Dengan terpilihnya Paus Leo XIV genderang kembali ditabuh dan seluruh dunia diundang bekerja sama demi terwujudnya reformasi sosial yang kian menggembirakan dunia.
09 Mei 2025 18:00 WIB · Opini
Penerus Paus Fransiskus muncul di luar prediksi kebanyakan spekulan dunia. Ternyata paus pertama asal Amerika Serikat, Paus Leo XIV, yang sebelumnya dikenal dengan sapaan Robert Francis Prevost, terpilih untuk menggembalakan 1,4 miliar umat Katolik sedunia.
Akankah dia meneruskan cita-cita Paus Leo XIII yang mengembuskan angin reformasi sosial?
Dunia kaget kala menatap Paus Leo XIV tampil di balkon Basilika Santo Petrus, Vatikan, Kamis (8/5/2025). Semula sejumlah pengamat menempatkannya di kalangan calon paus yang kurang terpandang. Namun, justru dari kalangan ini dia dipanggil untuk mengemban tugas penggembalaan umat manusia dalam sebuah keluarga besar yang merangkul semua pihak.
Sebagai seorang gembala yang rendah hati, sederhana, cerdas, dan merakyat, dia langsung menyerukan pentingnya damai, berjalan bersama (sinodalitas), dan penghargaan terhadap pendahulunya yang telah berjasa luhur.
Seruan perdana ini mencerminkan kehendaknya untuk meneruskan langkah-langkah Paus Fransiskus dalam menanggapi keadaan dunia sekarang tanpa kehilangan khazanah tradisional yang telah berusia 2.000-an tahun.
Dambaan hati terdalam Paus Leo XIV yang mempriotaskan perdamaian ikut menyejukkan dunia yang sedang dilanda pelbagai konflik sosial yang berkepanjangan (Timur-Tengah, Rusia-Ukraina, India-Pakistan). Masih banyak jalan damai yang bisa ditempuh untuk memecahkan masalah-masalah dunia.
Perang sama sekali bukan satu-satunya langkah penyelesaian masalah. Dunia memerlukan damai sehingga rumah bersama ini ditempati dengan tenang dan mendatangkan kesejahteraan bersama. Tanpa damai, dunia akan sulit mewujudkan kehidupan bersama dalam semangat kebersamaan atau sinodalitas.
Pengalaman mondialnya sebagai Uskup Chiclayo di Peru, Amerika Selatan, memungkinkannya untuk membangun jembatan-jembatan penghubung dengan mereka yang berbeda latar belakang, di antaranya budaya, agama, dan sosial.
Presiden Peru Dina Boluarte mengatakan bahwa Paus Leo XIV, yang berkarya di Peru dari tahun 2014 hingga 2023, telah menaburkan benih pengharapan, berjalan bersama mereka yang paling memerlukan bantuan, dan berbagi kegembiraannya dengan masyarakat. Pemilihannya untuk berkarya di Peru bukanlah suatu kebetulan, melainkan sebuah pilihan spiritual dan manusiawi.
Paus Leo XIV mengakui bahwa pilihannya sebagai Paus adalah sebuah panggilan untuk membarui iman, memperjuangkan keadilan, dan memperkuat kesatuan umat manusia. Cita-cita ini mencerminkan kepribadian Paus Leo XIV yang sungguh menanggapi keadaan dunia yang sedang dilanda ketidakadilan dan keterpecahan dalam banyak bidang kehidupan.
Seruan pertama Paus Leo XIV, menurut Art Purcaro, seorang temannya selama beberapa dekade, menunjukkan hidup dan perhatian Sri Paus untuk mewujudkan ajaran sosial Gereja, yang sangat menekankan dimensi kemanusiaan, keadilan, damai, dan kesejahteraan bersama.
Dia tidak hanya mengajarkan nilai-nilai dasariah itu, tetapi dia sungguh menghidupinya kala bertugas di Amerika Latin. Dia ambil bagian dalam memperjuangkan nilai kemanusiaan dan keadilan bagi seluruh umat manusia.
