkunjung ke Asia Timur dan Asia Tenggara, termasuk Myanmar, Indonesia, Timor Leste, Papua Niugini, dan Singapura.

Uniknya, Paus Fransiskus tidak pernah berkunjung ke Argentina dan Spanyol setelah menjabat. Spanyol adalah basis agama Katolik.

Namun, diplomasi perdamaian ala Paus Leo XIV tampaknya berbeda dengan Paus Fransiskus. Michael Driessen, profesor ilmu politik di Universitas John Cabot, Roma, menyampaikan, Paus Leo XIV lebih condong ke arah diplomasi institusional dan formal, sedangkan Paus Fransiskus terkenal dengan gestur-gestur simbolis yang berani.

”Kita akan melihat lebih sedikit gestur simbolis profetik yang menjadi ciri khas Paus Fransiskus, dan lebih banyak diplomasi institusional. Pertanyaan empirisnya: mana yang akan lebih berhasil?” kata Driessen kepada National Catholic Reporter, Juli lalu. (AFP/REUTERS)


Kerabat Kerja

Penulis:

Elsa Emiria Leba
 | 

Editor:

Fransisca Romana Ninik W
 | 

Penyelaras Bahasa:

Nur Adji