Tak heran, sebagai pengamal pandangan Santo Agustinus dari Hippo, Paus Leo XIV menekankan pentingnya kesatuan dalam hidup persaudaraan. Hati manusia yang mengusahakan kesatuan dan bukan perpecahan sangat didambakan dunia dewasa ini.
Kesatuan ini akan terwujud melalui jembatan dialog, kerja sama, dan penghargaan terhadap perbedaan sebagai kekayaan. Perbedaan dalam dirinya mengandung kekuatan dahsyat dalam membangun dunia umat manusia.
Perjalanan bersama umat manusia dalam mencapai damai dalam cinta kasih akan diteruskan oleh Paus Leo XIV. Cakrawala pandangan rohani yang luas membuatnya untuk memperluas kerja sama dengan semua golongan yang berkendak baik. Spiritualitas keterbukaan dan kerja sama mewarnai seluruh langkah pelayanannya sebagai Paus. Dunia tidak mungkin dapat berkembang dengan baik tanpa semangat kerja sama dalam persaudaraan.
Dalam perjalanan bersama sebagai keluarga besar umat manusia, dunia yang adil dan damai akan mudah terwujud. Kerja sama dengan semua pihak mempercepat perbaikan dan penyembuhan dunia. Pemimpin-pemimpin dunia, seperti Perdana Menteri Spanyol Pedro Sanchez, Presiden Dewan Eropa Antonio Costa, Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen, Presiden Uni Emirat Arab Mohamed Bin Zayed Al Nahyan, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy, Presiden Rusia Vladimir Putin, dan Presiden Lebanon Joseph Aoun, mengharapkan Paus Leo XIV untuk mengusahakan dialog, saling menghargai dalam perbedaan, menjunjung hak asasi, dan harmoni sebagai modal dasar pembangunan dunia.
Pemilihan nama Paus Leo XIV menyimpan keinginan terdalam Sri Paus untuk melakukan reformasi sosial sehari-hari seperti yang dirintis oleh Paus Leo XIII. Dalam zamannya, Paus Leo XIII (1878-1903) telah menerbitkan Ensiklik Rerum Novarum (Hal-hal Baru) yang sampai sekarang menjadi acuan utama ajaran sosial Gereja.
Pada abad ke-19 kehidupan kaum buruh di kawasan Eropa Barat sangat memprihatinkan. Paus Leo XIII melalui dokumen itu memperjuangkan perbaikan hidup atau nasib kaum buruh pada waktu itu dengan menekankan pentingnya keadilan sosial. Sistem kerja dan penghargaan yang layak berupa gaji seharusnya berdasarkan prinsip keadilan sosial yang dapat dipertanggungjawabkan.
Reformasi sosial ini akan terwujud terutama dengan membangun infrastruktur kerja sama dalam semangat pengorbanan demi kemanusiaan. Paus Leo XIV telah meninggalkan ikatan kultur pribadinya (Amerika Serikat) dan meleburkan diri dalam kebudayaan lain (Amerika Latin). Ini termasuk sebuah reformasi internal dan antarpersonal yang sangat diperlukan dalam proses untuk melahirkan sebuah dunia baru yang tidak lagi hanya dipersatukan oleh ikatan darah, keluarga, golongan, kebudayaan, bahasa, dan agama, tetapi juga nilai-nilai kemanusiaan universal yang menjunjung martabat kemanusiaan.
Reformasi sosial sangat diperlukan dunia yang dicengkeram oleh kebiasaan-kebiasaan buruk yang merugikan diri sendiri dan seluruh masyarakat. Situasi yang dialami Paus Leo XIV di Amerika Latin mendorongnya untuk melakukan pembaruan sosial dengan menitikberatkan nilai kemanusiaan yang adil dan beradab, keadilan sosial, kesatuan, dan kerja sama antaranggota masyarakat.
Dengan terpilihnya Paus Leo XIV, genderang kembali ditabuh dan seluruh dunia diundang untuk ikut bergerak dan bekerja sama demi terwujudnya reformasi sosial yang kian menggembirakan dunia.
William Chang Guru Besar Etika Sosial, Tinggal di Curia Generalizia Kapusin, Roma
Penulis:
William ChangEditor:
Neli TrianaPenyelaras Bahasa:
Teguh Candra